Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Bebas dari hukuman.



Tepat pukul satu siang.


Pintu gerbang penjara terbuka. Nampak seorang pria berkulit putih, rambutnya gondrong, memakai jaket kulit berwarna hitam, sekitar usia 30 tahun. Keluar dari pintu gerbang penjara dan tersenyum pada penjaga pintu gerbang.


"Semoga harimu menyenangkan setelah keluar dari penjara dan jangan menginjakkan kakimu di sini lagi, tuan." Kata penjaga.


Pria itu menepuk lengan sang penjaga lalu melangkahkan kakinya. Sesaat ia berdiri terpaku menatap ke arah Sagara yang berdiri tegap dekat mobil tengah menatapnya juga.


Pria berambut gondrong yang tak lain pamannya Sagara. Pria itu melangkah kan kainya lagi mendekati Sagara.


"Apa kabarmu, Al." Sapa Sagara seraya merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Al.


Pria yang di panggil Al, tersenyum smirk. Pemilik nama Al Arrayan, itu memilih menepuk bahu Sagara dari pada harus menyambut pelukan dari keponakannya itu.


"Aku mau pulang, cepatlah!" Ucap Al memberikan perintah.


Sagara menarik napas panjang, lalu bergegas masuk ke dalam mobil, di ikuti Al. Kemudian Sagara melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan pulang, Al dan Sagara tidak ada pembicaraan. Suasana di dalam mobil hening.


Tak lama mereka telah sampai di depan rumah. Sagara dan Al keluar dari dalam mobil.


Buk!


Suara pintu mobil di tutup cukup keras membuat Sagara terkejut dan menoleh ke arah Al.


"Kupikir kau akan berubah, ternyata sama saja." Kata Sagara.


Al hanya tersenyum sinis, melirik tajam Sagara lalu melangkahkan kakinya mendekati Abraham, Lidya dan Jasmin yang berdiri di teras rumah menyambut Al dengan tatapan tidak suka.


"Akhirnya kau pulang juga. Ku harap setelah ini, sikap dan tabiatmu berubah." Pesan Abraham pada Al.


"Jangan beri dia fasilitas dulu, apalagi jabatan di perusahaan." Ucap Lidya sinis.


Al hanya mengangguk anggukkan kepala, setelah itu ia masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Tetap sama saja, tidak ada perubahannya." Gerutu Lidya.


"Tenanglah, Al tidak akan mendapatkan apapun. Apalagi jabatan, biar dia cari pekerjaan lain." Sahut Abraham.


"Baguslah!" Sahut Lidya ketus, kemudian masuk ke dalam rumah di ikuti Abraham.


"Sayang, ayo istirahat." Jasmin menggandeng tangan Sagara, masuk ke dalam rumah.


***


Kehadiran Al di rumah itu mengusik ketenangan yang sudah lama tercipta sejak Al di penjara selama 10 tahun.


Terutama Lidya, sangat membenci Al. Setiap gerak dan ucapan Al, membuat Lidya muak. Terlebih sikap Al tidak menunjukkan itikad baik untuk berubah seperti keinginan Lidya dan Abraham.


Apalagi sikap Al yang sering menunjukan hal tidak baik ketika dekat dengan Jasmin.


Sagara yang awalnya tidak tertarik dengan Jasmin, perlahan mulai mendekati Jasmin dan menerima apapun yang Jasmin tawarkan termasuk menyentuh tubuhnya.


Situasi tidak baik itu di manfaatkan Jasmin untuk menarik perhatian Sagara, hingga akhirnya Sagara luluh.


Hingga suatu hari, Al ketahuan tengah menatap Jasmin. Hingga membuat Sagara cemburu dan terjadi cekcok diantara mereka dan di dengar oleh Lidya dan Abraham.


"Apa tidak ada pekerjaan lain, selain mengganggu dan merusak?" Ucap Lidya asal menuduh.


"Tidak ada jatah makan atau uang bulanan buatmu. Kau harus mencari pekerjaan di tempat lain." Katanya lagi.


"Buktikan padaku, baru aku percaya." Timpal Abraham.


Al Arrayan hanya tersenyum smirk, tanpa membalas perkataan mereka. Lalu ia beranjak pergi keluar dari ruangan.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu." Kata Sagara berpamitan.


"Iya sayang, hati hati." Pesan Jasmin.


Sagara menganggukkan kepalanya lalu bergegas meninggalkan rumah. Sementara Jasmin menemui Al di teras rumah.


"Sepertinya kau bisa membantuku?"


Al menoleh ke arah Jasmin yang duduk di sampingnya.


"Aku akan memberikanmu uang, tapi syaratnya kau harus mengikuti perintahku." Katanya lagi.


Al diam menatap tajam wajah Jasmin, mendengarkan semua intruksinya.


"Namanya Hana."


Jasmin melanjutkan lagi penjelasannya termasuk memberikan alamat Hana yang lama.


"Kau harus menyelidiki dari rumah itu lebih dulu, kalau kau sudah berhasil menemukannya. Lenyapkan dia bersama kedua putranya."


Al masih diam, tidak meng-iyakan atau menjawab tidak. Namun saat Jasmin menyodorkan uang dari amplop yang sudah di sediakannya dari awal, Al menerimanya.


"Lakukan dengan baik."