Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Di hukum



Selama proses hukum berjalan, Hana di perbolehkan pulang. Sementara pak Salim di tahan. Setelah hasilnya selesai, Pak Salim di tetapkan menjadi tersangka pembunuhan. Tuntutan keluarga korban memberatkan pak Salim, apalagi pria itu mati di tempat.


Semua pembelaan pak Salim tidak dapat meringankan hukuman. Apalagi pak Salim orang yang tidak punya. Akhirnya pengadilan memutuskan hukuman pada pak Salim dengan hukuman seumur hidup.


Berat, sudah pasti. Namun pak Salim menerima semua itu dengan lapang dada. Ia hanya berserah pada Yang Maha Kuasa.


Bu Sakiyah tidak terima dengan keputusan pengadilan. Ia berteriak dan menangis meminta keringanan hukuman untuk suaminya. Namun apa yang di lakukan bu Sakiyah berakhir sia sia. Bu Sakiyah di usir dari pengadilan bersama Hana.


Sebelum pak Salim di masukkan ke dalam penjara. Ia meminta izin untuk menemui Hana dan istrinya.


Pak Salim memeluk erat Hana.


"Jaga diri kamu baik baik nak..bapak tidak bisa menjaga dan melindungimu lagi. Kamu harus patuh apa kata ibumu ya.." pesan pak Salim. Hana seperti mengerti apa yang terjadi, Hana pun menangis. Kemudian pak Salim memeluk istrinya.


"Jaga Hana, rawat dengan baik. Jangan marah, maafkan bapak..ibu harus lebih sabar lagi..maafkan bapak..maafkan bu..."


Bu Sakiyah tidak menjawab, air mata mengalir dengan deras. Ia dan Hana melepas pak Salim di bawa pihak berwajib ke penjara.


"Bapak!" teriak bu Sakiyah histeris.


Hana ikut menangis lalu berlari mengejar mobil yang membawa pak Salim. Sementara pak Salim hanya bisa menatap Hana berlari mengejar mobilnya.


"Hana pulang!" teriak pak Salim


"Pulang nak..."


Hana berhenti mengejar, ia duduk di jalan aspal di temani bu Sakiyah.


"Nak..ayo kita pulang..." Bu Sakiyah mengangkat tubuh Hana, lalu memapahnya.


****


Sesampainya di rumah. Ada banyak warga datang ke rumah cuma sekedar menghina dan ada juga yang mengusir mereka.


"Anaknya gila, bapaknya pembunuh." kata bu Endah.


"Bisa bisa laki kita juga tergoda sama si gila ini!" kata bu Riri menekan kepala Hana.


"Usir saja!' kata beberapa warga.


"Usir!"


"Ini rumah kami, kami tidak pernah merugikan kalian. kami tidak pernah minta makan sama kalian. Kami tidak pernah mengusik kalian. Tapi kenapa kalian seolah olah menjadi orang yang paling benar dan suci!"


"Kami boleh hina di mata kalian, menjijikkan. Taoi di hadapan Yang Maha Kuasa, belum tentu!"


"Halah, istri pembunuh sok sok-an menceramahi." kata bu Endah.


"Usir!" teriak warga.


"Hentikan!"


Semua warga menoleh ke arah sumber suara. Nampak seorang Dokter muda dan tampan, mendekati mereka.


"Saya Dokter Arga. Saya Dokter pribadinya Hana. Saya akan memberikan kalian edukasi." kata dokter Arga yang baru saja tiba atas rekomendasi Dr Indira.


"Hana tidak gila, saya tekankan sekali lagi Hana tidak gila. Jadi kalian tidak bisa menghakimi tanpa ada bukti yang akurat. Sekarang juga saya minta kalian bubar!"


"Huuuuu!!" teriak warga.


Bu Sakiyah menangis seraya memeluk erat tubuh Hana, memperhatikan warga meninggalkan rumahnya.


"Dokter terimakasih.


Dr Arga menoleh ke arah Bu Sakiyah dan Hana.


"Maaf bu, saya datang terlambat karena banyak urusan." kata Dr Arga.


"Tidak apa apa Dok, tapi sekarang. Mungkin uangnya sudah berkurang untuk membayar Dokter." Kata bu Sakiyah.


Dr Arga tersenyum.


"Jangan di pikirkan, saya akan membantu Hana sampai sembuh." katanya lagi.


"Terima kasih dok, terima kasih..' ucap bu Sakiyah.