
Luna terbangun di pangkuan suaminya.
Tidak lagi berbaring berdua diatas sofa kecil rumah, sebagaimana ia jatuh terlelap kemarin. Melainkan meringkuk di bangku mobil dengan paha Jimin sebagai bantalnya.
Mengusap mata berkali-kalipun tidak merubah apapun yang menjadi sumber kebingungannya.
Seperti, kenapa dia berada disini, kenapa bajunya telah berganti, kenapa Jimin tertidur dalam posisi duduk dibalik kaca mata hitamnya,
Kenapa situasi yang ia temukan sekarang, tidak sama seperti saat terakhir dia memejamkan mata?
Dengan buru-buru, dia duduk menegakkan tubuhnya.
"H-Hanji?"
Wanita dengan wajah putih porcelain itu, menoleh kebelakang dan tersenyum.
Sudah berbulan-bulan lamanya, Luna tidak melihat sahabat yang sekaligus merangkap asisten pribadinya itu.
Tidak banyak yang berubah, kecuali Hanji yang sekarang semakin tirus, dan rambutnya di pangkas habis dengan potongan pixie.
Belum selesai Luna mengamati keberadaan Hanji di kursi depan, gerakan tubuh Jimin yang mungkin terganggu dengan suaranya, membuat Luna bersikap defensive.
"Kau—belum seharusnya terbangun." ucap Jimin dengan suara serak, berusaha meraih lagi pundak Luna, bermaksut membuatnya kembali berbaring.
"K-kenapa?" Tentu saja bingung,
Sejak kapan waktu tidurnya, juga ikut diatur oleh Jimin?
Dia biasa tidur dan bangun kapanpun ia mau, selama tidak mengganggu waktu tidur Jimin, dia bebas melakukan itu. Namun suaminya terlihat tidak suka melihat Luna bangun sekarang.
Tidak menjawab pertanyaannya, Jiminmeraup wajah dengan jengkel, untuk kemudian berpaling menghadap kejendela.
"Aku pikir tidak apa-apa, kita juga sudah melewati perjalanan udara dan jalan tol lainnya." Sahut Hanji dari kursi depan dengan tenang dan tanpa menoleh.
Mereka bicara, seolah Luna tak ada disana dan tak pernah bertanya apapun.
"Aku tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun." Gumam Jimin pelan.
Luna rasanya sudah terbiasa pada situasi membingungkan seperti ini,
yang dirasa hanya kepalanya masih terasa berat dan rasa mengantuk yang tak kunjung hilang. Tangannya tidak pernah melepaskan perutnya yang semakin membesar kencang, sudah begitu sejak ia menangis di hadapan Jimin terakhir.
"Tapi dia sedang sadar, setidaknya kau harus menjelaskan sedikit padanya." Hanji menoleh kearah Luna sejenak, memerhatikan sosok sahabat kecilnya duduk dan terlihat menjaga jarak dari suaminya.
Sekarang malah semakin gugup melanda Luna, karena ia sedang diperhatikan oleh tiga pasang mata didalam mobil yang melaju kencang itu, termasuk supir setia Jimin yang memandanginya melalui spion mobil.
Pria disampingnya tak repot menghabiskan waktu, berpaling muka tak ingin berlama-lama melakukan kontak mata.
"Tidak akan berhasil, dia akan menangis dan meronta." terselip sedikit nada putus asa dari suara tegas yang biasa Luna dengar sehari-hari, sangat asing bagi telinganya, mengingat bagaimana cara sang suami biasa memerintah Hanji. Selalu tegas tanpa keraguan.
Mereka sekarang malah terdengar seperti sedang melempar tugas, saling tawar menawar. Sementara dirinya yang notabene atasan kontan Hanji, pihak yang selalu berkomunikasi dengan Hanji, malah terabaikan.
Luna tahu, sejak awal Hanji memang selalu berkerja untuk Jimin, dan bukan untuknya. Tapi tidakkah ini sangat tidak sopan? Mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikannya lagi sekarang.
"Kalau begitu, biar aku yang coba bicara sebelum melakukannya." Pinta Hanji.
"Tidak, aku yang akan melakukannya." Tolak sang suami dingin, ia menoleh sekilas pada Luna, memandang wanita itu dengan raut khawatir, "Untuknya, aku tidak akan pernah percaya pada siapapun." lanjut Jimin final.
"Keparat."
Makian itu, tidak seharusnya terdengar didalam mobil yang mereka tumpangi saat ini.
Tidak ada satu orangpun yang pantas mengatakan kata kotor seperti tadi, wajar saja Luna melotot kaget ketika kata tersebut malah keluar dari mulut sahabatnya sendiri.
"Hanji, kau—" Luna berujar kaget,
Namun terpotong ketika Hanji membalik sebagian punggungnya kebelakang, marah.
"Kau lihat dia, kau menghamilinya dan membuat semua jadi sulit!"
Makian tadi sekarang jadi terdengar serasi, ketika Hanji mulai berbicara informal dengan nada tinggi pada Jimin. Walaupun fakta itu, jadi lebih mengejutkannya.
"Tidak! kau berniat mengikatnya denganmu seumur hidup!"
"KAU!"
Luna sedikit terloncat cemas, ketika pertikaian Hanji dan Jimin terasa semakin memanas.
"Kau tidak tahu... bagaimana dia tidak berhenti berusaha, menolak banyak makanan dan hanya makan sayur-sayuran." Suara Jimin melemah, "Lagi pula, sudah tidak ada gunanya kau protes sekarang." ucapnya beriring dengan menghembuskan nafas lelah.
"Tidak, kita masih bisa mengeluarkan makhluk itu dari perutnya," Hanji mengeluarkan ponsel dari balik saku celana, "Aku akan hubungi orang untuk menjemput Andrea lewat udara, dia dan aku bisa menjalankan operasi darurat."
Luna semakin tersudut, semakin mengeratkan pelukannya didepan perut. Terlebih ketika detik berikutnya, Jimin menerjang kuat kursi Hanji dari belakang dengan emosi.
"Kau bercanda? Kandungannya sudah sangat besar! kau mau membunuh anakku?!"
Ah, kali ini, Hanji dan Jimin tidak perlu menjalankan rencana awal, yang akan mereka lakukan pada Luna saat melihat perempuan itu terbangun.
Karena tanpa menjalankan tindakan tersebut secara paksa, Luna sudah jatuh tak sadarkan diri duluan, mungkin dilandasi shock yang terus menerus ia alami, serta ketidak stabilan mental yang mendera, semua begitu mudah untuknya kehilangan kesadaran.
Sesungguhnya, hal yang mendasari pertengkaran yang terjadi antara Jimin dan Hanji, adalah proses pembiusan Luna untuk yang kedua kalinya.
Membius Luna yang terbangun akan menyulitkan posisi Hanji, sementara Jimin berkeras akan melakukan itu semua tanpa menjelaskan apapun pada Luna.
Hanji masih punya hati, tidak tega memperlakukan Luna seperti seekor binatang peliharaan mengikuti cara Jimin.
Bius pertama memang mudah ia lakukan,
mengingat saat itu, Jimin menelfonnya untuk segera datang dengan berbagai obat (yang tentu saja ia miliki secara ilegal).
Berbekal ilmu kedokterannya, Hanji menyuntikan obat itu melalui infus pada tubuh Luna yang sedang tertidur damai dipelukkan Jimin.
Hal yang masih bisa ia toleransi, ia lulus dengan nilai memuaskan pada spesialis anastesinya, tentu cara membius wanita hamil sudah ia pahami luar kepala, walau sekolah spesialis yang ia tempuh sekedar sekolah dari jalur belakang.
Yang penting ilmunya, bukan gelarnya.
Semua juga atas perintah Jimin,
Hanji jadi melalui berbagai jenis pendidikan dari jalur gelap. Hampir setiap detik telinganya selalu mendengar materi borongan lewat earset.
IQ-nya yang tinggi memang tidak menghalanginya untuk melakukan hal itu,
hanya saja, sedikit merasa menyesal, tidak bisa merasakan menuntut ilmu dengan normal seperti mahasiswa cerdas lain.
Seandainya ayahnya tak membuat kesalahan...
Dengan seluruh kepintaran Hanji saat ini, dia mungkin bisa mencalonkan diri jadi presiden.
Atau mungkin Dokter Spesialis Bedah terkemuka di Korea,
Atau atlet Judo sabuk hitam dengan sanggar ternama.
Namun kenyatan tidak semulus itu, Jimin memegang erat kerah ayahnya, memainkan keluarga mereka bagai boneka kayu bertali.
Sekarang, seolah belum cukup dengan jaminan yang ia pegang,
dengan seluruh power yang ia kuasai, Jimin merasa belum puas dan mempercayainya secara utuh.
Fakta kalau Jimin ingin memasukan obat itu pada tubuh istrinya dengan tangan sendiri, membuatnya emosi. Jimin bahkan belajar seluruh ilmu medis darinya secara instan. Kalau ada pihak yang tidak dapat percaya, maka pihak itu adalah Jimin sendiri!
Hanji menanggapi bosnya dengan tersenyum sinis, menyaksikan Jimin menangkap tubuh sang istri yang terjatuh lunglai.
"Kau bisa melakukannya dengan mudah sekarang, sebelum dia kembali sadar." ejek Hanji puas.
Kalau tidak memikirkan keadaan ibu dan ayahnya, mungkin saat ini wajah Jimin telah ia pukul dengan gagang pistol yang tersemat di pinggang rampingnya, berkali-kali sampai lelaki itu ikut pingsan seperti Luna, kemudian akan ia ludahi pula di akhir eksekusi.
"Kau yang akan melakukannya, berhenti di tepi jalan." perintah Jimin tegas pada dua orang di barisan depan.
Memutar bola mata, Hanji merasa seperti pecundang saat menyaksikan Jimin, memperlakukan semua orang disini seperti dengan seenaknya.