
Eps. 31
å
Hanya mengenakan rok panjang plisket berwarna biru toska juga kaos putih lengan pendek. Namun mampu membuat Gaza terpaku akan kecantikan yang disuguhkan di hadapannya. Ekor mata Gaza mengikuti tiap gerak gerik Gisella yang tengah membawa beberapa makanan di meja.
"Kamu tidak perlu repot-repot masak, bukankah sudah ada orang yang mengantar makanan ke sini?" ujar Gaza mengambil alih piring yang dibawa Gisella.
"Aku memintanya membawa kembali. Sudah ada banyak bahan makanan di dalam lemari es, mubazir kalau sampai busuk," jawab Gisella membawa dua gelas di letakkan di atas meja.
"Kamu tipe istri idaman," gumam Gaza terkekeh.
Gisella menoleh. "Kau bilang sesuatu?"
Gaza menggeleng. Kemudian keduanya sibuk menyantap makanannya.
Dering ponsel menghentikan Gaza yang tengah memasukkan sayur wortel ke dalam mulutnya. "Halo."
Gisella memperhatikan Gaza yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, bahkan di sela kegiatan makannya pria itu masih tetap memperhatikan hasil pekerjaan di layar laptopnya.
Gisella hendak menyingkirkan mangkok berisi kolak buah pisang agar tidak menggangu pekerjaan Gaza ketika justru Gaza melarangnya.
"Biarkan, aku akan memakannya lagi nanti," Gaza berucap.
Gisella mengangguk. Kembali memperhatikan Gaza yang tidak jadi menyuapkan kolak ke dalam mulutnya karena harus mengecek laptopnya. Hingga inisiatif Gisella untuk membantu Gaza menyelesaikan kegiatan makannya agar tidak menggangu pekerjaannya.
Gaza terkejut melihat sendok melayang di hadapannya.
Gisella mengangguk sebagai respon agar Gaza mau menerima suapan darinya.
Tentu saja Gaza tidak ingin menolak, membiarkan Gisella menyuapinya sementara tangan kiri dan kanannya yang tengah sibuk dengan ponsel dan laptop. Jarang-jarang bukan seorang Gisella mau menyuapinya, dengan inisiatif gadis itu sendiri pula.
Usai membersihkan meja makan, Gisella memilih melihat pemandangan malam dari balkon, angin yang berhembus membuat udara cukup dingin. Kepalanya menoleh pada Gaza yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Tidak pernah disangka bahwa detik ini ia bisa sedekat itu dengan Gaza, seorang pria yang akan menjadi suami adiknya. Semua perlakuan Gaza padanya seakan melekat di hatinya.
"Kembalilah, Gisella. Ada seseorang yang tengah menunggumu."
Kalimat Mia dalam mimpinya terlintas, apakah yang Mia maksud adalah Gaza? Apakah ia berhak mencintai Gaza? Apakah ia berhak menerima cinta dari pria sebaik Gaza? Atau apakah Gaza akan baik-baik saja jika berhubungan dengannya?
Pertanyaan itu sering kali muncul di otaknya, segala kemungkinan hal buruk yang akan terjadi pada pria itu begitu membuat perasaan Gisella kian menciut. Ia tidak ingin membuat Gaza menderita karenanya. Tapi, apakah Gisella sanggup untuk tidak menaruh harapan pada pria yang selama ini terus menyemangati dan memberikan warna padanya, yang awalnya semua terasa abu-abu, perlahan secercah warna begitu terpampang nyata di hidupnya, meskipun hanya setitik warna kecil yang cerah. Gisella takut, takut tidak bisa menahan perasaan yang tiap detik terus berdebar menggemakan satu nama. Apakah semuanya akan sama jika perasaannya kian tidak bisa terkendali?
"Gisella?"
Tubuh Gisella berjengit menyadari kehadiran pria yang mengganggu pikirannya berada di sampingnya. "Pekerjaanmu sudah beres?" tanyanya.
Gaza menggeleng, mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya. "Kamu tidak keberatan?" tanyanya menjepit batang rokok itu di bibirnya.
Gisella yang sempat terkejut menggeleng. Ia tidak pernah tahu jika Gaza penikmat nikotin.
Gaza mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya. "Aku akan ke Jepang untuk beberapa hari." Ia memperhatikan Gisella yang seakan menunggunya menyelesaikan kalimat. "Selama aku pergi, jangan libatkan dirimu ke dalam hal yang berbahaya. Brianna akan sering ke sini untuk menemanimu," imbuhnya.
"Dia tahu?"
Gaza menggeleng. "Aku akan meminta Ricko memberitahunya."
"Tidak perlu, Ga,” tolak Gisella tak enak. “Aku berjanji tidak akan kemana-mana," imbuhnya meyakinkan.
Gaza tersenyum. "Kamu menjadi semakin penurut sekarang," kekehnya.
"Berapa lama kau di sana?" Gisella menggigit lidahnya sendiri setelah memberanikan bertanya perihal kepulangan Gaza yang tidak seharusnya ia tanyakan.
Gaza merasa senang mendapat perhatian kecil itu. "Mungkin dua atau tiga hari, tergantung pekerjaan, bisa juga sampai satu minggu."
Gaza tersenyum. "Aku ingin kamu merindukanku," kekehnya lagi.
Gisella memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona wajahnya agar tidak dilihat oleh lawan bicaranya. "Bolehkah aku melakukannya?" cicitnya pelan.
"Tentu," balas Gaza yang membuat Gisella terkejut, tidak menyangka bahwa Gaza akan mendengar gumamannya. "Kamu mempunyai hak untuk merindukanku, dan sepertinya itu wajib," imbuhnya mengulum senyum.
Gisella tersenyum saja.
*
Gisella memperhatikan wajah Gaza yang tengah terlelap di sofa. Mengambil pelan kertas dalam pelukan Gaza dan meletakkannya di meja. Sepertinya Gaza ketiduran saat tengah membaca laporan tentang pekerjaannya. Gisella berjalan menuju kamar dan kembali membawa selimut, menyelimuti tubuh Gaza dengan pelan agar tidak membangunkan pria itu. Untuk sejenak, Gisella menatap wajah Gaza seakan untuk merekamnya di dalam ingatannya. Rambut yang di sisir ke atas memperlihatkan jidatnya, kedua alis yang tebal, hidung mancung dengan tahi lalat kecil di ujung hidungnya, bibir tipis, rahang yang tegas. Bagi Gisella Gaza tipe pria yang sangat tampan, terlebih sifatnya yang amat sangat baik. Sebuah kesempurnaan.
Gisella menyentuh sudut bibirnya yang terdapat tahi lalat. Gaza terlihat tampak manis dengan tahi lalat di ujung hidungnya, tanpa sadar sudut bibir Gisella tertarik membentuk senyuman. Hingga manik legam itu tiba-tiba terbuka membuat Gisella membeku. Posisinya begitu dekat dengan wajah Gaza yang hanya berjarak beberapa senti. Saat hendak beranjak, Gaza menahan tengkuknya.
"Bisakah kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu?" tanya Gaza serius.
Gisella bergeming dengan gerakan manik mata yang gelisah.
"Gisella," sambung Gaza kemudian.
Tak tahu apa yang harus dikatakan, Gisella justru menutup matanya saat merasakan Gaza semakin menarik tengkuknya. Hingga perlahan kedua bibir itu saling menyatu. Gaza menyapu lembut bibir Gisella, mencecap serta memagutnya, menantikan respon dan balasan dari Gisella yang hanya berdiam diri.
Gaza menarik diri, menatap lekat manik teduh di hadapannya, untuk sejenak ia kembali terbius oleh sejuknya manik hazel itu. "Bisakah kamu mencintaiku?" tanyanya pelan.
Seakan tersihir, kepala Gisella mengangguk pelan.
Kedua ujung bibir Gaza terangkat, perasaannya menghangat mendengar jawaban Gisella. Hingga ia kembali menyatukan bibir keduanya, memberikan Gisella perasaan baru dan pengalaman baru yang akan membawanya seakan melayang di udara. Perasaan Gaza kian membuncah bahagia merasakan Gisella membalas ciumannya.
Di saat memikirkan peperangan antara hati dan otak, Gisella ingin, sekali saja ingin egois untuk memikirkan perasaannya yang bahagia bila bersama Gaza. Ia ingin menciptakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Sekali saja, biarkan ia bahagia dengan debaran jantung yang kian berirama seiring dengan sentuhan bibir Gaza yang kian lembut hingga menembus jantungnya, mengalirkan perasaan hangat di seluruh tubuhnya. Sekali saja ia ingin merasakan indahnya debaran jantungnya ketika bergema satu nama. Hingga dengan berani ia membalas ciuman Gaza yang kian membuatnya melayang. Kepalanya seakan pening, otaknya tidak bisa berfikir jernih tentang apa yang terjadi. Bahkan saat tubuhnya terbaring di sofa bersama Gaza ia tidak sadar.
Hanya berupa cumbuan yang masih terlalu pasif untuk pemula tapi mampu membuat desiran indah di dada bidang yang kini bergerak naik turun. Gaza memperhatikan raut wajah Gisella yang terengah di bawahnya. "Aku mencintaimu," tuturnya menatap lekat manik teduh yang bersinar.
Gisella menggigit bibir dalamnya guna menahan perasaan haru dan hangat yang menembus jantungnya.
"Jangan kamu lukai diri sendiri," pinta Gaza menyentuh permukaan bibir Gisella yang menebal.
"Aku hanya takut," cicit Gisella.
"Mulai sekarang, detik ini, hilangkan perasaan takut itu dari dalam hatimu. Ketika kamu merasa takut, ingatlah aku. Aku akan mengobati perasaan takut itu dengan ketulusan cintaku padamu, Gisella. Berjanjilah, kamu akan melawan rasa takut itu."
Gisella merasakan kelopak matanya memanas mendengar kalimat Gaza. Entah dengan apa Gisella bisa membalas semua yang telah Gaza berikan padanya. Akhirnya, hanya sebuah anggukan sebagai respon atas ungkapan cinta Gaza.
Gaza membawa tubuh Gisella ke dalam pelukannya. "Jangan pernah melakukan hal yang akan melukaimu, karena aku akan merasakan pedih itu berkali-kali lipat dibanding dirimu."
Gisella mengangguk dalam pelukan Gaza, setetes air mata jatuh di pipinya. "Aku, mencintaimu, Gaza," dengan keberanian, akhirnya kalimat itu mampu terucapkan.
Tubuh Gaza membeku sejenak. "Ulangi sekali lagi," pintanya.
Gisella menggeleng.
Senyuman Gaza tercetak melihat rona wajah Gisella yang memerah, ia kembali membawa tubuh Gisella ke dalam pelukannya. Perasaan hangat menjalar di tubuhnya mendengar pengakuan cinta Gisella. Gadis yang entah sejak kapan mengisi kekosongan hatinya.
"Terimakasih."
.
.
.