
Kehadiran Dr Arga, sedikit mengurangi cibiran tetangga. Meski masih saja ada yang suka gosip sana sini kepada Hana dan keluarganya.
Dr Arga datang setiap seminggu sekali untuk memeriksa Hana dan kandungannya.
Beruntung, bayi dalam kandungannya sehat. Begitu juga dengan kesehatan Hana, hanya depresinya masih belum sembuh.
Dr Arga, pria berusia 27 tahun. Tampan dan mapan, berasal dari keluarga berada. Mengetahui bu Sakiyah, orang yang tidak mampu. Ia tidak berniat meminta sepeserpun bayaran. Bahkan, setelah mendengar kisah Hana langsung dari ibunya. Dr Arga menaruh simpati pada Hana.
Ia tulus membantunya dan selain itu, Dr Arga terpesona oleh kecantikan Hana. Dr Arga mendekati Hana tidak hanya sekedar Dr dan pasien. Tetapi ia juga mendekati Hana layaknya sahabat.
Hana mulai merasa nyaman dan tidak takut lagi pada Dr Arga. Begitu juga sebaliknya, benih cinta tumbuh di hatinya. Namun Dr Arga menyimpannya di dalam hati.
Setiap ada kesempatan libur, Dr Arga akan mengajak Hana untuk jalan jalan. Hingga suatu hari, Dr Arga memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya pada Hana.
Dr Arga mengajak Hana makan malam setelah dapat izin dari bu Sakiyah. Dr Arga membawa Hana ke sebuah restoran dan memesan makanan untuk mereka berdua.
"Hana.."
Hana melirik ke arah Dr Arga.
"Aku menyukaimu.." kata Dr Arga.
Hana masih diam dengan terus menatap wajah Dr Arga.
"Aku mau kamu, menjadi kekasih dan calon istri buatku. Apa kau mau?" Tanya Dr Arga membalas tatapan Hana.
Hana masih tetap diam dan terus menatap Dr Arga.
"Hana?" Dr Arga menyentuh tangan Hana yang ada di atas meja.
Hana mengerjapkan mata lalu mengalihkan pandangannya pada makanan yang tersaji di atas meja.
"Lapar..." ucap Hana pelan, lalu mengambil makanan diatas meja menggunakan tangannya.
Dr Arga mencegah Hana melakukan itu, lalù menggeser duduknya lebih dekat dengan Hana dan membantunya mengambil makanan menggunakan sendok lalu menyuapinya.
"Hhh, aku lupa..Hana belum sembuh. Seharusnya aku tidak mengatakannya sekarang." Batin Dr Arga.
"Percuma juga..."
"Hana...bukankah itu Hana?" Gumamnya dalam hati.
"Siapa pria yang bersamanya, apa mungkin suaminya yang baru. Bukankah gosip yang aku dengar selama ini kalau Hana gila?" Gumamnya lagi.
"Mas, lagi liatin siapa sih?" Tanya wanita di hadapannya.
"Mas parmudya!" Panggil wanita itu lalu mengikuti arah pandang Pramudya.
"Hana?" Ucapnya pelan, lalu mengalihkan pandangannya pada Pramudya.
"Mas.."
Pramudya menoleh ke arah wanita di sampingnya yang tak lain istrinya yang bernama Siska.
"Ada apa?"
"Mas lagi liatin Hana?" Tanya Siska.
"Iya, sepertinya Hana sudah punya suami." Kata Pramudya.
"Bagus dong, jadi mas ga perlu merasa bersalah." Kata Siska.
"Iya Sis, sudahlah ga penting bicarain Hana. Kita lanjut makan." Pungkas Pramudya.
Pramudya dan Siska kembali melanjutkan makan malamnya. Pramudya sesekali mencuri waktu memperhatikan Hana. Ia terkejut saat melihat Dr Arga dan Hana berdiri.
"Hamil...Hana sudah hamil?" Ucapnya dalam hati.
Pramudya memalingkan wajahnya saat Dr Arga dan Hana melewati meja nya.
Sepeninggal Hana dan Dr Arga. Pramudya mendengar salah satu pengunjung restoran sedang membicarakan Hana.
"Beruntung ya, gila tapi bisa gaet seorang Dokter."
"Tapi mereka ga bisa nikah kalau anak di perut si Hana belum lahir. Secara anak di perutnya kan anak haram."
"Anak haram?" Batin Pramudya.