Beside You (End)

Beside You (End)
7. AKTING DIMULAI



Eps. 7


å


Gaza mengajak Gisella untuk singgah di salah satu salon sebelum mengajaknya ke rumah sang nenek. Memasuki salon, keduanya disambut beberapa pegawai. Setelah mengucapkan beberapa keinginan pada pegawai salon, Gisella dituntun menuju kursi untuk didandani.


Beberapa menit kemudian Gisella sudah tampak anggun dan cantik dengan riasan natural juga dress selutut berwarna biru muda yang membuat penampilannya begitu mempesona.


"Kau siap?" tanya Gaza ketika Gisella baru saja keluar dari ruang ganti.


Gisella mengangguk.


Gaza menuntun Gisella memasuki mobilnya, membukakan pintu untuknya.


"Ga, apa yang harus aku katakan jika Nenekmu bertanya tentang pekerjaanku? Karena sejujurnya aku hanya penjual koran dan tukang gosok," tanya Gisella setelah keduanya duduk di dalam mobil.


Gaza menoleh, ia sudah mengetahui pekerjaan yang Gisella saat ini dan itu memang tidak seharusnya diketahui sang nenek. "Apa kau keberatan jika menjawab dengan masih berkuliah? Karena yang aku ketahui dulu kau memang seorang mahasiswi, bukan?"


Gisella tersenyum kecil. "Tidak masalah."


"Em, sebelumnya bisa kita gunakan bahasa aku-kamu, agar Nenekku tidak curiga."


Gisella mengangguk. "Baiklah."


"Gisella."


"Ya?"


"Sebelumnya aku ingin meminta persetujuanmu, apa kau keberatan jika nanti di rumah Nenekku kita melakukan kontak fisik?"


Gisella tertegun.


"Maksudku hanya berpegangan tangan," Gaza segera meralat kalimatnya.


Gisella menggigit bibir bawahnya. "Y-ya tidak apa-apa."


Gaza tersenyum mengangguk.


*


...**...


Gaza dan Gisella turun dari mobil ketika sudah sampai di kediaman sang nenek. Gisella dilanda gugup luar biasa ketika melihat rumah dua lantai dengan halaman yang begitu luas. Ia gugup apakah akan melakukannya dengan baik atau justru membuat semuanya menjadi buruk.


Gaza menoleh. "Semua akan baik-baik saja," bisiknya menyadari kegugupan gadis di sampingnya.


Gisella mengangguk ragu, ia menghembuskan nafas pelan berulang kali untuk mengurangi kegugupannya.


Jemari tangan Gaza melingkar di pinggang ramping Gisella menuntunnya memasuki rumah.


Gisella tidak sempat memperhatikan keseluruhan ruangan yang tertata rapi juga dipenuhi dengan perabotan mewah. Pikirannya melayang entah kemana, ia benar-benar gugup dan takut. Bagaimana kalau neneknya Gaza tidak menyukainya? Bukankah sebelumnya keluarga Gaza mengenal Mia? Itu artinya mereka juga mengetahui tentang dirinya. Dan bagaimana jika mereka juga menuduh dirinya sebagai pembunuh Mia seperti yang dikatakan kedua orangtua angkatnya, kedua orangtua Mia. Gisella benar-benar takut, kenapa ia tidak menyadari hal itu sebelumnya, kenapa ia baru teringat sekarang dan sudah benar-benar terlambat.


Gaza memperhatikan gerak gelisah gadis di sampingnya, beberapa kali memilin kedua jari juga menggigit bibirnya sendiri. Ia menghentikan langkah serta menatap lekat gadis di hadapannya. "Apa yang kau pikirkan? Hm?"


Gisella membasahi bibirnya. "Aku... aku takut," jawabnya jujur. "Bagaimana jika Nenekmu mengira aku pembunuh Mia, bukankah Mia calon tunanganmu?" ucapnya mengungkapkan kegelisahan hati yang terus mengganggu pikirannya, ia menunduk memperhatikan heels hitam yang melekat di kakinya.


Gaza mengangkat dagu Gisella, menatap lekat manik indah gadis di hadapannya. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja," tanggapnya menenangkan.


Gisella melihat ketulusan dari manik legam itu, kemudian ia mengangguk pelan.


Seakan terhanyut dalam pusara kesejukan dari tatapan mata Gisella. Gaza merasa enggan mengalihkan tatapannya, entah kenapa matanya seakan terpaku untuk mengagumi manik indah itu, kesejukan dari tatapan teduhnya menembus hingga ke dalam hatinya.


"Apa kau akan terus menatapnya? Tidak ingin memperkenalkannya padaku?"


Seruan yang hampir mirip sebuah sindiran itu memutus tatapan mata keduanya. Gaza dan Gisella menoleh pada sosok wanita tua yang berdiri dengan memegang tongkat.


Gaza berjalan menghampiri sang nenek, memeluk serta mengelus punggung ringkihnya. "Bagaimana kabarmu, Nek?"


"Jauh lebih baik karena kau membawa cucu mantuku ke sini."


Gaza memberi isyarat agar Gisella mendekat. "Nek, kenalkan, dia Gisella."


Gisella mengangguk hormat. "Selamat malam, Nek."


Nenek Ely mengelus lengan Gisella. "Kamu sungguh cantik."


Gisella tersenyum. "Terimakasih, Nek."


"Kamu sudah bekerja, Nak?" tanya nenek Ely saat sudah duduk di sofa panjang dengan Gisella duduk di sampingnya.


"Aku kuliah, Nek."


"Dimana bertemu dengan Gaza?"


Gisella melirik pada Gaza.


"Di acara teman, Nek," jawab Gaza.


Nenek Ely mengangguk. "Bagaimana orangtuamu?"


Tangan kanan Gisella meremas ujung dressnya. "Orangtuaku sudah meninggal, Nek."


"Oh, benarkah? Maafkan Nenek, sayang," sesal nenek Ely mengelus lengan Gisella.


"Tidak apa-apa, Nek."


"Lalu, dengan siapa kamu tinggal?"


"Sendiri, Nek."


"Sendiri?" ulang Nenek Ely terkejut.


Gisella bingung dengan respon sang nenek, lagi-lagi ia menoleh pada Gaza.


"Gisella belajar mandiri, Nek," Gaza menjawab.


Nenek Ely tersenyum. "Baiklah, baiklah, Nenek mengerti. Ayo kita makan malam," ajaknya beranjak.


Gisella menuntun Nenek Ely menuju meja makan.


Ketiganya makan dengan hikmat dan beberapa kali mengobrol.


Hal yang tidak ditemukan Gisella adalah dimana kedua orangtua Gaza, apa mereka tidak tinggal bersama? Ia baru ingat kalau Mia pernah bercerita tentang kedua orangtua Gaza yang sering keluar Negeri untuk perjalanan bisnis. Gisella enggan untuk menanyakan karena ia pikir itu bukan ranahnya, posisinya sekarang hanya sebagai kekasih pura-pura Gaza selama satu bulan. Tidak seharusnya ia menanyakan hal sedetail itu.


Seusai makan malam, ketiganya kembali berbincang-bincang.


Hal yang disadari Gisella lagi, nenek Gaza yang bernama nenek Ely begitu mirip dengan neneknya dahulu sebelum kematian kedua orangtuanya. Memperlakukan dirinya dengan sayang, selalu mengajarinya banyak hal yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua orangtuanya. Tapi semua sirna saat kedua orangtuanya meninggal, seakan kebaikan neneknya hanyalah sebuah kamuflase. Ia dihina, dicaci maki bagaikan sampah. Diinjak-injak harga dirinya, diusir dengan cara yang tidak manusiawi. Seakan dirinya hanya sebuah barang murahan yang tak pantas untuk dihargai, semua kebaikan yang diberikan sang nenek hilang musnah tak berbekas. Tanpa terasa air matanya menetes menyadari ketulusan nenek Ely padanya.


Apakah itu akan bertahan lama?


Apa yang ia pikirkan, tentu hal itu hanya bersifat sementara. Karena jika sebulan berlalu ia tidak akan lagi bertemu dengan nenek Ely. Atau mungkin suatu saat ia kembali dibenci karena telah membohongi wanita tua itu, dan apa haknya yang bukan siapa-siapa dari Gaza?


Setidaknya biarkan Gisella menikmati kasih sayang dari nenek Ely untuk sementara waktu, anggap saja sebagai pengobat rindu dirinya dengan sang nenek.


"Sayang, kamu menangis?" Nenek Ely tampak terkejut melihat Gisella meneteskan air mata.


Gisella menggeleng dan mengusap pipinya. "Tidak, Nek, aku kelilipan, maafkan aku."


"Benarkah? Gaza coba kau lihat mata cucu mantuku, dia kelilipan," perintah nenek Ely pada Gaza.


Gaza memutar tubuh Gisella agar menghadap padanya. "Biar aku lihat."


"Tidak, aku tidak apa-apa," tolak Gisella gugup.


Mengabaikan penolakan Gisella, kedua tangan Gaza membingkai wajah Gisella, menarik lebih dekat, netranya menelisik kedua mata Gisella kemudian meniupnya bergantian.


Gisella memejamkan mata saat hembusan nafas hangat Gaza menyentuh kulitnya. Beberapa saat kemudian netranya terbuka, saat itulah ia menyadari manik legam di hadapannya terbuka. Ia merasakan debaran aneh di dalam dadanya saat tatapan netra itu menembus di retinanya.


Ketiga kalinya, Gaza kembali hanyut dalam tatapan teduh nan menyejukkan dari netra bening itu, entah mengapa ia seperti pernah melihat tatapan itu. Tatapan yang membuatnya berdesir. Tanpa sadar ia mengelus pipi putih nan mulus milik Gisella dengan ibu jarinya.


Tubuh Gisella merasakan sentuhan lembut di pipinya, tiba-tiba ia gugup. Kegugupan yang memunculkan semburat merah di kedua pipinya.


Nenek Ely tersenyum geli melihat interaksi keduanya, ia benar-benar merasa bahagia dengan kedekatan antara Gaza dan Gisella. Ia bahagia karena pada akhirnya Gaza mau membuka hati setelah kepergian calon tunangannya. Dan sekarang ia melihat kembali tatapan penuh kasih yang sempat hilang dari Gaza untuk Gisella.


"Ehem!" Nenek Ely sengaja berdehem untuk menggoda keduanya, senyumnya terukir indah di wajahnya yang keriput.


Kedua sejoli itu tersentak saling melepaskan tatapan dan menjadi canggung saat menyadari bahwa masih ada orang lain di sampingnya.


.


.


Tbc