Billionaire Twins Baby Boy

Billionaire Twins Baby Boy
Niat tulus Dr Arga



Satu minggu berlalu, Hana dan bayi kembarnya di izinkan pulang oleh Dokter.


Pekerjaan bu Sakiyah bertambah repot, tapi ia menyukainya meski hinaan dan cibiran tetangga kerap kali membuat hatinya sakit.


Sepulang dan sebelum bekerja, bu Sakiyah mengurus Kafi dan Kafa, begitu juga dengan Hana. Namun, kebiasaan Hana sampai sekarang tak pernah hilang. Setiap pagi, Hana selalu pergi dari rumah dan kembali lagi siang hari.


Beruntung bu Sakiyah memiliki salah satu tetangga yang baik. Selama ia bekerja, selalu menitipkan kedua bayi itu pada tetangganya.


Dr Arga yang melihat kesulitan bu Sakiyah, memutuskan untuk mencari baby sitter untuk Kafi dan Kafa.


Hari ini, kesabaran dan ketegaran hati bu Sakiyah kembali di uji. Sepulang menjajakan dagangannya, ia melihat dua tetangganya tengah menghina putrinya.


"Heh, orang gila itu diem di rumah. Jangan kemana mana, nanti di anu orang lagi. Ayo sana pulang!" Hina bu Endah seraya menekan kepala Hana.


"Iya nih, bu Sakiyah kayanya sengaja ngebiarin anaknya kelayapan terus. Mau nampung anak haram kali di rumahnya." Timpal bu Ruri.


"Astagfirulloh bu...bisa di jaga ga, itu punya mulut!"


Bu Sakiyah menarik tangan Hana supaya berdiri dan menjauh dari kedua wanita itu.


"Halah, sok bener lu. Mending urus anak lu yang gila!" Seru bu Ruri.


"Iya bener, jangan sampai berkeliaran terus. Nanti suami kami tergoda buat cicipin anakmu!" Timpal bu Endah.


"Astagfirulloh..." ucap bu Sakiyah mengusap dadanya, tanpa bicara lagi. Bu Sakiyah membawa paksa Hana pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah. Dr Arga sudah menunggu kedatangan bu Sakiyah.


"Ada apa bu?" Tanya Arga melihat kedua mata bu Sakiyah basah oleh air mata.


Bu Sakiyah tidak buru buru menjawab pertanyaan Dr Arga. Bibirnya bergetar, matanya merah, dadanya sesak menahan air mata supaya tangisannya tidak pecah. Bu Sakiyah membantu Hana duduk di kursi.


"Bu..." ucap Dr Arga lagi.


Bu Sakiyah menghadap ke arah Dr Arga, dengan terbata bata menjawab pertanyaan Dr Arga.


"Mere, ka..menuduh Hana se,orang..pelacur..mereka..juga menganggap Hana gila..." ucapnya.


Dr Arga melirik ke arah Hana.


"Anakku..anakku tidak gila..tidak gila Dokter..." bu Sakiyah tak dapat membendung air matanya lagi, tangisannya pecah di dada Dr Arga.


Dr Arga membalas mengusap punggung bu Sakiya dengan lembut. Tidak ada kata yang mampu mewakili untuk menghilangkan kesesihan bu Sakiyah selain pelukan dari seseorang yang mengerti perasaannya.


"Bu..." Dr Arga melepaskan pelukan bu Sakiyah.


"Maafkan ibu..." ucap Bu Sakiyah.


"Tidak apa apa bu." Kata Dr Arga.


***


Sepulang dari rumah Hana. Dr Arga menemui sahabatnya Dr Indira, dan menceritakan niatnya. Dr Indira mendukung niat tulus Dr Arga.


Setelah itu, Dr Arga pulang ke rumahnya dan berbicara serius dengan kedua orang tuanya. Sebelum meminta restu, Dr Arga menceritakan latar belakang Hana. Ia berharap mendapatkan dukungan dari orang tuanya sekaligus restu untuk menikahi Hana dan menjadi ayah untuk Kafi dan Kafa Arrayan.


"Apakah dunia ini sudag habis stok perempuan?" Sindir Alan, papa kandung Dr Arga.


"Pa, Hana membutuhkanku.." kata Dr Arga.


"Nak, apa kata orang di luar sana. Kolega papa, dan saudara mamamu?" Kata Alan.


"Mama juga tidak setuju!" Potong Sukma, mama kandung Dr Alan.


"Papamu seorang pengusaha. Mama, Dr kepala. Apa kata orang nanti, punya menantu gila dan sudah punya anak di luar nikah. Pikir Arga!" Bentak Alan.


"Pa..Ma..Hana bukan gila, hanya depresi. Butuh waktu lama supaya Hana sembuh." Dr Arga tetap bersikukuh dan membela Hana.


"Papa tetap tidak setuju!" Seru Alan marah.


"Pa..."


Dr Arga mencoba untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


"Berani kamu menikahi perempuan gila itu, jangan anggap kami orang tuamu lagi. Angkat kaki dari rumah ini, kami coret kamu dari daftar anggota keluarga Alan Diningrat!" Tegas Alan.


"Lagipula, kami sudah menjodohkanmu dengan Maya." Pungkas Sukma.


"Ma..pa...!"


Alan dan Sukma tidak mau mendengarkan penjelasan atau alasan apapun dari putranya. Mereka memilih pergi dari hadapan Dr Arga.


"Tidak, aku gak boleh menyerah.." Batin Dr Arga.


"Aku akan tetap menikahi Hana. Apapun yang terjadi."