Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
7 tahun berlalu dengan ketabahan



Kegigihan Dr Arga untuk mendapatkan restu orang tuanya untuk menikahi Hana, masih tetap berlanjut. Meski perdebatan seringkali terjadi, bahkan ancaman untuk Dr Arga sering di lontarkan sang papa.


Namun sampai saat ini, Dr Arga belum bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya. Terlebih, kehadiran Maya di dekatnya membuat ia kesulitan untuk lebih bebas mendekati Hana seperti sebelumnya. Maya kerap kali membuat ulah dan berusaha menjauhkannya dari Hana.


Manusia punya keinginan, tapi Tuhan punya rencana lain. Hingga suatu hari, keinginan Dr Arga untuk menikahi Hana telah membuat sang mama marah besar, membuat penyakit jantungnya kambuh.


Demi sang mama, Dr Arga meluluskan permintaannya untuk menerima perjodohan dengan Maya. Meski diantara mereka belum menikah, tapi membuat Dr Arga tidak dapat memeriksa kesehatan Hana seperti biasa.


Situasi sulit yang di hadapi Dr Arga, membuat bu Sakiyah harus membayar biaya pengobatan Hana dan biaya sehari hari kedua putranya. Uang yang pernah di berikan Sagara, hari demi hari semakin menipis.


Bu Sakiyah memutar otaknya supaya mendapatkan biaya tambahan selain berjualan.


Hari demi hari, bulan berganti tahun. Semuanya di lewati bu Sakiyah dengan tabah. Kondisi Hana sedikit membaik, ia tak pernah pergi jauh dari rumahnya selain duduk melamun di teras di temani ke dua putranya.


Tujuh tahun sudah, mereka lewati. Masa tahanan pak Salim tersisa dua tahun lagi, Kafi dan Kafa tumbuh dengan sangat baik dan menjadi anak yang cerdas.


Kafi anak yang lebih cerewet, pemberani dan selalu melindungi Kafa saudara kembarnya yang lebih cenderung pendiam.


****


Rumah yang biasanya sepi, sekarang berubah ramai oleh suara anak anak Hana. Setiap pagi bu Sakiyah membuatkan sarapan seadanya buat Kafi dan Kafa sebelum berangkat sekolah.


Sementara Hana hanya duduk di kursi memperhatikan kedua putranya duduk menunggu sarapan dari neneknya.


"Sayang, sarapannya sudah siap!" Kata bu Sakiyah dari arah dapur.


Kafi berdiri dan berlari ke arah dapur membantu bu Sakiyah membawakan satu piring kecil nasi goreng. Tak lama ia kembali keluar dapur bersama bu Sakiyah.


"Adek, sarapannya ini." Kata bu Sakiyah meletakkan nasi goreng di hadapan Kafa Arrayan.


"Adek, mam nya sama nenek yaa.." kata Kafa, seraya mengambil nasi goreng di atas meja.


Bu Sakiyah mengangguk, lalu mengambil alih piring di tangan Kafa dan menyuapinya.


Sementara Kafi memilih duduk berdua bersama Hana dan seperti biasa, Kafi berbagi makanan dengan ibunya. Seolah olah sudah mengerti apa yang terjadi dengannya, Kafi selalu menyuapi Hana.


"Ibu, aaaa...!" Ucap Kafi meminta Hana membuka mulutnya.


Kafi tersenyum lebar, lalu membuka mulut dan membiarkan Hana menyuapinya. Bu Sakiyah yang melihat kejadian langka seperti itu, matanya berkaca kaca melihat perubahan sikap Hana layaknya seorang ibu.


"Ya Rabb, sudahi ujianmu...rasanya aku tak sanggup lagi.." batin Bu Sakiyah.


Tiba tiba tangan mungil Kafa mengusap pipi bu Sakiyah yang mulai keriput.


"Nenek.."


Bu Sakiyah menatap Kafa yang menggelengkan kepalanya.


"Mam dulu..balu nangis.." ucapnya.


Bu Sakiyah tertawa kecil dan mencubit gemas pipi Kafa.


Kafi yang mendengar ucapan Kafa, ikut menimpali.


"Adek, kenapa nenek di suruh nangis?"


Kafa menoleh sekilas ke arah Kafi, lalu tersenyum malu malu.


"Ayo makannya, nanti kalian terlambat sekolah." Kata bu Sakiyah.


Kafi dan Kafa mengangguk, lalu mereka menyelesaikan sarapan paginya. Setelah itu bu Sakiyah memberikan tas nya masing masing.


"Ayo, sekarang kalian berangkat. Ingat, jangan nakal dan jangan main kemana mana dulu setelah pulang sekolah. Kasian ibumu ngga ada temannya, nenek kan mau jualan." Pesan bu Sakiyah.


"Iya nek!" Sahut mereka serempak.


Bu Sakiyah mengantarkan Kafi dan Kafa sampai tepi jalan raya.


"Hati hati ya!" Pesan bu Sakiyah.


Kafi dan Kafa melambaikan tangannya pada bu Sakiyah. Saat anak anak lain diantarkan orang tuanya. Kafi dan Kafa di tuntut untuk mandiri sejak kecil karena sebuah keadaan. Mereka terpaksa berjalan kaki menyusuri tepi jalan raya untuk sampai ke sekolahnya. Karena bu Sakiyah tidak memiliki uang untuk ongkos sekolah. Kadang, Kafi dan Kafa tidak memiliki bekal.