Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Di rawat



"Ibu ....!


"Ibu....!"


Kafi dan Kafa ikut mendorong ibunya yang berlumuran darah di atas brankar menuju UGD.


"Ibu!"


"Ibu!"


"Adek, kalian tunggu di luar ya." Kata Suster.


Kafi memeluk Kafa erat, keduanya menangis tersedu sesu. Sementara Sagara hanya diam memperhatikan mereka berdua. Rasa bersalah menguasai hatinya membuat dadanya sesak. Melihat mereka menangis, hati Dr Arga ikut hancur. Ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan.


Perlahan Dr Arga menghampiri Kafi dan Kafa.


"Kalian jangan menangis."


Kafi melepas pelukannya lalu tengadahkan wajahnya menatap Dr Arga.


"Om!" Seru Kafi memeluk Dr Arga.


"Om, ibu.." ucap Kafi.


Dr Arga jongkok dan mengusap air mata Kafi.


"Om minta maaf.." kata Dr Arga.


"Om kemana saja, kok nggak pernah ke rumah lagi.." tanya Kafi.


Dr Arga menautkan kedua alisnya menatap Kafi.


"Apa kita saling mengenal?" Tanya Dr Arga.


Kafi menganggukkan kepalanya.


"Om dulu sering datang kerumah, bawa makanan buat kami. Jenguk ibu, ngobatin ibu.." ungkap Kafi dan di benarkan Kafa.


Dr Arga terdiam, kepalanya terasa sangat sakit saat mendengar penjelasan Kafi.


"Siapa anak anak ini?" Batinnya.


"Om, baik baik saja?" Tanya Kafi.


Dr Arga tidak menjawab, ia memilih pergi karena kepalanya semakin terasa sangat sakit mencengkram.


"Om!" Panggil Kafi.


"Kak, om kenapa?" Tanya Kafa.


Kafi menggelengkan kepalanya lalu memeluk erat Kafa.


"Kakak, adek lapar."


Kafi melepas pelukannya lalu mendengar suara bunyi perut Kafa yang keroncongan.


"Kamu tunggu di sini, kakak carikan kamu makan." Kata Kafi.


Kafa mengangguk.


"Kakak hati hati ya, jangan lari ke jalan!" Seru Kafa melambaikan tangannya pada Kafi.


Kafi menoleh ke arah Kafa.


"Jaga ibu!"


"Iya kak!"


Kafi berlari menuju lorong rumah sakit.


"Cari makan buat adek kemana?" Gumam Kafi sedih.


Langkahnya terhenti di tepi jalan, memperhatikan penjual makanan. Kafi menelan air liurnya melihat seorang anak laki laki seusianya sedang makan ayam goreng kesukaan Kafa, kemudian Kafi berjalan menghampiri anak tersebut.


"Bu..boleh minta makan?"


Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Kafi lalu mengusirnya.


"Sana, sana pergi. Ganggu saja!" Bentaknya.


Kafi berjalan mundur menjauh dari ibu tersebut, lalu melihat seorang pria membuang makanannya di dalam kotak ke tong sampah. Kafi bergegas menghampiri tong sampah lalu mengambil kotak makanan dan membukanya.


Kafi tersenyum melihat paha ayam dan nasi tinggal separo.


"Adek pasti kenyang." Gumamnya.


"Plak!"


"Kakek jahat!" Seru Kafi lalu hendak memungut paha ayam yang jatuh.


Namun pria itu menarik tangan mungil Kafi.


"Jangan di ambil. Ayo, kakek belikan." Kata pria itu.


Kafi tertegun memperhatikan wajah pria itu.


"Kakek serius?" Tanya Kafi.


Pria tua tersebut mengangguk.


"Ayo ikut."


Pria tua tersebut menggenggam tangan Kafi memasuki sebuah rumah makan tak jauh dari rumah sakit, kemudian memesankan makanan yang enak buat Kafi.


"Kakek, terima kasih.." ucapnya tersenyum lebar.


Pria itu mengangguk.


"Pergilah!" Perintah kakek itu.


Kafi mengangguk lalu berlari meninggalkan pria tua tersebut seraya menenteng kantong plastik.


"Tuan Juan, saatnya kita pulang."


Pria tua yang bernama Juan menoleh ke arah anak buahnya.


"Aku mau anak itu.." katanya.


"Saya akan mencari informasi tentang anak tadi tuan." Kata anak buahny.


Juan menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendahului anak buahnya dan masuk ke dalam mobil mewah miliknya.


Sementara Kafi berlari dengan hati bahagia karena adiknya tidak akan kelaparan lagi.


"Adek!"


Kafa menoleh lalu berjingkrak melihat Kafi menenteng kantong plastik.


"Ayam goyeng!" Serunya.


"Ayo makan dek, ini buat ibu satu kotak." Kata Kafi mengeluarkan dua kotak makanan.


"Holee!" Sahut Kafa lalu mengambil satu kotak dan membukanya. Melihat auam goreng dengan ukuran besar, Kafa makan dengan lahap duduk di samping Kafi.


Saat mereka tengah menikmati makannya, pintu ruangan terbuka. Nampak seorang Dr keluar dari ruangan menghampiri Kafi dan Kafa.


"Adek, ayah kalian mana?" Tanya Dr.


Kafi dan Kafa yang selalu sensitif ketika di tanya tentang ayah. Hanya diam menatap Dr tersebut.


"Ayah kalian di mana?" Tanya Dr sekali lagi.


Kafi dan Kafa menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepala.


"Aku ayahnya!"


Kafi dan Kafa menoleh ke arah sumber suara. Nampak Al, berjalan menghampiri mereka.


"Om!" Kafi dan Kafa berlari menghampiri Al.


"Ada apa Dok, bagaimana keadaan istri saya." Kata Al berbohong.


"Pasien belum sadar dan harus segera di operasi, kami butuh persetujuan dari anggota keluarga." Jelas Dr.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik." Kata Al.


"Mari ikut saya." Kata Dr.


Al jongkok, menatap wajah Kafi dan Kafa.


"Kalian lanjutkan makannya, biar gue yang urus." Kata Al.


"Makasih banyak om!" Sahut mereka berdua.


Al menganggukkan kepalanya lalu berdiri dan mengikuti langkah Dr di belakang. Sementara Kafi dan Kafa kembali melanjutkan makannya.


"Kakak, ibu baik baik saja kan?" Tanya Kafa.


Kafi mengangguk.


"Ibu pasti baik baik saja."