
Di Bandara.
Seorang pria berdiri tegap menatap ke arah tepi jalan raya. Pria itu baru saja tiba di Indonesia setelah sekian lama meninggalkan Negara kelahirannya.
"Delapan tahun lamanya, akhirnya aku kembali." Gumam pria itu yang tak lain adalah Sagara.
"Tuan.."
Sagara menoleh ke arah anak buahnya, Palu dan Obeng.
"Mobil sudah siap, silahkan tuan." Kata Obeng.
Sagara mengalihkan pandangannya pada mobil hitam miliknya, lalu ia masuk ke dalam mobil di ikuti Palu dan Obeng duduk di depan.
Obeng menghidupkan mobil, dan melajukannya meninggalkan bandara, menuju rumah.
Sepanjang perjalanan, Sagara diam membisu menatap ke arah kaca jendela mobil. Memperhatikan setiap jalan yang di lalui.
"Tuan, non Jasmin sudah ada di rumah menunggu tuan.." kata Palu memecah keheningan.
Sagara hanya melirik sekilas ke arah Palu, lalu kembali diam membisu.
"Jasmin.." ucapnya dalam hati.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah mewah, Palu lebih dulu keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu mobik untuk Sagara.
Sagara keluar dari dalam mobil, berdiri tegap menghadap Palu.
"Aku ingin bertemu pak Solihin. Kau jemput dia di sekolah." Perintah Sagara.
"Baik tuan!"
Palu kembali masuk ke dalam mobil, sementara Sagara berjalan menuju teras rumahnya. Nampak kedua orang tuanya sudah menunggu bersama seorang gadis cantik dan berpakaian seksi.
"Selamat datang putraku!" Abraham merentangkan kedua tangannya lalu memeluk putra semata wayangnya.
Mereka berpelukan cukup lama, setelah 8 tahun tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu, nak?" Sapa Lidya, ibu kandung Sagara.
Sagara melepas pelukan Abraham, lalu memeluk erat Lidya.
"Baik ma.." jawabnya pelan.
"Mama kangen banget sama kamu nak.." ucap Lidya seraya melepas pelukannya dan tersenyum lebar menatap wajah putranya.
Sagara menoleh ke arah Jasmin lalu menganggukkan kepalanya.
"Baik." Jawabnya singkat.
"Ayo masuk sayang, kita ngobrol di dalam." Lidya mengajak Sagara dan yang lain masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk di sofa, di meja makanan dan minuman segar sudah tersaji.
"Bagaimana perusahaan di sana, semua beres?" Tanya Abraham memulai pembicaraan.
"Beres, pa.." jawab Sagara, seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Oh ya nak, mama mengundang Jasmin supaya kalian bisa lebih dekat. Mama sudah tidak sabar menimang cucu." Sela Lidya.
"Ma..sabar..." kata Abraham menoleh ke arah Lidya.
"Biarin pa..mama tidak mau seperti dulu. Kita di bohongi anak sendiri. Katanya sudah menikah, kirim foto pernikahan segala. Nyatanya semua itu bohong." Ungkap Lidya.
Sagara terperanjat, saat mamanya mengingatkannya dengan pernikahannya delapan tahun yang lalu dengan Hana.
"Aku tidak bohong ma..hanya saja.." Sagara tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa, kau tidak bisa kasih mama penjelasan apa apa." Potong Lidya.
"Sudah ma..lupakan masalah itu. Sekarang ada Jasmin, tidak ada lagi pernikahan palsu." Abraham menengahi.
Sagara menarik napas panjang, ia kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Hana.." batinnya menyebut nama Hana.
Sejak ia memutuskan untuk mengembalikan Hana. Sejak itu ia pergi ke luar Negeri mengurus pekerjaannya. Karena ia tak sanggup harus di cecar pertanyaan seputar pernikahannya dengan Hana yang dianggap suatu kebohongan Sagara dan hanya akal akalannya saja untuk menghindari perjodohannya dengan Jasmin.
"Biarkan putra kita istirahat, soal pernikahan kita bicarakan nanti." Pungkas Abraham.
"Aku istirahat dulu, pa..ma.."
Sagara beranjak dari sofa, lalu berjalan meninggalkan mereka menuju kamar pribadinya.
"Hana..." batinnya lagi.
"Ah mama..kenapa mengungkit masalah itu lagi.." batinnya lagi.