Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Pernikahan diatas kertas



Satu bulan berlalu, Sagara kembali pulang ke rumah setelah menghabiskan bulan madu bersama Jasmin.


Namun, keduanya tidak terlihat raut wajah bahagia, terutama Jasmin. Dari semenjak mereka menikah, Sagara tidak pernah bersikap hangat padanya.


Bahkan Sagara tidak menyentuhnya, seolah olah jijik padanya.


"Hana..hana terus yang di sebut. Aku penasaran, Hana itu seperti apa." Gumam Jasmin.


"Oya, Palu dan Obeng mungkin bisa kasih aku keterangan mengenai Hana." Gumamnya lagi.


Jasmin beranjak dari kamarnya dan memutuskan untuk menemui Palu dan Obeng yang di sekap oleh papa nya.


"Jasmin, kau mau kemana?" Tanya Lidya dari arah belakang.


Jasmin menoleh lalu tersenyum.


"Aku mau ketemu mama sebentar, boleh?"


Lidya membalas dengan senyuman.


"Tentu sayang, kau juga pasti kangen mama mu."


"Makasih ma.." sahut Jasmin, kemudian bergegas keluar dari rumah.


"Baru juga kemarin ketemu, sudah kangen lagi." Gerutu Lidya tidak suka.


"Ada apa ma?"


Lidya balik badan menghadap putranya yang baru saja pulang dari kantor.


"Tidak ada apa apa, tadi istrimu pamitan mau pulang ketemu mama nya."


"Oh." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Sagara. Ia bahkan tidak perduli jika Jasmin tidak pulang sekalipun.


"Loh..." Lidya menautkan kedua alisnya melihat reaksi datar Sagara.


"Kenapa ma?" Tanya Sagara.


"Kamu nggak nyusul istrimu, atau khawatir gitu?"


Sagara hanya diam, lalu beranjak pergi dari hadapan Ibunya.


"Mungkin lagi bertengkar." Pikir Lidya.


Sementara itu, Lidya sudah sampai di rumahnya. Ia langsung menemui kedua orang tuanya.


"Hai, Jasmin!" Seru Rianti merentangkan kedua tangannya, memeluk Jasmin dan mencium pipi kiri dan pipi kanan putrinya.


"Ma, papa ada?" Tanya Jasmin.


"Papa ada di belakang nak." Kata Rianti.


Jasmin bergegas menemui Hardi, di belakang rumahnya.


Hardi menoleh seraya melepas kacamata nya.


"Sayang?'


"Papa, di mana papa sembunyikan Palu sama Obeng?" Tanya Jasmin langsung ke inti permasalahan.


"Papa suruh orang buat singkirin mereka berdua." Jelas Hardi.


"Apa?!" Jasmin terkejut, selama ini ia berpikir kalau kedua anak buah suaminya di sekap di ruang bawah tanah.


"Kenapa?" Tanya Hardi bingung.


"Bukankah itu yang kamu mau, sayang?" Katanya lagi.


"Memang benar, tapi pa kenapa secepat itu. Aku butuh informasi dari mereka." Ungkap Jasmin.


"Informasi tentang Hana?" Tanya Hardi.


"Papa tau?!"


Hardi menggelengkan kepalanya.


"Papa tidak tahu nak, tapi mengenai Hana. Papa hanya punya sedikit informasi dari mereka berdua." Ujar Hardi.


"Apa pa, cepat katakan!" Jasmin sudah tidak sabar.


Hardi coba mengingat apa saja yang di katakan Palu dan Obeng.


"Kalau papa tidak salah, Hana itu istri pertama Sagara. Dan Hana memiliki putra kembar yang menjadi hak waris harta kekayaan Abraham. Itu sebabnya papa singkirkan mereka berdua. Karena papa khawatir mereka akan mengatakannya pada suamimu." Pungkas Hardi.


"Jadi benar, suamiku belum tahu."


Hardi menganggukkan kepala.


"Ah syukurlah. Aku tenang, tapi walau bagaimanapun. Aku harus mencari tahu tentang Hana." Kata Jasmin.


"Hati hati, jangan sampai suamimu tahu. Apalagi mertuamu, rencana kita bisa berantakan. Papa bisa masuk penjara." Jelas Hardi.


"Papa tenang saja.." kata Jasmin menenangkan.


"Kalau kamu butuh bantuan, katakan saja. Papa pasti bantu kamu."


Jasmin tersenyum lalu meneluk Hardi dengan erat.


"Hana?" Gumam Rianti yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Siapa Hana?" Gumamnya lagi.


Rianti bersembunyi di balik pintu, saat Jasmin dan Hardi berjalan mendekati pintu tempat ia bersembunyi.