Beside You (End)

Beside You (End)
18. AKU TIDAK —



Eps. 18


å


Hari itu, tanpa pernah Gisella duga dan kira ia mendapatkan tamu tak diundang, entah siapa wanita yang kini berdiri di depan kamar kostnya. Bisa dilihat dari pakaiannya yang nampak bagus dan rapi, aksesoris yang berkilau, juga tas mahal dengan harga selangit. Tapi siapa wanita itu? Apakah salah mencari orang? "Maaf, Bu, cari siapa, ya?" sapanya ramah.


Wanita itu memperhatikan Gisella dari atas hingga bawah. "Kau Gisella bukan? Anak angkatnya Dini."


Tubuh Gisella terkesiap, darimana wanita itu tahu. "I-ya, Bu," jawabnya gugup.


"Jadi kau yang membunuh Mia?" tuduh wanita itu menghentak membuat beberapa tetangga kost Gisella nampak terkejut dan saling berbisik.


Gisella cukup terkejut dengan pertanyaan wanita ini, terlebih beberapa warga yang mulai melirik sinis ke arahnya. "Silahkan masuk, Bu, bisa kita bicarakan di dalam," balasnya menggeser tubuhnya mempersilahkan wanita asing itu masuk. "Kalau boleh tahu, Ibu ini siapa, ya?" tanyanya saat keduanya sudah berada di dalam kamar kost.


"Saya mantan calon mertuanya Mia, gadis yang telah kau bunuh," jawab wanita itu yang ternyata Ibu dari Gaza.


Gisella tersentak, kedua matanya melotot menatap wanita di hadapannya.


"Saya ke sini hanya ingin memperingatkanmu. Kalau sampai kau berani menggoda Gaza, saya sendiri yang akan membuat perhitungan padamu," ancamnya menuding wajah Gisella yang nampak pias.


"Apa maksud anda, Bu?"


"Jangan pura-pura tidak tahu, kau sengaja bukan membiarkan Mia dianiaya supaya kau bisa mendekati Gaza. Kau ingin mendapatkan hartanya bukan? Dasar wanita tidak tahu diri!” tuduh wanita itu.


"Tapi saya tidak mendekati Gaza," bantah Gisella membela diri.


"Omong kosong. Saya tahu kalau kau sering bersama Gaza, lalu apa tujuanmu kalau tidak menginginkan hartanya?” wanita itu menghardik. “Karena sekarang tidak ada lagi orang yang mau menampungmu, kau pasti merasa kesulitan mencari uang bukan? Dengan begitu kau mendekati Gaza,” tuduhnya. "Apa kau lupa kalau Gaza dulu adalah calon suami saudara tirimu, Mia. Seharusnya kau sadar diri siapa dirimu yang dulu. Apa perlu aku ingatkan kalau kau adalah pembunuh. Bahkan seluruh keluargamu membuangmu."


Deg!


Detakan jantung Gisella kembali bergemuruh, kalimat itu lagi-lagi dilontarkan padanya. Kedua tangannya terkepal erat untuk menguatkan diri, ia tidak ingin penyakit itu kambuh.


Wanita itu melirik ke arah meja kecil, terdapat paper bag dengan logo merk toko terkenal juga sebuah jaket yang terlipat di atas kasur. Ia menghampiri. "Pasti kau mendapatkan ini dari Gaza bukan?" ujarnya mengangkat paper bag berisi ponsel pintar dengan merk ternama. "Ternyata pakaian Gaza juga ada di sini,” ia melirik sinis pada Gisella yang terdiam. “Apa kau tidak punya malu membiarkan seorang pria menginap di tempatmu. Oh, atau kau sudah menjual tubuhmu demi mendapatkan anakku?!" hardiknya dengan kedua bola mata membulat.


Gisella menggigit bibir bawahnya kuat, dalam hati ia berujar untuk tetap tenang dan tidak termakan ucapan ibu dari Gaza. "Saya tidak seperti apa yang anda pikirkan, Bu," lirihnya pelan.


"Lalu seperti apa kau sebenarnya? Hah!” wanita itu menghentak. “Awas saja, sekali lagi saya melihatmu bersama Gaza, saya akan membuat perhitungan denganmu. Pembunuh!" ancamnya menuding wajah Gisella. "Menjijikkan!" desis wanita itu melirik jijik pada Gisella sebelum meninggalkan ruangan dengan gebrakan keras pada pintu.


Di dalam kamar kostnya, Gisella tetap diam, sedikitpun ia tidak menangis dihina sedemikian rupa oleh ibu Gaza. Namun kalimat ibu Gaza tidak bisa ia hilangkan begitu saja, kalimat itu terus terngiang di telinganya. "Aku bukan pembunuh," gumamnya pelan dengan tubuh yang bergetar.


...***...


Gunjingan para tetangga kost sampai di telinga Gisella, tatapan jijik juga tudingan mengarah padanya yang tengah berjalan hendak menuju tempatnya bekerja, di jalanan. Gisella tentu tahu apa yang mereka bicarakan tentangnya, tak sedikit pula yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia pembunuh. Sebisa mungkin ia berusaha tidak terpengaruh dengan kalimat itu, meskipun sekujur tubuhnya mulai memberi sinyal akan tanda bahaya kalimat tersebut. Gisella memejamkan erat kedua matanya dengan tangan yang mencengkeram erat sisi bajunya ia menghembuskan nafas berulang kali untuk meredakan sesak di dadanya yang perlahan menghimpit.


"Gisella, ada apa denganmu?" tanya Surya melihat raut wajah Gisella yang nampak pucat.


Gisella menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Paman, hanya kurang tidur," jawabnya memberikan senyuman kecil.


"Kalau lelah, kau tidak harus berjualan, istirahatlah terlebih dahulu."


"Tidak perlu, Paman, aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menghawatirkanku."


Surya tersenyum mengangguk. "Hari ini kau tidak perlu membawa banyak," ujarnya menyerahkan tumpukan koran baru pada Gisella.


"Iya, Paman."


Meskipun dengan suasana hati yang tidak baik, tapi Gisella tidak bisa tidak bekerja berjualan koran, ia tidak bisa mengandalkan siapapun. Melihat mobil Gaza berada pada deretan mobil di jalanan, Gisella segera berbalik dan memutar tubuhnya untuk tidak melewati mobil itu. Masih terekam dengan jelas perkataan ibu Gaza agar ia tidak bertemu atau berhubungan lagi dengan Gaza. Dan Gisella tidak ingin membuat masalah, juga tidak ingin orang lain terkena masalah karenanya.


Gaza yang sudah membuka kaca jendelanya untuk menunggu Gisella menghampirinya sedikit terkejut saat melihat Gisella justru berbalik arah. Bahkan saat mobilnya melintas ketika lampu berubah menjadi hijau, gadis itu juga nampak tidak menoleh ke arahnya. Apa yang terjadi dengan gadis itu?


*


Entah kebetulan atau memang disengaja, Gisella yang tengah belajar bersama anak-anak jalanan di taman bertemu dengan Dini juga ibu dari Gaza. Ia menunduk memberi hormat pada wanita dewasa itu, karena biar bagaimanapun Dini pernah merawat dan membesarkannya. "Pagi, Ma, pagi, Bu," sapanya.


"Sudah pernah aku bilang jangan panggil aku Mama, aku bukan ibumu!" hentak Dini nyaring, membuat anak-anak yang diajari Gisella nampak terkejut.


"Kau benar, Hana, aku benar-benar menyesal pernah menganggap dia sebagai anakku. Karena pada akhirnya dia memanfaatkan Mia, anak kandungku sendiri."


Gisella mendongak. "Maaf, tapi aku tidak melakukannya," ujarnya. "Pria itu yang menyakiti Mia, bukan aku," sambungnya membela diri.


"Tapi jika seandainya kau mau menolong Mia, mungkin sekarang dia masih hidup!"


Gisella menunduk membenarkan kalimat Dini. Andai saja ia tidak ketakutan saat itu.


"Kau dan trauma sialanmu itu yang membuat nyawa Mia tidak dapat di selamatkan. Seharusnya kau saja yang mati, kau saja yang jadi korban pria psikopat itu, bukan Mia!" cetus Dini menghentak mengingat kematian anak semata wayangnya yang sungguh tragis.


"Maafkan aku," sesal Gisella menunduk.


"Memangnya jika kau meminta maaf, Mia akan hidup kembali, begitu? Tidak, kan?" timpal Hana sarkas.


"Dan sekarang kau berniat merebut Gaza dari Mia. Kau benar-benar tidak tahu diri, Gisella. Apa kau lupa siapa kau sebelumnya? Kau hanya gadis yang dibuang keluargamu, dan jika Mia tidak membawamu ke rumah, mungkin saja sekarang kau tinggal nama!” Dini menambahi.


"Aku tidak pernah sudi menerimamu sebagai menantuku, bahkan membayangkan saja aku tidak sudi," sahut Hana ketus.


Gisella hanya diam mematung dengan kedua jari yang saling memilin, apa yang dikatakan Dini memang benar, ia hanya gadis buangan yang tidak diinginkan di dunia.


"Sekarang kau diam, pasti kau sedang memikirkan rencana untuk membalasku bukan? Apa kau juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan pada Mia, padaku?" tuduh Dini nampak masih belum puas mencemooh Gisella.


"Astaga.. apa kau berencana menghabisi Gaza setelah mendapatkan hartanya?" pekik Hana nampak terkejut dengan persepsinya sendiri.


Gisella mendongak, menatap tak percaya pada Hana. Mana mungkin ia setega itu? Bukankah selama ini ia hanya menjadi korban fitnah.


"Hana, aku rasa kau harus segera mencarikan pasangan untuk Gaza, aku tidak yakin kalau gadis ini akan melepaskan Gaza begitu saja," Dini mulai mengompori.


"Kau benar, Din, jangan sampai keluargaku sial gara-gara gadis ini, aku akan mencarikan Gaza pendamping hidup." Hana menoleh pada Dini. "Maafkan aku, karena kita tidak jadi berbesan, apa kau tidak keberatan kalau Gaza mencari pengganti Mia?" tanyanya.


Dini tersenyum mengelus lengan Hana. "Tidak masalah, Hana, aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak mau kalau Gaza salah dalam memilih pendamping hidup," ujarnya melirik sinis pada Gisella. "Gaza pria yang sempurna, harus mendapatkan istri yang sempurna juga, bukan pembunuh seperti dia," sambungnya menunjuk Gisella dengan dagunya.


Tubuh Gisella menegang. "Aku tidak —"


"Berhenti!” potong Hana mengangkat kelima jarinya. “Kau tidak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan apapun,” ujarnya. "Kau masih ingat kalimatku kemarin  bukan?” Jeda. “Jangan coba-coba dekati Gaza lagi, atau aku akan membuat perhitungan padamu. Melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Ingat itu!" imbuhnya mengancam, menuding wajah Gisella dengan tatapan tajam.


Anak-anak nampak terkejut melihat dua wanita dewasa itu menyakiti Gisella.


"Kak Gisell?"


Gisella menoleh, mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak kecil tersebut. "Iya, Sayang."


"Apa yang mereka katakan tentang Kak Gisella itu tidak benar bukan?"


Gisella tersenyum. "Bagaimana menurut kalian?"


"Aku yakin Kakak orang baik, tidak mungkin melakukan tindakan itu."


"Kami juga percaya sama Kak Gisella," sahut yang lain.


Gisella tersenyum. "Terimakasih anak-anak. Mau berjanji satu hal sama Kakak?" pintanya, anak-anak itu mengangguk kompak. "Jika kalian besar nanti, meskipun tidak menjadi orang kaya, tapi setidaknya perluas lapang dada kalian, jangan merendahkan oranglain, jangan menilai orang lain dengan kata karena. Perbanyak sabar untuk orang-orang yang menyakiti kalian," nasehatnya menatap keseluruhan wajah anak-anak yang nampak polos namun memiliki semangat hidup yang tinggi. "Juga, jika diantara kalian ada yang menjadi orang suskes, jangan lupakan saudara kalian yang lainnya. Saling membantu, oke," sambungnya tersenyum manis.


"Iya, Kak," jawab mereka kompak.


Setidaknya ketika Gisella tidak lagi diinginkan di dunia, tidak lagi menjadi penghuni bumi. Ia pernah melakukan hal baik terhadap anak-anak itu, mengajari arti hidup dan kesabaran pada mereka. Juga berharap agar nasib mereka tidak pernah sama dengannya.


.


.


.