Beside You (End)

Beside You (End)
33. TERSENYUMLAH



Eps. 33


å


Pagi itu terasa hangatnya sinar mentari yang menembus kulit. Cahaya terang matahari setara dengan debu yang kian bertebaran di pagi yang masih terlalu dini. Nampak terlihat seorang gadis dengan celana panjang berwarna navy berbahan dasar kain, dan juga kaos kuning yang longgar ditubuhnya tengah berdiri di tepi jalan dengan tumpukan koran di pelukannya. Ketika lampu lalulintas berubah merah, ia gegas menjajakan dagangannya pada setiap kendaraan yang berhenti. Panasnya cahaya matahari tak menyurutkan semangatnya untuk mendapatkan recehan. Menghapus cucuran keringat di dahinya. Ia mendongak menatap birunya langit.


"Cuaca hari ini panas banget, ya, Kak?" ucap seorang laki-laki remaja yang membawa gitar kecil di tangannya.


Gisella menoleh. "Iya, neduh dulu, yuk," ajaknya menepi di bawah pohon yang baru tumbuh.


"Beberapa hari aku nggak lihat Kakak di sini."


"Iya, ada sedikit musibah," jawab Gisella tersenyum manis.


"Kakak sakit?" tebak remaja itu.


Gisella mengangguk.


Remaja itu mengambil tisu kusut dari dalam saku celana sobeknya. "Kakak kepanasan, ya?"


Gisella menerima tisu dari remaja itu. "Terimakasih," balasnya mengusap peluh di dahinya, kulitnya yang putih terasa terbakar. Sebenarnya tidak masalah jika kulitnya akan menghitam. Hanya saja meskipun berkali-kali berada di bawah sinar matahari, kulitnya yang terbakar akan kembali putih.


"Tangan Kakak merah. Kakak alergi panas, ya?"


Gisella mengangkat tangannya. "Tidak apa-apa, nanti memudar kok merahnya."


"Kakak cantik. Siapa tahu ada cowok tajir yang liat Kakak jualan koran terus naksir," kekeh remaja itu.


"Ngaco kamu," tangkis Gisella ikut tersenyum.


"Kemarin aku lihat cewek, Kak, anak sekolahan, naik mobil. Cakeepp banget, kulitnya putih, mulus, bening, aduh, cantik banget pokoknya."


"Kamu suka?"


Remaja itu menyengir. "Boro-boro, Kak, meskipun suka, aku nggak ada modal buat jadi kaya." Ia terbahak. "Lihat Kakak aja udah adem banget rasanya, jarang-jarang loh, ada tukang koran cakep banget kaya Kakak," godanya menatap Gisella.


"Jangan gombal. Serius makanya, siapa tahu, kan, ada produser yang dengerin suara kamu jadi tertarik, terus nawarin rekaman, jadi artis, banyak uang. Bisa dapetin cewek cantik," balas Gisella.


Remaja itu semakin tergelak. "Ngehalu kita ketinggian banget, ya, Kak?"


Gisella tersenyum saja, sedikit tersentil oleh kalimat remaja itu.


"Oi!! Koran!! Mau jualan atau ngobrol!" teriak seorang sopir truk.


"Eh, iya, Pak. Maaf," sesal Gisella menghampiri.


"Cantik-cantik kok jualan koran?" tanya kenek supir truk.


"Iya, Pak, sudah garis takdirnya," balas Gisella tersenyum. "Terimakasih, Pak," imbuhnya setelah sang sopir memberinya uang.


Lalu lintas kembali berjalan seiring lampu yang berubah hijau, Gisella berdiri mematung di tepi jalan saat netra hazel indahnya menangkap siluet seseorang yang tengah menatapnya tajam.


Seorang pria dengan setelan kaos putih yang dilapisi jaket kulit, menggunakan celana jeans biru tua serta menggunakan topi. Berdiri tegak dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jaket, menatap lurus pada gadis yang mengabaikan larangannya untuk berjualan koran.


Desiran hangat berujung detakan cepat mencuat di jantung Gisella seiring dengan Gaza yang berjalan ke arahnya, sedetikpun tidak bisa ia hindarkan tatapan tajam terkesan khawatir dari netra pekat itu. Tubuhnya seakan beku tak bisa digerakkan, kesempurnaan Gaza mampu membiusnya terjatuh lebih dalam ke dalam lubang cinta.


Gaza melepaskan topinya dan memakaikan di kepala Gisella. "Kamu kepanasan?" ucapnya membingkai pipi Gisella yang terasa hangat.


Gisella bergeming, sentuhan di kulitnya mampu membuat aliran darahnya semakin terpompa cepat, membuat dadanya kian berdesir.


"Kulitmu memerah?" Gaza melepaskan jaketnya untuk disampirkan di punggung gadis di hadapannya yang terdiam kaku. "Kita pulang," ajaknya kemudian.


Gisella tersadar. "Tidak, koranku belum habis," tolaknya.


Tatapan Gaza meredup. "Aku akan membantumu berjualan," desisnya mengancam.


Gisella terkejut. "Tidak! Jangan!" cegahnya. Ia tidak akan membiarkan seorang Gaza berjualan koran di pinggir jalan. "Baiklah, aku akan mengembalikan koran pada Paman Surya," putusnya kemudian.


Gaza menggenggam jemari Gisella untuk menyebrang jalan. Gisella pikir Gaza akan melepaskan genggamannya ketika berada di tepi, namun nyatanya sampai di gerai Surya pria itu masih menggenggam jemarinya.


"Maaf, Pak. Gisella harus pulang, tidak bisa melanjutkan berjualan koran." Itu suara Gaza.


Surya sedikit terkejut melihat kehadiran Gaza, namun tak urung beliau mengangguk. "Tidak apa-apa, simpan saja uangnya untukmu," ujarnya menatap Gisella.


"Tapi, Paman—"


"Sudah, tidak apa-apa," tolak Surya saat Gisella akan menyerahkan uang hasil berjualan koran.


"Boleh saya minta tolong dengan anda, Pak?" tanya Gaza.


Surya mengangguk ragu. "Tentu."


Surya tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti," balasnya.


"Terimakasih atas pengertian anda. Kami permisi."


"Paman, terimakasih," ucap Gisella menimpali, terkesiap saat Gaza menarik tangannya.


*


Gaza menatap intens gadis di sampingnya yang nampak gelisah berusaha menghindari tatapannya, meskipun beberapa kali terlihat mencuri tatap padanya. Ia layaknya seorang ayah yang tengah memarahi anaknya karena mencuri mangga tetangga.


Gaza mendesah berat. "Sejak kapan kamu berjualan koran lagi?" tanyanya pelan.


Gisella menggigit bibir bawahnya. "Sejak kemarin," cicitnya.


"Apa uang yang aku berikan tidak cukup?"


Gisella menoleh cepat. "Bukan seperti itu," tangkisnya.


Gaza menangkup wajah Gisella. "Ku mohon, jangan merasa tidak enak mendapatkan perhatian dariku, aku hanya ingin melindungimu. Aku tidak tega melihatmu panas-panasan di jalanan untuk berjualan koran, Gisella. Mengertilah," tuturnya lembut.


Hati Gisella berdesir hebat, nampak ketulusan yang ia lihat dari pancaran sinar teduh netra legam di hadapannya. "Maaf," hanya itu kata yang mampu ia ucapkan.


Gaza mendekat, menatap lebih dekat wajah Gisella yang memerah. "Kulitmu memerah, apakah itu sakit?" tanyanya khawatir.


Tidak tahu saja bahwa merah di wajah Gisella bukan karena sinar matahari, melainkan perbuatan Gaza yang terus menatapnya, juga kalimat-kalimat indahnya yang kian membuat wajahnya merona.


Gisella menggeleng. "Tidak apa-apa, nanti akan memudar warnanya," jawabnya gugup.


Gaza mengangguk. "Kamu sudah makan?"


"Sudah," balas Gisella mengangguk. Netra hazel itu mengalihkan tatapannya dari lawan bicaranya yang sejak memasuki mobil terus menatapnya, Gisella benar-benar gugup ditatap sedemikian intens oleh Gaza. "Kapan tiba?" tanyanya mengalihkan perhatian.


"Barusan. Aku tanya sama Bi Wati katanya kamu pergi pagi-pagi sekali."


"Pekerjaanmu sudah beres?"


Gaza tersenyum, menopang kepalanya menatap Gisella. "Gisella."


"Ya?"


"Tersenyumlah."


"Hm?" ulang Gisella mengerjap bingung. Debaran di dadanya kian menggema.


"Tersenyumlah," pinta Gaza sungguh-sungguh.


Gisella menelan saliva, menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman tipis.


Gaza tersenyum, mengusap sebelah pipi Gisella dengan punggung jarinya. Ia hanya menginginkan senyuman gadis di sampingnya untuk membuatnya tetap waras akibat pekerjaan yang menggunung yang seakan-akan bisa meledakkan otaknya.


"Leon, berhenti," pinta Gisella.


"Kamu perlu sesuatu?"


Gisella menggeleng. "Turunlah," pintanya.


Gaza yang tak paham hanya menurut. Bahkan saat gadis itu membawanya pada seorang penjual gelembung ia masih belum mengerti apa yang akan Gisella lakukan.


"Ayo," ajak Gisella lagi, membawa Gaza menuju beberapa anak kecil yang bermain di sebuah taman.


"Cobalah," ujar Gisella memberikan gelembung sabun pada Gaza.


Sedangkan Gisella sendiri sudah memainkan cairan itu hingga mengeluarkan gelembung yang banyak, seketika apa yang ia lakukan menarik minat anak-anak kecil untuk bergabung dan memecahkan gelembung yang berterbangan.


Gaza tertegun di tempatnya, menatap wajah ayu gadis di depannya yang tengah tertawa bahagia bersama anak-anak kecil itu. Desiran di dadanya begitu menggelitik hingga menimbulkan sensasi debaran yang kencang namun menenangkan. Itulah yang ia inginkan, tawa lepas itu, tawa bahagia itu, wajah ceria itu, senyuman indah itu, rona wajah indah itu. Yang mampu mengalihkan pikiran serta jiwanya yang tengah sekarat memikirkan pekerjaan. Lelah perjalanan yang ia tempuh, bahkan selama di Jepang netranya sulit terlelap karena terfokus akan masa depan perusahaan yang bisa saja hancur jika ia lepas tangan, seakan semuanya lenyap begitu saja hanya dengan menatap seorang gadis pengidap PTSD (post-traumatic stress disorder) itu tengah tertawa riang.


Gaza tidak bisa menampik perasaan itu, perasaan cinta yang semakin lama tumbuh subur di dalam hatinya. Menggeser tempat seseorang yang pernah tinggal di dalamnya. Tergantikan oleh satu nama yang sejak pertemuan pertama mereka mampu membiusnya ke dalam pusara kesejukan hanya dengan menatap netra hazel yang nampak kosong. Mungkin tanpa ia sadari sejak saat itu hatinya terus bergumam menyebut satu nama, hingga letupan api cinta perlahan menguasai jiwa, tubuh, dan pikirannya. Satu nama yang tertanam indah di dasar hatinya, yang mungkin akan sulit untuk ia lupakan dan tidak akan tergantikan. Gadis bernama Arindiana Gisella.


Gaza mendekat, menarik tubuh Gisella dan memelukku erat. Membuat sang empu terdiam kaku mendapatkan serangan tiba-tiba itu. Tepuk tangan meriah berasal dari anak-anak yang mengelilinginya menggema. Gaza tak peduli, saat ini ia hanya ingin memeluk gadis manis pengisi ketentraman hatinya.


"Aku mencintaimu."


Gisella tercenung, sapuan nafas hangat yang membelai tengkuknya mampu membuat seluruh tubuhnya merinding. Ia mengangguk, dan mulai membalas pelukan Gaza, menikmati suara degupan yang sama seperti apa yang ia rasakan dalam dadanya sendiri. Suara degupan indah yang perlahan membuat hatinya yang semula kosong mulai terisi.


.


.


.