Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Kesabaran bu Sakiyah



Bu Sakiyah membuatkan sayur untuk Hana, karena sejak pulang dari rumah sakit, Hana tidak mau makan.


"Nak, makan ya.." bujuk Sakiyah.


Hana menganggukkan kepalanya, lalu membuka mulut. Bu Sakiyah menyuapi Hana sampai selesai, setelah itu memberikannya obat. Hana kembali berbaring di atas tempat tidur bersamaan dengan pak Salim masuk ke kamar.


"Hana mau makan?" tanya pak Salim.


"Sudah pak.."


"Bu, bagaimana ini. Hana hamil, apa yang harus kita lakukan?" tanya pak Salim bingung, lalu duduk di kursi.


"Pak, anak dalam kandungan Hana tidak berdosa. Kita harus tetap membiarkannya hidup, yang berdosa itu yang sudah memperkosa Hana." Jelas bu Sakiyah.


"Bagaimana tanggapan orang nanti.." ucap pak Salim tak dapat membayangkan nantinya seperti apa.


"Hana putri kita, apapun yang terjadi kita rawat dan kita hadapi sama sama." Bu Sakiyah menguatkan hati pak Salim.


"Kau benar bu..." pak Salim mengangguk anggukkan kepalanya.


"Yang sabar pak..ini ujian buat kita." Ujar bu Sakiyah.


Suasana di kamar seketika hening. Pak Salim duduk di kursi memperhatikan Hana yang tertidur. Bu Sakiyah mengusap punggung Hana, pikiran mereka seperti benang kusut memikirkan apa yang terjadi. Andai mereka tak memiliki keyakinan yang kuat, entah apa jadinya.


"Ibu dengar, Pramudya sudah menikah lagi." Kata bu Sakiyah memecah keheningan.


"Salah kita bu, terlalu percaya sama laki laki brengsek itu. Andai kita tidak merestui hubungan Hana waktu itu. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." Sesal pak Salim.


"Sudah pak, semuanya sudah takdir untuk kita semua. Ibu cuma berharap, suatu hari nanti. Hana memiliki suami yang tepat." Pungkas bu Sakiyah.


"Iya bu...amin..." sahut pak Salim.


***


Seperti biasa, jika pagi telah tiba. Hana selalu pergi dari rumahnya. Bu Sakiyah yang baru selesai mencuci baju lalu membuatkan telor dadar buat Hana. Namun Hana tidak ada di kamarnya. Sementara pak Salim, pagi pagi buta sudah pergi bekerja sebagai sopir angkutan umum.


"Hana!" panggilnya lagi, berlari keluar rumah.


"Hana, kamu di mana.." gumam bu Sakiyah, lalu bergegas pergi mencari Hana di sekitar kampung tersebut.


"Kemana perginya.." Bu Sakiyah tidak menemukan Hana di manapun. Setiap kali ia bertanya pada tetangganya, jawaban yang di terima selalu menyakitkan hatinya.


"Cari Hana bu?" tanya seorang wanita.


"Iya bu Sarah, apa ibu melihat?"


"Noh di sana, lagi di kejar kejar anak anak!" tunjuknya ke arah ujung jalan.


"Ya Rabb!!" pekik bu Sakiyah berlari ke ujung jalan dengan mata berkaca kaca.


"Hana!"


Bu Sakiyah melihat sekumpulan anak anak usia 10 tahun menimpuki tubuh Hana dengan tanah.


"Hey hentikan!" seru bu Sakiyah mencoba menghentikan anak anak itu dan melindungi tubuh Hana dari lemparan anak anak.


"Orang gila!


"Orang gila!" seru anak anak itu meneriaki Hana, lalu mereka berlarian meninggalkan Hana dan ibunya.


"Sakit bu..." rintih Hana memegang kepalanya.


"Ya Rabb...Hana yang sabar nak. Kita pulang ya.." ucap bu Sakiyah suaranya terdengar bergetar karena menahan air mata supaya tidak menangis.


"Ayo pulang sayang.."


Bu Sakiyah menuntun tangan Hana, membawanya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, ibu ibu yang hobi bergosip memperhatikan Hana dan mencibirnya di belakang. Bu Sakiyah sudah tak heran lagi, baginya itu adalah makanan sehari hari sejak Hana mengalami depresi.


Bu Sakiyah mencoba untuk selalu menegarkan hati, tapi tetap saja ia juga manusia biasa. Tangisannya pecah diatas sajadah, mengadu dan berkeluh kesah kepada Sang Pemilik Kehidupan.