
"Ibu, ibu serius mau ikut kakak?" Tanya Kafi tersenyum lebar memperhatikan karung di genggaman tangan Hana.
Hana mengangguk.
"Iya, kak. Tapi tunggu adek pulang ya, kasian nanti kalau nyariin." Jawab Hana.
Kafi mengangguk pelan, sebenarnya ia tidak mau kalau ibunya ikut mencari rongsok. Kafi khawatir kalau terjadi sesuatu di luar dan bisa membuat Hana berubah sikap menjadi tempramental. Namun ia tidak berani melarang, karena Hana memaksanya.
"Itu adek, bu!" Tunjuk Kafi ke arah ujung jalan. Nampak Kafa berlari kecil menghampiri mereka.
"Ibu! Kakak!"
"Adek cepetan ganti bajunya!" Sambut Kafi mengusap kepala Kafa.
"Oce kak!" Sahutnya seraya berlari ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian Kafa kembali menemui mereka. Hana membenarkan rambut Kafa yang gondrong supaya tidak menghalangi pandangannya lalu memberikan sepotong roti padanya.
"Ibu nggak punya nasi, makan ini dulu ya. Nanti kalau ada uang kita beli ayam goreng." Bujuk Hana.
Kafa mengambil roti di tangan Hana dan tengadahkan wajah menatap ibunya.
"Ibu sudah makan?" Tanyanya.
Hana mengangguk.
"Ibu kenyang!" Sahut Hana berbohong, dari pagi ia hanya minum air putih saja.
"Makan sama adek."
Kafa mengangguk lalu ia makan rotinya dengan lahap. Hana dan Kafi hanya memperhatikan Kafa menghabiskan rotinya. Setelah itu mereka berjalan bersama untuk mencari rezeki.
Sesampainya di tepi jalan raya, mereka memilih tempat pembuangan sampah. Di tempat itulah mereka bisa mendapatkan plastik atau botol untuk mereka jual.
Kafa kegirangan mendapatkan dua botol plastik bekas lalu berlari kecil menghampiri Hana dan memasukkan botol itu ke dalam karung. Ketiganya tidak peduli dengan para pejalan kaki atau pengunjung restoran yang melirik ke arah mereka.
Hari semakin siang matahari semakin terik. Kafa duduk di tepi jalan sambil mengusap tenggorokannya yang terasa kering. Sementara Hana sudah mendapatkan setengah karung kecil, di banding Kafi yang sudah mendapatkan satu karung kecil penuh dengan botol plasrik.
"Adek!" Panggil Kafi lalu menghampiri Kafa dan duduk di sampingnya.
"Haus kak, adek mau minum es." Kata Kafa.
"Es?" Ucap Kafi matanya menatap tukan es cendol yang berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Kakak nggak ada uang.." ucapnya seraya mengusap keringat di keningnya.
"Ada apa?" Tanya Hana lalu duduk di hadapan kedua putra kembarnya.
"Adek haus bu.." kata Kafa lagi.
Hana dan Kafi mulai kebingungan, mereka sama sekali tidak punya uang sepeserpun. Hana menoleh ke arah penjual es lalu menghampirinya.
"Pak.." sapa Hana dengan raut wajah takut.
"Ya bu?" Tanya penjual es memperhatikan wajah Hana.
"Anak saya mau es, tapi saya tidak punya uang." Kata Hana.
Penjual es tersebut menoleh ke arah Kafi dan Kafa. Raut wajah mereka terlihat kehausan dan wajahnya yang tampan membuat si penjual es tersebut tersenyum.
"Saya buatkan ya bu." Katanya.
Hana tersenyum lebar.
"Terima kasih pak."
"Iya santai aja bu." Kata si penjual es yang baik hati.
Si penjual es itu membuatkan tiga cup es cendol lalu di berikan pada Hana.
"Ini es nya, ga usah bayar. Buat anak anakmu." Kata si penjual es.
Hana berkali kali mengangguk anggukkan kepala dan mengucapkan terima kasuh.
"Terima kasih banyak pak."
Hana membawa dua cup es pada Kafi dana Kafa. Kemudian ia balik lagi mengambil satu cup buat dirinya sendiri. Setelah itu mereka bertiga menikmati es cendol.
"Iya sayang, di dunia ini masih banyak orang baik walaupun sama sama susah seperti kita." Jawab Hana.
"Adek juga mau jadi anak baik!" Seru Kafa.
"Harus, nggak boleh jahat sama orang." Pesan Hana.
Kafi dan Kafa menganggukkan kepalanya dan kembali menikmati esnya.
Tak sengaja Hana menoleh ke arah pintu restoran yang terbuka. Nampak seorang pria gagah dan rupawan keluar dari dalam restoran.
Hana termangu sesaat, kemudian berdiri dan cup es di genggamannya terjatuh, tumpah ke jalan. Kafi dan Kafa terkejut lalu keduanya bangun dan berdiri menatap Hana.
"Ibu kenapa?" Tanya Kafi.
Namun Hana terus menatap tajam ke arah pria itu yang tak lain adalah Sagara.
"Tuan.." ucap Hana pelan.
"Tuan!" Seru Hana berlari menghampiri Sagara.
Sagara yang baru saja membuka pintu mobil terkejut melihat Hana. Ia terdian cukup lama memperhatikan wajah Hana. Sekian lama tidak bertemu, namun Sagara tidak melupakan wajah cantik Hana.
"K, kau..." ucap Sagara lidahnya kelu. Entah ia harus bereaksi apa, Sagara tidak tahu.
Namun melihat pakaian Hana yang kucel dan rambutnya yang berantakan membuat Sagara takut, ia masih ingat kalau Hana gangguan jiwa.
"Tuan.." sapa Hana.
"Ibu..siapa itu bu?" Tanya Kafi dari arah belakang.
Sagara menoleh ke arah Kafi dan Kafa.
"A, anakmu?" Tanya Sagara.
Hana mengangguk.
"Anakmu tuan.." jawab Hana pelan namun Sagara tidak mendengarnya.
"Jadi Hana sudah punya anak, sukurlah kalau Hana sudah punya suami. Tapi kenapa mereka terlihat kotor." Batin Sagara.
"Tuan..." Hana menunjuk Kafi dan Kafa.
"Iya aku tahu, mereka anakmu." Kata Sagara.
Hana menggelengkan kepala, matanya basah oleh air mata. Dadanya sesak, mulutnya serasa terkunci.
"Me, mereka..." ucap Hana.
"Aku masih banyak urusan, aku pergi dulu." Kata Sagara lalu masuk ke dalam mobil.
"Tuan!" Hana memukul kaca jendela mobil.
"Tuan!"
Namun mobil yang Sagara tumpangi melaju meninggalkan halaman restoran.
"Tuan!!" Pekik Hana berlari mengejar mobil hingga ke jalan.
"Ibuuuu!!!" Pekik Kafi dan Kafa mengejar Hana.
"Tuan!!' Hana terus berlari dan mengejar mobil tersebut tanpa memperdulikan keselamatannya.
"Tuan!!"
"Ibu!!"
"Ibu!!"
"Brakkkk!"
Langkah Kafi dan Kafa terhenti. Cup es di tangannya terjatuh, matanya melotot matanya melebar melihat ibunya tertabrak dan terlempar jauh mengenai gerobak yang ada di pinggir jalan.
"Ibu!!!"
"Asataga! Ucap pria yang sudah menabrak Hana yang tak lain adalah Dr Arga.