
Sepanjang perjalanan menuju rumah Hana. Sagara mendekap erat tubuh Hana, dalam hatinya menyesali perbuatannya telah menyentuh tubuh Hana.
"Aku berjanji, akan menjengukmu suatu hari nanti. Jika aku datang nanti, aku harap kau sudah sembuh dan bisa merasakan bahagia," ucap Sagara pelan.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di pinggiran kota Jakarta. Mobil berhenti tepat di gang yang sempit.
"Tuan, mobilnya tidak bisa masuk ke dalam kampung itu." Kata Obeng.
"Kau turunlah, dan pastikan keluarganya datang ke sini menjemput." Perintah Sagara.
Obeng mengangguk, lalu keluar dari dalam mobil. Kemudian ia bertanya pada orang sekitar alamat rumah Hana.
Sementara Sagara meminta Palu untuk membawa Hana dan uang di amplop coklat di berikan pada Hana.
"Ambil uang ini, pergunakan untuk pengobatanmu." Kata Sagara pada Hana yang hanya bengong dan tak mengerti apa yang di ucapkan Sagara.
Sagara melepaskan Hana ikut bersama Palu.
"Maafkan aku.." ucapnya dalam hati, memperhatikan Palu membawa Hana tepat di ujung gang dan meninggalkannya sendirian.
Tak lama terlihat Obeng datang sendirian lalu mendekati Palu, mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, mereka bertiga memperhatikan Hana. Tak lama terlihat seorang wanita tua datang dan menghampiri Hana lalu memeluknya dengan erat.
Sagara memalingkan wajahnya, matanya merah menatap ke arah lain. Saat ini, pikiran dan hatinya campur aduk, tak dapat di jelaskan.
"Kita pulang!" Perintah Sagara pada Obeng dan Palu.
"Baik tuan.." sahut Palu.
Obeng menjalankan mobilnya meninggalkan kampung tersebut.
"Non Hana..kamu gadis baik. Maafkan aku..maafkan aku.." batin Palu.
"Non Hana, suatu hari nanti aku pasti datang untuk melihat kedatanganmu.." ucap Obeng dalam hati.
****
"Hana!' Pekik seorang pria tua menyambut kedatangan Han. Ia berlari dan memeluk Hana dengan erat lalu menangis.
"Sukur Alhamdulillah..akhirnya Hana di temukan pak Salim, bu Sakiyah.." ucap salah satu tetangganya.
"Iya bu..putri saya sudah ketemu.." jawab bu Sakiyah, lalu membawa Hana masuk ke dalam rumah yang berukuran kecil.
"Nak, ini apa?" Tanya pak Salim melihat amplop coklat di tangan Hana lalu mengambil dan memeriksanya.
"Uang!" Seru pak Salim terkejut melihat uang yang begitu banyak jumlahnya bagi pak Salim.
"Bu, bagaimana ini?" Tanya pak Salim.
"Tidak tahu pak, putri kita tidak mungkin mencuri." Katanya bu Sakiyah.
"Ya sudah simpan bu, siapa tahu nanti ada yang mencari uang ini." Kata pak Salim dengan polosnya.
Bu Sakiyah mengangguk, kemudian mengambil amplop di tangan pak Salim dan menyimpannya di lemari.
"Nak, sekarang kau istirahat ya.." kata pak Salim lalu menuntun Hana ke kamarnya.
"Pak, kira kira apa yang terjadi dengan putri kita. Lihat pakaiannya bagus dan pasti mahal.." kata bu Sakiyah memperhatikan pakaian yang di kenakan Hana.
"Mungkin ada orang baik yang sudah merawat anak kita pak..sudah satu bulan anak kita menghilang." Kata bu Sakiyah berpikir positif.
Pak Salim mengangguk.
"Nak, kau istirahat. Biar ibu yang menjagamu." Kata bu Sakiyah lalu naik ke atas tempat tidur. Memeluk Hana dengan erat.
Sementara pak Salim keluar dari kamar, mencari orang yang sudah memberitahu kalau putrinya ada di gang. Namun sejauh ia berjalan, pak Salim tidak menemukan keberadaan Obeng.
"Terima kasih orang baik..." gumam pak Salim mengucap kata syukur, putrinya sudah kembali setelah satu bulan ia mencarinya kemana mana.