
Eps. Bonus
å
Gaza memperhatikan Gisella yang tengah berdiri menatap luar jendela. Ia menghampiri serta melingkarkan tangan di perut wanita itu, ia merasakan wanita dalam pelukannya berjengit. “Apa yang kamu lihat, hm?” tanyanya menumpu dagu di pundak Gisella.
Gisella menoleh sekilas. “Aku tengah mengawasi anak-anak bermain,” balasnya.
Gaza melongok ke luar jendela rumah yang sudah dibelinya enam tahun yang lalu setelah ia menikahi gadis pujaannya. “Apa mereka merepotkanmu? Lagi?” tanyanya.
Gisella tersenyum. “Tentu saja tidak, aku senang mereka di sini.”
Gaza mengecup sisi wajah Gisella. “Kalau kamu merasa keberatan biar ku hubungi Ricko untuk menjemput mereka.”
Gisella menoleh protes. “Tidak perlu, Ga. Aku sungguh tidak kerepotan mengurus mereka, hitung-hitung aku belajar menjadi orangtua untuk anakku nanti,” ujarnya bersungguh-sungguh.
Gaza mengeratkan pelukannya serta mengusap perut Gisella yang membuncit. “Anak kita, Sayang,” ralatnya.
“Iya, maksudku begitu,” tanggap Gisella kikuk.
“Apa anak kita sering rewel ketika aku tidak ada di sampingnya?”
Gisella menggeleng. “Dia anak yang pintar,” ucapnya tersenyum menyentuh perutnya.
Gaza memutar tubuh Gisella menghadapnya, ia berjongkok tepat di depan perut Gisella. “Hai, jagoan Papa, sudah siap bertemu dengan Papa dan Mama?” ucapnya menyentuh permukaan perut Gisella yang terlapisi pakaian. “Katakan pada Mama kalau Papa sangat mencintainya, tentu saja denganmu juga. Saat keluar nanti, jangan terlalu banyak mencuri cintanya dari Papa.”
Gisella tersenyum haru mendengar penuturan Gaza, enam tahun berlalu dengan statusnya sebagai istri seorang Gaza, Gisella masih belum bisa menghilangkan perasaan takut dan khawatir akan menyakiti pria tersebut, bahkan di setiap waktunya Gisella selalu berdoa agar Tuhan tidak memberikan kepahitan untuk seorang Gaza, Gaza sangat sempurna, ia takut akan menjadi setitik kecacatan untuk pria tersebut. Namun nyatanya di setiap hembusan nafas, pria itu kerap kali mengatakan bahwa ia sangat bersyukur memilikinya, Gaza yang senantiasa mengatakan semua akan baik-baik saja, Gaza yang kerap mengungkapkan rasa cintanya, Gaza yang memberikan perhatian serta kasih sayang melimpah untuknya. Tidak ada yang lebih berharga dari apapun bagi Gisella selain seorang Gaza, dan kini ia tengah mengandung benih cintanya bersama Gaza, mungkin cintanya akan terbagi, tapi itu tidak akan meruntuhkan piramida cinta yang telah ia susun untuk seorang Gaza yang setiap detik terus tumbuh. “Bagaimana jika pada akhirnya dia perempuan?” ucapnya kemudian.
Gaza mendongak sekilas kemudian kembali memperhatikan permukaan perut istrinya. “Tidak masalah bagi Papa. Kalau kamu perempuan, jangan merasa iri jika cinta Papa terbagi untuk Mamamu, mungkin saja cinta Papa ke Mamamu jauh lebih besar daripada untukmu.”
Keduanya tersentak merasakan gerakan dari dalam perut Gisella.
“Dia merespon,” cetus Gisella tersenyum haru.
Gaza tak kalah senang. “Jadi apa kamu seorang princess?” tanyanya terkagum. “Kamu pasti secantik Mamamu,” imbuhnya mendongak menatap Gisella.
Gisella mengalihkan tatapannya karena malu.
Gaza berdiri, tersenyum memperhatikan istrinya yang entah mengapa dua kali lipat lebih cantik dengan tubuh yang lebih berisi serta pipi yang chuby. Di mata Gaza, Gisella adalah wanita tercantik, namun pada kehamilannya wanita itu semakin cantik. Ia menarik wajah Gisella agar menatapnya dan memberikan ciuman dalam di pipinya. “Sudahkah aku katakan aku sangat mencintaimu?” ujarnya.
Pipi Gisella yang sudah merona semakin merah ulah ungkapan cinta suaminya. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban, karena memang benar adanya, sejak bangun tidur entah sudah berapa kali Gaza mengatakan kalimat indah itu.
“Aunty, Alice lapar,” adu gadis kecil berumur tiga tahun itu menghampiri.
“Alice mau makanan yang tadi atau yang lain?” tanya Gisella mengusap surai gadis kecil tersebut.
“Aku mau makan pizza.”
“Aku juga mau makan pizza,” seru sebuah suara dari anak laki-laki.
“Aku lebih dulu.”
“Aku yang lebih dulu.”
“Aku.”
“Aku.”
“Brandon, Alice..” tekan Gaza memperingati.
Namun anak laki-laki berumur empat tahun itu justru menarik rambut sang adik yang seketika membuatnya menangis.
“Kakak jahat!” Alice menangis dan mengadu pada Gisella.
“Brandon!” Gaza menghardik, dua keponakannya yang hanya berbeda satu tahun itu memang sering dan selalu bertengkar. Gaza tahu sebab Ricko serta Brianna sering menitipkan anak-anaknya pada Gisella saat mereka harus ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Gisella mensejajarkan tubuhnya dengan Alice, mengusap pipinya. “Apakah itu sakit?” tanyanya mengelus kepala Alice.
Alice mengangguk dengan bibir mengerucut lucu.
“Brandon,” Gisella menoleh pada anak laki-laki yang tengah asik bermain mobil-mobilan. “Minta maaf pada Alice atau tidak ada pizza sama sekali,” ucapnya mengancam.
Anak laki-laki itu berjalan malas menghampiri serta mengulurkan tangan. “Im sorry,” ucapnya pada sang adik.
Gisella mengangguk saat Alice menatapnya seakan meminta persetujuan. Kemudian Alice menjabat tangan sang kakak.
“Kalian tahu kalau di dalam perut Aunty akan keluar adik sebentar lagi?” tanya Gisella memperhatikan Alice dan Brandon bergantian.
Kedua kakak beradik itu mengangguk.
“Dia mengatakan ingin bermain dengan kalian, kalian mau mengajaknya bermain?” ujar Gisella lagi.
“Mau!”
“Kapan adik bayi lahir, Aunty?”
Gisella nampak berpikir. “Em.. katanya kalau Brandon dan Alice sudah berbaikan,” jawabnya.
Alice mengangguk. “Iya, Aunty. Alice juga sudah tidak menangis.”
Gisella tersenyum. “Kata adik bayi, tunggu aku, ya, Kak Brandon, Kak Alice,” ujarnya menirukan suara anak kecil.
“Dia di sini, Aunty?” tanya Brandon menyentuh permukaan perut Gisella.
Alice mengikuti tingkah sang kakak menyentuh permukaan perut Gisella. “Dia sangat kecil,” ucapnya.
Gisella mengangguk. “Apa kalian mendengar, adik bayi mengatakan menyukai kalian berdua.”
“Benarkah?”
Gisella mengangguk dengan senyum yang mengembang, kehadiran Brandon juga Alice sangat berarti baginya yang kala itu belum di anugerahi keturunan, ia menyukai anak kecil, itu sebabnya saat Brianna kerepotan membawa mereka ke luar kota atau luar negeri Gisella menawarkan diri untuk menjaga mereka. Awalnya Brianna tidak setuju dan tidak tega menyadari betapa aktifnya anak-anaknya, namun Gisella keukeh dan pada akhirnya Brianna percaya dan setuju menitipkan Brandon juga Alice di rumah Gisella.
“Adik bayi sudah lapar ingin makan pizza,” suara Gaza menginterupsi.
Brandon dan Alice menoleh serta melompat riang.
“Ayo kita berangkat,” ujar Gaza kemudian.
“Horee!!” sorak Brandon dan Alice bersamaan, keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir.
Gaza melingkarkan tangan di pinggang Gisella, mengecup sebelah pipinya. “Terimakasih.”
Gisella menoleh. “Untuk?”
“Everything.”
Gisella tersenyum dan mengangguk. “Ini tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan untukku, Ga,” ungkapnya sungguh-sungguh.
“Aku mencintaimu,” ucap Gaza mengecup ujung bibir Gisella.
Gisella merona, perlakuan manis Gaza selalu membuatnya berdebar dan bergetar. “Aku mencintaimu,” balasnya menunduk malu.
Hampir saja Gaza kembali mengecup bibir Gisella ketika suara Brandon dan Alice menggema.
“Uncle, Aunty, ayo!”
Keduanya tersentak.
Gaza menghembuskan nafas panjang. “Apa sebaiknya aku hubungi saja Ricko dan Brianna untuk membawa anak-anaknya pulang?” usulnya kesal.
Gisella mengulum senyum.
“Uncle!”
Gaza menggeleng. “Sebaiknya kita bergegas sebelum mereka memulai aksi perkelahian,” ucapnya menuntun Gisella untuk menghampiri.
Gisella mengangguk saja.
Gaza memilih mengemudikan mobilnya sendiri tanpa meminta bantuan sopir. Ia menoleh ke kursi penumpang dimana keponakannya berada. “Kalian siap?” tanyanya.
“Siap, Uncle!” jawab keduanya kompak.
“Kita berangkat,” ujar Gisella yang duduk di sebelah kursi kemudi.
“Hore! Kita makan pizza.”
“Aku mau makan hamburger saja.”
“Aku juga.”
“Aku mau makan hotdog.”
“Aku juga mau makan hotdog.”
“Jangan mengikutiku.”
“Aku tidak mengikutimu.”
“Iya.”
“Tidak.”
“Huwaa.. Aunty, Kakak jahat.”
“Kamu yang cengeng, Alice.”
“Kakak jahat..”
Gaza memijit pangkal hidungnya saat lagi-lagi dua keponakannya bertengkar, ia menoleh pada Gisella yang tengah tersenyum menatapnya. Setidaknya ia tidak benar-benar gila ketika melihat senyum menawan wanita di sampingnya, istrinya. “Aku mencintaimu, Gisella, sangat,” ucapnya tiba-tiba.
Gisella terkekeh, kebiasaan yang sering Gaza lakukan ketika tidak sanggup melihat keponakannya bertengkar.