
Eps. 13
å
Sudah lewat dua hari sejak perjanjian kontrak kekasih pura-pura berakhir Gaza sama sekali tidak menemukan Gisella di jalanan. Berulang kali menghubungi nomer gadis itu, namun suara operator yang selalu menjawabnya. Pernah suatu hari ia bertanya pada salah satu pria kecil penjual cangcimen, menanyakan keberadaan Gisella. Namun pria kecil itu juga tidak tahu dimana keberadaan Gisella, ia berujar sudah satu minggu Gisella tidak lagi terlihat berjualan koran. Bahkan mereka sempat berkunjung di tempat kost gadis itu, tapi sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun.
Gaza semakin dilanda khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Gisella, entah kenapa perasaannya tidak enak mendengar cerita pria kecil itu tentang Gisella. Pada akhirnya ia memutuskan mengunjungi Gisella setelah pulang kerja, ia ingin memastikan sendiri bahwa Gisella baik-baik saja. Ia melangkah tak sabar menuju tempat tinggal Gisella, mengabaikan pertanyaan dari beberapa warga yang menyapanya. Gaza merasakan perubahan degup jantungnya seiring semakin dekatnya dengan tempat tinggal Gisella.
Gaza mengetuk pintu beberapa kali namun tak mendapat jawaban, ia mengintip pada jendela kecil namun terhalang kain sebagai tirai. Hingga ia mengambil inisiatif untuk memanjat pintu, mengintip dari ventilasi udara, sungguh terniat sekali ia memastikan keadaan Gisella baik-baik saja. Beruntung postur tubuhnya yang tinggi memudahkan dirinya untuk mengintip, ia melihat samar bayangan sosok Gisella terbaring di dalam sana. Ia sengaja melompat demi memastikan penglihatannya dan nyatanya gadis itu memang ada di dalam.
Gaza semakin keras mengetuk atau bisa disebut menggedor pintu kost Gisella seraya memanggil nama gadis itu berulang kali. "Gisella. Gisella, ini aku. Buka pintunya, Gisella."
"Mas, ada apa, ya? Mbak Gisella tidak ada, Mas, beberapa hari aku tidak melihatnya pulang ke kost," seorang ibu-ibu tergopoh menghampiri Gaza yang sebentar lagi akan menghancurkan pintu.
"Dia di dalam, Bu, kenapa tidak ada yang tahu kalau dia di dalam," bantah Gaza kesal.
Mengabaikan kebingungan sang ibu, Gaza mendobrak pintu itu dengan sekali tendangan. Pintu terbuka lebar menampilkan sosok gadis manis berlesung pipi yang tengah meringkuk di atas tempat tidur kecilnya, sama sekali tidak terganggu dengan suara pintu yang keras.
Gaza segera menghampiri Gisella, membalik tubuh gadis itu, raut wajahnya pucat dan sayu bahkan kelopak matanya tertutup. "Gisella,” panggilnya menepuk pelan pipi gadis itu namun tak ada sahutan, ia menggenggam jemari Gisella yang begitu dingin.
Gaza gegas membawa tubuh Gisella dalam gendongan bridal hendak membawanya ke rumah sakit, mengabaikan tatapan para penghuni kost yang melihatnya berlari dengan membawa tubuh seorang gadis. "Leon, ke rumah sakit. Cepat," perintahnya saat Leon membuka pintu mobil untuknya.
Leon mengangguk melaksanakan perintah.
...***...
"Ga, sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis ini?" cecar Mattew menatap lurus pada Gaza yang berdiri memperhatikan tubuh Gisella yang kini terdapat selang infus di tangannya.
"Bukankah kau Dokter? Seharusnya aku yang bertanya padamu," balas Gaza tanpa mengalihkan tatapannya.
Mattew menghembuskan nafas panjang. "Kondisi psikis gadis ini sangat lemah, aku tidak tahu apa yang membuatnya tertekan seperti itu. Tapi jika situasi ini dibiarkan akan berdampak buruk untuk tubuhnya."
Gaza mencerna penjelasan Mattew, hal itu pasti berkaitan dengan trauma yang dialami Gisella. Bisa dipastikan bahwa gadis itu baru saja mengalami hal buruk yang mengganggu pikirannya, membuat trauma itu kembali menghantuinya.
Mattew menepuk pundak Gaza. "Dia akan baik-baik saja. Setelah istirahat, dia pasti akan membaik," ujarnya menenangkan.
Gaza bergeming, memperhatikan wajah pucat Gisella yang perlahan mulai sedikit membaik terlihat dari bibirnya yang tidak lagi berwarna putih. Melihat keadaan Gisella tadi membulat hati Gaza seperti terkena palu godam, ketakutan tiba-tiba menguasai dirinya menyaksikan pucatnya wajah Gisella seperti tak ada kehidupan sama sekali.
Keheningan yang terjadi seketika teredam oleh bunyi ponsel Gaza, ia merogoh gawai di saku jasnya, melihat identitas sang penelepon. "Halo, Nek."
"Gaza, Nenek ingin bertemu denganmu."
"Maaf, Nek, aku tidak bisa."
"Apa pekerjaan itu yang menghalangimu bertemu dengan Nenekmu sendiri? Kalau begitu biar aku jual perusahaan itu."
Gaza tahu ancaman neneknya akan berlaku untuknya, dan apa yang baru saja diucapkan neneknya bukan hanya omong kosong. Ia mengurut pangkal hidungnya. "Aku akan ke sana, Nek."
"Bagus. Nenek menunggumu."
Gaza memperhatikan wajah Gisella dengan seksama, mengusap kepalanya pelan. Ia menunduk. "Cepatlah sadar," bisiknya tepat di telinga Gisella.
...***...
Gaza terkesiap, ia tidak menyangka neneknya akan tahu secepat itu.
"Apa kamu mencintainya?"
Pertanyaan nenek Ely membuat kening Gaza mengerut.
"Apa kamu mencintai Gisella?" ulang nenek Ely menyadari keterdiaman Gaza.
Gaza melipat bibirnya, tidak tahu apakah sudah pada tahap mencintai gadis yang kini tengah terbaring di rumah sakit itu atau tidak.
"Keterdiamanmu Nenek anggap iya." Nenek Ely mengembuskan nafas panjang. "Waktu itu aku tidak sengaja melihatnya berjualan koran di pinggir jalan."
Gaza menegang.
"Aku sudah menduga kalau kalian membohongiku. Tidak mungkin gadis pintar seperti Gisella bekerja menjadi penjual koran bukan? Untuk itu Nenek mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu karena tidak mungkin juga kamu membayar gadis sembarangan untuk menjadi kekasihmu." Nenek Ely mengambil nafas. "Aku ingin marah karena kalian membohongiku. Tapi setelah mengetahui siapa Gisella sebenarnya aku merasa kasihan terhadapnya. Apakah memang seperti itu kisah hidupnya selama ini?" tanyanya memastikan, ia masih tidak percaya ada orangtua yang setega itu terhadap anak kandungnya sendiri.
Gaza menyenderkan punggungnya di sofa, menghembuskan nafas panjang. "Memang seperti itulah, Nek. Dia mengalami trauma psikis yang cukup berat. Karena itu pula, dulu aku memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa,” jawabnya mengingat pertemuan pertamanya dengan Gisella, melihat tatapan kosong gadis itu.
"Aku tidak menyalahkanmu, karena biar bagaimanapun Mia adalah calon cucu mantuku sebelumnya. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Gisella atas kematian yang menimpa Mia, karena memang itu bukan kesalahannya. Gisella mengalami hal buruk yang membuatnya tidak bisa menyelamatkan Mia dari pria psikopat itu." Nenek Ely mengelus lengan Gaza. "Nenek setuju kalau kamu ingin mempertahankan Gisella. Dia gadis yang pantas untuk diperjuangkan."
Gaza menoleh, terlihat kebingungan di wajahnya.
"Nenek tahu kalau sebenarnya kamu mencintainya meskipun sekarang kamu belum menyadarinya. Nenek berharap kalau kamu benar mencintainya kamu akan membahagiakannya," tutur nenek Ely tersenyum lembut. "Mia sudah tenang di atas sana. Sudah sepatutnya kamu meneruskan langkah. Dia bukan takdirmu, kamu harus bisa melupakannya,” imbuhnya lagi. "Nenek rasa, Gisella gadis yang cukup baik untukmu. Apa kamu setuju dengan pernyataanku?"
Gaza menggeleng ragu. "Aku tidak tahu, Nek."
Nenek Ely beranjak, menepuk pundak Gaza pelan. "Jika kamu sudah menentukan pilihan, pastikan pilihanmu tepat. Nenek berharap kamu bisa mendapatkan pasangan yang terbaik. Dan apabila kamu sudah memutuskan memilih Gisella, pertahankan dia. Tapi jika pada akhirnya kamu tidak akan memilihnya, biarkan dia meneruskan hidupnya. Jangan kau ganggu dia lagi. Nenek yang akan mengurusnya."
Gaza mendongak. "Apa maksudnya, Nek?"
"Nenek merasa nyaman dengan gadis itu," jawab nenek Ely berpegangan pada tongkatnya. "Entah kenapa Nenek ingin sekali memberikan rasa nyaman juga kebahagiaan gadis malang itu.” Nenek Ely berbalik menatap Gaza yang kini tengah berdiri di belakangnya. "Jika pada akhirnya dia tidak bisa bersamamu, biarkan Nenek mengadopsinya menjadi cucuku,” ucapnya sungguh-sungguh.
Gaza terperangah. "Apa tidak cukup Nenek mempunyai dua cucu?" protesnya.
Nenek Ely tersenyum. "Aku menginginkan cucu perempuan."
Gaza terdiam, kemudian tersentak menyadari sesuatu. "Apa menurut Nenek dia mempunyai perasaan padaku?"
"Bagaimana menurutmu?" balas nenek Ely berbalik tanya.
Gaza bergeming, pikirannya berkelana tentang pertemuannya dengan Gisella, membuat perjanjian agar gadis itu mau menjadi pacar pura-puranya, juga tatapan matanya yang menghipnotis dirinya. Semua tentang Gisella terekam dalam pikirannya, apa mungkin ia sudah jatuh cinta dengan gadis itu. Sejak kapan tempat Mia tergantikan oleh Gisella? Dan sejak kapan Gaza tidak lagi memikirkan tentang Mia, gadis yang selama ini ia cari.
.
.