Beside You (End)

Beside You (End)
25. I MISS YOU



Eps. 25


å


Gaza yang mengetahui kabar dari pihak rumah sakit bahwa Gisella sempat menggerakkan jarinya gegas menuju ruah sakit begitu pula dengan Brianna, Ricko dan nenek Ely.


"Sepertinya Nona Gisella sudah ada kemajuan, ini kabar yang baik, saya rasa dia akan segera sadar. Tapi.."


"Tapi apa, Dok?” sela Gaza tak sabar.


"Cukup lama Nona Gisella berada di alam bawah sadarnya, saya khawatir jika dia merasa nyaman di posisinya saat ini dan tidak ingin kembali. Jadi, sebisa mungkin ajak dia bicara mengenai kenangan yang akan dia dapatkan jika ada di dunia nyata. Ceritakan hal-hal baik padanya, tarik dia dari tidur panjangnya," tutur sang dokter menatap keempatnya bergantian.


"Baik Dok, terimakasih," balas Ricko setelahnya.


Gaza berjalan menghampiri bed pasien, mengambil tempat di seberang nenek Ely yang sudah duduk seraya mengusap jemari Gisella yang terinfus.


"Gisella, cucuku, Nenek di sini, ayo kita pulang."


"Mungkin kamu sedang pada posisi nyaman saat ini, tapi percayalah kalau aku selalu menunggumu untuk kembali, Gisella, bangunlah," Gaza menggenggam jemari yang nampak pucat. Detik berikutnya ia terkejut saat jemari itu menggenggamnya kuat. "Kamu mendengarku?" ucapnya tersenyum, ia amat sangat lega.


"Dia merespon, Kak," Brianna pun tak kalah antusias menyadari apa yang Gisella lakukan dengan respon gerakan tangan.


Gaza mengangguk. "Aku tahu kalau kamu mendengarkanku, aku di sini, jangan pernah takut, aku akan melindungimu," tuturnya mengusap kepala Gisella serta mencium jemarinya. "Kembalilah, bangunlah, Gisella, aku merindukanmu."


...***...


"Kak Isel. Ayo kita temui Papa dan Mama," ajak Ibay menarik tangan Gisella.


Tubuh Gisella menegang, di sana ada orangtuanya? Bagaimana kalau mereka akan memarahinya dan mengusirnya?


"Mama.. lihat ada Kak Isel di sini," Ibay berlari dan memeluk sang ibu yang tersenyum menyambutnya.


Tatapan wanita itu menyorot kerinduan. "Gisella, bagaimana kabarmu?” tanyanya.


Gisella terdiam, kemudian mengangguk, sejujurnya ia tidak tahu harus berbuat dan berucap apa.


Sang ibu nampak menahan tangis. “Maafkan Mama," ujarnya memeluk tubuh Gisella yang mematung, seketika air matanya tumpah.


"Maafkan Papa juga, Nak," sang pria menyahut dan turut memeluk Gisella.


"Maaf karena kami sudah menelantarkanmu, maafkan kami tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu, maafkan kesalahan kami, Gisella," tutur sang ibu terisak. "Kamu anak baik, Sayang, maafkan kata-kata Mama waktu itu, gara-gara Mama kamu menderita," imbuhnya kian tergugu.


Sang ayah mengusap ujung matanya yang basah. "Maafkan Papa juga, Gisella. Papa seharusnya bisa melindungimu, tidak membiarkan orang lain menyakitimu. Tapi nyatanya, Papa sendiri yang sudah menyakitimu," sesalnya penuh sesak.


Gisella menatap kedua orangtuanya yang berderai. “Ma, Pa,” ucapnya lirih. “Apa kalian membenciku?” tanyanya dengan pipi yang mulai basah.


Orangtuanya menggeleng cepat. "Kami tidak pernah membencimu, Nak, kami sangat menyayangimu.”


“Mama sangat menyayangimu, Gisella. Mama menyesal pernah membuatmu menangis, tapi percayalah kalau Mama sangat ingin melihat kamu bahagia,” ujar sang ibu tersenyum haru menatap sang anak yang selama ini ia sia-siakan.


"Maafkan Papa, karena perbuatan Papa membuatmu terluka hingga kini, itu semua karena Papa. Papa orangtua yang tidak becus mengurus anak, Papa orangtua yang buruk," sesal sang ayah menampar pipinya sendiri.


Gisella menggeleng. "Tidak, Pa, jangan lakukan itu," cegahnya terisak, ia menarik lengan sang ayah agar tidak melukai diri sendiri.


Sang ayah berlutut di bawah kaki Gisella. "Maafkan Papa, maafkan Papa, Gisella," sesalnya, pipinya yang berkerut telah basah oleh air mata.


"Papa," cegah Gisella ikut berlutut. "Jangan lakukan ini, Pa."


"Tidak, Nak, ini pantas untuk Papa, Papa harus mendapatkan ampunan darimu."


Sang ibu turut berlutut. "Mama juga, Gisella, maafkan Mama. Mama bersalah padamu selama ini, maafkan Mama."


Gisella terisak, kepalanya menggeleng kuat. "Tidak, kalian orangtua yang baik bagiku, aku sangat beruntung terlahir dari rahim seorang Ibu seperti Mama, juga Ayah yang sangat bertanggung jawab seperti Papa," ujarnya menatap orangtuanya bergantian. "Cukup peluk Gisella, Ma, Pa. Aku ingin merasakan pelukan kalian," sambungnya tersenyum haru.


Sang ayah mengusap air matanya yang kian deras, sebaik inikah anak yang ia buang dulu, kenapa dulu ia tidak pernah memberikan kasih sayang tulus pada sang anak? Sang ibu tak kalah haru menyaksikan gadis kecilnya yang pernah ia lukai tumbuh dewasa dengan kebaikan hati yang luar biasa.


Ketiganya berpelukan dan saling terisak. Orangtua Gisella yang sangat menyesali perbuatannya terhadap Gisella kecil, dan Gisella yang merasa damai bahagia bisa bersama keluarganya, ia bisa merasakan pelukan hangat seorang ayah dan ibu yang selama ini jarang ia dapatkan, ia ingin selamanya seperti itu, berada dalam lingkup kehidupan bersama keluarga, orang yang ia cintai.


"Hore.. akhirnya keluarga kita menjadi lengkap," sorak Ibay girang.


Pelukan ketiganya terlerai, mereka tersenyum menatap si bungsu.


"Kakak akan di sini sama kamu, Mama dan Papa, kita akan sama-sama terus," ujar Gisella tersenyum lega.


Sang ibu mengusap lembut lengan Gisella. "Gisella, di sini bukan tempatmu. Kembalilah,” ujarnya.


Gisella menggeleng. "Tidak, Ma, aku akan tetap di sini bersama kalian. Apa Mama masih membenciku?"


Sang ibu tersenyum dan menggeleng. "Kami tidak pernah membencimu,” ucapnya. “Belum saatnya kamu berada di sini, kamu harus segera kembali," imbuhnya.


Netra hazel itu berkaca-kaca. "Tapi kenapa, Ma?"


"Ada seseorang yang sedang menunggumu di sana. Apa kamu akan membiarkannya terus bersedih karena tidak bisa bersamamu? Hm?" tutur sang ayah mengusap kepala Gisella.


Gisella menggeleng. "Tidak, tidak ada yang menginginkanku di dunia ini. Jadi untuk apa aku hidup, untuk apa aku kembali? Aku hanya ingin bersama kalian di sini, ku mohon izinkan aku untuk tetap di sini Ma, Pa," pintanya kembali terisak.


"Kami mencintaimu, Sayang," ujar sang ibu mengecup kening Gisella.


Gisella sudah menggeleng panik melihat ketiganya.


"Ma, Kak Isel boleh ikut sama kita?" Ibay mendongak menatap sang ibu.


Sang ibu membawa Ibay dalam gendongannya. "Ibay, Kak Isel tidak bisa ikut sama kita, masih ada yang harus diurus sama Kak Isel. Kamu sama Papa dan Mama saja, ya?" ujarnya memberitahu.


"Ma, aku mau ikut kalian. Jangan tinggalkan aku sendirian,” Gisella kian panik menyadari ketiganya berjalan mundur menjauh darinya.


"Kembalilah, Gisella, ada seseorang yang menantimu, dia sangat mencintaimu," ucap suara di sampingnya, itu Mia.


Gisella menoleh. "Mia? Mia, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian, aku mau ikut kalian," ia berlari menggapai Mia yang tak tersentuh jemarinya.


"Kembalilah," balas Mia tersenyum, melambaikan tangan pada Gisella.


Gisella menggeleng. "Tidak, ku mohon jangan tinggalkan aku," raungnya berlari mengejar keempatnya. “Jangan pergi,” isaknya pilu. “Mama, Papa, Ibay, Mia, jangan pergi,” tuturnya menyadari jarak yang kian jauh, mereka layaknya bayangan yang tak tersentuh dan terus bergerak. “Ku mohon,” Gisella tergugu menatap keempatnya tersenyum padanya.


Detik berikutnya netra hazel itu terpejam saat cahaya putih yang menyilaukan muncul, saat membuka mata Gisella terheran melihat sekelilingnya yang berwarna putih dan tidak ada apapun,  ia layaknya berada di sebuah ruangan luas tak berujung. Gisella mencoba mencari pintu, namun tak ditemukan.


"Aku Mencintaimu."


Sebuah suara menyeru.


"Siapa itu?" tanya Gisella mencari asal suara.


"Ku mohon, kembalilah. Aku mencintaimu, Gisella."


Suara itu muncul kembali.


Tubuh Gisella berputar mencari asal suara yang terdengar jelas namun tidak ada siapapun di sana.


"Aku mencintaimu."


"Bangun, Gisella, aku merindukanmu."


"I miss you."


"Aku mencintaimu."


"I love you, Gisella."


Suara itu terus menggema.


Gisella terengah saat mencari dan tak ditemukan pemilik suara, kemudian ia menyadari sebuah cahaya kecil di ujung, ia gegas berlari menghampiri, dan suara itu terus terdengar.


"Gisella, aku mencintaimu."


Untuk terakhir kalinya, Gisella kembali mendengar suara itu, hingga sebuah cahaya yang menyilaukan seakan berjalan ke arahnya. Gisella bergeming serta menutup mata dengan kedua tangan saat cahaya menyilaukan itu memang berjalan ke arahnya dan menabrak tubuhnya.


...***...


Kedua netra coklat hazel itu perlahan terbuka, masih teringat mimpi yang seakan nyata yang baru saja ia alami, juga suara yang tidak asing itu masih terdengar jelas di telinganya, ia tidak asing dengan pemilik suara tersebut.


"Gisella, kamu sudah sadar?" Gaza nampak tersenyum lega menyaksikan netra indah itu kembali terbuka.


Gisella menoleh. 'Gaza? Apakah suara itu?'


"Kamu perlu sesuatu?" Gaza kembali berujar menyadari keterdiaman gadis di hadapannya.


Gisella mengalihkan tatapannya dan menggeleng pelan. Ia menatap langit-langit. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.


"Kamu terluka karena menolong seorang gadis."


Ingatan Gisella berputar pada kejadian dimana ia menolong seorang gadis yang tengah dirampok, ia juga ingat saat kepalanya terkena batu, dan saat ia berlari menjadi tameng untuk sang gadis saat perampok hendak menikamnya dengan pisau. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Gisella meringis menyentuh kepalanya yang berdenyut.


"Jangan di ingat lagi," tutur Gaza khawatir. "Minumlah, kamu cukup lama tertidur," imbuhnya memberikan segelas air putih pada Gisella.


"Terimakasih," ucap Gisella pelan.


"Kamu perlu sesuatu?" tanya Gaza yang lagi-lagi melihat keterdiaman Gisella, jelas terlihat bahwa gadis itu nampak kebingungan dengan tatapan kosong.


Gisella menggeleng pelan. "Berapa lama aku tertidur?" tanyanya kemudian.


"Satu bulan."


Gisella memejamkan mata, nyatanya ia tertidur sangat lama. Tapi kenapa Tuhan membangunkannya kembali? Untuk apa? Untuk siapa ia hidup?


"Jangan pernah berpikir untuk tertidur selamanya," cetus Gaza seakan tahu apa yang Gisella pikirkan.


Gisella membuka mata dan menatap Gaza.


Cukup lama keduanya saling tatap, kemudian Gisella menghembuskan nafas pelan. "Aku lelah," cicitnya.


.


.