Brave Things

Brave Things
Part 21 Hormone



Yang aku rasakan saat ini adalah, sesak.


Sejak tahu aku hamil, Jimin malah tampak semakin sibuk dengan perkerjaannya. Semakin tidak punya waktu untukku.


Pulangnya sering larut, itupun langsung dihabiskan untuk mengurung diri di ruang kerjanya.


Aku sempat bertanya mengenai hal ini, Jimin bilang dia sibuk karena sedang Peak Season. Tapi mustahil berlangsung selama 3 bulan berturut-turut?


Untungnya kandunganku melewati trisemester pertama dengan aman, tidak rewel sama sekali walau tanpa perhatian cukup dari suami.


Perutku mulai membuncit dan beberapa pakaianku sudah tidak nyaman untuk aku pakai. Sehingga beberapa hari ini aku mencari baju di lemari Jimin, selain ukurannya lebih besar, aku juga mengais aroma suamiku yang tertinggal dalam setelan yang biasa ia pakai.


Malam inipun sepertinya aku akan kembali tidur sendirian dikamar.


Aku baru saja mandi jam 11 malam, menemukan Jimin bergegas membawa laptopnya ke ruang kerja dan menutup pintunya rapat. Dia akan menghabiskan malam lagi disana.


Andai Jisung jadi menetap disini, aku pasti tidak akan terlalu merasakan kesibukan mendadak Jimin. Sayangnya dia dan Hanji malah kembali berlatih di tempat kemarin. Hanji pasti kerepotan mengurus anak itu sekolah dan berlatih sekaligus.


Mataku memanas, menyadari kalau bantal Jimin yang biasa aku peluk untuk menggantikan kehadirannya, ia bawa ke ruang kerja. Aku jadi tidak punya apa-apa lagi yang bisa membuatku merasa ditemani olehnya disini.


Miris sekali, bagaimana perubahan sikapnya terhadapku seperti bersudut 180 derajat. Dari yang sangat needy dan clingy, jadi dingin terkesan menjaga jarak.


Aku tersentak ketika mendengar pintu kamar terbuka, sampai tak sempat menghapus air mata yang mengalir di kedua pipiku.


"Aku ketinggalan charger laptopku." Ia bergumam sembari membuka laci disebelah ranjang kami.


Sementara aku hanya menatapi dia yang bahkan tidak repot-repot memandangku, walau aku terduduk di ujung ranjang itu, menangis dan memegang perutku yang berisi anaknya.


"Jim..."


"Hmm?" Jawabnya, masih tanpa menoleh kearahku.


"Charger-mu didalam tas." Suaraku bergetar walau sudah berusaha aku tekan.


Karena itu, akhirnya ia menyadari juga kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Karena kelalaianku dalam menekan suara agar tak terdengar bergetar seusai menangis.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Ia mendekat, memegang dan mengelus bahuku lembut.


Sentuhannya di bahu kiriku bahkan terasa sangat menenangkan, seperti candu, membuatku ingin tidur dalam pelukannya.


Namun yang kulakukan justru menggeleng dan tersenyum, "Habis menonton film sedih."


"Hahh, kau ini. Membuatku cemas saja." Dengan segera ia menarik tangannya yang tadi mengusapku, "Kenapa mandi malam terus akhir-akhir ini? Keringkan rambutmu nanti kau demam." Lanjutnya sembari berbalik dan berjalan menjauh.


Dia bahkan tidak menanyakan perasaanku, atau menyinggung aku yang selalu memakai bajunya, atau bertanya apa aku ngidam sesuatu.


Sesibuk-sibuknya Jimin dulu, tidak pernah sampai secuek ini padaku.


"Jim, tidak tidur disini?" Ucapku sebelum ia melewati pintu.


"Aku harus kerjakan beberapa kerjaan lagi. Tidurlah, aku tak mau menganggu tidurmu."


Tapi tidurku selalu terganggu tanpa kehadirannya.


Dia sudah membuatku terbiasa terlelap dalam pelukannya, kemudian tiba-tiba menarik semua perhatian itu ketika aku sedang butuh-butuhnya.


Aku memang sungguh-sungguh tidak ingin membebaninya, apalagi sampai membuatnya khawatir. Tapi agaknya terlalu berlebihan kalau sampai memangkas waktu sepenuhnya denganku demi mengerjakan perkerjaan kantor.


Lagi lagi aku tertidur dalam posisi meringkuk memeluk perutku sendiri.


.


.


"Tidak usah buat sarapan, aku buru-buru."


Jimin tampak dikejar waktu untuk berangkat, bahkan jam tangannya masih belum terpasang sempurna.


"Tapi rotinya sudah hampir matang."


"Ck, yasudah cepat hidangkan."


Mungkin karena terlalu gugup, atau tertekan karena didesak untuk bergegas menyiapkan makanan, aku jadi tersandung kakiku sendiri ketika melangkah.


Piring yang aku pegang terlepas, jatuh berhamburan di lantai. Untung aku segera berpegangan pada counter dapur, tidak kubayangkan jika aku jatuh tersungkur dalam keadaan hamil begini.


Aku bercepat jongkok dan membereskan pecahan piring tersebut, tapi Jimin menarik lenganku,


"Bagaimana bisa di biarkan? Kita kan tidak punya pembantu!"


Wow, aku tidak bermaksut mengeluarkan kata-kata tersebut dalam bentuk teriakan.


Mataku langsung menatapnya, mencoba meneliti apakah sikapku barusan membuatnya tersulut amarah ataukah tidak.


"Yasudah, biar aku yang bereskan. Kau duduk saja."


Sulit kupercaya bagaimana Jimin dengan sabarnya mengangkatku dan mendudukanku diatas counter dapur, sementara ia memunguti pecahan kaca kemudian mem-vacuum-nya hingga bersih.


Caranya berkerja, bagaimana dia menggulung lengan kemeja putihnya, bagaimana ia menata rambutnya untuk disisir kebelakang...


Hanya menatapnya membersihkan pecahan piring saja membuat darahku berdesir hebat.


Dia akhirnya menghampiriku, berdiri diantara kedua kakiku yang sedikit lebih tinggi dari perutnya.


"Jangan ceroboh seperti tadi lagi, ya. Kau punya tanggung jawab untuk menjaga sesuatu disini." Tangannya mengusap perutku lembut.


"Maaf." Ujarku pelan.


Sedetikpun tidak kubiarkan mataku berpaling dari wajahnya. Jimin mengusap kepalaku, menyentuh pipiku dan merapihkan rambutku dengan perhatian.


Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak memandangnnya dari jarak sedekat ini.


Saat ia mendekatkan wajahnya, kupikir dia akan mencium bibirku. Aku bahkan telah memejamkan matadengan bahagia, tapi ternyata dia malah mendaratkan kecupannya ke pipi kananku.


"Aku buru-buru. Apa tidak apa kalau rotinya aku makan di jalan?" Tanyanya lembut.


Dengan nafas memburu dan pikiran yang blank, aku mengangguk asal mengiyakannya.


Entah karena sudah lama tidak dekat-dekat dengannya, atau karena hormon kehamilan, rasanya sedikit sentuhan saja dari Jimin bisa membuat bulu kudukku merinding.


Aku... rindu di sentuh olehnya.


.


.


.


"Yasudah, lakukan saja seperti dulu saat kau baru-baru menikah dengannya. Saat dia belum mau menyentuhmu." Ucap Hanji santai di sebrang telfon.


"Aduh, tidak bisa!"


Tidak mungkin kuberitahu kalau pertama kali Jimin melakukannya padaku adalah saat dia sedang marah, bagaimanapun aku ingin menjaga nama baik suamiku.


"Yasudah kalau begitu langsung pinta saja, bilang saja kau butuh ****."


"Aku malu!"


"Kalau begitu kau tahan saja, habiskan masa mengandungmu seorang diri." Nadanya mulai kesal karena tidak menemukan solusi dari pertanyaanku.


Aku juga bingung, masalahnya ini pertama kali aku merasakan begitu butuh di sentuh oleh Jimin. Bagaimana aku memimpikan jemarinya menelusuri jengkal tubuhku, bahkan mengais aromanya di setiap barang-barang yang biasa ia pakai.


Lagian, dia tega sekali mengabaikanku disaat seperti ini, padahal kulihat ibu hamil lain biasanya sangat dimanjakan oleh suaminya. Apalagi ini kehamilan perdanaku.


Mungkin faktor bosan juga, sejak hamil kan Jimin jadi semakin sulit memberikanku izin untuk berpergian. Apalagi Hanji tidak lagi berkerja untukku, melainkan untuk Jisung.


Kalau dulu sebelum hamil, biasanya bosanku bisa kuatasi dengan membersihkan rumah, mengurus tanaman, nonton netflix dan lain-lain. Kalau sekarang, aku sering bosan melakukan semua itu, juga tenaga ku seperti gampang terserap habis kalau terlalu berlebihan membersihkan rumah.


Kata Jimin, aku boleh ikut senam ibu hamil setiap akhir pekan dengan catatan aku harus pergi dengannya. Tempatnya juga harus ada tempat menunggu sambil ia minum kopi dan berkerja, jadi dia bisa tetap mengawasiku sambil membuka laptop.


Sempat terpikir sih, untuk ikut studio yang disarankan Meredith kepadaku, katanya ada senam ibu hamil juga. Tapi rasanya terlalu beresiko untukku bertemu dengan Meredith disana walau waktunya berbeda.


Mungkin nanti akan coba aku bicarakan pada Jimin saat ia pulang kantor, minta tolong dengannya untuk mendaftarkan ku ketempat yang menurutnya bisa aku masuki.


Setelah menelfon Hanji tadi, dan menemukan tidak ada solusi yang bisa membuat Jimin kembali menempel kepadaku, aku menyerah.


Lebih baik aku juga cari kesibukan daripada menangisi kesibukan Jimin yang sangat parah sampai tidak punya waktu untukku.


Aku butuh refreshing!


Sebentar lagi sih katanya dia akan pulang, sudah mengabari juga akan pulang lebih awal hari ini. Mungkin itu sebabnya dia berangkat buru-buru, karena ia mulai kerja lebih pagi dari biasanya jadi pulangpun lebih cepat dari biasanya.