Brave Things

Brave Things
Part 31 Hideaway



Itu juga hal yang mengawali ide gilanya.


Hanji, selalu siaga dengan dua peluru siap tembak di pistolnya, sejak mengawal Luna.


Ia berfikir, akan lebih baik bila ia membunuh Luna, dan kemudian segera menghabisi dirinya sendiri, bila merasa situasi semakin sulit untuk sahabatnya tersebut.


Sejak mengawal Luna pula, Hanji merasa perlu meninggalkan surat wasiat pada orang tuanya. Meninggalkan dua dosis obat yang ia racik sendiri, dengan tujuan mengambil nyawa kedua orang tuanya tanpa ada rasa sakit.


Sebuah pesan kecil telah ia sisipkan pada bungkus obat yang ia beri pada ayahnya, sebelum berangkat.


'Tenggak ketiga butir kapsul ini sekaligus, jika ayah mendengar kabar kematianku.'


Sebuah kematian, adalah tanda seseorang telah menyerah.


Semua tersusun begitu rapi. Bertahun-tahun mengabdi pada Jimin, membuat perilaku perfeksionis pria itu menular kepadanya.


Sebuah back-up plan yang terdengar mengenaskan, tetapi mungkin itulah jalan terakhir yang bisa ia tempuh untuk keluar dari lingkaran terkutuk ini, bersama Luna.


Untuk tugasnya kali ini, Hanji has nothing to lose.


Hanji disini bukan lagi untuk Jimin. Bukan pula untuk keselamatan kandungan istrinya, yang selalu Jimin banggakan akhir-akhir ini.


Hanji ingin mengakhiri kekuasaan Jimin pada banyak nyawa di genggaman pria itu.


Walau taruhannya adalah nyawa manusia-manusia itu sendiri.


Bunyi tarikan pelatuk menyadarkan Hanji dari kegiatannya menyiapkan obat anestesi tersebut, baru sadar kalau Jimin sudah menodongkan kepala Revolvernya pada gadis jenius itu yang terlihat kehilangan fokusnya saat berkerja.


"Kau kelebihan dua mili."


Ia tersenyum gugup, kemudian sigap menyedot lagi cairan berlebih menggunakan jarum suntik yang kebetulan belum ia cabut dari botolnya.


"Ada apa denganmu?" Decak Jimin Kesal, "Kau tidak seharusnya membuat kesalahan, terlebih pada tubuh istriku."


"Ah, maaf, aku hanya belum merokok, mari berhenti di luar ruangan sebentar untuk istirahat." Pintanya dengan rendah hati.


Jimin menelengkan kepalanya, tak habis pikir bagaimana karyawan terbaiknya hampir membuat kesalahan disaat genting seperti ini.


Namun ketika ditilik lagi, Hanji nyaris tak pernah membuat kesalahan 3 tahun belakangan,


Makanya Hanji cukup yakin, Jimin akan mengabulkan permintaanya, apalagi melihat Jimin memeriksa waktu arloji dengan cukup serius.


Pria itu juga pasti butuh rokok yang sedikit intens, yang dapat membantunya merengangkan urat-urat tegang dileher.


"Berapa lama lagi kita sampai disana?" Tanya Jimin pada Supirnya, Ben.


"Jika jalanan tidak licin, sekitar tiga setengah jam lagi."


Jimin beralih lagi pada Hanji, mengawasi kinerjanya memasangkan botol kecil dan selang yang terhubung pada pembuluh darah istrinya.


Obat terakhir, telah bertahan sekitar 20 jam sejak kepergian mereka dari Australi.


Mereka bahkan melewati penerbangan 18 jam dengan mudah, tanpa diketahui oleh Luna sama sekali.


Memang tujuan Jimin adalah agar Luna sama sekali tidak tahu, di belahan dunia bagian mana mereka berada. Itu sebabnya wanita itu dibuat tertidur.


Tujuannya intinya belum pasti, perkiraan sementara Hanji, mereka hanya sedang menyembunyikan Luna, entah dari siapa. Jimin tidak pernah menjelaskan serinci itu.


Pemikiran itu berasal dari perbuatan Jimin yang membuang ponsel Luna di tempat sampah rumah sakit, sesaat setelah pria itu membayar lunas tagihan perawatan adik-adik Luna.


Lokasi yang mereka tuju hari ini, hanya Jimin dan Ben yang mengetahui letak persisnya.


Mereka sudah mengemudi jauh dari jalan tol dan jalan raya.


Bahkan radar pasukan PBB pun, tidak yakin bisa melacak keberadaan mereka nanti.


Hanji melihat sekali lagi keadaan sahabatnya yang terbaring dari balik jendela mobil.


Luna dibaringkan didalam mobil dengan mesin menyala, sembari menunggu cairan infusnya habis.


Ketiga orang yang sadar, berdiri di sisi mobil untuk menghabiskan beberapa batang rokok, setelah menempuh perjalanan panjang.


"Berapa lama kita akan mengasingkan diri?" tanya Hanji pelan, pandangannya masih memerhatikan wajah damai Luna, yang tidak tahu apapun tentang hal yang terjadi.


"Belum kutentukan." Jawab Jimin dengan pandangan kosong.


"Bagaimana kalau nanti dia melahirkan?"


"Maka kau yang akan membantu proses melahirkannya."


Hanji menoleh terkejut,


"Kau tahu aku tak pernah ambil spesialis obgyn!"


"Nilaimu bisa memenuhi lulus, bahkan dengan status cumlaude pada spesialis anestesi." Jawab Jimin santai, menghembuskan asap rokoknya ke udara. Seperti menikmati momment sebelum terjadi badai besar.


Hanji memejamkan matanya menahan emosi.


Selalu begini, pria ini selalu mendorong boundaries-nya dalam mencapai apapun yang ia inginkan darinya.


Selama kandungan Luna tidak bermasalah, dia akan meminta Jimin agar melengkapi peralatan medisnya di tempat baru yang mereka tuju.


Ia pernah menghadiri secara langsung, proses praktik membius pada pasien melahirkan normal. Ia akan cari cara untuk bisa hadir secara virtual beberapa kali lagi, dan akan sesegera mungkin memulai materi 64 SKS pada telinganya selama 24 jam pada waktu yang tersisa.


Apapun akan ia lakukan, sampai tak tersisa pilihan lain yang bisa ia tempuh,


Saat situasi itu terjadi, maka dia akan menjalankan rencana membius total sahabatnya, untuk kemudian ia lesakkan peluru dua kali pada bagian vital di dada.


"Sebelum menurunkan Luna, periksa penjuru rumah dengan menyeluruh."


Hari sudah gelap ketika Jimin memerintahkan Ben dan Hanji, untuk menyisir sekeliling Rumah.


Memastikan pagar listrik, berlapis sebuah dam parit besar di bagian luar itu, aman dari apapun dan siapapun.


Tampak menyeramkan memang, kalau dilihat dari luar.


Namun rumah—atau bisa dibilang markas mewah itu, sungguh indah dipandang ketika pagar besi seberat hampir 50kilogram itu didorong terbuka.


Bangunannya selera ibu Jimin sekali.


Cantik dan berkelas.


Rumah ini sebenarnya adalah hadiah Jimin untuk ibunya, sebuah rumah di semenanjung Iberia, ujung barat daya Eropa. Sebuah tempat sempurna untuk melarikan diri dari seluruh musuh bisnis keluarga mereka yang kebanyakan bertempat di Asia.


Ibu Jimin mempunyai mimpi untuk rehat dari bisnis, ingin bercocok tanam bunga di pekarangan, dengan dua Doberman ganas terlatih yang menemaninya.


Mungkin rumah ini akan Jimin hadiahkan, ketika Ibunya telah menentukan kapan ia akan pensiun. Jimin yakin sang ibu masih menunggu ambisi ayahnya sedikit memudar.


Mereka sejoli yang tidak bisa dipisahkan.


Ibunya selalu anggun, cantik dan berbadan bagus. Umur ibunya bahkan lebih tua beberapa tahun dari ayahnya, namun yang terlihat justru sebaliknya. Ayah Jimin terlihat begitu tua dan sensitif. Jimin bersyukur, ibunya sosok yang pengertian, dan dapat bertahan pada sikap posesif gila ayah jeleknya yang berperut buncit.


Jimin tersenyum kecil mengingat mereka, ia kemudian beralih mengusap kepala wanitanya, yang sekarang masih terbaring di pangkuannya tak berdaya.


Entah apa penjelasan yang akan ia berikan nanti, dan entah apa reaksi istrinya ketika tahu, ia telah menjauhkan Luna dari seluruh manusia yang mengenalnya.


Yang jelas, hal itu tidak akan mempengaruhi tindakan ketat Jimin dalam melindungi keberadaan perempuan ini, berserta calon sang buah hati, calon putri tunggalnya.


iya, putri tunggal.


Jimin tidak akan membiarkan Luna mengandung anaknya untuk yang kedua kali.


Sejujurnya, Jimin benci kehamilan Luna.


Bagi Jimin, menciptakan seorang anak sama dengan menciptakan sebuah cabang baru sebagai bidikan kelemahannya.


Berbeda kalau hanya satu orang anak sebagai penerus, justru akan membuatnya semakin kuat. Semakin membuatnya fokus melakukan banyak perkerjaan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.


Bisa dibilang, calon buah hatinya bisa menjadi sumber penyemangat pada jiwa hampanya.


Terlepas dari pernyataan Hanji yang mengatakan, Jimin menggunakan seorang anak untuk mengikat Luna bersamanya, tidak sepenuhnya benar.


Jimin akan memperbolehkan wanita itu pergi kalau memang waktunya telah tiba.


Dia memang ingin bersama Luna, tapi mempertahankan seseorang yang ingin pergi, tidak semudah itu.


Jimin sudah menjalaninya ketika bersama Anna dulu, dan akhirnya ia tetap kehilangan Anna dengan cara yang menggenaskan.


Ia bersyukur, selama ini Luna selalu menuruti perintah dan larangannya, yang berarti perempuan itu bersedia ia pertahankan.


Namun, jika suatu hari Luna mengetahui kebenaran, dan memutuskan untuk pergi untuk mengajukan perpisahan, Jimin akan melepaskannya.


Dengan satu syarat,


Luna akan pergi seorang diri, karena Jimin hanya akan ikhlas melepas seseorang yang bukan miliknya sejak awal. Dan anak ini, baginya adalah mutlak kepunyaanya.


Sekuat tenaga akan ia lindungi, walau masih didalam perut.


"Kondisi dalam rumah, aman. Seluruh kamera terinstal dengan baik, kolam berenang sudah ditutup dan tangga rumah dilapisi karpet." Lapor Hanji kompleks, menjelaskan dasar-dasar kondisi rumah yang sekiranya rentan menyebabkan bahaya.


"Bagaimana dengan kamar mandinya?"


"Aman, ada beberapa stop kontak yang harus kututup, terletak di samping dudukan toilet."


Jimin mengangguk mengerti, dia ingat kalau peletakan bodoh stop kontak itu adalah idenya dulu, saat membangun rumah ini.


"Bagaimana halamannya?"


"Akan aku periksa setelah Ben kembali, kurasa dia sedang menyusuri Dam nya." Hanji menolehkan kepalanya pada Luna.


"Kita pindahkan dia dulu ke kamar?" Pinta Hanji, tak tega melihat Luna yang tertidur meringkuk dengan perut besarnya, setelah beberapa jam menempuh perjalanan darat.


Biusnya akan habis di pagi hari, setidaknya Luna beristirahat dengan baik. Ia berencana kembali menginfus Luna untuk kebutuhan vitamin dan kalorinya seharian ini.


Setidaknya, Hanji telah menyiapkan ratusan file serial yang biasa sahabatnya tonton, juga beberapa Buku yang akan ia berikan sebagai hiburan calon ibu muda itu.


Ia berjanji, tidak hanya akan bertanggung jawab pada keselamatan Luna, tapi juga akan mengusahakan kebahagian Luna, semampunya.