Beside You (End)

Beside You (End)
32. KERAGUAN



Eps. 32


å


Siang itu Brianna berencana mengajak Gisella untuk pergi berbelanja, walau yang sebenarnya terjadi adalah Brianna yang sibuk berbelanja sedangkan Gisella tak berminat membeli apapun. Selain tidak mempunyai uang yang lebih, Gisella juga enggan mengeluarkan uang untuk sekedar membeli baju yang harganya bisa untuk ia gunakan makan selama seminggu, bahkan lebih.


"Menurutmu yang mana yang lebih bagus, Gisella?" Brianna mengangkat dua dress dengan motif dan warna berbeda.


"Yang biru kelihatan lebih simple," jawab Gisella menunjuk dress di tangan kiri Brianna.


"Baiklah, aku ambil yang ini. Kau tidak mau memilih baju?" tanya Brianna seakan tersadar bahwa Gisella tidak memilih satupun.


Gisella menggeleng pelan.


"Ayolah, uang Kak Gaza tidak akan habis hanya untuk membeli satu baju." Brianna mendorong punggung Gisella menuju deretan baju, memintanya untuk memilih.


"Tidak perlu, Brianna. Aku tidak membutuhkannya, bajuku masih banyak dan layak pakai," tolak Gisella.


Brianna mengerucut sebal. "Kau tidak perlu merasa tidak enak. Bahkan Kak Gaza sengaja meninggalkan kartu ATM untuk kau gunakan."


Gisella bergeming, teringat sebelum Gaza bertolak ke Jepang meninggalkan kartu ATM padanya.


"Gunakan ini untuk membeli keperluanmu. Jangan menolak. Aku tidak ingin melihat saat aku pulang saldo ATM masih utuh."


Sejujurnya Gisella masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Meskipun ia telah mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Gaza. Tapi tetap saja ada satu kecemasan dalam dirinya. Ia masih merasa menjadi orang asing di kehidupan Gaza, sehingga tidak sepatutnya menerima apa yang Gaza berikan.


"Tante?" gumam Brianna melihat kehadiran Hana dalam toko yang sama.


Tubuh Gisella berbalik, seketika nyalinya menciut melihat ibu dari Gaza. Masih teringat bagaimana Hana bersama Dini membuat traumanya kambuh. Dan untuk sesaat ia merasa menyesal telah menerima cinta Gaza.


"Kau bersama siapa, Brianna?" tanya Hana setelah melepaskan pelukan calon menantu bungsunya.


"Sama Gisella, Ma. Dia di sana."


"Gisella?" ulang Hana terkejut.


Brianna mengangguk.


Hana memperhatikan Gisella yang berdiri kaku di tempatnya, terlihat kedua jemari gadis itu saling memilin. ‘Mungkinkah dia masih merasa takut setelah bertemu denganku?’ Hana melihat beberapa paperbag yang teronggok di lantai. "Kau membeli banyak barang, Brianna?"


Brianna mengangguk. "Semua milikku, Tante. Gisella menolak membeli apapun, padahal Kak Gaza sudah memberinya kartu ATM," adunya.


Gisella terkesiap, khawatir jika Hana akan salah paham padanya. "Ti-dak, bu—"


"Tante belikan gaun untukmu," potong Hana mengajak Brianna memilih baju, meninggalkan Gisella yang mematung di tempat.


Hana memilih satu dress selutut berwarna putih dengan hiasan merak dan bunga-bunga. Ia mencuri tatap pada Gisella yang terduduk di sebuah kursi. Ragu. Ia berjalan menghampiri. "Cobalah," ujarnya menyerahkan dress pada Gisella.


Gisella terkejut. "Ti—"


"Aku akan membantunya mencoba," sela Brianna meraih dress yang diberikan Hana dan mengajak Gisella untuk ke ruang ganti. "Jangan menolak pemberiannya," bisiknya memperingati.


Gisella melotot heran.


Hana tersenyum simpul melihat penampilan Gisella menggunakan dress yang ia pilihkan. "Aku ambil yang itu," ujarnya pada pramuniaga. "Kau pakai saja, jangan dilepas," titahnya pada Gisella.


Gisella tercenung, sedangkan Brianna diam-diam mengulum senyum melihat calon mertuanya yang perhatian dengan Gisella. Sepertinya Hana sudah melupakan kekesalannya pada Gisella. Dan sekali lagi, Brianna terkekeh melihat bagaimana Hana yang cerewet membicarakan perihal bahan makanan dengan Gisella yang hanya mengangguk paham. Sesekali ia mengambil foto keduanya untuk ia kirimkan pada kakak iparnya.


"Gaza menyukai selai kacang daripada coklat." Hana mengambil selai kacang dari tangan Gisella saat gadis itu tengah sibuk menimbang yang mana yang akan ia pilih. "Kalau kau menyukainya ambil saja dua-duanya," imbuhnya lebih mirip perintah.


"Tidak perlu, Tan-te," tolak Gisella sedikit kaku untuk menyebut nama tante, mengembalikan selai coklat dalam rak.


Hana abai, mengambil selai coklat dua kaleng untuk dimasukkan ke dalam troli. "Gaza tidak mempunyai alergi apapun terhadap makanan, dia bisa memakan jenis sayuran atau daging apapun," terangnya memasukkan daging ayam ke dalam troli.


Pupil mata Gisella membulat saat menyadari harga yang dua kali lipat dibandingkan dengan beli di pasar tradisional. "Biar aku beli di pasar saja, Tante. Di sana lebih murah," ujarnya tanpa sadar, mengembalikan daging ayam ke tempat semula.


Hana menoleh. "Tidak perlu ke pasar. Tunggu Gaza pulang, dia bisa mengantarmu ke sana. Saat ini kau hanya perlu menurut," timpalnya memasukkan kembali daging ke dalam troli.


Gisella menurut saja. Ia menggigit bibir bawahnya karena gugup. "Maaf, Tante. Saya beberapa hari menumpang tidur di apartemen Gaza," cicitnya pelan.


Hana menoleh. "Saya tahu."


Gisella melotot, apa itu artinya Hana tidak keberatan? "Maaf.."


"Kau jangan terlalu sering mengucapkan maaf, orang lain bisa merendahkan dirimu,” nasehatnya. “Sudah, jangan dibahas lagi," putusnya mengakhiri, ia sudah mengetahui perihal Gaza yang membawa Gisella menginap di apartemen, ia juga tahu kalau Gisella diusir dari kost. Mungkin jika ia tidak ikut andil mengompori para warga dengan mengatakan Gisella pembunuh, gadis itu tidak akan diusir dari sana. "Masih ada yang perlu kau beli lagi?"


Gisella menggeleng. "Sudah cukup."


"Mana kartu ATM Gaza?" pinta Hana saat tiba di kasir.


"Brianna sudah mengatakan kalau kau harus mengurangi saldonya untuk belanja keperluanmu," ujar Hana lebih mirip sebuah perintah.


Gisella menoleh pada Brianna yang mengedipkan sebelah matanya.


"PINnya, Nona?" ujar sang kasir.


Gisella menatap ragu pada Hana, sudah sedekat itukah ia dengan Gaza sehingga bebas membelanjakan uang milik Gaza?


Di tempat parkir.


Gisella menatap bingung paperbag yang disodorkan Hana padanya.


"Untukmu."


Gisella melirik pada Brianna yang mengangguk-angguk.


"Terimakasih, Tante," ucap Gisella sungkan.


Hana tidak merespon, ia berbalik. "Tante pulang dulu," ujarnya memeluk tubuh Brianna.


"Tante hati-hati."


Hana mengangguk kemudian berlalu.


Sepeninggalan Hana, Brianna menyenggol lenga Gisella. "Sepertinya sudah dapat restu,” godanya. "Tante Hana itu sebenarnya baik loh, waktu aku belum menjadi tunangannya Ricko juga dia baik sama aku. Dia memperlakukan aku seperti anaknya sendiri, begitupun aku sebaliknya.”


"Aku tidak tahu, Bri," tanggap Gisella tak yakin.


"Tante Hana masih butuh penyesuaian," ujar Brianna melihat struk belanjaan yang dipegang Gisella. Ia berdecak. "Seharusnya kau gunakan lebih banyak lagi. Saldo ATM Kak Gaza digitnya berlebihan," dengusnya.


Gisella tersenyum. "Bagasinya tidak muat," guraunya.


Brianna tergelak, merasa tersentil oleh ucapan Gisella, karena memang barang belanjaannya sangat banyak dan memenuhi bagasi.


...***


...


Gisella memperhatikan tas selempang kecil yang baru ia buka dari bungkusnya, entah apa maksud dari Hana memberikan tas branded itu padanya. Apakah?


Gisella menggeleng, ia tidak ingin bermuluk-muluk memikirkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan dengan apa yang ia harapkan. Meletakkan tas di atas meja, Gisella beranjak, kembali memperhatikan keseluruhan apartemen milik Gaza yang ia tinggali. Terbayang pun tidak, bahwa ia akan menempati dan tinggal di dalam kediaman milik pria itu. Suara bel pintu mengalihkan perhatiannya. Ia berjalan menghampiri.


"Permisi, Nona. Kediaman Tuan Theodore Gaza Andreas?" tanya seorang pria pengirim paket.


Gisella mengangguk. "Benar."


"Ada kiriman dari Batam." Sang kurir menyerahkan amplop coklat besar pada Gisella.


Gisella yang tidak tahu hanya menurut saat diminta tanda tangan penerimaan. Setelah kepergian sang kurir, Gisella memperhatikan amplop besar untuk membaca nama pengirim. Sepertinya itu dari sebuah instansi.


"Non, saya pamit pulang, ya?" Wati —yang bertugas membersihkan apartemen Gaza— berpamit.


"Iya, Bi, hati-hati. Dan terimakasih," balas Gisella.


Wati mengangguk. "Paket buat Tuan, ya, Non?" tanyanya memperhatikan amplop di tangan Gisella.


"Iya, Bi."


"Biasanya Tuan meminta meletakkan di dalam meja kerjanya di dalam kamar, Non."


Gisella mendongak.


"Atau biar Bibi yang menaruhnya?" tawar Wati melihat keraguan di wajah Gisella.


Gisella menggeleng. "Tidak perlu, Bi. Biar aku saja. Bibi pulang saja, sudah sore."


"Kalau begitu Bibi pamit, ya, Non?"


"Iya, Bi. Terimakasih."


Gisella menatap ragu pada daun pintu coklat di hadapannya. Ragu apakah ia harus masuk ke dalam kamar pribadi Gaza atau tidak. Tapi pada akhirnya ia memilih opsi pertama. Aroma maskulin menguar ketika Gisella membuka pintu. Tiba-tiba debaran jantungnya berubah tempo seiring langkah kakinya perjalan memasuki ruangan. Ekor matanya memperhatikan isi ruangan yang tertata rapi. Gisella menggeleng pelan saat tatapannya tertuju pada tempat tidur berbalut prei putih perpaduan abu-abu. Meletakkan amplop di atas meja kerja yang terletak di sudut. Netra hazelnya menangkap sebuah buku yang terletak di rak, ia berjalan menghampiri, mengambil buku bisnis dan membacanya sejenak. Saat hendak kembali, ia melihat laci meja yang sedikit terbuka, ia berniat menutupnya kembali, namun sebelum itu terjadi benda yang ada di dalam laci menarik perhatiannya. Gisella membukanya, mengambil sebuah kain berwarna merah muda dengan ukiran nama Mia di sana. Ia termenung sesaat, terkejut melihat kain itu ada di dalam kamar Gaza. "Kenapa ada di sini?" gumamnya. Kedua manik hazel itu membulat sempurna menyadari suatu kemungkinan yang terjadi.


.


.


.