
Hari demi hari berlalu, minggu berganti bulan. Kehamilan Hana tidak dapat di sembunyikan lagi. Perut Hana semakin lama semakin besar. Usia kandungannya menginjak 7 bulan. Hinaan demi Hinaan, tuduhan dan gosip semakin hangat di perbincangkan.
Tatapan jijik orang orang sekitar jelas terlihat. Kesabaran pak Salim dan bu Sakiyah semakin di uji. Namun mereka tetap tegar dan siap menghadapi dan melindungi putrinya, apapun yang terjadi.
Di pagi hari, Hana seperti biasa jalan jalan di sekitar rumahnya. Ia berhenti memperhatikan ibu ibu yang sedang memilih sayuran. Semua tatapan ibu ibu itu terlihat jijik melihat perut Hana dan tersenyum mencemooh.
"Eh Hana, enak ga bikin anak!" celetuk salah satu wanita yang bernama Endah.
Hana hanya tersenyum menatap bu Endah.
"Hahahaha, orang gila di tanya. Sama sama gila lu!" timpal bu Tika.
"Eh Hana, siapa bapaknya?' tanya bu Endah lagi.
Hana diam sesaat seperti terlihat berpikir.
"Ganteng! katanya sambil tersenyum lebar.
Ibu ibu itu sontak tertawa geli.
"Masa ganteng, paling tukang ojeg pengkolan sana. Hahahaha!"
"Eh orang gila di tanggapin, usir sana. Amit amit jabang bayik!" usir bu Riri sambil mengambil sapu lidi lalu memukul tubuh Hana supaya menjauh.
"Hus sana pergi!"
Hana melindungi perutnya, lalu berlari ke ujung jalan dan berhenti tepat di prapatan jalan raya, ia duduk di bawah pohon memperhatikan orang orang sekitar.
Cantik..
Setiap orang yang lewat memperhatikan wajah Hana. Mereka mengagumi kecantikannya, namun mereka tidak berani mendekat.
Tiba tiba seorang pria mendekati Hana lalu mengajaknya bicara.
"Neng ikut yuk, nanti aku belikan makananan." kata pria itu sambil menarik paksa tangan Hana menjauh dari tempat itu.
"Nggak mau!" tolak Hana.
Namun pria itu terus menyeret Hana ke tempat sepi. Orang orang yang ada di sekitar hanya diam dan memperhatikan tanpa ada yang berniat membantunya.
Hana terus memberontak, tapi pria itu terlalu kuat tenaganya. Hingga di tempat sepi, pria itu berusaha untuk melecehkan Hana.
"Ibu!" teriak Hana.
Namun pria itu membungkam mulut Hana dan berusaha untuk memperkosanya. Di saat bersamaan, Pak Salim yang sedang beristirahat. Melihat Hana sedang di ganggu seorang pria tak di kenal. Pak Salim berlari sambil membawa balok berukuran sedang, dengan kalap mengayunkan balok itu ke kepala pria tersebut berkali kali.
BUK
BUK
BUK
Pria itu ambruk, darah segar mengalir di kepalanya.
"Bapak.." Hana memeluk erat tubuh Pak Salim.
Pak Salim balas memeluk Hana dengan erat. Tangannya gemetar, melemparkan balok di tangannya menatap pria itu tak berkutik lagi.
"Woy!"
Pak Salim menoleh ke arah sumber suara, nampak tiga orang pria berlari menghampirinya lalu salah satu pria memeriksa pria yang tadi berusaha melecehkan Hana.
"Mati!" katanya.
"Pembunuh!" seru salah satu pria lain menunjuk ke arah pak Salim.
"Dia mau memperkosa anakku!" bela pak Salim.
"Tangkap, laporkan sama polisi!" kata pria itu lagi.
Pak Salim di amankan dua pria itu, lalu pria lainnya menghubungi Polisi. Pak Salim tidak memberontak, karena ia merasa tidak bersalah. Pak Salim hanya melindungi putrinya.
Tak lama kemudian Polisi datang dan mengamankan pak Salim dan Hana. Sementara korban pemukulan di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi.
Selama proses penyelidikan, keluarga si pria yang di pukul pak Salim tidak terima dan menuntut balik pak Salim supaya di hukum seberat beratnya.