
Eps. 37
å
Gaza masih merasakan trauma itu ada dalam diri Gisella, setiap kata buruk yang berhubungan dengan hilangnya nyawa akan membuat seorang Gisella ketakutan. Gaza bukan tak menerima kekurangan seorang Gisella, tapi ia ingin menyembuhkan penyakit gadis itu, ia ingin gadisnya tak lagi terpengaruh oleh kata-kata menakutkan jika suatu saat tak sengaja dilakukan orang padanya, walaupun Gaza akan memastikan bahwa tak ada seorangpun yang berani mengatakan hal itu pada gadisnya. Ia menoleh pada Gisella yang datang dengan membawa dua cangkir kopi, senyuman gadis itu mempunyai magnet yang mampu membuat seorang Gaza tak ingin berpaling barang sedikitpun. Lesung pipi yang mencolok menciptakan cekungan indah di pipi gadis itu. Gaza tak akan pernah bosan untuk mengakui bahwa Gisella adalah seorang gadis yang sempurna.
"Mau aku buatkan makanan?"
Pertanyaan rutin yang sering diucapkan Gisella ketika ia menghabiskan malam di apartemen untuk menyelesaikan pekerjaan. Kalimat sederhana namun mempunyai arti lebih bagi seorang Gaza.
"Mau menemaniku?"
Dan jawaban yang sama yang Gaza berikan, setelah itu ia akan mendapatkan senyuman maut dari seorang Gisella. Gaza sangat menyukai raut wajah itu, netra bersinar, pipi berlesung, dan bibir yang terangkat menampilkan giginya yang putih.
Gisella mengambil duduk di samping Gaza. Ia sedikit gugup saat ditatap sedemikian intens oleh Gaza. "Bagaimana perkembangan perusahaanmu?" tanyanya mengalihkan kegugupannya.
Gaza mengangguk. "Sean telah menyelamatkanku, dan dia menjadi investor tetap di perusahaan," jawabnya. "Lain kali kita harus bertemu dengan temanmu untuk mengucapkan terimakasih padanya," imbuhnya menyadari gadis di sampingnya yang terdiam.
Gisella mengangguk setuju.
"Tapi tidak dalam waktu dekat, dia sudah kembali ke luar negeri."
"Apa Sean yang memberitahumu?"
Gaza mengangguk.
Gisella menggigit bibir bawahnya, ia ragu untuk berucap. "Ga," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Em.. bisakah aku bekerja?" tanya Gisella gugup.
"Kamu ingin kembali berjualan koran?"
Gisella terdiam dengan kepala menunduk, ia tahu keinginan itu tidak akan Gaza kabulkan. Ia hanya bosan berada di dalam apartemen milik Gaza.
Gaza meraih jemari Gisella. "Besok ikut denganku," ajaknya.
Gisella mendongak. "Kemana?"
"Kamu akan tahu nanti."
*
Lagi-lagi Gisella merasakan debaran tak biasa dalam dadanya menyadari kemana Gaza akan membawanya, sejak mobil berhenti di depan gedung tinggi itu Gisella tak henti meremas kedua jarinya juga menarik nafas dalam karena tiba-tiba ia merasakan sesak. "Ga," panggilnya pelan.
"Semua akan baik-baik saja, tidak perlu mengingatnya," ujar Gaza menenangkan.
Antara ragu dan takut, pada akhirnya Gisella menyetujui saat Gaza menarik tangannya untuk memasuki gedung dan masuk ke dalam lift, sekuat tenaga ia berusaha melupakan keseluruhan peristiwa mengerikan beberapa tahun yang lalu, dimana ia dan Mia datang ke perusahaan itu dan pada akhirnya Mia terjatuh dari atap gedung akibat ulah seorang pria psikopat. Tubuh Gisella sudah berkeringat dingin mengingat semua kejadian yang tak juga hilang dari kepalanya. Hingga ia merasakan lengan hangat menarik tubuhnya dalam pelukan.
"Semuanya baik-baik saja, cukup ingat aku dalam pikiranmu," bisik Gaza menenangkan, ia merasakan tubuh Gisella yang bergetar.
*
Gisella bisa bernafas normal saat ia dibawa masuk ke dalam ruang kerja milik Gaza, aroma ruangan sedikit membuatnya rileks, ia memilih duduk di sofa dan menerima minuman yang diberikan Gaza untuknya.
Gaza memperhatikan lekat gadis di hadapannya. "Lebih baik?" tanyanya mengusapi peluh di dahi Gisella.
Gisella mengangguk. "Untuk apa kau membawaku ke sini?"
"Bukankah kamu ingin bekerja? Aku bisa memperkerjakanmu di sini kalau kamu mau, walau sejujurnya aku sendiri tidak setuju jika kamu harus bekerja."
Gisella membasahi bibirnya sejenak, ia memang ingin bekerja, tapi jika tempat kerja itu adalah gedung perusahaan Gaza ia sedikit menciut. Selain tak ada selembar kertas bertuliskan ijazah, ia juga tidak ingin teringat kejadian buruk itu, sejujurnya ia tidak bisa dengan mudah melupakan hal mengerikan dalam hidupnya, walau ia berusaha menyembunyikannya selama ini dari Gaza. "Aku tidak yakin," jawabnya pelan. Kedua, ia tidak ingin mempermalukan Gaza yang notabene direktur perusahaan akan menikah dengan seorang office girl. Jabatan apa yang pantas untuk dirinya bekerja di perusahaan jika bukan office girl.
"Kamu akan menjadi sekretaris pribadiku."
Kalimat Gaza sukses membuat pupil mata Gisella membulat. Untuk beberapa detik ia tercengang dengan apa yang Gaza katakan, apa mungkin ia salah mendengar.
Gaza tersenyum kecil. "Kamu tidak salah dengar," ucapnya mengusap kepala Gisella.
"Aku tidak berniat bekerja di sini," cicit Gisella pelan.
Gaza kembali tersenyum, ia mengusap kepala Gisella sekali lagi sebelum beranjak. "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar," ujarnya.
Gisella mengangguk saja, ekor matanya mulai menyusur ruang kerja Gaza yang ditata sedemikian rapi, tak pernah terbayangkan olehnya akan masuk dan duduk dalam ruang kerja dalam kantor Gaza. Dimana gedung itu mempunyai sejarah mengerikan bagi dirinya, Gisella memejamkan mata saat bayangan mengerikan itu seakan melintas dalam pikirannya. Ia memilih beranjak, menyaksikan pemandangan dari balik kaca besar, sesekali ia melirik Gaza yang tengah fokus menatap layar monitor.
Gaza tidak sedang membaca laporan pekerjaan atau apapun itu yang berhubungan dengan perusahaan, justru yang ia lakukan adalah berselancar di dunia maya, sebut saja google, guna mencari tahu beberapa cara untuk membuat trauma perlahan menghilang. Dan ia telah menemukan cara itu, ia berharap cara itu mampu membuat gadisnya akan sembuh.
Gaza beranjak, menghampiri Gisella yang berdiri di depan kaca besar. "Kamu memikirkan sesuatu?" tanyanya.
Gisella menoleh, kepalanya menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa," jawabnya, ia merasakan Gaza meraih jemarinya dan membawanya keluar. Namun sebelum itu Gaza menutup matanya dengan sebuah kain. "Untuk apa?" tanyanya khawatir.
"Kamu akan tahu nanti," bisik Gaza pelan.
"Ga, aku takut."
Gaza mengecup dahi Gisella dalam. "Kamu tidak perlu takut, aku ada di sini untukmu," ucapnya menepuk jemari Gisella. Kemudian ia membawa Gisella masuk ke dalam lift.
Tiba di ruangan yang dituju, Gaza membuka kain penutup mata Gisella, ia merasa khawatir, cemas dan gugup, hingga ia bisa merasakan gemuruh di dadanya sendiri.
Untuk sejenak Gisella terpaku melihat apa yang ada di depan matanya, tatapannya seakan kosong dengan bayangan mengerikan itu yang perlahan muncul dengan sendirinya. Tempat dimana ia melihat Mia dipukuli dan dihabisi oleh seorang pria psikopat, suara teriakan Mia seakan berdengung di telinganya. Tubuh Gisella ambruk, ia menutup kedua telinganya saat suara kesakitan minta tolong Mia memenuhi gendang telinganya. "Tidak, tidak.."
Gaza terkejut, ia membingkai wajah Gisella yang mulai pucat dengan tatapan kosong. "Gisella, lihat aku, ini aku, aku Gaza," ujarnya berusaha menyadarkan.
Gisella menggeleng, tubuhnya bergetar dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya, bahkan untuk berpegangan pada kemeja Gaza ia tak sanggup.
"Gisella, sadarlah.. Gisella," Gaza mengguncang tubuh Gisella yang mulai lemah, ia membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ia jauh merasa lebih takut melihat keadaan Gisella. "Gisella, ku mohon," bisiknya lirih.
Bibir Gisella mulai bergetar, kepalanya serasa berputar-putar. "Tidak," gumamnya dengan gerakan bibir, suaranya sudah tak mampu lagi ia keluarkan.
Gaza benar-benar ketakutan, berulang kali ia menepuk pipi Gisella serta berseru namanya, namun keadaan Gisella benar-benar tak bisa dikendalikan, tepat saat ia mengangkat tubuhnya, Gisella sudah benar-benar menutup mata.
*
"Bagaimana keadaannya, Mattew?"
"Aku mencemaskannya."
"Dia hanya pingsan karena shock, tidak ada yang perlu dicemaskan," ucap Mattew pada akhirnya setelah memeriksa keadaan Gisella.
"Kau yakin? Dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit?"
"Aku tahu kau banyak uang, berada satu hari atau bahkan satu tahun di rumah sakit tidak akan menghabiskan uangmu. Tapi, aku yakin dia tidak perlu dirawat di rumah sakit," tutur Mattew menenangkan.
Gaza memperhatikan wajah Gisella yang terlelap, raut wajahnya masih pucat seperti mayat. "Maafkan aku," ucapnya pelan.
Mattew menghembuskan nafas, ia khawatir Gaza akan menjadi gila jika kehilangan Gisella. "Aku akan tulis resep dan meminta Leon menebusnya di apotek," ujarnya sebelum keluar ruangan.
Gaza mengusapi serta menciumi tangan Gisella, mungkin tidak seharusnya ia membawa Gisella ke tempat mengerikan itu, mungkin tidak seharusnya ia membaca artikel di internet, dan mungkin ia tidak seharusnya membawa Gisella ke kantornya yang akan membuat trauma gadis itu kambuh. Gaza menyesal, ia benar-benar menyesal telah melakukan dan membuat gadisnya terluka dan ketakutan.
"Maafkan aku," ucap Gaza pelan, lelehan bening mengucur dari kelopak matanya, ia sungguh takut akan kehilangan Gisella. "Bangunlah, Gisella, maafkan aku," ujarnya terisak.
Untuk yang entah ke berapa menit, kelopak mata dengan netra hazel itu terbuka, saat pikiran tengah melayang jauh, ia mendengar suara isakan di sampingnya. Gisella terkejut menyadari Gaza yang tengah telungkup dengan menyentuh jemarinya, ia merasakan basah pada punggung jemarinya. "Gaza," panggilnya pelan.
Gaza mendongak, terkejut mendengar suara yang sangat ia idamkan. "Maaf, maafkan aku," sesalnya memperhatikan raut teduh yang nampak letih di hadapannya. "Tidak seharusnya aku mengajakmu ke tempat itu, aku sungguh menyesal," ungkapnya dengan ujung mata yang kembali basah, Gaza benar-benar ketakutan akan kehilangan Gisella.
Gisella tercengang, seberharga itukah dirinya untuk Gaza? Ia menggeleng dan mulai duduk. "Maaf sudah membuatmu cemas," tuturnya tak enak, apalagi melihat Gaza yang terus berlinang air mata, ia merasa pedih di dalam hati, hingga dengan berani ia membingkai wajah Gaza dan mengusapi pipinya.
Gaza merasa tenang saat jemari kecil nan halus itu menyentuh kulitnya, ia merasakan sentuhan hangat dari telapak tangan itu hingga merambat hingga ke dalam hatinya. Gaza memperhatikan wajah cantik itu dengan seksama, ia juga membingkai wajah Gisella seakan mengukirnya dalam ingatan. "Aku tidak bisa hidup tanpamu," ujarnya tiba-tiba yang membuat Gisella menegang.
Beberapa detik kemudian Gisella tersadar dan menggeleng. "Kau sangat sempurna, Ga. Dan maaf aku tidak bisa mengimbangi itu," tunduknya menyesal.
Gaza mengangkat dagu Gisella. "Aku akan merasa sempurna saat ada dirimu di sampingku. Aku benar-benar takut kehilanganmu, Gisella. Jadi ku mohon, tetaplah disisiku apapun yang terjadi," pintanya sungguh-sungguh.
Gisella benar-benar terkejut dengan apa yang Gaza ucapkan. "Aku sakit, Ga," ujarnya mengingatkan, penyakitnya tidak bisa disembuhkan, dan ia tidak ingin membebani Gaza suatu saat nanti.
"Demi Tuhan, aku tidak peduli dengan penyakitmu. Jika ada yang berani menyakitimu aku yang akan memberi pelajaran untuk mereka, dan aku berjanji akan membahagiakanmu, Gisella. Aku bersumpah."
Pupil mata Gisella membulat. "Jangan membawa nama Tuhan, Ga," peringatnya lembut.
Gaza menggeleng, membawa telapak tangan Gisella di dadanya. "Kamu merasakannya? Hanya kamu yang bisa membuatnya terus berdetak karena mencintaimu, dan hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatnya bergetar karena ketakutan akan kehilanganmu."
Gisella diam, terasa benar degupan di telapak tangannya yang mengalirkan perasaan hangat dalam dirinya. 'Tuhan, apa engkau mengizinkanku bahagia? Karena jujur saja aku bahagia bersamanya.' Kelopak mata indah itu terasa panas hingga lelehan bening mengalir di kedua pipinya, mungkin sudah saatnya ia mengatakan yang sejujurnya. "Ga, aku, aku mencintaimu," ungkapnya dengan buliran kristal bening yang kian deras. "Tapi.."
Gaza menempelkan jari telunjuknya di bibir Gisella, ia sudah cukup bahagia mendengar bahwa Gisella juga mencintainya, ia tidak ingin ada kalimat lain sebagai penghalang. "Jangan hancurkan kalimat sakral itu dengan sebuah alasan yang akan menghancurkan makna sesungguhnya. Aku sangat senang mendengar kamu juga mencintaiku."
Tangis Gisella pecah, deraian air mata kian deras membasahi pipinya, ia mengangguk-angguk tanda setuju dengan Gaza, biarkan, untuk sekali saja ia egois. Ia tumpahkan segala rasa pedih, perih, bahagia dan kelegaan dalam pelukan Gaza yang menenangkan tubuh serta otaknya. Entah sejak kapan perasaan itu muncul dalam benaknya, perasaan yang sering kali ia tepis karena tidak sanggup menyakiti seorang Gaza. Kini izinkan ia egois untuk merasakan mencintai dan memiliki.
Gaza mengusap surai Gisella, mengecupi kepalanya serta membawa tubuh Gisella dalam dekapannya. Tenang. Perasaan itu yang senantiasa singgah ketika tubuh kecil itu merasa dalam pelukannya. Ia berjanji untuk senantiasa memberikan miliaran rasa bahagia untuk Gisella, gadis pencuri hatinya sejak ia SMA.
Gaza mengurai pelukan, mengusapi pipi Gisella yang basah. "Dari sekian ribu kebahagiaan di dunia, kalimat 'aku mencintaimu' yang keluar dari bibirmu meleburkan kebahagiaan yang lain dalam hidupku. Aku ingin menghabiskan sisa waktu dan hidupku bersamamu, Gisella. Demi Tuhan aku bersungguh-sungguh, maukah kamu membingkai serta menjalani kehidupan baru yang lebih serius denganku?" tanyanya sungguh-sungguh, debaran itu kembali mencuat menyadari raut wajah terkejut gadis di hadapannya, namun Gaza tidak menampik keinginan menjalin hubungan serius dengan Gisella, ia sangat amat ingin menjadikan Gisella satu-satunya wanita dalam hidupnya.
Gisella tidak perlu menanyakan arti kalimat yang Gaza ucapkan. Sudah cukup jelas bahwa Gaza ingin membangun rumah tangga dengannya. Tapi, apa mungkin ia bisa dan sanggup?
"Aku bersungguh-sungguh, Gisella. Menikahlah denganku," tutur Gaza mengembalikan kesadaran Gisella.
Gisella sudah cukup tahu tatapan mata itu tidak berbohong, hanya saja ia ragu jika suatu saat akan menyakiti Gaza.
"Akan aku buktikan jika kamu bukan perempuan pembawa sial dan sebagainya, jika memang itu yang ada dalam benakmu," ujar Gaza seakan mengerti apa yang Gisella pikirkan. "Mungkin jika kamu menolak justru aku yang akan menjadi gila."
"Tidak," pungkas Gisella menggeleng kuat. Ia tidak ingin Gaza menjadi seperti itu. "Aku tidak menolak," imbuhnya yang seketika membuat Gaza tersenyum senang.
Gadis itu memang perlu diberi ancaman pikir Gaza.
"Mau menikahiku dan menjadi istriku?" tanya Gaza memastikan.
Gisella tersenyum geli mendengar ucapan Gaza, hingga kemudian ia mengangguk pelan.
Gaza berdecak. "Seharusnya aku menyiapkan cincin terlebih dahulu," keluhnya.
"Tidak apa-apa," hibur Gisella.
Gaza memperhatikan wajah cantik yang tengah tersenyum dihadapannya, jemari tangannya mengusapi sebelah pipi Gisella. "Nenek dan Mama pasti senang mendengarnya."
"Apa?"
"Kamu bersedia menikahiku."
Senyum Gisella kian mengembang, kalimat Gaza benar-benar ambigu dan menggelikan. "Terimakasih untuk semuanya, Ga."
Gaza mengangguk. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya di atas bibir Gisella, tidak ada penolakan, Gisella dengan senang hati menerima Gaza dalam hidupnya.
Gaza memberikan ciuman yang sangat lembut seakan membuat Gisella melayang, kecupan hangat itu mengalirkan perasaan tenang dan senang dalam diri Gisella. Gisella menerimanya, menerima semua yang ada dalam diri Gaza untuk hidupnya, Gaza satu-satunya pria yang bersedia menemaninya bahkan saat mengetahui penyakitnya. Gaza satu-satunya pria yang bersedia meluangkan waktu hanya untuk mengobati penyakitnya. Dan hanya Gaza pria yang mampu membuat Gisella takut kehilangan.
Gisella melingkarkan tangan di punggung Gaza saat merasakan tubuhnya melemah seperti jeli oleh ciuman Gaza yang mulai menuntut.
Ceklek!
"Tuan, ini―" Leon menelan saliva saat mengetahui tidak seharusnya ia masuk ke ruangan bosnya di waktu itu. Semua itu terjadi karena ia sudah mengetuk pintu berulang kali namun tak ada sahutan, untuk itu ia segera membuka dan kini ia sangat menyesal.
Gisella mendorong tubuh Gaza spontan saat mendengar dan mengetahui Leon datang ke ruangan, ia benar-benar malu, hingga Gaza menarik wajahnya untuk bersembunyi di dadanya.
"Ada yang penting, Leon?" intonasi suara Gaza bagai ancaman bagi Leon karena sudah mengganggu aktivitasnya.
Leon menggeleng dan gegas undur diri.
Gaza memperhatikan Gisella yang masih menyembunyikan wajahnya di dadanya. "Hei, dia sudah pergi," ucapnya mengintip.
Gisella menggeleng. "Aku malu."
Gaza tersenyum. "Tidak apa-apa, sesekali memperlihatkan tontonan seperti ini pada Leon, agar dia cepat dewasa."
Gisella mendongak dengan tatapan protes yang justru membuat Gaza tertawa.
Terlalu gemas dengan ekspresi Gisella, Gaza mencium dalam pipi Gisella. "Aku sangat mencintaimu," bisiknya.
"Me too," balas Gisella tersenyum.
...~TAMAT~...