
Jasmin mulai melancarkan aksinya supaya bisa mengambil hati Sagara. Namun setiap kali Jasmin meminta Sagara untuk menyentunya selalu mendapatkan penolakan. Sementara kedua orang tua Sagara ingin segera menimang cucu sebagai pewaris kekayaannya.
Di sisi lain, Jasmin menyuruh orang untuk mencari tahu tentang keberadaan Hana sesuai petunjuk yang di berikan papanya.
Di suatu malam, mereka tengah berkumpul. Lidya mengutarakan keinginannya pada Sagara.
"Kapan kalian mau beri aku, cucu?" Tanya Lidya.
"Sabar ma..kami lagi berusaha. Iya kan sayang?" Jasmin menoleh ke arah Sagara yang acuh.
"Sayang?"
Sagara melirik Jasmin, lalu mengalihkan pandangannya pada Lidya.
"Ma, stop merengek seperti itu."
"Loh, papa sama mama menikahkan kamu biar dapat cucu. Kamu malah ngomongnya begitu." Potong Abraham tidak suka kata kata Sagara.
"Aku capek ma, pa..selamat malam." Sagara beranjak dari sofa, melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.
"Maaf ma..mungkin mas Saga kecapean." Kata Jasmin.
Lidya dan Abraham saling pandang sesaat.
"Sampai kapan kami harus menunggu." Gerutu Lidya.
Jasmin menundukkan kepala.
"Andai kalian tahu, jangankan kasih kalian cucu. Suamiku tidak mau menyentuhku." Batin Jasmin.
"Kamu kenapa nak?" Tanya Lidya melihat raut wajah Jasmin terlihat murung.
"Tidak ada ma..aku hanya lelah. Aku ke kamar dulu, ma..pa.."
Lidya menganggukkan kepalanya, menatap punggung Jasmin hingga hilang dari pandangan matanya.
"Ada apa sama mereka?" Gumam Lidya.
Abraham menarik napas dalam dalam.
"Entahlah, anak jaman sekarang susah buat di atur." Pungkas Abraham.
Di mulai dari jari jemarinya yang mengusap pelan pipi Saga lalu turun ke leher. Namun Sagara tetap bersikap dingin dan menepis tangan Jasmin.
"Lupakan...jangan harap lebih. Jangan paksakan, nanti kau sakit." Kata Sagara.
"Kalau kamu tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa tidak menolak?" Tanya Jasmin.
"Kau dan papamu yang memaksa bukan?" Saga menoleh ke arah Jasmin sesaat, lalu kembali fokus ke layar ponsel.
"Hana, karena Hana bukan?" Pertanyaan Jasmin mengejutkan Sagara. Bagaimana mungkin Jasmin tahu soal Hana.
"Hana, siapa Hana?" Balas Sagara pura pura tidak tahu. Atau mungkin saja Hana yang lain.
"Siapa Hana? Kau seringkali menyebut nama Hana saat kau tidur.." tanya Jasmin mencoba bertanya lagi.
Sagara menarik napas lega, dia fikir Jasmin mengetahui tentang Hana.
"Kau salah dengar, aku tidak tahu siapa Hana." Kata Sagara meletakkan ponselnya di atas meja lalu berbaring dan membelakangi Jasmin.
"Terus saja kau sembunyikan mas, kau pikir aku tidak tahu." Batin Jasmin.
Jasmin merebahkan tubuhnya, menatap langit langit kamar memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.
Tiba tiba ponselnya miliknya berdering. Hana bangun lalu memeriksa ponselnya.
Jasmin beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar.
Di teras rumah, Jasmin menghubungi seseorang yang tak lain adalah papa nya sendiri.
"Pa..." sapa Jasmin.
"Jasmin.." terdengar suara papa nya menyahut. Selanjutnya terjadi perbincangan cukup lama di telepon.
Papanya memberitahu Jasmin, kalau anak buahnya sudah menemukan tempat tinggal Hana. Namun sayang, Hana sudah lebih dulu pergi bersama keluarganya meninggalkan tempat tinggal mereka.
Jasmin menggeram kesal karena anak buahnya tidak bisa menemukan Hana sampai dapat.
"Kita bisa mencari mereka di kota lain. Tapi papa butuh dana besar..."
"Tenang saja pa..yang penting Hana di temukan." Sahut Jasmin tak lama mengakhiri perbincangannya di telepon karena suara langkah kaki dari dalam rumah mendekat ke arah pintu.