Brave Things

Brave Things
Part 34 A Fairy Tale



Siang itu, Jimin dan Luna menghabiskan waktu bersenda gurau di ayunan yang terletak pada pekarangan belakang rumah.


Tidak terasa, sudah lewat satu minggu mereka habiskan bersama. Mengasingkan diri di dunia khayalan ciptaan Jimin.


Kemanisan yang tercipta, membawa Luna kembali teringat kemasa-masa awal pernikahan. Indah, simpel, dan tidak ada tuntutan.


"Kau tidak pernah ngidam? Tidak pernah sama sekali?" Tanya Jimin berulang kali.


Tidak habis pikir ketika istrinya mengatakan kalau dia tidak mengalami ngidam seperti wanita hamil kebanyakan.


Padahal yang dia tahu, semua perempuan mengalami setidaknya satu kali kondisi dimana mereka ingin memakan makanan atau memiliki sesuatu yang aneh dijam yang absurd pula.


Makanya dia berkali-kali mendesak Luna, untuk meminta apapun yang wanita itu inginkan saat ini. Jimin ingin membebaskan dirinya dari rasa bersalah, karena merasa kehadirannya disisi Luna pada masa mengandung terbilang sedikit sekali. Ingin ia penuhi semua yang Luna minta.


Tapi nihil. Luna bilang dia tidak menginginkan apapun.


"Pernah sih waktu itu. Ingin ubi bakar manis. Tapi kau kan sibuk, jadi aku tahan saja sampai aku bisa pergi ke supermarket. Lalu aku beli dan panggang sendiri dirumah."


Jawaban Luna terdengar sangat ringan. Berbanding terbalik dengan dampak yang di rasakan Jimin ketika mendengar kalimat itu.


Jimin memang sedang selalu digerogoti rasa bersalah, merasa gagal menempatkan Luna di kondisi yang layak bagi sang istri. Padahal ia sudah merenggut hidup Luna yang normal, untuk digantikan dengan kehidupan tidak stabil dan terus menerus diburu ancaman.


Untuk itulah dia sebisa mungkin memperlakukan Luna lebih dari seorang ratu, sejak menetap disini. Diperhatikan dan disayang-sayang, diberikan seluruh keinginannya, disajikan seluruh makanan yang dia suka.


Pokoknya apapun yang Luna inginkan, akan Jimin kabulkan.


Kecuali menghubungi orang luar.


"Aku khawatir dengan Jisung."


Jimin memutar bola mata malas. "Kau mau mulai topik itu lagi? Kau tahu aku tidak akan berubah pikiran, kan?"


Tidak bergeming. Tangannya tetap menyisiri rambut laki-laki yang berbaring manja di pangkuannya. Di usap lembut, nyaris membuat Jimin terlelap kalau pria itu tidak rutin menenggak kopi pekat setiap paginya.


"Ehm, aku hanya cerita kok."


Sungguh, dia ingin tahu keadaan dunia luar. Tapi dia juga menikmati bagaimana indah dunia kecilnya bersama Jimin disini. Dia juga punya Hanji sebagai teman perempuan, serta Bennedict yang selalu menghiburnya dengan masakan lezat.


Biarkan orang lain mengatakannya dungu, tapi Luna menyukai tempat ini. Semua tampak... sempurna.


"Rambutmu panjang lagi." Tegur Jimin lembut. Mengubah topik karna tak ingin membahas perihal Jisung atau apapun dan siapapun yang berada diluar villa ini.


"Iya. Apa akan dipotong lagi?"


"Kau mau?" Jimin balik bertanya.


Ia ingat terakhir kali, dialah yang memotong rambut Luna secara paksa saat di Beijing.


Hari itu, beberapa saat setelah Luna ingin didaftarkan ditempat senam yang sama dengan Meredith.


Jimin tersadar dengan kehadiran Andy Wang berserta koloninya disana, dibuktikan dengan kehadiran istri termudanya. Bertemu pula dengan Luna.


Jimin berharap bisa semakin menyamarkan penampilan Luna dengan memotong rambutnya pendek. Walaupun mereka tidak pernah tahu wajah sang istri, tapi Jimin tidak mau ambil resiko, dan berakhir semakin  mengurung Luna di rumah tanpa akses bertemu dengan orang lain.


Demi keselamatan bersama.


Iya, sekarang keselamatan Luna juga jadi keselamatan Jimin. Karena tanpa Luna, Jimin rasa dia juga akan ikut mati.


Andy Wang. Jackson Wang. Meredith dan Luna. Keempat manusia yang tidak boleh bertemu satu sama lain. Akan ia jaga sekuat temaga.


Cara apapun akan ia tempuh, untuk menyembunyikan sosok istri dan calon anaknya.


Walau harus sambil menyaksikan tangisan tidak rela Luna, dia berusaha menulikan telinga, memotong rambut indah sang istri yang sama-sama mereka cintai, menyisakan helai rambut itu sebatas bahu.


"...aku tidak tahu. Terserah Jimin saja."


Sebenarnya tidak terlalu penting. Rambutnya juga baru tumbuh sekitar dua inch. Terlebih mereka sedang berada di titik buta dari seluruh perhatian manusia. Tidak harus membuat Luna bersembunyi disaat posisi mereka sudah sangat tersembunyi dari radar.


Tapi Jimin merindukannya. Jimin menyukai Luna dengan rambut pendek. Lebih cocok dan terlihat youthful. Juga sedikit lebih, sensual?


Jimin suka bagaimana leher Luna yang selalu dihiasi bekas kecupannya, terungkap bebas pada pandangan. Seolah tanda kehamilan pada perut sang istri belum cukup, untuk menunjukkan kalau wanita ini mengabdikan hidup padanya.


"Aku akan ambil guntingnya." Ujar Jimin, gesit beranjak dari pangkuan Luna untuk pergi kedalam rumah, bergegas menuju ruang tengah dan membuka laci lemari.


Dengan santai, ia mengambil sebuah gunting hitam yang letaknya bersebelahan dengan berbagai jenis pistol dan stok peluru.


Seperti tidak ada yang aneh. Sudah biasa disuguhi pistol, walau Luna tidak pernah melihatnya.


Jimin kembali berjalan keluar, menemukan Luna menyambutnya dengan senyuman sukacita.


Padahal wanita itu sangat mencintai rambut panjangnya. Sangat amat suka. Satu lagi hal yang Luna serahkan sukarela pada Jimin, untuk di jajah.


Luna terus memerhatikan Jimin. Lelaki itu sudah duduk di hadapannya kembali dengan sebuah gunting di genggaman. Memaki kesal karna lupa membawa perlengkapan lain walau sudah berdiri mengambil gunting kedalam rumah. Merasa sia-sia membuang tenaga.


Tidak ingin repot, Jimin menelfon Hanji untuk mengantarkan perlengkapan untuk menggunting rambut pada mereka.


Banyak yang tertinggal. Seperti cermin, sisir, kain pelindung serta jepit rambut.


"Tunggu ya, Hanji sebentar lagi mengantarkan sisir dan kain penutupnya. Kau mau model apa?" Seolah sedang bermain peran menjadi hairstylist, Jimin mengarahkan Luna untuk duduk memunggunginya.


Menyisiri rambut Luna dengan jari, mengumpulkannya helai indah itu jadi satu. Bagian leher yang terpampang, dia kecup dengan mesra.


Luna menoleh dan tersenyum.


Berbeda dengan pemotongan yang pertama, prosesi pemotongan kedua kali ini mereka lakukan penuh dengan riang tawa.


Jimin benar-benar bisa bersikap manis jika sedang ingin. Bisa bertingkah sangar pula kalau emosi. Duality.


"Kau mau memotong rambutnya lagi?" Hanji datang dengan protes, namun tetap membawakan apa yang tadi Jimin pinta lewat panggilan telfon.


"Iya. Sudah panjang."


"Kau harusnya tidak perlu memotong rambut Luna. Dia tidak pernah berambut pendek sejak SMP!"


Belum 20 detik bersama, tapi mereka sudah bertengkar.


Mendengar kericuhan itu, Luna pun berbalik. Mendapati Jimin yang membeku dengan gunting yang telah siap memotong, namun tertahan karna kaget mendengar omelan Hanji.


"...aku kok yang minta dipotong. Tidak apa-apa Hanji, aku suka rambut pendek. Mudah dirawat."


Dusta. Luna melakukannya karna Jimin.


Fakta itu membuat Hanji semakin benci melihat situasi yang sahabatnya alami selama ini.


Tidak tega melihat bagaimana Luna jauh berubah dari sosok yang dia kenal dulu.


Jimin memanipulasi Luna separah ini.


"Dasar gadis bodoh." Ucapnya yang kemudian segera beranjak pergi. Tidak perduli sepatu boots berlumpurnya mengotori lantai marmer, yang tiap hari di pel dengan bersih oleh Bennedict.


"Apa kita batalkan saja?" Jimin meragu. Keadaan jadi hening setelah pertengkaran kecil antara Hanji dan Jimin.


Jimin pikir, bukan tidak mungkin Luna membenci rambut pendek yang dia potong.


Selama ini dia selalu terbiasa dengan Luna yang mengesampingkan keinginannya sendiri, demi melaksanakan apa yang suaminya inginkan. Sudah natural menerima nasib yang dipilihkan Jimin untuknya.


Dia bahkan masih ragu, walaupun Luna menggeleng merespon kalimatnya.


"Lakukan saja. Aku sunguhan suka dengan rambut pendek sekarang. Keramas jadi mudah dan aku jadi terlihat muda kembali."


Apa hubungannya, rambut pendek dan terlihat muda?


Karangan alasan yang terlalu dipaksakan.


"Kalau aku bilang aku lebih suka kau dengan rambut panjang?"


Luna diam, terlihat berfikir.


"Memangnya kau suka rambutku panjang?"


Sudahlah. Jimin enggan membahasnya.


Jimin tidak ingin berdebat terlalu lama, dan hanya ingin sekedar menjalankan rencana awal.


Walau rencana tersebut harus sedikit di revisi. Dia akhirnya hanya memangkas sedikit rambut sang istri. Tidak sependek dulu saat dia pertama memotong rambut Luna ketika di Beijing.


"Tidak mau dipendekkan lagi?" Tanya Luna saat berkaca menggunakan cermin kecil yang Hanji bawakan tadi.


"Sudah cukup. Segitu saja, lebih cantik." Jimin menoleh menatap cermin yang Luna pegang lurus dengan mukanya.


"Cium?" Ucap Jimin yang tiba-tiba mengukung tubuh Luna dari belakang. Mendekatkan wajahnya pada sisi kanan wanita itu.


Tangan yang tadi Luna gunakan untuk memegang cermin, ia arahkan untuk merangkul leher suami dari samping. Mengecup dan ******* bibir yang selalu memberinya ciuman selamat pagi, dan ciuman selamat malam selama berada disini.


Selalu intense memang, skinship antara Jimin dan Luna diseluruh penjuru rumah.


Tidak perduli sedang berada dialam terbuka, dengan hamparan rerumputan, serta dibawah sinar mentari, tangan Jimin dengan luwes menyelinap kebalik baju longgar yang dikenakan perempuan didekapannya.


"...jangan disini," Luna berucap dengan keadaan bibir mereka yang masih sedikit menempel. Memang ia lepaskan hanya untuk memperingati Jimin, karna merasa ciuman mereka semakin memanas.