Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Bujuk rayu Al



Selesai memasak ayam goreng kesukaan Kafa. Hana meletakan piring berisi ayam goreng di atas meja, lalu memanggil kedua putranya untuk makan.


"Ibu makan juga ya.." kata Kafi menatap ibunya yang hanya diam memperhatikan Kafa, makan dengan lahap.


"Ibu.." panggil Kafi lagi.


Hana menoleh ke arah Kafi lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ibu masih kenyang, kakak makan ya."


Kafi mengangguk, lalu melanjutkan makannya bersama Kafa. Sementara Hana hanya memperhatikan, sebenarnya Hana lapar juga. Namun Hana memilih menunggu kedua putranya kenyang dan menunggu sisa.


Hari hari yang mereka lewati tidaklah mudah, satu tahun setelah kepergian bu Sakiyah. Hana yang merawat kedua putranya dan kesehatan mentalnya berangsur pulih. Namun Hana hanya mau bicara dengan kedua putranya saja. Ia masih takut dan bersikap aneh jika berhadapan dengan orang lain.


"Ibu, adek udah kenyang!" Seru Kafa sambil mengusap perutnya.


"Kakak juga kenyang, sekarang ibu makan." Timpal Kafi lalu berdiri dan menyodorkan piring beserta ayam goreng yang masih tersisa.


"Ibu makan nanti saja, masih kenyang," tolak Hana.


"Ya, tapi nanti ibu makan ya." Kafi berlari keluar di ikuti Kafa.


Hana memandang tiga potong ayam goreng yang masih tersisa. Ia tidak berani memakannya karena buat kedua putranya nanti makan lagi. Hana sadar, uang yang tersisa harus di hemat. Karena belum tentu Kafi bisa mendapatkan uang tiap hari.


Hana memilih mengambil garam di dapur lalu di aduknya dengan nasi hangat, lalu makan dengan lahap.


Di saat Hana tengah makan dengan lahap. Tiba tiba seseorang sudah berdiri di hadapannya. Hana berdiri menatap ketakutan ke arah pria yang berdiri di hadapannya yang tak lain adalah Al yang sedari tadi mengikuti Kafi.


"Tenang..." ucap Al.


Hana mengambil sapu yang tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu mengayunkannya ke tubuh Al.


"Pergi!"


"Hey tenanglah!" Seru Al mengambil sapu yang di pegang Hana lalu melemparkannya ke lantai.


"Maaf, gue sudah lancang masuk rumah lo." Kata Al.


Setelah itu, Al beranjak pergi dari dalam rumah Hana.


"Wanita itu tidak terlihat gila, mungkin gue salah orang." Gumam Al pelan.


"Om!"


Al menoleh ke arah suara, nampak Kafi melambaikan tangan padanya.


"Om mau ambil uang tadi? Sudah aku belikan ayam!" Jelasnya lagi.


Al hanya diam memperhatikan wajah Kafi dan Kafa yang berdiri di belakang.


"Kalian kembar?" Tanya Al.


Kafi menoleh ke arah Kafa sekilas lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya om!" Sahut Kafi.


"Ibumu Hana?" Tanya Al lagi.


Kafi menganggukkan kepalanya.


"Sini, sini!" Al mengajak Kafi dan Kafa ke bawah pohon supaya bisa mengobrol dengan tenang tanpa kepanasan.


"Ada apa, om?" Tanya Kafi, kedua bocah itu duduk di bawah pohon bersama Al.


"Gue kasih kalian duit, tapi kalian harus cerita." Bujuk Al.


"Cerita?" Kafi menautkan kedua alisnya, sementara Kafa hanya diam.


"Celita apa, om?" Tanya Kafa penasaran.


Al merogoh saku celananya, lalu mengambil dua lembar uang dan di perlihatkan pada Kafi dan Kafa.


"Siapa nama kalian, ibu kalian dan di mana ayah kalian?"


"Namaku, Kafi Arrayan dan ini adekku namanya Kafa Arrayan. Ibuku, namanya Hana." Ungkap Kafi dengan lancar.


"Ayah..." Kafi menundukkan kepalanya sesaat lalu menggelengkan kepalanya.


Al menatap tajam wajah Kafi, menunggu jawaban Kafi selanjutnya.


"Kakak tidak tahu siapa ayah!" Seru Kafi berdiri, lalu menarik tangan Kafa.


"Hey!"


Kafi dan Kafa terus berlari meninggalkan Al yang terus memanggilnya.


"Gue penasaran, apa hubungan mereka dengan Jasmin. Kenapa Jasmin menginginkan kematian mereka?" Batin Al menatap kedua bocah itu berlari hingga hilang dari pandangan matanya.