Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Di mana bapak?



"Hana.."


Hana masih diam dengan tatapan kosong.


"Hana."


Hana mulai menoleh ke arah pria yang pernah memberinya cinta sekaligus luka yang mendalam.


Hana..."


Perlahan Hana berdiri menghampiri pria itu yang tak lain Pramudya, datang lagi kehadapannya dengan membawa penyesalan telah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


"Hana, kau masih ingat denganku?"


Hana menarik bibirnya lalu terisak, kedua tangannya menunjuk ke belakang lalu ke samping tanpa arah dan maksud tujuannya apa. Yang jelas, perasaan dan ingatan Hana kembali terusik. Rasa perih di dalam hatinya kembali mengusik semua kenangan masa lalu.


"Maafkan aku, Hana.." ucap Pramudya menggenggam erat kedua tangan Hana.


"Kammu.." ucap Hana dengan nada bergetar. Kedua tangan Hana tidak mau diam, meski Pramudya terus menggenggamnya erat.


"Hana, maafkan aku..aku tidak tahu kalau kamu bisa jadi seperti ini gara gara aku.."


Hana terus terisak, menangis tanpa suara.


"Maafkan aku, Hana..maafkan aku.." Pramudya menarik tubuh Hana lalu memeluknya dengan erat.


Bersamaan dengan Siska yang tiba tiba datang dan menarik rambut Hana lalu menghempaskannya ke tanah.


"Wanita gila!" Pekik Siska.


"Siska!" Teriak Pramudya.


"Mas, kamu itu suamiku. Tega teganya kamu peluk wanita lain di belakangku!" Seru Siska marah.


"Diam kamu, aku menikahimu juga terpaksa. Kau yang merengek, kau yang merayu!" Balas Pramudya.


"Kenapa baru sekarang kamu protes mas? Kenapa baru sekarang!" Teriak Siska, hingga tetangga mendengar dan mereka mengintip.


"Semua gara gara wanita gila ini!"


Buk


Siska menendang kaki hana cukup keras hingga terdengar suara erangan kesakitan dari bibir Hana.


"Tante jahat!"


Puk


Puk


Kafi langsung memukul tangan Siska menggunakan tas nya. Lalu berlari mendekati Hana dan membantunya untuk bangun.


"Dasar anak haram!" Pekik Siska melotot ke arah Kafi. Sementara Kafa menangis di belakang Siska.


"Siska cukup!" Seru Pramudya menarik tangan Siska supaya menjauh dari Hana.


"Aku bukan anak haram!" Balas Kafi teraik pada Siska.


"Mana bapakmu, hah?!" Siska bertanya pada Kafi. Tanpa menggunakan perasaan kalau Kafi masih anak anak yang tidak tahu apa apa.


"Bapak?" Ucap Kafi menoleh ke arah Hana.


"Iya, kau itu anak-?"


Pramudya menampar wajah Siska, lalu menyeretnya menjauh dari rumah Hana.


"Ibu tidak apa apa?" Tanya Kafi, kedua bola matanya berkaca kaca.


Hana menggelengkan kepalanya.


"Kaka..."


"Adek jangan menangis.." Kafi mendekati Kafa lalu memeluknya dengan erat.


"Sudah jangan menangis..nanti kita beli permen ya." Bujuk Kafi mencoba untuk menenangkan Kaffa. Kenyataannya Kafi sendiri merasa sedih sering di hian anak haram. Kafi sendiri tidak tahu arti anak haram, tapi rasanya sangat menyakitkan hatinya.


"Kakak..anak halam itu apa?" Tanya Kafa dengan polosnya.


"Anak baik...ya anak baik artinya.." kata Kafi tersenyum sambil mengusap air mata di pipi Kafa.


Sementara Hana hanya diam membisu, bibirnya tidak bicara. Tetapi air matanya yang mewakili semua perasaan yang ia rasakan saat ini.


Perlahan Hana berjalan mendekat lalu menarik tangan kedua putranya dan membawa masuk ke dalam rumah.


"Ibu...bapak di mana.?" Tanya Kafa.


Hana diam membisu menatap wajah putranya.


"Benal, adek punya bapak?" Tanyanya lagi, Kafi langsung membungkam mulut Kafa dengan tangannya.


"Ssst diam.." bisiknya, ia takut kalau ibunya marah.


"Lepas!" Kafa menepis tangan Kafi.


"Ibu! Di mana bapak!" Seru Kafa.


"Adek!" Bentak Kafi.


"Ibu..bapak di mana bu..." isak Kafa menunggu jawaban dari Hana.


Namun, Hana bereaksi lain. Ia mengambil sapu lalu memukul tangan Kafa.


"Sakit bu....!"


Kafi mencoba memeluk Kafa dan melindunginya dari pukulan sang ibu


Puk


Puk


Puk


"Hana hentikan!" Pekik bu Sakiyah merebut sapu di tangan Hana.


"Apa apaan kamu, hah? Mereka masih anak anak!" Pekik bu Sakiyah marah.


Hana berjalan perlahan lalu duduk di pojokan kamar sambil memeluk kedua lututnya.


"Astagfirulloh.." bu Sakiyah mengusap wajahnya pelan. "Astagfirulloh."


"Nenek!' Kafa berlari menghampiri Sakiyah lalu memeluknya dengan ketakutan menatap ke arah Hana.


Sementara Kafi hanya bisa menangis lalu berlari keluar rumah. Duduk di teras sambil memainkan kerikil.


"Bapak..bapakku di mana.." batin Kafi.