
Eps. 24
å
Entah harus menunggu berapa lama lagi untuk Gisella terbangun dari tidur panjangnya. Hari berganti hari, tanpa terasa sudah satu bulan berlalu, namun Gisella masih belum juga sadar. Setiap hari pula Gaza datang untuk sekedar bercerita dengan Gisella yang terlelap, mengucapkan kalimat yang ia harap dapat membuat Gisella kembali sadar. Teringat pesan sang nenek saat itu.
"Gaza, sekarang giliranmu untuk berkorban. Jika kau mencintainya, bahagiakan dia, ajak dia kembali ke dunia ini. Tapi jika kau masi ragu dengan perasaanmu sendiri, biarkan Gisella ikut denganku, aku yang akan merawatnya. Jangan pernah kau temui dia lagi."
"Gisella, aku mencintaimu, kembalilah." Entah untuk yang ke berapa kalinya Gaza mengucapkan kalimat cinta pada Gisella, berharap gadis itu akan segera merespon. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu, gadis yang entah sejak kapan memenuhi hati juga pikirannya. Gaza menggenggam jemari Gisella. "I love you, Gisella," gumamnya mengecup tangan Gisella lembut. "Bangunlah, agar aku bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu. Entah sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh, yang pasti perasaan cintaku terhadapmu nyata, aku ingin kamu melengkapi hidupku, Gisella. Ku mohon, kembalilah, aku mencintaimu, Gisella," imbuhnya berbisik di telinga Gisella, memberikan kecupan di kening yang masih terbalut perban.
Hana memasuki ruangan saat Gaza sudah pergi dari ruangan Gisella dirawat. Ia menghampiri dan mengambil duduk di sisi bed pasien, memperhatikan wajah pucat gadis di hadapannya, sama sekali seperti tidak ada kehidupan. Penjelasan yang diberikan ibunya beberapa minggu yang lalu masih teringat jelas di kepalanya, dan ia merasa sedikit tersentuh juga menyesal atas perbuatannya terhadap Gisella. Disela waktunya, Hana menyempatkan diri untuk melihat kondisi Gisella, meskipun ia hanya duduk terdiam memperhatikan wajah Gisella dan tak mengatakan apapun. Ia akan bergumam maaf tanpa suara dan kemudian berlalu. Sama seperti saat ini.
Hana menyentuh jemari Gisella. "Maaf atas tindakanku padamu selama ini. Aku sungguh berharap kau bisa segera sadar, demi Gaza, anakku," ucapnya pelan, ia paham betapa anak sulungnya merasa paling menderita atas kejadian yang menimpa Gisella, dan itu membuatnya tidak tega.
...***
...
Di sebuah taman bunga yang luas, ditumbuhi beberapa jenis bunga yang tengah bermekaran memberikan berbagai warna seperti pelangi. Seorang gadis berpakaian serba putih berjalan menyusuri taman itu, tangannya terulur untuk menyentuh kelopak bunga yang bermekaran. Beberapa kali tatapannya meluas guna mencari tahu dimanakah ia berada, di taman yang luas tersebut tidak ada satu orangpun selain dirinya. Memetik salah satu bunga mawar berwarna merah, ia menghirup aromanya, sekali lagi ia meluaskan tatapannya, berharap agar bisa menemukan seseorang. "Hei.. tunggu!" panggilnya melihat anak kecil berlarian mengejar seekor kelinci. "Hei.. siapa namamu?" ia berlari menghampiri sang anak.
Pria kecil itu membalik tubuhnya. "Kak Isel?"
Deg!
Tubuh Gisella mematung. Panggilan itu, suara itu, juga wajah pria kecil itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat amat ia sayangi. "Ibay?" gumamnya dengan suara bergetar.
Pria kecil itu berlari dan memeluk kaki Gisella. "Kak Isel, akhirnya aku bisa bertemu dengan Kakak. Aku merindukanmu, Kak, jangan tinggalkan aku lagi.”
Gisella berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan pria kecil berumur lima tahun itu. "Kakak juga merindukanmu, Sayang, maafkan Kakak sudah membuatmu terluka, maafkan Kakak, Ibay," Gisella memeluk tubuh pria kecil itu, menciumi seluruh wajahnya, membuat pria kecil itu kegelian. "Kamu sedang apa di sini? Hm?"
"Ada kelinci, Kak, ayo kita kejar," jawab Ibay teramat antusias menarik tangan Gisella.
Gisella tersenyum. "Baiklah, ayo kita kejar."
Keduanya berlari dengan kedua tangan yang saling menggenggam seakan tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Langkah kaki Gisella terhenti saat melihat bayangan putih sedang bermain ayunan, membuat Ibay mendongak menatap sang kakak, mengikuti arah tatapannya.
"Itu Kak Mia, ayo aku kenalkan padanya, Kak," ujar Ibay membuat Gisella tersentak.
"Mia?"
Ibay mengangguk. "Sepertinya dia mengenal Kakak juga, selama ini dia yang menemani aku di sini, Kak, dia orang yang baik, sama seperti Kakak," ujarnya menarik tangan Gisella.
Gisella terkesiap, serasa kerikil kecil menghambat tenggorokannya, antara takut dan senang.
"Kak Mia," pekik Ibay melambaikan tangan. "Kak Mia, kenalkan ini Kakakku, Kak Isel. Kakak mengenalnya bukan?" ia menunjuk pada Gisella yang menegang.
"Gisella," panggil Mia tersenyum menatap Gisella.
Gisella membeku, hanya airmatanya yang perlahan mengalir membentuk anak sungai di pipinya yang putih. "Mia?" gumamnya pelan.
"Hei, apa kau tidak merindukanku?" Mia menepuk lengan Gisella pelan.
Gisella sedikit terisak, kemudian memeluk tubuh Mia erat. "Aku sangat merindukanmu, Mia, maafkan aku, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku lagi, Mia," isaknya tergugu.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, Gisella, aku selalu di sini, melihatmu dari sini. Apa yang kau katakan?" balas Mia mengelus punggung Gisella yang bergetar.
Cukup lama mereka berpelukan, serta Gisella yang menumpahkan kesedihannya, hingga pelukan itu terlerai, Gisella memperhatikan Mia dan Ibay bergantian. "Aku senang berada di sini, aku ingin terus bersama kalian."
"Ayo kita bermain, Kak," sahut Ibay senang, mengangkat kedua tangannya minta digendong Gisella.
"Baiklah, Kakak akan mengajakmu bermain, tapi kamu harus nurut sama Kakak, oke," balas Gisella menggendong tubuh kecil sang adik, memberikan ciuman di pipinya.
"Tapi, Gisella, tempatmu bukan di sini. Kau harus kembali."
Gisella menoleh. "Tidak, Mia, aku ingin di sini bersama kalian."
Mia mengembuskan nafas pelan. "Baiklah, ayo kita bermain," sambutnya ikut tersenyum.
Ketiganya mulai berjalan menyusuri taman bunga nan indah tersebut, menyanyi, menari, tertawa bersama, sesekali Ibay meminta untuk menangkap kupu-kupu atau kelinci yang melintas.
"Kak, ayo bermain petak umpet," usul Ibay.
"Kau yang jaga," sahut Gisella dan Mia bersamaan, kemudian keduanya tersenyum.
Pria kecil itu mengerucutkan bibirnya. "Baiklah, aku yang jaga. Aku hitung, ya, satu.." ia mulai berbalik menutup mata dengan kedua tangan.
Gisella dan Mia mulai mencari tempat bersembunyi, di balik tumbuhan yang mempunyai dahan lumayan tinggi.
"... Sepuluh, aku datang..." teriak Ibay mulai mencari keberadaan Gisella juga Mia.
Gisella juga Mia sengaja berpindah-pindah tempat agar tidak ditemukan Ibay. Cukup lama Ibay mencari namun tak kunjung ketemu.
"Kak Isel... Kak Mia... Kalian dimana?"
"Hiks.. kak Isel..." Pria kecil itu mulai terisak saat tak kunjung menemukan sang kakak.
Gisella dan Mia terkejut mendengar Ibay yang terisak, keduanya segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hei, Kakak di sini, jangan menangis," ujar Gisella mengendong tubuh mungil Ibay.
"Aku pikir Kak Isel akan pergi meninggalkanku sendirian, aku takut,” Ibay menyesakkan kepala di cerukan leher Gisella.
"Anak jantan nggak boleh nangis, dong," goda Mia mengelus kepala Ibay.
Ibay menarik diri, menatap wajah Gisella dengan linangan airmata. "Janji, Kak Isel enggak akan pergi lagi, aku mau sama Kak Isel aja."
Gisella tersenyum. "Kakak janji, akan menemani Ibay terus."
"Janji?"
Gisella mengangguk.
Ibay kembali memeluk leher Gisella. Sedangkan Gisella saling tatap dengan Mia dan tersenyum.
"Bagaimana kalau kita sekarang bermain ayunan, biar Kakak yang mendorong ayunannya," bujuk Gisella mengelus punggung Ibay.
"Iya, Kak, ayo," Ibay gegas turun dari gendongan Gisella dan berlari menuju ayunan.
Gisella tersenyum memperhatikan adiknya yang tampak senang, pernah terfikir olehnya bahwa tidak akan bisa bertemu dengan adik kesayangannya lagi. Tapi nyatanya sekarang ia bisa melihat wajah menggemaskan dari adiknya.
"Ayo kita susul Ibay," ajak Mia melihat Gisella yang terdiam.
Gisella menoleh. "Ayo."
.
.
.