
Dr Arga yang mengetahui kedatangan ibunya dan Maya ke rumah Hana. Membuat ia marah dan mengambil keputusan untuk memutuskan pertunangan mereka dan memilih pergi dari rumah demi untuk membantu Hana dan memperjuangkan cintanya pada Hana.
Dr Arga memilih tinggal di rumah sewaan tak jauh dari kampung tempat Hana tinggal.
Setiap pulang kerja, Dr Arga menyempatkan diri datang ke rumah Hana. Membawakan makanan untuk Kafi dan Kafa.
Hari demi hari mereka semakin dekat dan memicu kecemburuan yang makin besar di dalam hati Maya.
"Hana..kamu duduk di sini ya.." kata Dr Arga, membantu Hana duduk di kursi teras rumah.
Hana duduk dan tersenyum pada Dr Arga.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Kata Dr Arga, sambil merogoh saku celananya dan mengambil kotak kecil dan membukanya.
"Kalung ini pasti cantik, kalau kamu yang pake," katanya lagi sambil memakaikan kalung itu di leher Hana.
Hana tersenyum lebar, memperhatikan wajah Dr Arga.
"Kamu suka?" Tanya Dr Arga lalu duduk di kursi.
Hana menganggukkan kepalanya. Kemudian Dr Arga nyatakan cinta pada Hana.
"Hana, aku mencintaimu.."
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Meski ia tidak paham apa yang di katakan Dr Arga. Hana hanya tahu dan merasakan kalau Dr Arga adalah pria baik.
Dr Arga tersenyum melihat reaksi Hana tidak seperti dulu, ia mencium puncak kepala Hana sekilas.
"Nak.."
Dr Arga menoleh ke arah Bu Sakiyah yang berdiri di ambang pintu.
"Ya bu.."
"Ibu mau ke pasar, beli bahan bahan buat jualan besok pagi." Kata bu Sakiyah.
"Aku antarkan ibu sebentar, dari pada harus jalan kaki." Kata Dr Arga.
"Tidak apa apa, lagipula pasarnya dekat kok." Tolak bu Hana.
"Biarin saya yang antar," ucap Dr Arga memaksa.
"Baiklah nak.." bu Sakiyah akhirnya menerima tawaran Dr Arga.
"Hana, kamu jangan kemana mana. Sebentar lagi Kafi dan Kafa pulang sekolah." Pesan bu Hana.
Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian bu sakiyah dan Dr Arga pergi bersama ke pasar tradisional.
Selang beberapa menit sepeninggal Dr Arga dan bu Sakiyah. Si kembar pulang ke rumah langsung menyalami tangan Hana.
"Bu, nenek kemana?" Tanya Kafi pada Hana.
Hana menunjuk ke arah ujung jalan. Kafi mengerti bahasa isyarat ibunya, kalau neneknya pergi keluar rumah. Ia berlari masuk ke dalam di ikuti Kafa. Mereka berdua mengganti pakaiannya lalu kembali menemui Hana.
"Bu, kakak mau main dulu ya." Kata Kafi.
"Adek juga!" Seru Kafa.
Mereka berdua berlarian ke halaman rumah di ikuti Hana dari belakang. Diam diam ia memperhatikan kedua putranya bermain.
Namun sepanjang jalan, teman teman sebaya Kafi dan Kafa tidak ada yang mau bermain dengan mereka. Bahkan Hana dan keduanya mendapatkan tatapan cemooh dan sindiran yang menyakitkan hati.
"Ibu!" Seru Kafa berbalik memeluk Hana saat ada anak seusianya hendak melempar cangkang pisang ke arahnya. Kafi berusaha melindungi Kafa dan Hana dari orang orang yang berniat jahat seolah olah sangat mengerti kondisi ibunya.
"Adek, ibu, pulang aja yuk?!"
Kafa menganggukkan kepala, lalu mereka kembali berjalan menuju rumahnya.
"Kakak, kenapa mereka benci adek ya?" Tanya Kafa.
"Biarin aja adek, yang penting ada kakak yang jagain adek sama ibu!" Sahut Kafi sambil menepuk dadanya sendiri.
Sesampainya di rumah, Kafi dan Kafa terkejut melihat neneknya berjalan dengan kaki pincang.
"Nenek!" Seru mereka menghampiri bu Sakiyah di ikuti Hana.
Bu Sakiyah duduk di lantai sambil memijit kakinya yang luka.
"Ibu kenapa?" Tanya Hana melihat luka di kakinya.
"Ibu tadi keserempet mobil, pas mau cari Dr Arga. Mobilnya langsung kabur nak, terus Dr Arganya nggak ada." Jelas bu Sakiyah.
"Mungkin Doktel nya pulang nek." Sela Kafa.
Bu Sakiyah mengangguk seraya menahan nyeri. Semua belanjaannya berantakan di dalam keranjang.
"Nenek ayo masuk, biar diobatin dulu lukanya." Kata Kafi.
Bu Sakiyah mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam rumah.
*****
Sejak kejadian bu Sakiyah keserempet mobil, Dr Arga tidak pernah lagi datang kerumah seperti biasa. Bu Sakiyah mulai jarang berjualan karena kaki kanannya sering terasa sangat sakit. Uang simpanan yang tersisa di pakai buat berobat ke Puskesmas. Namun Dokter meminta bu Sakiyah untuk di bawa ke rumah sakit besar. Karena kendala biaya, terpaksa Bu Sakiyah membiarkan kakinya dan di obati dengan obat seadanya.
Hari demi hari, Bu Sakiyah mengalami kesulitan ekonomi. Jangankan untuk membayar sekolah Kafi dan kafa. Buat makan saja mereka hanya bisa makan sehari satu kali atau dua kali.
"Adek, sini duduk." Kata Kafi.
Kafa mengangguk, lalu berjalan mendekati Kafi. Mereka berdua duduk di teras berbicara serius layaknya orang dewasa.
"Ada apa kak?" Tanya Kafa menatap bingung Kafi.
"Adek, kamu mau ga? Bantu nenek?" Tanya Kafi.
Kafa menganggukkan kepalanya.
"Mau!"
"Ssstt, jangan keras keras." Kata Kafi membungkam mulut adiknya. Kafa menganggukkan kepalanya.
"Nenek sedang sakit, jadi kakak harus gantiin nenek cari kerja." Ucap Kafi.
"Kakak kerja, telus sekolah kakak gimana?" Tanya Kafa serius.
"Kakak nggak sekolah, adek saja yang sekolah. Tapi, adek harus janji sama kakak." Kata Kafi.
"Janji apa kak?" Tanya Kafa.
"Adek mau ayam goreng kan, mau uang jajan, mau makan yang kenyang?" Tanya Kafi seraya menjelaskan.
Kafa menganggukkan kepala.
"Iya mau.."
"Nah, adek janji sama kakak. Kalau adek nggak bakalan bilang nenek atau ibu, kalau kakak cari kerja." Ungkap Kafi.
Kafa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Adek ngerti?" Tanya Kafi lagi.
Kafa menganggukkan kepalanya lalu menjulurkan jari kelingkingnya.
"Adek janji nggak bilang bilang."
Kafi membalas dengan menautkan jari kelingkingnya. Kemudian memeluk erat tubuh Kafa.
"Makasih ya adek."
Kafa terus mengangguk, lalu mereka berdua tertawa kecil.
***
Ke-esokan paginya, seperti biasa. Kafi dan kafa berangkat sekolah. Kali ini bu Sakiyah tidak memiliki uang lagi. Hanya tersisa lima ribu rupiah, lalu di berikan pada si kembar untuk di bagi dua.
Namun setelah mereka jauh dari rumah. Kafi melepas seragam sekolahnya lalu di masukkan ke dalam tas. Uang lima ribu di berikan semua pada Kafa.
"Kakak mau kerja apa?" Tanya Kafa.
"Kakak belum tau adek, mungkin kakak mau ambil rongsok kaya bapak itu!" Tunjuk Kafi ke arah pemulung.
"Kakak bawa karungnya?" Tanya Kafa khawatir.
Kafi mengangguk.
"Karungnya sudah kakak siapkan. Sekarang adek masuk ke sekolah ya, ingat jangan nakal harus rajin belajar. Kalau ada yang galakin adek, bilang sama kakak." Pesan Kafi pada Kafa.
Kafa mengangguk, lalu berlari ke arah sekolah tak jauh dari tempat mereka berdiri. Di depan gerbang, Kafa melambaikan tangannya pada Kafi lalu masuk ke gerbang sekolah.
Kafi menarik napas panjang, dengan semangat tinggi ia berlari sambil menenteng karung menghampiri pemulung.
"Bapak!" Seru Kafi.
Pemulung tersebut menoleh ke arah Kafi.
"Ada apa nak?" Tanya pria tua itu.
"Bapak, aku mau cari rongsokan. Kalau udah dapet di jual kemana?" Tanya Kafi serius.
"Nak, kamu masih kecil. Nggak sekolah?" Tanya bapak tersebut.
"Nggak pak!" Sahut Kafi menggelengkan kepalanya.
Bapak tersebut diam memperhatikan wajah Kafi yang terlihat sangat tampan biarpun masih kecil. Bapak tersebut meragukan Kafi mau memulung sepertinya. Karena di lihat dari wajahnya, Kafi terlihat bukan anak orang tak punya.
"Bapak?" Panggil Kafi.
"Kamu serius nak?" Tanya bapak tersebut.
Kafi mengangguk lagi.
"Baiklah, kalau rongsokkanmu sudah banyak atau belum. Bisa jual ke bapak saja." Kata bapak tersebut.
"Panggil pak Jali. Bapak selalu mangkal di dekat rel kereta api ujung jalan." Kata pak Jali memberi petunjuk.
"Siap pak!" Sahut Kafi antusias.
"Hati hati ya nak!" Pesan pak Jali.
Kafi mengangguk, lalu berlari menyusuri tepi jalan dan tempat warung makan. Di mana tersedia banyak sampah bekas minuman.