
Eps. 35
å
Gaza membawa Gisella ke sebuah mall untuk membeli pakaian ganti. Alih-alih membawanya pulang ke apartemen, justru Gaza memilih membeli yang baru. Gisella tentu sudah menolak pemikiran Gaza, tapi, tidak semudah itu untuk membuat Gaza berubah pikiran. Yang ia lakukan hanya menurut saja.
Usai berganti pakaian yang tidak lagi berwarna serba hitam, Gaza menarik jemari Gisella untuk ia genggam, menyusuri mall guna membeli buah tangan untuk neneknya.
"Gisella?"
Seseorang memanggil namanya, membuat Gaza dan Gisella menoleh.
"Catherine?" Gisella nampak terkejut melihat gadis bermata sipit keturunan Tionghoa itu.
Catherine memeluk tubuh Gisella. "Aku takut salah orang tadi. Bagaimana kabarmu?"
Gisella mengangguk. "Aku baik, bagaimana denganmu?"
Catherine mengangguk, kemudian melirik pada pria di samping Gisella.
"Dia Gaza," ucap Gisella memperkenalkan.
"Suami?" Catherine menebak.
Gisella menggeleng tegas.
"Calon," jawab Gaza tersenyum kecil. Mengabaikan tatapan protes gadis di sampingnya.
Catherine mengangguk dan tersenyum. "Ayo kita mengobrol," ajaknya.
Gisella menoleh pada Gaza meminta persetujuan, dan Gaza mengangguk.
"Dia Sean, tunanganku," Catherine memperkenalkan seorang pria yang sudah menunggunya di meja restoran.
Gisella mendekat. "Bukankah dia pria yang pernah kau ceritakan dulu?" bisiknya.
Catherine menyengir dan mengangguk.
Gisella mengulum senyum, dulu, meskipun hanya kuliah beberapa tahun, ia cukup dekat dengan Catherine. Hingga peristiwa itu terjadi, ia harus mengubur mimpinya menjadi seorang lulusan sarjana. "Bukannya kau pindah ke luar negeri?" tanyanya.
Catherine mengangguk. "Iya, aku pindah kuliah. Aku sedang menemaninya melakukan perjalanan bisnis di Indonesia." Ia menyentuh jemari Gisella. "Aku mendengar apa yang menimpamu, tapi, aku tidak percaya itu semua adalah perbuatanmu. Aku yakin kau bukan gadis seperti itu," tuturnya sungguh-sungguh.
Gisella tersenyum tipis, mengerti apa yang Catherine maksud. Tentu saja beritanya mengenai pembunuhan itu sudah menyebar di lingkungan kampus, karena bukan hanya Mita yang tidak suka padanya. "Tidak perlu merasa bersalah. Itu sudah berlalu."
"... proyek berskala asing, hanya perlu pembenahan untuk ke depannya. Kebetulan sedang menunggu beberapa penanam saham untuk berdiskusi."
Gisella menoleh pada Sean dan Gaza yang tengah membahas bisnis, ia teringat sesuatu. "Cath, bukankah Sean mempunyai perusahaan besar?" bisiknya pelan.
Catherine mengangguk-angguk.
Ragu, Gisella menggigit bibir bawahnya sebelum berucap. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi, Gaza mempunyai masalah dengan pekerjaannya. Banyak investor yang menarik modal saham mereka. Aku merasa penyebabnya adalah aku."
Catherine menyernyit bingung.
"Bisakah tunanganmu membantunya?"
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau penyebabnya?"
Gisella membasahi bibirnya. "Sebenarnya aku pernah koma beberapa bulan, dan Gaza terus menungguku, hingga pekerjaannya terbengkalai. Aku merasa bersalah akan hal itu," akunya jujur.
Catherine tertegun. Beberapa detik berikutnya ia menghembuskan nafas pelan. "Sayang, bukankah kamu ingin bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia untuk melebarkan sayap?" ucapnya pada Sean. "Kamu ingat Gisella, kan? Dia salah satu temanku di kampus dulu. Dia banyak membantuku belajar," imbuhnya sesekali melebarkan kelopak matanya untuk memberi isyarat.
Sean yang hafal dan paham dengan isyarat yang diberikan tunangannya hanya tersenyum kecil. "Bagaimana kalau kita bertukar kartu nama, kita bisa bertemu lain waktu untuk membahas masalah bisnis," tawarnya menyodorkan kartu nama pada Gaza.
Gaza terkejut, meskipun hanya beberapa menit membahas pekerjaan dengan Sean, tapi ia paham jika Sean merupakan pebisnis yang bisa dikatakan sukses. Dan ia terkejut saat mendapatkan tawaran itu, tentu saja jika Sean bersedia membantunya masalah pelik dalam perusahaannya akan teratasi meskipun tidak semuanya. Gaza mengangguk, menyerahkan kartu namanya pada Sean. "Aku akan menyambutmu di kantorku," guraunya.
Sean tertawa ringan. Catherine mengedipkan sebelah matanya pada Gisella yang berucap terimakasih tanpa suara.
Gaza meraih jemari Gisella, menggenggam erat guna menyalurkan kelegaannya.
Gisella tersenyum saja.
...***
...
Senyum Gaza tak jua pudar bahkan saat keduanya memasuki hunian mewah berlantai dua itu. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dimana Gisella lah gadis pemilik kain perban yang menyelamatkan nyawanya, ditambah masalah pelik perusahaannya yang akhirnya mendapatkan titik terang. Semua itu berkat Gisella, gadisnya, cintanya.
Gisella nampak ciut ketika keluarga besar Gaza menatap ke arahnya, ingin rasanya ia melepaskan genggaman jemari Gaza, namun itu tak berhasil. "Malam, Nek," ucapnya mencium tangan nenek Ely.
Gurat bahagia terlihat jelas di wajahnya yang keriput. "Dia menjagamu dengan baik bukan?" godanya melirik pada Gaza.
Gisella tersenyum dan mengangguk.
"Aku tidak akan membiarkan kulitnya tergores sedikitpun, Nek," timpal Gaza mengerti sindiran yang diucapkan sang nenek.
Nenek Ely tergelak. "Mari kita makan, semuanya sudah berkumpul."
Gisella seperti setitik debu yang tak terlihat di antara mereka, ada Nenek Ely, Hana, Ricko, Brianna, Gaza dan dirinya, sedangkan Ayah dari Gaza tak bisa hadir karena urusan pekerjaan. Suasana meja sangat hikmat, Gisella merasa gugup berada di antara orang-orang itu, hingga ia merasakan jemarinya digenggam telapak tangan hangat.
"Are you okay?" tanya Gaza sangat pelan, ia sadar bahwa Gisella tengah gugup.
Gisella mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Ga?" tanya Nenek Ely.
"Sudah ketemu jalan keluarnya, Nek. Semua berkat Gisella."
Gisella yang disebut namanya mendongak terkejut.
"Maksudmu?"
Gisella tersenyum canggung.
"Terimakasih atas bantuanmu, cucu mantuku."
"I-ya, sebenarnya aku tidak melakukan apapun," sanggah Gisella sungkan.
"Kamu berada di sampingku itu sudah lebih dari cukup," goda Gaza yang seketika membuat Gisella menunduk malu.
Brianna yang gemas mencubit pelan lengan Ricko, membuat yang empu meringis melihat kelakuan tunangannya.
"Oh, iya, Ma. Mama ingat kecelakaan Gaza waktu SMA?"
Hana mengangguk.
"Gisella yang nolongin Gaza waktu itu, Ma."
"Ha?"
Gaza mengangguk, kemudian menceritakan perihal kejadian sebenarnya seperti yang Gisella ungkapkan.
"Jadi?"
"Iya, Ma. Gadis yang selama ini aku cari adalah Gisella."
"Dunia sempit banget, ya?" timpal Brianna.
"Jadi bukan Mia yang menyelamatkan Kakak?" Ricko menutup mulutnya mendapatkan cubitan maut dari tunangannya. "Maksudku mendiang Mia," ralatnya.
"Mereka tukeran bando kain."
Nenek Ely tersenyum. "Aku memang tidak salah memilih orang."
"Ma, tanpa restu dari Mama aku tetap akan mencintai Gisella."
Hana melotot. "Memangnya Mama mengatakan tidak merestui kalian?" hardiknya memprotes.
Gaza mengulum senyum, sejujurnya ia hanya sengaja memancing sang ibu, ia sudah mendapatkan informasi dari Brianna akan kedekatan Hana dan Gisella.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Nenek Ely.
"Aku akan menikahinya."
Uhuk!! Uhuk!!
Gisella merasa tenggorokannya panas akibat tersedak mendengar kalimat Gaza, ia mengusap lehernya. "Uhuk!!"
"Wajahmu merah, kamu baik-baik saja?" Gaza terlihat khawatir melihat keadaan Gisella. "Perlu ke Dokter?"
Gisella menggeleng, meneguk air mineral yang disodorkan Gaza padanya. "Aku hanya terkejut."
"Kak Gaza to the point sekali, Gisella jadi tersedak, kan?" cetus Brianna.
Gaza menatap Gisella. "Tapi aku serius."
Gisella mencubit pinggang Gaza, membuat sang empu meringis.
"Kamu mencubitku?"
"Gaza..," desis Gisella pelan, berharap bahwa Gaza paham agar tidak semakin mempermalukan dirinya. Membuatnya malu lebih tepatnya.
Keempatnya tersenyum melihat apa yang dilakukan Gaza pada Gisella dan sebaliknya.
...***
...
"Bukankah kau sudah mengetahui kalau dia yang membunuh Mia?"
Hana terlihat acuh tak acuh. "Sudah jelas pelakunya bukan dia, kan? Apa perlu kita temui pria itu di penjara?"
Dini bersungut marah. "Kau membelanya?” ia tersenyum kecut. “Gadis itu telah berhasil mencuci otak anakmu, dan sekarang pembunuh itu juga berhasil mencuci otakmu, Hana."
"Berhenti mengatakan dia pembunuh. Dia bukan pembunuh. Berhenti menjelekkan calon menantuku!" hentak Hana meninggikan suara.
Dini berjengit kaget.
Hana menghembuskan nafas pelan guna meredam emosi. "Gisella, gadis itu yang selama ini aku dan Gaza cari. Gadis yang sudah menyelamatkan nyawa Gaza dari kecelakaan. Aku salah paham, bukan Mia yang menyelamatkan Gaza tapi Gisella." Ia menarik nafas, memperhatikan lawan bicaranya yang terdiam. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi, karena kau terus memojokkanku dan Gisella, maka akan aku jelaskan." Jeda. "Gisella pemilik kain yang melekat di luka Gaza, kain dengan ukiran nama Mia. Gisella menjelaskan bahwa mereka tukeran bando, apa alasannya aku lupa. Untuk itu aku mencari nama Mia dan pemilik kain itu, sebab itu pula Gaza menerima perjodohan ini," terangnya.
Dini nampak terkejut, tapi detik berikutnya ia merubah tatapannya. "Kau percaya omong kosong gadis itu? Kau percaya dia yang menolong Gaza? Bisa saja gadis itu hanya membual untuk mendapatkan simpati darimu, Hana."
"Berhentilah, Din. Gaza sangat mencintai Gisella, aku tidak ingin merusak kebahagiaan anakku sendiri. Jadi, maafkan aku."
Dini tertawa sumbang. "Kalian semua akan berbahagia diatas kesedihanku? Aku kehilangan anakku, semua itu karena gadis kecil pembawa sial yang aku bawa ke rumah." Ia kembali tertawa. "Karena gadis pembawa sial itu pula anakku meninggal!" teriaknya histeris.
"Kau harus sadar bahwa itu bagian dari takdir, Din. Mungkin saat ini aku akan diam saat kau mengatakan Gisella gadis pembunuh dan pembawa sial, karena kau tengah emosi. Tapi, tidak untuk lain waktu, aku tidak terima jika kau atau siapapun mengatakan Gisella gadis pembunuh dan pembawa sial," ujar Hana mengancam.
Dini tersenyum kecut.
"Aku hanya memikirkan kebahagiaan anakku."
"Kau dan keluargamu pasti akan merasakan kesialan juga, Hana. Sama seperti apa yang aku alami setelah membawa gadis itu ke dalam rumahku. Aku pastikan itu. Gisella adalah gadis pembawa sial!" Dini berkobar amarah, ia pergi dengan perasaan sakit yang telah menusuk tepat di dadanya.
Hana menghembuskan nafas dalam guna meredam emosinya. "Jangan kabulkan ucapan wanita itu, Tuhan."
.
.
.