
Eps. 9
å
Pagi itu cuaca terlihat mendung, bahkan gerimis mulai turun memaksa Gisella untuk tidak berjualan koran seperti biasanya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamar kost, menunggu waktu siang untuk bekerja di tempat Laundry. Tangannya terulur meraih ponsel di atas nakas, ponsel pemberian dari Gaza. Ia teringat ucapan nenek Ely yang menanyakan nomor ponselnya.
Flashback on.
"Gisella, boleh Nenek meminta nomor ponselmu? Nenek merasa dibodohi setiap menelepon Gaza untuk menanyakan kabarmu," sindir nenek Ely melirik pada Gaza.
Malam itu, untuk yang ke sekian kalinya Gaza dan Gisella bertamu ke rumah nenek Ely untuk makan malam, sesuai permintaan dari nenek Ely.
Gisella meneguk saliva, bagaimana ia harus menjawab, ponsel saja ia tidak punya.
"Ponsel Gisella sedang diperbaiki, Nek," Gaza yang menjawab.
Nenek Ely menatap Gisella. "Benarkah itu, sayang?"
Gisella mengangguk ragu. "Iya, Nek, maafkan aku."
Kenapa kamu selalu minta maaf sama Nenek, kamu tidak salah. Kalau sudah selesai diperbaiki, jangan lupa telepon Nenek, mengerti?" perintah nenek Ely mengelus kepala Gisella.
Gisella mengangguk saja.
Keesokan harinya Leon datang dengan membawa paper bag kecil menyerahkan pada Gisella.
"Apa ini, Leon?"
"Ini dari Tuan Gaza, Nona. Terimalah."
Gisella menerima paper bag tersebut dan membuka isinya. Matanya membelalak lebar. "Ponsel?"
Leon mengangguk. "Di dalamnya sudah ada kartu dan nomor ponsel Tuan Gaza beserta Nyonya Besar. Anda bisa menghubungi Nyonya Besar segera, Nona."
"Nenek Ely?" tanya Gisella memastikan.
Leon mengangguk. "Benar, Nona."
"Tapi kenapa dia memberikan ini untukku, Leon?"
"Saya tidak paham, Nona, silahkan tanyakan pada Tuan Gaza."
Gisella mengangguk. "Kalau begitu terimakasih, Leon. Sampaikan terimakasihku untuk Gaza."
"Tentu, Nona."
Flashback off.
Gisella menghembuskan nafas pelan, tangannya bergerak untuk membuka layar ponselnya. Ia teringat dengan ponselnya dahulu, entah dimana ponsel itu sekarang ia benar-benar lupa, padahal banyak nomor penting di sana. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
From : Gaza
Dimana?
Tangannya mengetik balasan.
Di kamar kost.
Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar.
Cuaca sedang hujan, tidak usah berjualan koran.
Kedua sudut bibir Gisella terangkat, ia merasa bahwa pria itu mengkhawatirkannya.
Iya.
Tanpa sadar jarinya mengetik sebuah pesan 'Hati-hati' tapi kemudian ia menghapusnya kembali, merasa tidak perlu seperhatian itu dengan Gaza.
Sedangkan di tempat lain, Gaza memperhatikan layar ponselnya, lebih tepatnya memperhatikan room chat dengan Gisella, terdapat notif sedang mengetik di bawah nama Gisella. Namun setelah menunggu cukup lama tidak ada balasan lagi dari Gisella membuat Gaza mengembuskan nafas panjang.
Apa ia mengharapkan pesan dari gadis itu?
Menyadari cuaca mendung cenderung hujan membuat Gaza reflek mengirimkan pesan untuk Gisella agar gadis itu tidak berjualan koran di tengah hujan. Entah mengapa ia tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk dengan gadis itu.
Untuk sesaat Gaza masih memperhatikan room chatnya dengan Gisella, beberapa menit kemudian terlihat gambar profil Gisella yang berubah. Gaza menekannya. Ujung bibirnya terukir senyuman saat melihat foto Gisella yang dipasang sebagai foto profil saat sebelumnya hanya foto bunga yang ada di sana. Entah kenapa Gaza segera menyimpan foto Gisella yang digunakan sebagai profil tersebut. Dan benar saja, baru beberapa detik Gaza berhasil menyimpan foto Gisella dalam galeri ponsel. Foto profil gadis itu kembali berganti dengan bunga yang sebelumnya.
Gaza tersenyum lebar, pasti gadis itu tidak sengaja menggunakan fotonya sebagai profil, dan sangat beruntungnya ia sudah mengambil dan menyimpan foto Gisella.
Gaza membuka galeri, memperhatikan wajah Gisella dalam bentuk foto, dua mata yang bulat, hidung mungil dan mancung, pipi putih mulus yang pernah ia sentuh, dan terakhir bibirnya yang tipis berwarna merah muda. Gaza menyipitkan mata memperhatikan lebih lekat bibir tipis yang nyatanya terdapat tahi lalat kecil di ujung bibir gadis itu. Tanpa sadar jemari Gaza mengusap layar ponsel tepat di bibir Gisella, pikirannya entah ada dimana namun itu tidak baik-baik saja untuk reaksi tubuhnya.
...***...
Tidak sampai setengah jam ia sudah selesai dengan urusan belanjanya, kedua tangannya penuh dengan kantong plastik. Tidak terlalu banyak, hanya saja yang di belinya mempunyai ukuran yang besar. Saat akan menyeberang, sebuah mobil berhenti di depannya, kaca mobil itu terbuka memperlihatkan sosok di dalamnya. "Gaza?" gumam Gisella nampak terkejut.
"Masuklah. Aku akan mengantarmu," ucap Gaza membuka pintu mobilnya.
"Tidak usah, terimakasih," tolak Gisella tak enak.
"Tidak apa, ayo."
Merasa tidak enak untuk menolak, akhirnya Gisella menurut dan menerima tawaran dari Gaza.
"Darimana?" Gaza bertanya ketika Gisella sudah duduk di sampingnya.
"Minimarket."
"Kau sudah makan?"
Gisella menggeleng. "Belum."
"Leon, kita mampir ke tempat makan," perintah Gaza menoleh pada Leon yang duduk di kursi kemudi.
"Baik, Tuan."
"Eh? Tidak usah. Aku makan di kost saja," tolak Gisella.
"Kau menolak ajakanku?"
"Ah, bu-bukan begitu. Tapi —"
"Kau suka sate?"
Gisella menoleh. "Apa?"
"Kau suka sate?" Gaza mengulang kalimatnya.
Gisella mengangguk ragu.
"Leon, cari warung sate."
"Baik, Tuan."
Gisella tidak bisa lagi untuk menolak, percuma saja Gaza tidak akan menerima alasannya, dan juga Leon tidak akan menghentikan kendaraannya.
*
Kedua bola mata Gisella tidak bisa tidak berbinar saat melihat kepulan asap dari daging yang baru selesai di bakar serta ditaburi bumbu kacang di hadapannya, aromanya menembus penciuman membuat cacing di perutnya bernyanyi indah di dalam sana. Sudah lama sekali ia tidak memakan makanan itu, betapa ia merindukan aroma yang senantiasa menggodanya, melambai-lambai padanya. Tanpa menunggu waktu, Gisella mengambil satu tusuk dan memakannya, menikmati tiap kunyahan dari daging berbumbu kecap dan kacang yang melumer di lidahnya.
Gaza memperhatikan gadis di sebelahnya yang tengah menikmati potongan daging yang ditusuk itu dengan hikmat seakan tak menyadari kehadirannya, senyum gadis itu tak kunjung pudar ketika tusuk demi tusuk berhasil menyentuh lidahnya. Bahkan sesekali gadis itu memejamkan mata dengan ekspresi yang berubah-ubah, sangat lucu dan menggemaskan di mata Gaza. Jangan lupakan sebelah pipinya yang cekung setiap kali gadis itu tersenyum lebar.
Gaza tersenyum menggelengkan kepala melihat Gisella yang lahap, bahkan sudah menghabiskan beberapa tusuk sate. "Kau suka?" tanyanya.
Kepala Gisella mengangguk antusias. "Ini makanan favoritku," jawabnya kelewat senang. Sepertinya ia melupakan fakta tentang rasa sungkannya terhadap Gaza, bahkan tanpa canggung ia terus melahap makanan favoritnya itu, menghiraukan Gaza yang terus menatapnya.
Gaza tersenyum, ia menyukai Gisella yang ceria seperti sekarang, hanya dengan beberapa tusuk sate gadis di sampingnya seperti berada di dunia yang indah, semua beban hidup seakan lenyap. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut yang berantakan mengganggu gadis itu menikmati santapannya. "Dimana ikat rambutmu?"
Gisella menoleh. "Sepertinya ada di tas."
Gaza membuka tas kecil yang dibawa Gisella, mengambil ikat rambut. Merapikan rambut Gisella, serta mengikatnya menjadi satu.
"Terimakasih," ucap Gisella tersenyum.
Gaza mengangguk. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan memperhatikan Gisella yang masih lahap memakan sate. Sesekali ia terkekeh memperhatikan cara makan gadis itu. Diakui Gaza, hanya dengan melihat cara makan Gisella membuat dirinya kenyang.
"Kau tidak makan?" Gisella menoleh memperhatikan Gaza yang tak menyentuh makanannya.
Gaza menggeleng dan kembali terkekeh melihat noda saus kecap dan kacang menempel di sekitar bibir Gisella. Ia meraih tisu di depannya, menarik wajah Gisella agar menghadap padanya kemudian mulai menghapus noda di sekitar bibir gadis itu.
Gisella tertegun dengan tindakan Gaza, tubuhnya membeku merasakan jemari Gaza mengusap permukaan bibirnya.
Begitu pula Gaza yang tersadar akan tindakannya, netranya menatap lekat pada bibir tipis di hadapannya, tahi lalat di ujung kiri gadis itu nampak terlihat jelas, dan Gaza akui peran tahi lalat di sana membuat segitiga simetris itu tampak manis dan menggoda. Tanpa sadar ibu jari Gaza mengusap permukaan bibir Gisella dengan pelan, berbeda dengan degupan di dadanya yang berdentum cepat, gerakan jakunnya menunjukkan bahwa keadaan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, debaran di dadanya memberikan efek luar biasa bagi seluruh tubuhnya juga pikirannya.
Gaza tersadar, ia menarik tangannya serta memalingkan wajah, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, meraih gelas dan meneguk teh hangatnya hingga tandas. Apa yang aku pikirkan?
.
.
.