
Di kantor.
Sagara memerintahkan Palu dan Obeng untuk datang ke kantor Polisi, untuk menjenguk adik dari papanya yang berada di penjara sekaligus mengantarkan makanan dan beberapa pakaian yang di butuhkan.
Setelah mendapatkan perintah, Palu dan Obeng bergegas menjalankan perintah tuannya.
Sesampainya di kantor Polisi. Palu dan Obeng menemui pamannya Sagara dan menyerahkan pakaian dan juga makanan yang di pesan. Setelah selesai, Obeng dan Palu memutuskan untuk kembali ke kantor Sagara.
Namun, saat mereka berdua tengah berjalan di tepi lapangan khusus untuk narapidana berolahraga. Tiba tiba Obeng di tarik tangannya dari belakang.
Obeng balik badan, menghadap ke arah seorang pria tua yang pernah ia temui dulu sewaktu mengantarkan Hana.
"Ba, bapak?" Ucap Obeng gugup.
"Saya masih ingat, kamu yang memberitahu kalau putriku sudah di temukan." Kata pak Salim masih mencengkram tangan Obeng.
"Katakan padaku, siapa yang menghamili putriku!!" Pekik pak Salim.
"Ha, hamil?" Ucap Obeng dan Palu bersamaan.
"Jangan pura pura tidak tahu!"
Buk
Pak Salim memukul wajah Obeng, namun tidak membuat tubuh Obeng oleng.
"Pak tenang pak.." Palu mencoba untuk menenangkan pak Salim.
"Ada apa ini?'
Obeng dan yang lain menoleh ke arah seorang penjaga penjara. Kemudian Obeng menjelaskan kalau mereka saling kenal. Pak Salim diamankan Polisi lain. Sementara Obeng dan Palu di bawa keluar dari lapangan.
Sepanjang jalan, Obeng bertanya pada Polisi tersebut, mengenai pak Salim.
"Kesalahan apa yang sudah di buat pak Salim?" Tanya Obeng.
Polisi tersebut memberitahu Obeng dan Palu, mengapa pak Salim berada di penjara.
Obeng dan Palu manggut manggut, lalu mengucapkan terima kasih di ujung cerita. Setelah mereka berada di dalam mobil, Obeng dan Palu berbicara serius.
"Beng, apa mungkin ya, non Hana hamil sama tuan?" Tanya Palu.
"Aku tidak tahu, Pal." Jawab Obeng bingung.
"Sebaiknya kita mencari tahu dulu kebenarannya, kalau sudah akurat informasi yang kita dapat. Kita harus segera melaporkannya sama tuan Saga." Usul Palu.
"Kau benar, pak Salim harus segera di bantu untuk di bebaskan." Timpal Obeng.
"Bagus, sekarang kita ke tempat di mana kita melepas non Hana."
Setelah mereka sepakat, akhirnya Obeng dan palu pergi ke tempat di mana mereka melepas Hana.
Sesampainya di depan gang sempit. Obeng menepikan mobilnya, mereka berdua keluar dari dalam mobil.
"Kau masih ingat jalannya?" Tanya Palu.
"Tentu saja, ayo!" Obeng menepuk bahu Palu, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju gang sempit.
Terdapat banyak perbedaan kala Obeng mengantarkan Hana dulu. Kini jalan menuju perkampungan tersebut sangat sempit dan banyak anak anak yang berlarian ke sana ke mari.
"Beng lihat!"
Palu menunjuk ke arah dua anak kecil yang sedang berjalan ke arah nya.
"Bukankah itu Kafi dan Kafa?"
Obeng menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita samperin!"
Mereka berdua berjalan mendekati Kafi dan Kafa.
"Om!" Panggil Kafi.
"Heh anak ganteng, kalian mau kemana?" Tanya Palu.
"Habis beli kecap om." Sahut Kafi lagi sambil menunjukkan sebungkus kecap berukuran kecil.
"Om bawa makanan enak gak?" Tanya Kafa menarik tangan Obeng.
"Om minta maaf, nggak bawa makanan. Nanti om traktir kalian lagi." Kata Obeng.
"Om ikut ke rumahku, nenek mau buat nasi goreng. Ayo om!"
Kafi menarik tangan Kafa lalu mereka berjalan mendahului.
"Om, ayo!" Ajak Kafi lagi.
Melihat kelucuan kedua anak itu, Palu dan Obeng tidak bisa menolak. Akhirnya keduanya mengikuti langkah Kafi dan Kafa.
Sesampainya di depan rumah. Obeng dan Palu diam mematung.
"Pal, ini rumah..bukankah ini rumah.." bisik Obeng di telinga Palu.
"Om ayo!" Seru Kafi.
Obeng dan Palu mengangguk, kemudian mereka memasuki rumah bu Sakiyah.
"Nenek, ada om!" Seru Kafi.
Bu Sakiyah keluar dari dalam dapur.
"Om?" Tanya bu Sakiyah.
"Nek, mereka om yang pernah kasih kakak sama adek uang." Jelas Kafi.
Bu Sakiyah tersenyum lalu menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Namun Palu dan Obeng diam membisu, menatap Hana yang duduk di kursi dengan tatapan kosong.
"Jangan takut, itu Hana putriku." Jelas bu Sakiyah.
"Om ayo duduk!" Sela Kafa bergelayut manja di tangan Obeng.
Obeng dan Palu hanya mengangguk lalu mereka duduk di kursi, Obeng memangku Kafa.
Bu Sakiyah duduk di dekat Hana, sementara Kafi mengambilkan minum untuk Obeng dan Palu.
"Bu, Kafi dan Kafa, putra kembar?" Tanya Palu memberanikan diri.
"Iya betul, mereka berdua putranya Hana." Kata bu Sakiyah menjelaskan.
"Oya, di mana papa nya Kafi dan Kafa. Boleh saya ketemu, siapa tau kami kenal. He he he." Ujar Palu di akhiri tertawa kecil untuk mencairkan suasana hatinya yang gugup.
Bu Sakiyah menundukkan kepalanya.
"Ayahnya kafi..?" Bu Sakiyah tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Ade sama kakak, nggak punya ayah. Makanya adek sama kakak suka di katain anak haram, om." Ungkap Kafi dari arah pintu dapur menyela pembicaraan.
Obeng dan Palu saling pandang sesaat, sikap mereka berubah menjadi kikuk.
"Maaf bu..."
"Tidak apa apa." Kata bu Sakiyah.
"Om di minum." Kata Kafi lalu duduk di kursi.
Obeng menurunkan tubuh Kafa dari pangkuannya. Lalu ia mengambil dompet di saku celananya.
"Bu, ini ada uang satu juta buat adek sama kakak." Kata Obeng meletakkan uang di atas meja.
Setelah itu ia berdiri dan menarik kerah baju Palu supaya berdiri.
"Kami pamit pulang dulu bu.."
Belum sempat bu Sakiyah bicara apa apa. Palu dan Obeng buru buru pergi keluar.
"Loh, mereka kenapa?" Tanya bu Sakiyah pada Kafi dan Kafa.
"Mungkin om lagi ada ulusan." Sela Kafa.
"Ya sudah, alhamdulillah dapet rejeki nak.." kata bu Sakiyah mengambil uang di atas meja.
"Holeee beli ayam goleeng!" Seru Kafa senang.
Sementara Obeng dan Palu memutuskan untuk segera pulang dan memberitahu tentang Hana pada Sagara.