
Setelah dua hari Hana berada di rumah, dan pak Salim tidak menemukan keberadaan Palu. Akhirnya pak Salim memutuskan untuk menggunakan uang itu untuk mengobati Hana, putri tunggalnya.
"Mungkin uang ini cukup buat ngobatin Hana.." kata pak Salim menatap amplop coklat di tangannya.
"Tapi pak, kalau biayanya lebih besar gimana?" Tanya bu Sakiyah.
"Kita bawa pulang, secukupnya uang ini saja." Ujar pak Salim.
Bu Sakiyah mengangguk.
"Ba-?"
"SALIM!!"
Bu Sakiyah dan pak Salim terkejut mendengar seseorang memanggilnya. Mereka berdua bergegas keluar ruamh.
"Hana!" Bu Sakiyah berlari menghampiri seorang wanita paruh baya, mencengkram tangan Hana.
"Kenapa pakaianmu basah nak?" Tanya bu Sakiyah memperhatikan pakaian Hana, lalu mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang tak lain tetangganya, bu Dedeh.
"Urus anakmu, pagi pagi sudah berdiri depan rumahku. Ganggu orang saja!" Bentaknya pada bu Sakiyah.
"Maaf bu.." ucap bu Sakiyah menarik tangan putrinya supaya menjauh dari bu Dedeh.
"Obatin anakmu, biar ga ganggu orang. Kalau ga punya duit, bilang sama Rt setempat buat keterangan warga miskin biar dapat bantuan pemerintah!" Hinanya.
Bu Sakiyah mengangguk, hatinya perih mendengar hinaan tetangga yang seringkali di dengarnya.
"Iya bu.."
"Dasar keturunan gila, udah miskin gila pula." Rutuknya sambil berlalu dari hadapan bu Sakiyah.
"Ayo nak, ganti pakaianmu."
"Bu, aku nggak gila kan bu?" Tanya Hana.
Bu Sakiyah menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak.." ucapnya sedih.
"Sabar bu.." ujar pak Salim hanya bisa mengelus dada.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Keinginan pak Salim untuk mengobati Hana semakin kuat, ia tidak terima putrinya di sebut gila oleh orang lain.
Hana memang tidak gila, awalnya. Namun sejak ia di nikahkan dengan Pramudya, pemuda kaya. Putra pengusaha tekstil, hidup Hana berubah drastis. Pramudya meninggalkan Hana dan menceraikannya tanpa alasan yang jelas setelah menikah 4 bulan.
Sejak hari itu, Hana berubah pendiam. Mengurung diri dan depresi, sering bertingkah seperti anak kecil. Kalau lagi baik, Hana bersikap normal. Tetapi kalau depresi sedang kambuh, Hana bersikap seperti orang yang tidak waras.
***
Ke-esokan harinya, pak Salim dan bu Sakiyah membawa Hana ke rumah sakit jiwa untuk di obati.
Sesampainya di rumah sakit jiwa, Hana di periksa terlebih dahulu oleh Dokter. Setelah selesai, Hana kembali ke pelukan ibunya. Hana tidak mau di tinggal. Ia menangis di depan ibunya.
"Kamu kenapa Hana?"
Hana terus terisak dalam pelukan ibunya.
"Kamu mau pulang?" Tanya Bu Sakiyah.
Hana mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepala.
Bu Sakiyah menatap sendu kedua bola mata Hana. Tangisan anak kecil yang kebingungan, tidak tahu apa yang di inginkan. Bu Sakiyah mencoba menahan air matanya supaya tidak menangis di depan Hana.
"Bagaimana dok?" Tanya pak Salim.
"Putri bapak hamil." Kata Dokter.
"Ha, hamil dok?!!" Ucap pak Salim terbata bata.
Bagai di sambar petir, pak Salim dan Bu Sakiyah tidak percaya mendengar keterangan Dokter. Seingat bu Sakiyah, Hana di ceraikan Pramudya sudah sejak satu tahun yang lalu. Bagaimana bisa, kalau Hana hamil.
"Tidak mungkin Dok.." ucap bu Sakiyah masih tidak percaya.
Dr menyerahkan hasil tes kesehatan pada pak Salim.
"Putri bapak hamil, usia kandungannya sudah satu bulan." Jelas Dokter.
"Satu bulan?" Ucap pak Salim menoleh ke arah istrinya.
"Bagaimana dengan kesehatan Hana, benarkah Hana gila, Dok?" Tanya pak Salim
"Putri bapak depresi, dan sudah lama. Pada dasarnya, depresi merupakan cara tubuh melindungi diri dari bahaya sehingga membuat kita tetap fokus, aktif, dan selalu waspada. Meski begitu, respon perlindungan diri ini tidak mudah untuk dikendalikan oleh otak dan bisa menyebabkan tekanan mental dalam jangka panjang. Stres berat tidak hanya diketahui sebagai penyebab berbagai penyakit degeneratif, tetapi juga memengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan berperilaku bahkan hingga memicu gangguan jiwa." Jelas Dokter panjang lebar.
Pak Salim dan Bu Sakiyah tak mengerti apa apa, apalagi mengerti perkataan Dokter. Yang mereka pahami, Hana depresi karena di tinggal dan di ceraikan suaminya.
"Kasihan sekali kamu, nak.." ucap bu Sakiyah memeluk putrinya. "Siapa yang sudah tega menghamilimu, nak.."
"Ya Rabb, kenapa harus putriku..." gumam pak Salim menitikkan air mata.
Dr hanya diam memperhatikan mereka.
"Dok, apakah Hana bisa sembuh?" Tanya pak Salim.
Dokter menganggukkan kepalanya.
"Bisa pak.."
"Dok, saya hanya punya uang segini." Pak Salim meletakkan amplop coklat kehadapan Dokter.
"Apakah uang ini cukup?" Tanya pak Salim.
Dr memeriksa uang di dalam amplop itu.
"Bapak tenang saja, soal administrasi kita bicarakan nanti. Yang penting putri bapak lekas sembuh secepatnya."
"Terima kasih dok!" Sahut pak Salim.
Pak Salim dan bu Sakiyah memutuskan untuk meninggalkan Hana di rumah sakit. Namun saat mereka akan pergi, Hana menangis histeris tidak mau di tinggalkan.
Pak Salim dan bu Sakiyah tidak tega. Akhirnya bu Sakiyah meminta pak Salim untuk membawa Hana pulang lagi.
"Bagaimana pak?" Tanya Dokter.
"Dok, saya tidak tega meninggalkan putri saya di sini. Apa ada jalan keluar?" Tanya pak Salim.
Dr diam cukup lama dan memikirkan solusi untuk pak Salim karena merasa kasihan melihat mereka.
"Begini saja, saya punya kenalan Dokter syaraf. Namanya Dr Arga, mungkin beliau bisa membantu bapak dan ibu. Nanti saya bicarakan dengan Dr Arga, siapa tahu beliau berkenan untuk rutin memeriksa putri bapak ke rumah." Jelas Dokter Indira.
"Terima kasih Dok!" Sahut pak Salim sambil bersimpuh.
"Bapak jangan begitu, sudah kewajiban kita sebagai manusia saling membantu." Ungkap Dr.
Pak Salim dan bu Sakiyah bersukur atas pertolongan dari Dr. Kemudian mereka berpamitan dan dokter menyerahkan kembali uang dalam amplop untuk biaya pengobatan Hana nanti.