Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Bayi Kembar



"Nak...terimakasih," ucap bu Sakiyah pada Arga.


Dr Arga menoleh ke arah bu Sakiyah yang meletakkan secangkir kopi untuknya.


"Tidap apa apa bu, lagipula..." Dr Arga tidak melanjutkan ucapannya.


Bu Sakiyah duduk di kursi, memperhatikan raut wajah Dr Arga.


"Ada apa nak?"


"Bu..."


"Ya?" Bu Sakiyah menatap wajah Arga dengan kedua alis bertaut.


"Aku mau melamar Hana," jawabnya tegas.


"Melamar?"


Dr Arga menganggukkan kepalanya.


"Aku menyayangi Hana, andai ibu izinkan. Aku mau menikahi Hana setelah melahirkan nanti." Ungkap dr Arga.


Bu sakiyah menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa. Melihat kondisi Hana yang belum sepenuhnya pulih, ia ragu untuk menerima lamaran Dr Arga.


"Maaf nak..kamu sudah bilang ke orang tuamu?" Tanya bu Sakiyah.


Dr Arga menggelengkan kepala.


"Sepulang dari sini, aku mau meminta restu orang tuaku."


Bu Sakiyah mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana bu?" Tanya Dr Arga.


Bu Sakiyah tersenyum mengembang.


"Tentu saja ibu senang, mendapatkan menantu seorang Dokter. Tapi, ibu khawatir dengan kondisi Hana sekarang. Ibu takut kedua orang tuamu menolak, ibu sendiri belum siap menikahkan Hana dengan orang lain." Jelas bu Sakiyah.


"Tapi bu, bayi dalam kandungan Hana butuh seorang ayah." Kata Dr Arga.


"Aku siap menjadi ayah.." katanya lagi.


Bu Sakiyah menghela napas panjang, terlihat raut wajah lelah dan keraguan yang begitu besar.


"Nak, beri ibu waktu. Ibu tidak bisa menjawabnya sekarang." Kata Bu Sakiyah.


Dr Arga menganggukkan kepalanya.


"Baik bu..."


"Di minum teh nya, ibu buatkan makanan." Kata bu Sakiyah lalu beranjak pergi ke dapur.


Baru saja bu Sakiyah hendak menyalakan kompor, terdengar suara erangan dari dalam kamar Hana. Bu Sakiyah bergegas ke kamar Hana bersamaan dengan Dr Arga.


"Hana! Seru bu Sakiyah berlari mendekati Hana yang tengah merasakan sakit yang hebat di perutnya.


"Sakit sekali bu..." erangnya, wajahnya keringatan.


"Bu, kita ke rumah sakit." Kata Dr Arga lagi pada bu Sakiyah, kemudian menggendong Hana keluar dari kamar. Sementara bu Sakiyah membereskan barang seperlunya untuk persiapan persalinan nanti.


***


Hana tidak dapat melakukan proses persalinan secara normal. Hana terpaksa harus melahirkan dengan operasi Caesar. Selain kondisi pikirannya yang terganggu, Hana juga mengandung bayi kembar. Bu Sakiyah menunggu di ruang tunggu dengan harap harap cemas.


Satu jam berlalu sudah, akhirnya bu Sakiyah dapat bernapas dengan lega. Dokter Arga memintanya masuk ke dalam ruangan.


Bu Sakiyah menatap sendu dua bayi laki laki yang berada di gendongan dua suster. Air matanya menetes, antara sedih dan bahagia. Bahagia karena anak dan ibunya selamat, sedih karena belum di ketahui siapa ayah dari dua bayi kembar itu.


"Hana..." ucap bu Sakiyah berjalan perlahan mendekati Hana yang masih terbaring dengan lemah.


"Anakku sayang..." ucapnya lirih lalu memeluk tubuh Hana dan menangis pelan.


Dr Arga yang berdiri di pojokan hanya bisa memperhatikan. Ia tahu apa yang di rasakan bu Sakiyah saat ini.


"Hana..." ucapnya lagi.


"Bu..."


Hana menoleh ke arah Dr Arga, lalu berdiri tegap dan mengusap air mata di pipinya.


"Jangan tunjukan kesedihan ibu, kasihan Hana.."


Bu Sakiyah mengangguk, lalu tersenyum samar menatap ke arah dua bayi kembar Hana.


"Ibu punya nama yang bagus.." kata bu Sakiyah.


"Siapa bu?" Tanya Dr Arga.


"Kafi Arrayan dan Kaffa Arrayan." Bu Sakiyah menyebutkan dua nama.


"Nama yang bagus.." ujar Dr Arga mendekati bayi itu, lalu mengambil salah satu bayi.


"Ini bu..."


Dr Arga menyerahkan satu bayi pada bu Sakiyah.


"Kafi Arrayan, itu namamu nak.." kata bu Sakiyah menatap sayang pada wajah bayi yang masih merah.


"Dan ini...kaffa Arrayan.." ucap Bu Sakiyah lagi pada satu bayi lainnya yang berada di gendongan suster.


"Bu, namanya bagus sekali." Kata suster.


"Nama itu, pernah Hana sebutkan sewaktu ia berkhayal memiliki putra dengan mantan suaminya." Jelas bu Sakiyah.


Dr Arga merangkul bahu bu Sakiyah.


"Ibu jangan sedih lagi, kasihan Hana. Lupakan masa lalu, dan buka lembaran baru." Pungkas Dr Arga.


Bu Sakiyah menganggukkan kepalanya, mengucapkan terima kasih pada Dr Arga karena telah banyak membantunya di saat sang suami tengah menjalani hukuman.