Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Hilangnya Palu dan Obeng



Obeng dan Palu di selimuti rasa bersalah. Kalau bukan karena perbuatan mereka, yang asal mengambil wanita. Mungkin Hana dan kedua putranya tidak akan mengalami hal yang menyakitkan. Mereka berdua yakin, kalau Kafa dan Kafi adalah putra Sagara.


Mereka berdua begitu antusias untuk menceritakan semuanya pada Sagara. Namun sayang, sesampainya di rumah.


Keluarga Jasmin dan keluarga Sagara tengah mengadakan acara pertemuan untuk membicarakan pernikahan antara Jasmin dan Sagara segera di laksanakan secepatnya.


Obeng dan Palu mengurungkan niatnya untuk memberitahu Sagara saat itu juga. Mereka memilih untuk diam sampai acara selesai.


Setelah acara selesai, Obeng dan Palu mencari celah untuk bicara dengan Sagara. Namun kesempatan itu tidak ada sama sekali. Jasmin terus mengikuti kemanapun Sagara pergi.


Jasmin yang mencurigai pergerakan Palu dan Obeng. Diam diam mengikuti mereka berdua dan menguping pembicaraan mereka berdua di taman belakang rumah.


"Tuan Sagara harus tahu, kalau Kafi dan Kafa adalah putranya. Pewaris tunggal perusahaan besar milik tuan." Kata Palu.


"Kamu benar, karena tuan menikahi non Hana secara sah." Timpal Obeng.


"Non Jasmin, meskipun sudah menikah nantinya dengan tuan dan memiliki anak. Tidak bisa mendapat sepeserpun harta milik tuan. Karena pewaris sah hanya Kafi dan Kafa."


Tanpa mereka sadari, Jasmin mendengarkan. Obeng dan Palu terus membicarakan Hana dan kedua putranya. Mereka mengingat dan menghitung semua kejadian dengan sangat baik. Membuat Jasmin yang mendengarkan khawatir.


Tak lama Jasmin memanggil mereka berdua dan memerintahkannya untuk pergi ke rumahnya dan mengambilkan satu barang yang ketinggalan.


"Kalian berdua, pergi ke rumahku dan ambilkan guci kecil yang ada di gudang. Kalian minta saja sama pak Agus. Kalian paham?"


Obeng dan Palu saling pandang sesaat.


"Non, bagaimana kalau Palu saja. Saya ada urusan penting." Tolak Obeng.


"Kalian berani bantah, aku laporkan pada tuan Abraham!" Ancam Jasmin.


"Ba, baik non!" Sahut Obeng ketakutan.


"Cepat kalian pergi!" Usir Jasmin. "Tapi kalian jangan bawa mobil, kalian naik taksi!"


"Baik non!"


Palu dan Obeng tak dapat membantah perintah Jasmin. Di karenakan saat ini wanita tersebut calon istri Sagara.


***


Sejak sore sampai malam, Sagara mencari keberadaan dua anak buah kepercayaannya. Berkali kali ia menghubungi nomer ponsel mereka tapi tak satupun yang aktif.


Hingga ke-esokan paginya. Palu dan Obeng sama sekali tak kunjung datang dan nomernya pun sama sama tidak aktif.


Sagara mulai kesal dan memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mencari keberadaan orang kepercayaannya itu.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Gumam Sagara, aneh. Tidak biasanya mereka berdua menghilang tanpa ada kabar.


Selama ini Sagara selalu membebaskan mereka berdua dan selalu pulang tepat waktu.


Akhirnya Sagara memutuskan untuk mencarinya sendiri di tempat biasa mereka nongkrong dan hanya di ketahui Sagara sendiri.


Sepanjang jalan, Sagara terus memikirkan kedua anak buahnya. Di tambah beban pikiran tentang pernikahannya dengan Jasmin akan segera di laksanakan dalam dua hari.


"Kemana lagi aku harus mencari mereka?" Gumamnya.


Tiba tiba Sagara rem mendadak, dan hampir saja menabrak dua anak kecil yang hendak menyebrang.


"Astaga..."


Sagara cepat cepat keluar dari dalam mobil menghampiri dua anak kecil yang tak lain Kafi dan Kafa yang sedang berpelukan.


"Kalian tidak apa apa?" Tanya Sagara.


"Nggak om.." jawabnya Kafi.


"Adek nggak apa apa?" Tanya Kafi pada Kafa yang menjawab dengan gelengan kepala namun tatapan tertuju pada Sagara.


"Kalau ada yang sakit, kita ke rumah sakit?" Tanya Sagara.


"Nggak om..." sahut Kafi lagi.


"Ada apa ini?"


Sagara menoleh ke arah Dr Arga.


"Maaf, tadi aku hampir menabrak mereka." Kata Sagara membungkukkan badannya.


"Kalian tidak apa apa?" Tanya Dr Arga.


"Nggak om.." jawab Kafi.


"Ya sudah, mereka tidak apa apa. Silahkan lanjut perjalananmu." Kata Dr Arga.


Sagara menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil, Sagara dan kedua putra kembarnya saling tatap lewat kaca jendela.


Sagara tersenyum, kemudian melajukan mobilnya kembali. Dr Arga dan kedua anak kembar itu kembali melanjutkan menyebrang jalan.