Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Panggil om, Ayah!



Kerinduan Arga setelah sekian lama tidak bertemu Hana, tidak dapat ia bendung lagi. Hari ini Dr Arga memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta setelah sekian lama memilih untuk pergi ke Papua hanya untuk mengulur waktu menikahi Maya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya. Akhirnya Dr Arga sampai di bandara dan langsung pergi menuju rumah Hana.


Sesampainya di rumah Hana. Dr Arga di sambut baik Bu Sakiyah dan kedua putra Hana, untuk pertama kalinya bertemu dengan Dr Arga.


"Ini Kafi, dan ini adeknya..Kafa." tunjuk bu Sakiyah ke arah Kafi dan Kafa.


"Nenek..ini bapaknya adek?" Tanya Kafa dengan polos.


Kafi langsung membungkam mulut Kafa. Bu Sakiyah dan Dr Arga saling pandang sesaat.


"Bukan nak..Dr Arga ini yang merawat ibu, dan yang merawat kalian sewaktu masih dalam kandungan ibumu.." jelas Bu Sakiyah hati hati.


Kafa cemberut dan menundukkan kepalanya.


"Telus, bapaknya adek di mana.."


Bu Sakiyah diam membisu, ia bingung harus menjawab apa.


"Om bisa jadi ayahnya adek.." kata Sagara.


"Benelan om?" Tanya Kafa matanya berbinar.


Dr Arga menganggukkan kepalanya. Kafa langsung berdiri dan berteriak lantang.


"Holeee! Adek punya ayah!"


Kafa berlari ke arah Dr Arga dan memeluknya dengan erat.


"Adek panggil ayah, boleh?"


Dr Arga menganggukkan kepalanya.


"Tentu sayang."


Kafi hanya diam memperhatikan saudaranya memeluk Dr Arga.


"Kafi, sini peluk om..' kata Dr Arga.


Kafi tersenyum, lalu berjalan perlahan mendekati Dr Arga dan memeluknya dengan erat.


"Kalian, boleh panggil om dengan ayah. Anggap om sebagai ayah kalian."


Kafi tidak meng-iyakan atau menolak. Ia hanya diam dan tengah merasakan pelukan hangat seorang pria yang belum pernah ia rasakan.


Bu Sakiyah mengusap air matanya dengan ujung pakaian. Kemudian beranjak pergi menuju dapur dan menangis. Hana duduk di kursi tak jauh dari mereka, tanpa bicara sepatah katapun.


Dr Arga melepaskan pelukan Kafi dan Kafa.


"Om, kaka nggak mau panggil om dengan sebutan ayah." Kata kafi.


"Tidak apa apa sayang.."


"Terima kasih om.." sahut Kafi lalu berjalan keluar dari rumahnya di ikuti Kafa.


Dr Arga meminta izin pada bu Sakiyah untuk pamit pulang dan berjanji akan kembali besok pagi untuk memeriksa kesehatan Hana.


Sementara Kafi dan Kafa pergi ke lapangan sepak bola di ujung jalan rumahnya. Biasanya kalau setiap hari minggu, banyak anak anak seusianya bermain di lapangan.


Namun sesampainya di lapangan, mereka dapat sambutan yang buruk dari mereka. Niatnya ingin bermain malah jadi hinaan yang di dapat.


"Anak orang gila!"


"Anak orang gila!"


"Huu, dasar gila!"


Puk!


Salah satu kerikil yang di lempar mengenai kening Kafa. Kafa menangis karena keningnya terluka mengeluarkan darah segar.


Kafi mencoba membela saudaranya dengan membalas melempar kerikil. Tidak terima di balas oleh Kafi. Ke tiga anak yang lebih besar maju lalu mengeroyok Kafi dan memukulnya.


Kebetulan sebuah taksi melintas, yang tak lain adalah Dr Arga penumpangnya. Melihat Kafi di keroyok, Dr Arga meminta sopir untuk berhenti.


Dr Arga keluar dari dalam taksi dan berlari ke arah mereka.


"Kalian berhenti!"


Dr Arga menarik kerah baju ketiga anak itu dan menjauhkannya dari Kafi.


"Sekali lagi kalian berbuat tidak baik, om laporkan sama Guru kalian!" Ancam Dr Arga.


"Huuu!!"


Mereka meneriaki Dr Arga lalu berlarian menjauh dari lapangan. Dr Arga mengambil sapu tangan dari saku celananya lalu menyeka darah di kening Kafa.


"Pulang ya, nanti ayah obatin.." kata Dr Arga pada Kafa.


Kafa mengangguk lalu memeluk erat Dr Arga.


"Om...kenapa mereka semua membenci kami?" Tanya Kafi, matanya menatap tajam ke arah Dr Arga.


Dr Arga terdiam menatap wajah polos Kafi. Namun tatapan matanya menyiratkan kebencian.


"Sayang, sini om peluk."


Dr Arga memeluk Kafi dan Kafa dengan erat. Hatinya merasa iba, melihat semuanya.