Beside You (End)

Beside You (End)
12. HARI BURUK



Eps. 12


å


Entah harus sampai kapan Gisella terus merasakan hal seperti itu, sampai kapan ia akan bekerja sebagai penjual koran dan juga tukang gosok. Terkadang ia merasa pendidikan yang selama ini ia jalani, selama bertahun-tahun mengenyam pendidikan hingga universitas tinggi tidak mempunyai makna apapun. Bahkan kini dirinya hanya menjadi tukang penjual koran. Nyatanya kepintaran dan juga prestasi yang selama ini ia peroleh tidak bisa membuat dirinya mendapatkan pekerjaan lebih layak tanpa adanya selembar kertas bernama ijazah dan ***** bengeknya.


Gisella yang notabene adalah mahasiswi sebuah universitas terkenal hanya menjadi seorang penjual koran, sungguh sangat disayangkan. Ia tidak hanya berdiam diri sebagai penjual koran, ia juga pernah beberapa kali menawarkan diri untuk bekerja di salah satu toko atau perusahaan, namun hampir semuanya meminta ijazah sebagai persyaratan wajib melamar pekerjaan. Apa daya dirinya yang tidak mempunyai lembaran hasil nilai ujian itu, semua hilang, semua hancur tidak berbekas. Entah dimana semua hasil nilai sekolahnya itu, apa memang sudah dibakar oleh orangtua angkatnya?


Gisella hanya mampu bersabar menghadapi semuanya, berharap agar suatu saat nanti ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari seorang penjual koran. Ia tidak pernah menyesal menjadi penjual koran, hanya saja ia berharap akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Masih seperti hari-hari biasanya, gadis dengan tahi lalat kecil di bawah bibirnya itu tengah sibuk menawarkan lembaran koran pada setiap pengguna jalan yang melintas.


"Gisella?"


Gisella yang tengah menawarkan pada sebuah taksi menoleh ke sisi belakang kemudi.


Seorang gadis membuka kaca jendelanya. "Elo Gisella, kan?"


Gisella tersentak. "Mita?" gumamnya pelan.


Gadis dengan rambut curly yang diwarna itu tersenyum lebar, lebih tepatnya menyeringai memperhatikan penampilan Gisella dari atas hingga bawah. "Elo jualan koran sekarang?" tanyanya, sudah jelas terdengar dari nada bicaranya gadis itu tengah menghina pekerjaan Gisella.


Gisella tersenyum tipis. "Iya."


Seketika tawa gadis itu menggema, menertawakan Gisella dengan terang-terangan. "Emang pantes, sih, seharusnya emang ini kerjaan lo, bukan menjadi mahasiswi. Percuma nyokap bokapnya Mia biayain elo kuliah. Jadi enggak tahu diri, kan, lo," ia menghina sarkas.


Gisella terdiam di tempatnya.


"Setelah apa yang bokap nyokapnya Mia kasih ke elo, justru elo ngebunuh anaknya, ck ck ck. Emang anak nggak tahu terima kasih, ya, lo."


Lagi-lagi kalimat itu yang dilontarkan orang lain terhadapnya, bibir Gisella seakan kelu, kedua tangannya meremas koran dengan erat.


"Kalau gue jadi Mia, nih, gue ogah nerima lo, udah tahu kalau lo itu mantan pembunuh, masih aja dia mau nerima elo jadi sodara angkatnya. Jadi mati, kan, dia gara-gara lo," Mita menatap jijik. "Nikmatin hidup lo selagi masih bisa bernafas sebelum lo juga nyusul Mia di alam sana. Dan gue harap elo enggak menjadikan gue sebagai target lo selanjutnya," imbuhnya, kemudian taksi mulai berjalan perlahan.


Bunyi klakson menyadarkan Gisella dari lamunannya, ia bergegas berjalan ke trotoar, pikirannya kembali berputar tentang kalimat yang diucapkan Mita padanya. Mita merupakan salah satu mahasiswi di kampusnya dulu dan salah satu teman sekelasnya Mia. Gisella tahu bahwa Mita tidak menyukainya dari pertama ia masuk kuliah. Terlebih setelah pria yang menjadi incarannya pernah menyatakan perasaan terhadap Gisella, Mita seolah semakin membenci Gisella.


"Kak?"


Gisella menoleh ketika ujung bajunya ditarik. "Ya," balasnya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan seorang gadis kecil.


"Ayo ke sana, Kak, ada Dermawan yang sedang membagikan nasi bungkus," ajak gadis kecil itu.


Gisella tersenyum dan mengangguk. "Ayo."


*


"Ini buat Kakak."


Gisella tersenyum menerima nasi bungkus pemberian gadis kecil itu. "Terimakasih, ya."


Terlihat beberapa anak tengah bercerita sambil tertawa, membuat fokus Gisella teralihkan.


"An, itu ada apa?"


Gadis kecil bernama Ani itu menoleh, kemudian mengarahkan tatapannya pada gerombolan anak yang sama seperti dirinya. "Itu, Kak, ada pasar malam di pinggir jembatan yang sana, tuh,” tunjuknya pada satu sudut. “Anak-anak rencananya mau ke sana nanti malam."


Gisella membulatkan bibirnya.


"Kakak mau ikut?"


Gisella menoleh. "Tidak usah, Kakak sedang banyak kerjaan, maaf, ya."


Gadis kecil itu mengangguk. "Lain kali Kakak harus ikutan, pasti seru," ujarnya sumringah.


"Kakak usahakan, ya."


Terkadang Gisella meringis pilu saat melihat anak-anak yang seharusnya berada di sekolah justru terjebak di tempat mengenaskan seperti dirinya, harus berjuang mencari nafkah untuk sesuap nasi. Tidak pernah ia bayangkan di usia yang begitu belia anak-anak itu sudah merasakan sulitnya hidup, merasakan sulitnya mencari uang hanya untuk mengisi perut agar bisa terus bertahan hidup. Setidaknya ia merasa jauh lebih beruntung dari anak-anak itu, di masa kecil ia masih bisa merasakan sekolah. Meskipun jika berbicara tentang psikis, anak-anak itu mungkin lebih baik darinya.


Gadis kecil yang tengah menyuapkan nasi itu mendongak, mengangguk semangat. "Mau, Kak."


"Bagaimana kalau Kakak yang ngajarin kalian belajar, kamu kumpulin aja anak-anak yang mau belajar, sehabis mengamen kita bisa belajar."


"Aku mau, Kak, nanti biar aku bicara sama temen-temen, pasti mereka seneng, Kak," tanggap gadis kecil itu tersenyum lebar.


Gisella mengangguk, setidaknya apa yang telah ia dapatkan selama di bangku sekolah dan kuliah masih mempunyai nilai bagi orang lain. "Nanti kita belajar di taman saja, ya, Kakak selesaikan jualan koran dulu," ujarnya mengusap kepala gadis kecil di sampingnya.


"Oke, Kak."


...***...


Hanya memerlukan waktu satu jam untuk Gisella mengajari anak-anak jalanan itu pelajaran dasar sekolah. Meski hanya menggunakan buku bekas, antusias anak-anak itu membuatnya tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa menggunakan ilmunya untuk disalurkan pada anak-anak yang kurang mampu itu, sehingga ilmunya tidak akan sia-sia.


Gisella berjalan menyusuri trotoar menuju rumah ibu Marini, tak sengaja ia melihat seorang ibu-ibu yang kesulitan merapikan barang belanjaannya yang tercecer di tanah. Ia mendekat dan membantu memunguti belanjaan ibu itu.


"Terimakasih banyak," ucap sang ibu nampak tertolong dengan Gisella.


"Sama-sama, Bu, Ibu hati-hati."


Sang ibu mengangguk dan melanjutkan perjalanannya setelah berpamitan dengan Gisella.


"Oh, bukankah itu kau gadis pembunuh."


Sebuah menggema membuat tubuh Gisella memutar cepat, mendapati Dini yang berdiri sambil melipat kedua tangannya, memperhatikannya dengan tatapan jijik.


"Bagus. Bagus sekali. Kau memang pantas disebut pengkhianat, anak durhaka. Tidak tahu diri. Tidak tahu malu," hardik Dini sarkas, suranya yang cukup keras mengalihkan perhatian pejalan kaki yang melintas.


"A-pa yang Mama katakan?" tanya Gisella dengan tangan yang mulai gemetar.


"Jangan pernah memanggilku Mama!" bentak Dini keras. "Aku bukan Ibumu dan aku tidak pernah mempunyai keturunan pembunuh sepertimu!" imbuhnya berteriak nyaring. Ia memperhatikan tubuh Gisella dari atas hingga bawah. "Aku tidak pernah menyangka bisa merawat anak pembawa sial sepertimu. Jika saat itu Mia tidak memohon padaku, aku tidak akan sudi menerimamu."


Lelehan bening mengalir dari kedua manik coklat hazel itu mendengar kalimat Dini yang begitu menikam jantungnya.


Dini tertawa miris. "Ternyata memang seperti ini tujuanmu. Kau sungguh gadis yang sangat pintar, Gisella."


Gisella mendongak, menatap Dini tak paham.


"Apa kau pikir aku akan luluh dengan airmata buayamu itu? Cih! tidak akan pernah,” Dini berdecih sinis.


Gisella mengusap pipinya yang basah. "Sebenarnya apa maksud anda?" tanyanya pelan.


Dini meludah. "Kau pasti sudah mengetahui siapa calon suami Mia, bukan? Setelah kau tahu bahwa dia adalah orang kaya dan juga tampan kau berniat untuk merebutnya. Kau membiarkan Mia mati tidak berniat menolongnya, karena setelah Mia mati kau bisa merebut calon suami Mia. Itu, kan, tujuanmu?" hardiknya tajam.


Kepala Gisella menggeleng cepat.


"Apa kau juga akan menyangkalnya saat beberapa minggu terakhir aku mendapat informasi bahwa kau dan Gaza sering bersama. Apa kau masih tidak mau mengaku?!"


"Tidak, itu tidak seperti yang anda lihat. Anda salah paham," bantah Gisella dengan pipi yang kembali basah.


"Omong kosong! Bajingan! Pembunuh! Anak sialan! Anak tidak tahu diri! Mati saja sana!" teriak Dini marah memaki Gisella yang terisak di depannya. "Kau lebih pantas mati, kembalikan Mia padaku, anak sialan! Karena kau aku kehilangan Mia. Seharusnya yang mati itu kau bukan Mia," hardiknya histeris.


Plak!


Gisella kembali merasakan pipinya yang panas setelah mendapatkan cap tangan dari Dini. Kalimat ibu angkatnya itu terus saja berputar di kepalanya seperti kaset rusak, tubuhnya diserang kepanikan juga ketakutan. Selesai melampiaskan amarahnya, Dini pergi begitu saja meninggalkan bekas luka di hati Gisella yang kembali menganga.


*


Tubuh gadis itu luruh di kamar kostnya, duduk menekuk lututnya di atas kasur. Lintasan peristiwa terdahulu memenuhi pikirannya, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya mulai memucat dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Berulang kali ia mencoba melawan traumanya, namun nyatanya saat kalimat menyakitkan itu terlontar untuknya, hinaan, cacian yang ditujukan padanya membuat kerja otaknya seketika terhenti.


Apa memang ia seburuk itu?


.


.