
Eps. 29
å
Cukup lama Gisella beristirahat tanpa bisa bekerja, selama itu pula hampir setiap hari Gaza dan Brianna bergantian berkunjung ke tempat tinggalnya, dan Gisella sudah berulang kali meminta mereka untuk berhenti mengunjunginya, tapi kedua saudara itu tidak pernah mengindahkan larangannya.
"Besok aku mulai bekerja," ucap Gisella sore itu.
Gaza menoleh protes. "Kamu belum sepenuhnya sembuh, Gisella."
"Aku merasa lebih baik, dan aku —"
"Aku tidak merasa direpotkan olehmu, berhentilah untuk merasa direpotkan," potong Gaza yang mengerti arah ucapan Gisella.
"Bukan seperti itu, aku tidak ingin berhutang budi lebih banyak padamu."
Tatapan Gaza berubah dingin. "Apa kamu khawatir aku akan menagihnya suatu hari nanti?" tebaknya.
Gisella terkesiap.
"Aku tidak merasa pernah menghutangkan sesuatu padamu, Gisella. Jadi berhentilah mempunyai pikiran seperti itu," tutur Gaza menjelaskan.
"Tapi —"
Gaza mendekat, menatap kedua manik mata yang bersinar indah namun tertutup kesenduan di hadapannya. "Aku tidak ingin mendengar penolakanmu. Apa yang aku lakukan semua ini untuk dirimu, untuk kebaikanmu. Aku khawatir terhadapmu, aku ketakutan melihatmu terluka, dan aku sungguh sangat takut terjadi hal buruk padamu," ungkapnya sungguh-sungguh.
Gisella tertegun, pupil matanya bergerak gelisah menyebabkan getaran yang menghangatkan menembus tepat di jantungnya, entah perasaan apa itu ia tidak tahu, tanpa sadar ia menyentuh dada kirinya yang berdetak cepat.
"Ada apa? Ada yang sakit?" tanya Gaza khawatir.
Gisella menggeleng cepat. "Kau pernah merindukan Mia?" tanyanya kemudian.
Gaza sedikit terkejut mendengar pertanyaan gadis di hadapannya. "Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Aku hanya merasa merindukannya, apa dia tengah bahagia sekarang? Di atas sana?"
"Aku yakin dia tengah tersenyum sekarang, melihatmu dalam keadaan baik dan bahagia adalah impiannya, seharusnya kamu mempertahankan impiannya itu."
Gisella menatap tak yakin. "Dia mengatakannya?" tanyanya ragu.
"Hampir di setiap pertemuan kami, dia membicarakan tentangmu yang berarti di hidupnya yang awalnya sunyi, karena pada akhirnya dia mempunyai Kakak yang selama ini dia harapkan," terang Gaza bersungguh-sungguh.
Kelopak mata Gisella memanas. 'Benarkah kau bahagia melihatku bersama calon suamimu, Mia?'
"Kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku."
Kalimat Gaza sukses mengembalikan kesadaran Gisella, gadis itu menatap lekat manik legam yang menatapnya dalam.
"Aku mencintaimu, mungkin kamu akan bosan mendengarnya, tapi, aku mengatakan yang sejujurnya, aku mencintaimu," aku Gaza bersungguh-sungguh.
Menyadari keterdiaman gadis di hadapannya, Gaza memberanikan diri untuk mendekat, pikiran dan tubuhnya tengah berperang, namun sepertinya ia tidak bisa sejalan dengan pikirannya yang mengatakan jangan, hingga pada akhirnya ia memberanikan diri mengecup ujung bibir Gisella yang seketika mematung.
Waktu seakan berhenti untuk beberapa saat, kedua manik legam dan coklat hazel itu tengah beradu seakan mengutarakan apa tidak sanggup bibir mereka ucapkan. Sentuhan di ujung bibirnya mampu membuat aliran darah Gisella mengalir di sekujur tubuhnya membuat kerja jantungnya menjadi lebih cepat. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti itu, ia tidak tahu harus senang atau sedih, tapi ada sedikit bagian tubuhnya yang merasa khawatir. Khawatir tidak bisa menghentikan perasaan bahagia yang membuncah.
"Maaf, aku tidak bisa menahannya," sesal Gaza melihat keterdiaman gadis di hadapannya.
Gisella mengerjap, mengalihkan tatapannya dari pria di hadapannya. "Sudah ma—" kalimatnya terhenti saat menyadari cuaca yang tengah hujan, kenapa ia tidak menyadarinya? "Kau—" kalimatnya kembali terjeda saat dering ponsel Gaza terdengar.
"Tunggu sebentar," ujar Gaza menggeser tombol berwarna hijau di layar ponsel, kemudian menempelkan benda berotak itu ditelinganya.
Gisella bergeming, hingga kemudian ia beranjak memperhatikan rintik hujan dari balik kaca jendela.
"Selagi menunggu hujan reda, bolehkah aku mengerjakan beberapa pekerjaanku di sini?" tanya Gaza setelah sambungan teleponnya terputus.
Gisella menoleh, kemudian mengangguk ragu.
Beberapa menit kemudian Gaza sudah berkutat dengan iPad miliknya. Gisella berjalan menuju kompor kecil di sudut ruangan, udara yang dingin membuatnya memutuskan untuk membuat teh. Ia menoleh pada Gaza yang masih berkutat dengan iPad. Mengambil dua gelas, Gisella memutuskan untuk membuatkan Gaza juga.
Gaza mendongak saat menyadari sebuah gelas diletakkan di atas meja.
"Maaf, hanya ada teh. Aku tidak punya persediaan kopi," ujar Gisella tak enak.
Gaza tersenyum. "Ini lebih dari cukup," tanggapnya meraih gelas dan meminum isinya. "Ah, panas," keluhnya terkejut merasakan lidahnya yang seakan terbakar.
Gisella tersenyum menahan tawa.
...***
...
Tok! Tok! Tok!
Duk! Duk! Duk! Duk!
Ketukan atau yang lebih tepat disebut gedoran itu semakin keras dan kuat, seakan ingin mendobrak pintu itu dengan paksa.
"Hei, keluar! Kami tahu kau di dalam! Gisella, keluar!"
Duk! Duk! Duk!
"Keluar, atau kami dobrak!"
Gaza dan Gisella terbangun dari posisinya. Semalam Gisella yang duduk di atas kasur busa tak terasa tertidur, begitu pula Gaza yang tertidur dengan posisi duduknya menumpu kepalanya di meja.
Gisella terkejut menyadari Gaza ada di dalam rumahnya, semakin terkejut melihat gedoran di pintunya. Ia gegas beranjak.
"Ada apa?" tanya Gaza pada Gisella yang mengintip di balik jendela.
Gisella menggeleng, raut wajahnya berubah cemas.
Ceklek!
"Ini dia pelaku zina. Nggak tahu malu, ya, kamu, wanita kotor!" seorang ibu mendorong tubuh Gisella. Hampir saja Gisella terjatuh kalau Gaza tidak menahannya.
"Ada apa ini?" tanya Gaza tak mengerti.
"Lihat! Dia membawa seorang pria tidur di dalam rumahnya."
"Bukankah dia masih gadis? Berani sekali kau membawa pria tidur di kamarmu, Gisella. Tidak tahu malu."
"Usir aja usir. Kamu mengganggu ketentraman kami semua."
"Tidak, ibu-ibu anda semua salah paham. Kami tidak melakukan apapun," bantah Gisella.
"Alah! Mana ada maling mau ngaku. Dasar pelacur!"
Gaza menyalak tajam. "Ibu-ibu mohon anda jangan menghakimi sendiri. Jangan salahkan Gisella. Saya yang salah. Tidak perlu penjelasan dari saya karena anda tidak akan pernah percaya. Tapi saya mohon jangan bicarakan hal buruk pada Gisella."
"Halah, sama saja. Dasar tidak tahu malu. Pergi sana."
"Betul. Pergi saja kalian."
Gisella merasakan kelopak matanya memanas. Sungguh tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu.
Gaza menoleh, memperhatikan Gisella yang hampir menangis. Ia meraih jemarinya. "Kita pergi dari sini," ajaknya.
Gisella mendongak, cairan bening mengalir di kedua pipinya.
"Situasinya tidak memungkinkan untuk kamu berada di sini. Kita cari jalan keluarnya nanti. Yang penting kamu harus pergi dari orang-orang ini. Aku tidak ingin kamu celaka, Gisella," ujar Gaza menjelaskan menyadari gelagat Gisella yang hendak menolak.
Gisella mengangguk, mungkin apa yang Gaza ucapkan memang benar. Keadaan tidak memungkinkan untuk ia sekedar menjelaskan, karena orang-orang di sekitarnya tidak pernah menyukainya, jadi itu akan percuma saat memberikan penjelasan.
Gaza membawa tubuh Gisella ke dalam pelukannya guna menghindari amukan para warga. Keduanya memilih keluar dan meninggalkan rumah setelah membawa beberapa barang penting.
"Tidak tahu malu!"
"Menjijikkan!"
"Dasar pezina!"
"Wanita kotor!"
"Jangan dengarkan," bisik Gaza tepat di telinga Gisella.
Gisella mengangguk saja.
"Kita akan kemana?" tanya Gisella yang sejak tadi Gaza terus menarik tangannya untuk berjalan.
"Leon akan menjemput kita," balas Gaza tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. "Kamu lapar?" tanyanya kemudian.
Gisella menggeleng.
Hari masih terlalu pagi, kabut putih tebal terlihat menyelimuti udara. Belum ada restoran yang buka di jam terlalu pagi seperti itu. Gaza memilih singgah di sebuah warung makan pinggir jalan.
"Ga—"
"Setidaknya isi tenaga untuk melawan mereka. Kamu juga masih dalam masa pemulihan. Ku mohon jangan membantah," cetus Gaza menyadari penolakan gadis di sampingnya.
Menurut. Gisella memakan nasi pecel yang Gaza pesankan dengan lesu, pikirannya tengah berputar pada kejadian yang baru saja terjadi. Seharusnya tadi malam ia tidak ketiduran agar bisa membangunkan Gaza. Dan entah kenapa tidurnya semalam sangat nyenyak bahkan tidak menyadari bahwa Gaza masih ada di dalam satu ruangan yang sama dengannya.
"Gisella."
"Em, ya?"
"Maaf," sesal Gaza.
Gisella terdiam menatap pria dewasa di hadapannya.
"Mungkin saja kalau semalam aku tidak ketiduran, hal seperti ini tidak akan terjadi."
Sudut bibir Gisella terangkat membentuk sebuah senyuman kecil. Kepalanya menggeleng pelan.
"Kamu membawa obatmu?"
Gisella tertegun. "Sepertinya ketinggalan."
Gaza mengusap puncak kepala Gisella. "Nanti kita tebus lagi obatnya," ujarnya tersenyum.
Melihat tatapan tulus yang Gaza berikan padanya, juga sentuhan tangan di puncak kepalanya membuat perasaan aneh itu kembali muncul. Bahkan melihat senyuman Gaza membuat aliran darahnya kembali cepat, seiring dengan debaran jantungnya yang berubah tempo. Ada apa dengan dirinya?
.
.