
Al berjalan dengan santai keluar dari rumah. Di tepi jalan raya ia berhenti dan merogoh saku celananya. Mengambil uang yang di berikan Jasmin padanya.
Al tersenyum sinis lalu memasukkan kembali uang ke dalam sakunya lalu naik angkutan umum yang berhenti tepat di depannya.
Tak lama angkutan umum berhenti tak jauh dari pasar tradisional. Al membayar angkutan umum lalu keluar dari dalam mobil tersebut.
Membeli beberapa pakaian dan makanan itu tujuan utama Al pergi ke pasar. Langkah Al terhenti saat melihat bocah kecil ringkih dengan karung di pundaknya di penuhi dengan botol plastik.
Al tersenyum samar seraya mengusap jenggotnya yang tumbuh halus. Baginya, pemandangan bocah kecil sedang mengambil rongsokan bukan hal yang aneh. Namun ada yang membuat ia merasa penasaran.
Bocah tersebut terlihat sangat tampan meskipun wajahnya penuh noda hitam. Pakaiannya kotor, tidak bisa menutupi kulitnya yang putih.
Al berjalan menghampiri bocah tersebut yang tak lain adalah Kafi Arrayan.
"Sini gue bantu," ucap Al sambil menarik paksa karung di pundak Kafi.
Sontak Kafi terkejut dan merebut kembali karung di pundak Al.
"Balikin om!" Seru Kafi.
"Apaan si lu, gue mau bantu. Ayo cepat jalan!" Al mendorong tubug mungil Kafi hingga terhuyung ke belakang.
Kafia diam menatap tajam wajah Al, matanya berkaca kaca.
"Om kalau mau ambil rongsok, cari sendiri. Itu milik aku, om...aku sudah seharian cari rongsok itu buat bantu nenek, ibu sama adikku..." ucap Kafi terisak.
Al terdiam sejenak, menatap kedua bola mata Kafi. Perlahan ia menurunkan karung di pundaknya lalu di letakkan di bawah kakinya.
Al merogoh saku celanya lalu mengambil uang satu lembar senilai seratus ribu rupiah, lalu di sodorkan pada Kafi.
"Cukup ga? Gue bayar rongsokannya!"
Kafi mengusap air mata di pipinya lalu menatap tajam uang di tangan Al.
"Makasih om!" Kafi mengambil uang tersebut secepat kilat lalu berlari menjauh sambil berjingkrak kegirangan karena nilai rongsok di dalam karung biasanya hanya di hargai sepuluh ribu rupiah.
Al terlihat tersenyum di sudut bibirnya melihat Kafi bahagia.
"Anak itu sudah biasa di sini nyari rongsok!" Celetuk salah satu penjual buah yang sedari tadi memperhatikan.
Al menoleh ke arah pria itu.
"Anak orang gila!" Celetuknya seraya di akhiri tertawa terkekeh.
Pria itu terdiam menatap wajah Al dengan raut wajah ketakutan.
"Memang betul, anak itu ibunya gila." Katanya lagi.
Al terdiam mendengarkan si penjual buah menceritakan anak tadi sambil mengunyah buah jeruk.
"Ciri cirinya sama persis yang di ceritakan Jasmin." Batin Al.
"Kang jeruknya mau berapa kilo?" Tanya pria itu.
"Gua minta satu!" Sahut Al lalu meninggalkan toko buah, menyusuri jalan yang di lalui Kafi.
***
Binatang buas saja ingat dan sayang pada pengasuhnya. Apalagi manusia, Hana yang di nyatakan gila oleh orang sekitar. Nyatanya ia memiliki ingatan dan sayang pada kedua putranya yang kembar.
Setiap hari Hana akan berdiri di ujung jalan bersama Kafa, menunggu Kafi pulang dengan membawa uang hasil rongsok, kadang tidak sama sekali. Namun Hana dan Kafa selalu setia menunggu kepulangannya.
Nampak di ujung jalan, sosok mungil tengah berlari sambil mengangkat tinggi tinggi uang di tangannya.
"Ibu!"
"Adek!"
Hana tersenyum lebar, tepuk tangan pelan menyambut sosok mungil itu memeluknya dengan erat.
"Ibu!"
Hana mengusap lembut rambut Kafi lalu menciumnya pelan.
"Kakak seneng amat, pasti dapat uang banyak." Celetuk Kafa.
Kafi melepas pelukannya lalu menunjukkan uang di tangannya pada Hana dan Kafa.
"Hari ini, adek bisa makan ayam goyeng!" Seru Kafi menirukan kata kata adiknya.
"Holeeee!" Sahut Kafa senang lalu berjingkrak.
"Ibu ini uangny, kita ke warung yuk. Beli ayam." Ajak Kafi. "Kakak sudah lapar."
Hana mengangguk, lalu mengambil uang di tangan Kafi. Hana menuntun kedua tangan putranya lalu mereka melangkah bersama menuju warung tempat penjual ayam.