Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Dr sinting



Satu minggu pasca operasi benturan di kepala Hana. Kondisinya berangsur pulih, namun trauna masa lalu nya kembali mengganggunya kembali.


Dr Arga dan Al, merasa iba dan hatinya terenyuh untuk membantu Hana dan kedua putranya. Kedua pria itu berebut mencari perhatian Hana dengan cara yang berbeda. Dr Arga mencoba membantu mengobati kerusakan sraaf otak Hana. Sementara Al memilih mendekati kedua putranya Hana dengan coba membantu mereka berdua dalam hal apapun.


Hari ini Hana di izinkan pulang oleh Dokter karena kondisinya sudah membaik. Dr Arga yang merasa bertanggung jawab terhadap Hana, sudah mempersiapkan segalanya termasuk mengantarkannya ke rumah.


Sementara Al hanya diam memperhatikan Dr Arga yang sibuk berkemas. Al memilih menjaga kedua putra Hana, karena mereka tidak mau diam. Maunya terus mengganggu Hana dan bermanja manja.


"Semuanya sudah selesai, ayo kita pulang." Kata Dr Arga.


Hana mengangguk, lalu turun dari atas ranjang dan dengan sigap sang Dokter membantunya. Sementara Al hanya tersenyum smirk melihat sikap Dr Arga yang terlalu berlebihan menurutnya.


"Kembar, ayo kita duluan. Di sini panas!" Ucap Al.


Dr Arga melirik ke arah Al dan tersenyum lebar.


"Ide bagus, mungkin di luar udaranya lebih segar. Tenang saja, Hana biar aku saja.' Sahut Dr Arga.


Al melirik tajam ke arah Dr Arga lalu menuntun Kafi dan Kafa keluar dari ruangan di susul Dr Arga dan Hana.


"Om, aku lapal. Boleh gak, makan ayam goleng?" Tanya Kafa tengadahkan wajahnya menatap Al.


Al membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Kafa.


"Jangan minta ayam goreng sekarang, nanti di rumah saja. Om takut ibumu kenapa napa, apalagi ada Dr sinting." Bisik Al.


Kafa menoleh ke belakang, menatap Dr Arga yang sedang menggandeng tangan Hana lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Al.


"Om sini," ucap Kafa pelan.


Al kembali membungkukkan badannya.


"Sinting itu apa Om, ganteng ya?" Ucap


Kafa pelan namun terdengar oleh Dr Arga yang berada di belakangnya.


"Heh, siapa yang sinting?" Tanya Dr Arga seraya menepuk pundak Al.


"Om sinting!" Kata Kafa tersenyum lebar seraya mengacungkan jempolnya.


Dr Arga matanya melotot ke arah Al, yang di pelototi hanya cengar cengir sambil berjalan santai seolah olah tak punya dosa.


"Awas kau ya!" Ancam Dr Arga.


"Om jangan malah, sinting itu ganteng." Jelas Kafa dengan polos.


Dr Arga memaksakan tersenyum pada Kafa, lalu mengalihkan pandangannya pada Al.


"Adek nggak boleh bilang begitu!" Sela Kafi yang sedari tadi bengong memperhatikan Kafa dan Al.


"Salah adek apa kakak?" Bantah Kafa.


***


Sesampainya di rumah, Dr Arga sibuk memperhatikan Hana, meyuapinya makan dan memberikan obat.


Sementara Al sibuk di dapur menggoreng daging ayam untuk Kafa dan Kafi sesuai janjinya tadi sewaktu di rumah sakit.


"Om lama.." protes Kafa memperhatikan Al yang menggoreng ayam takut kecipratan minyak goreng panas.


Sementara Kafi membereskan botol plastik ke dalam karung kecil.


"Eh bawel lu ya, kagak liat gue sibuk?" Sahut Al melirik sekilas ke arah Kafa.


"Ayam goleng!"


"Ayam goleng!"


Kafa terus saja berteriak sambil memukul meja dan tertawa lebar saat Al melotot ke arahnya. Kafi hanya tersenyum melihat tingkah saudara kembarnya.


"Lu berisik amat, kalau kagak sayang. Sudah gue bawa sumpel mulutnya." Gerutu Al sambil mengangkat daging ayam yang sudah matang ke atas piring.


"Abisin, kalau kagak abis lu gue jitak." Kata Al meletakkan piring berisi paha ayam di hadapan Kafa.


"Hole!" Seru Kafa lalu memanggil Kafi untuk makan bersama.


Kafi bergegas mencuci tangannya lalu duduk di samping Kafa. Sementara Al mengintip kegiatan Dr Arga di ruang tengah bersama Hana.


"Om, ayo makan!" Seru Kafi.


Al mengangguk lalu duduk di kursi, mengambil satu kerat daging.


"Om, Dokter nggak di ajak makan?" Tanya Kafi.


"Lu pikirin perut sendiri, Dr sinting kagak perlu di ajak," jawab Al.


Kafi menarik bibirnya, lalu mengangguk.


"Tapi kasian om, Dokter belum makan." Kata Kafi lagi.


"Lu tau gak, Dokter itu kagak butuh makan tapi butuh obat." Kata Al ngasal.


Kafi dan Kafa mengangguk anggukkan kepala sambil mengunyah daging di mulutnya tanda mereka mengerti ucapan Al.


"Anak pintar, besok kalau Dokter itu datang ke rumah kalian lagi. Jangan di kasih air apalagi makan. Tapi kasih obat saja." Kata Al lagi.


"Siap om!" Sahut mereka serempak.


Al tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lu deketin Hana, gue deketin anaknya. Pasti yang menang gue." Batin Al.