Beside You (End)

Beside You (End)
14. BERHUTANG?



Eps. 14


å


Netra coklat hazel itu mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina,  ia terdiam memperhatikan sekelilingnya saat merasa berada di tempat yang asing. Otaknya tengah berputar mencoba mengingat sesuatu yang mungkin terlewatkan yang membuat dirinya berada di dalam ruang inap sebuah kamar rumah sakit setelah ia menyadari ada tiang infus di sampingnya. Namun nihil ia tidak menemukan ingatan itu sama sekali, hanya bayangan saat bertemu ibu angkatnya beserta kalimat pedas yang ditujukan padanya ingatan terakhir yang ia ingat, setelahnya ia tidak ingat.


Ucapan serta kalimat-kalimat yang Dini ucapkan hari itu memenuhi seluruh pikiran Gisella. Sepertinya trauma itu kembali menghantui dirinya, karena jika itu terjadi ia akan berdiam diri dan mengurung diri di dalam kamar tak melakukan apapun, mandi atapun makan, ia akan melupakan hal penting itu. Sebenarnya sudah lama Gisella tak mengalami hal itu sejak bertemu dengan keluarga Mia, namun apa yang Dini ucapkan padanya mampu mengembalikan trauma itu menghantui hidupnya.


Gisella mengangkat sebelah tangannya yang terdapat jarum infus. "Siapa yang membawaku ke sini?" gumamnya pelan.


"Anda sudah sadar, Nona?"


Sapaan seorang suster mengalihkan perhatian Gisella. "Suster, kenapa aku bisa di sini?" tanyanya.


"Anda ditemukan pingsan di kamar kost, begitu cerita yang saya dengar dari Dokter Mattew,” jawab sang suster seraya memeriksa selang infus Gisella.


"Dokter Mattew?" Gisella membeo, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.


"Kondisi anda sudah lebih baik, Nona, sepertinya beberapa hari lagi anda bisa pulang."


"Suster, aku sudah sembuh, aku tidak merasakan sakit. Apa aku boleh pulang hari ini?"


Sang suster tampak terkejut. "Anda baru saja sadar, Nona, Dokter akan memeriksa keadaan anda dan memutuskan apakah anda bisa pulang hari ini."


Gisella mengangguk pelan. "Terimakasih, Suster."


Setelah kepergian suster pintu kamar rawat inap Gisella kembali terbuka menampilkan sosok Gaza yang datang dengan membawa parsel buah.


Gisella terkejut menyadari Gaza memasuki ruangan dan meletakkan parsel buah di atas nakas. 'Dokter Mattew?' Oh, kini ia tahu, pasti Gaza yang membawanya ke rumah sakit, tapi kenapa? Dan kapan?


"Kau sudah sadar?"


"Kau yang membawaku ke sini?"


Gaza mengangguk.


"Aku kenapa?" tanya Gisella kebingungan.


Kening Gaza mengerut. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau sampai pingsan di kamar kost dan tidak ada yang mengetahuinya?"


Kini justru Gisella yang terkejut. “Aku pingsan?"


Gaza mengambil duduk di sisi brangkar. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanyanya serius.


Gisella mengangguk ragu. “A-pa?”


Gaza menghembuskan nafas pelan. "Apa traumamu kembali terjadi sehingga kau mengurung diri selama beberapa hari?" tanyanya hati-hati.


Gisella mengalihkan tatapan intens pria di hadapannya.


"Banyak orang yang khawatir denganmu, takut terjadi sesuatu hal yang buruk terhadapmu. Apa kau tahu itu?”


Kepala Gisella menoleh cepat. "Apa kau juga mengkhawatirkanku?" tanyanya tanpa sadar.


Gaza terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, meskipun pada kenyataannya ia memang khawatir dengan keadaan Gisella.


"Terimakasih sudah membawaku ke rumah sakit, maaf sudah merepotkanmu,” ujar Gisella menyadari lawan bicaranya terdiam. “Aku sudah merasa lebih baik, Dokter akan mengizinkanku pulang sebentar lagi,” ia melirik sekilas respon pria di depannya. “Aku pasti akan mengembalikan uangmu untuk biaya rumah sakit," imbuhnya lagi. Jujur saja ia masih belum yakin untuk menceritakan masalah traumanya dengan Gaza, lagipula mana mungkin Gaza khawatir dengannya.


"Apa kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya Gaza memastikan.


Gisella mengangguk. "Iya, tidak apa-apa."


Gaza menghembuskan nafas panjang saat Gisella memilih tidak menceritakan masalah traumanya, memangnya ia siapa sampai Gisella harus mengatakan padanya. "Baiklah aku akan mengurus kepulanganmu. Kau tidak perlu memikirkan masalah biaya," ujarnya beranjak dari kursi.


...***...


Waktu menunjukkan pukul empat dini hari, waktunya bangun dan bersiap untuk berlomba mencari rejeki demi sesuap nasi, dinginnya udara serta kabut tebal yang menyelimuti tak menjadi penghalang bagi setiap insan khususnya masyarakat kelas bawah untuk mulai beraktifitas pagi. Para pedagang sayur telah siap dengan dagangannya dan siap diserbu ibu-ibu pejuang pagi, petani yang sudah siap membawa alat tempur berupa cangkul untuk membajak sawah, dan para pesaing bisnis yang mungkin saja tidak tidur semalaman. Hanya segelintir orang yang masih menikmati nikmatnya berbalut selimut tebal di atas kasur busa empuk, sebut saja mereka kaum rebahan.


"Selamat pagi, Paman," Gisella menyapa saat tiba di kedai koran milik Surya.


Surya mendongak dari bacaan korannya. “Gisella? Apa itu kau?” tanyanya memastikan.


Gisella mengangguk. "Iya, Paman, ini aku," jawabnya.


"Kemana saja kau, Gisell, kenapa baru muncul lagi? Paman khawatir terjadi hal buruk padamu,” ujar Surya nampak khawatir.


Gisella terenyuh menyadari kekhawatiran Surya padanya. "Maafkan aku, Paman. Aku pulang kampung karena urusan mendadak,” bohongnya.


Surya mengembuskan nafas lega. "Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Lain kali kalau kau hendak pergi kabari Paman, setuju?"


Gisella mengangguk. "Iya, Paman,” balasnya. “Paman, apa aku masih bisa berjualan koran?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja. Ini, bawalah,” Surya menyerahkan beberapa tumpukan koran baru pada Gisella.


Setelah mengucapkan terimakasih, Gisella gegas menuju perempatan untuk mengais rejeki. Beberapa teman seprofesinya berbondong menghampiri dan menanyakan alasan tak munculnya ia di jalanan beberapa hari, dan jawaban yang Gisella berikan sama seperti yang dikatakan dengan Surya, ia tidak ingin mereka mengkhawatirkan dirinya atau lebih tepatnya merasa prihatin pada hidupnya.


Hanya di tempat yang menurut sebagian orang adalah tempat berkumpulnya para sampah jalanan Gisella bisa berperan sebagai dirinya sendiri. Jika seseorang menyinggung tentang traumanya, ia akan kembali menjadi Gisella yang penuh dengan keprihatinan, tidak ada senyum manis tercetak di wajahnya, tidak ada tawa bahagia, tidak ada kalimat gurauan. Yang ada hanya Gisella yang tertekan, menyendiri, berdiam diri, hanya bisa mengharapkan rasa takut itu memudar dengan sendirinya.


"Kak, kapan kita belajar lagi?" Seorang anak laki-laki dengan 'kecrek'an' di tangannya bersua.


Gisella menoleh. "Bagaimana kalau kita mulai hari ini?"


Anak kecil itu mengangguk antusias. "Mau, Kak, biar aku kasih tahu ke temen-temen."


Gisella mengangguk, ia senang dengan antusias anak-anak itu untuk belajar.


*


Matahari mulai meninggi, Gisella mengajak beberapa anak untuk belajar bersama di sebuah taman. Awalnya ia berniat membelikan buku juga alat tulis untuk anak-anak jalanan itu dengan sisa uang yang diberikan Gaza sewaktu menjadi kekasih pura-pura. Tapi karena ia harus mengganti biaya rumah sakit pada Gaza ia mengurungkan niatnya, ia akan bekerja lebih giat lagi agar bisa membelikan anak-anak alat tulis. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya belajar dengan satu buku dengan Gisella duduk di tengah dan anak-anak melingkarinya.


"Beberapa hari aku tidak melihat Kakak, Kakak kemana?" Seorang gadis kecil yang menggunakan kaos berwarna merah dan sudah memudar di beberapa bagian bertanya.


Gisella tersenyum. "Maafkan Kakak, ya, anak-anak. Kakak ada urusan beberapa hari yang lalu,” jawabnya berbohong. “Em, Kakak lupa sudah berapa hari tidak berjualan koran. Apa kalian tahu berapa lama Kakak pergi kemarin?" tanyanya guna memastikan berapa lama waktu yang ia butuhnya untuk sadar dari trauma itu.


"Waktu itu sudah lewat tiga hari kami tidak melihat Kakak jualan, beberapa dari kami pergi ke rumah Kakak dengan Paman Joko, tapi Kakak tidak ada.”


“Terus satu minggu kami coba cek lagi ke tempat Kakak, tapi Kakak juga masih belum ada."


"Sepertinya hampir dua minggu."


Sahut mereka bergantian.


Gisella terkesiap. 'Hampir dua minggu? itu waktu yang cukup lama, apa memang separah itu penyakit traumaku,' bathinnya prihatin dengan keadaannya sendiri.


"Aku ingat hari itu ada seorang pria dewasa menanyakan keberadaan Kakak."


Ucapan pria kecil itu mengembalikan kesadaran Gisella. "Siapa?"


Pria kecil itu menggeleng. "Aku tidak tahu, Kak, dia hanya bertanya dimana Kakak. Aku menjawab tidak tahu, rumah Kakak juga sepi. Setelahnya dia pergi."


Gisella nampak berfikir, siapa pria dewasa yang mencarinya. Apa ia Gaza? Apa benar Gaza mencarinya? Untuk apa? Oh, apakah ia ingin membahas masalah kontrak kerja kekasih pura-pura? Seharusnya kontrak itu sudah habis masa berlakunya. Gisella masih ingat, masih tersisa dua hari lagi untuknya menjadi kekasih pura-pura Gaza sebelum traumanya kambuh. Pasti karena itu Gaza mencarinya.


Gisella kembali teringat bantuan yang diberikan Gaza untuknya, mulai dari dokter, makanan bergizi, ponsel, biaya rumah sakit, juga uang. Meskipun untuk poin terakhir ia harus berpura-pura sebagai kekasihnya. Tapi saat itu begitu kebetulan dengan Gisella yang membutuhkan uang untuk membayar kost. Sepertinya ia tahu harus mencicil hutangnya dengan apa.


"Oke anak-anak, waktu belajar sudah habis. Besok kita belajar lagi, ya?" Gisella berseru memperhatikan satu persatu anak didiknya yang tak lebih dari sepuluh anak. Karena yang lainnya memilih untuk tetap bekerja mencari uang.


"Baik, Kak," jawab mereka kompak.


.


.