
Eps. 28
å
Sekian lama ditunggu, akhirnya hari itu Gisella sudah diperbolehkan pulang, sang dokter juga mengingatkannya untuk cek kondisi satu minggu lagi. Setelah berucap terimakasih Gisella dan Gaza pergi. Gaza menuntun Gisella keluar rumah sakit diikuti Leon di belakangnya dengan membawa beberapa perlengkapan milik Gisella. Juga nampak Brianna dan Ricko yang baru selesai dengan administrasi ikut bergabung untuk mengantarkan Gisella pulang.
"Aku bisa jalan sendiri," ujar Gisella menggerakkan tubuhnya untuk menjauh dari Gaza, jujur saja ia tidak nyaman berada sedekat itu dengan Gaza.
Gaza menatap lekat manik coklat di hadapannya. "Biarkan aku membantumu, Gisella," balasnya tak menyerah.
Gisella mengalihkan tatapannya dari intimidasi Gaza. "Aku bukan lumpuh yang harus dipapah olehmu," gumamnya pelan.
"Aku tidak memperlakukanmu seperti orang lumpuh. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu akan selamat dan baik-baik saja," cetus Gaza membela diri, ia melingkarkan tangan di pundak Gisella. "Atau perlu aku menggendongmu?" ancamnya.
Gisella terkesiap, menoleh cepat pada Gaza yang seketika membuat dahinya terantuk hidung bangir milik pria itu. "Auw.." ringisnya mengusap kening.
Sedangkan Gaza menahan geraman karena rasa ngilu di hidungnya.
Mendengar desisan dari Gaza membuat Gisella kembali tersentak. "Eh? Auw.." Gisella kembali meringis saat perutnya terasa nyeri, akibat ia terlonjak memundurkan langkahnya dengan cepat.
Gaza menarik tubuh Gisella serta melingkarkan tangannya pada pundak gadis itu. "Sudah ku bilang hati-hati,” nasehatnya.
"Kau tidak apa-apa, Gisella?" tanya Brianna nampak khawatir.
Gisella menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja," balasnya tersenyum. Ia mencuri tatap pada ujung hidung Gaza yang memerah. "Apa itu sakit?" tanyanya berupa bisikan.
Gaza menoleh, sebelah alisnya terangkat. "Apa?"
Gisella menunjuk hidungnya sendiri.
"Bukan masalah besar," ucap Gaza tersenyum.
*
Brianna dan juga Ricko nampak tercengang melihat tempat tinggal Gisella, sangat amat kecil, bagaimana mungkin gadis cantik itu berakhir di sana? Apa keluarganya sama sekali tidak memperdulikannya lagi seperti apa yang diceritakan sang nenek.
"Maaf kalau —"
"Tidak, tidak, jangan merasa tidak enak, seharusnya aku yang meminta maaf," potong Brianna seakan mengetahui apa yang hendak Gisella ucapkan mengenai tempat tinggalnya, meskipun sebenarnya Brianna cukup terenyuh. Ia memperhatikan Gisella yang tengah duduk di sebuah kursi plastik, Brianna membasahi bibirnya kemudian berkata, "Gisella, apa kau butuh tempat tinggal lain?" tanyanya hati-hati.
Gisella menoleh, menatap heran pada gadis itu.
Brianna merasa tak enak. "Maksudku, kau baru saja sembuh, dan kau juga sendirian di sini, aku punya kamar kosong di apartemen, kalau kau mau, kau bisa tinggal di sana, bersamaku," bujuknya memberi penawaran.
Gisella tersenyum. "Tidak perlu, Brianna, aku sudah cukup nyaman tinggal di sini. Lagipula aku sudah sembuh, kau tidak perlu khawatir," balasnya menenangkan.
"Kau yakin?"
Gisella mengangguk.
"Aku sudah memasukkan nomor ponselku di handphone-mu, kalau ada apa-apa ku harap kau mau menghubungiku," ujar Brianna lagi.
"Iya," balas Gisella tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
"Jaga dirimu, aku pamit, ya?” Brianna memeluk tubuh Gisella, mengelus punggungnya pelan.
"Hati-hati."
"Kak, aku pergi dulu," pamit Ricko menepuk pundak Gaza.
Gaza membalas dengan anggukan.
Setelah kepergian Ricko dan Brianna, tinggal Gaza dan Gisella yang berada di ruangan, sedangkan Leon sudah keluar setelah meletakkan tas perlengkapan milik Gisella.
"Aku setuju dengan ucapan Brianna, apa kamu yakin ingin tinggal di sini?"
Gisella yang tengah merapikan bajunya menoleh. "Ini rumahku, dan aku merasa nyaman berada di sini."
"Gisella —"
"Maaf karena sudah sering merepotkanmu, ke depannya aku tidak akan merepotkanmu lagi," cetus Gisella menyela kalimat Gaza.
Gaza terkesiap, mendudukkan dirinya di samping Gisella yang duduk di atas dipan kayu tempat tidur. "Apa yang kamu katakan, Gisella?"
Gisella menggeleng, menghindari tatapan intimidasi dari Gaza.
Gaza memutar tubuh Gisella agar menghadap ke arahnya, ia menghembuskan nafas pelan. "Jangan pernah berkata seperti itu lagi, sekarang istirahatlah," ia mengusap sisi kepala Gisella dan kemudian beranjak meninggalkan Gisella seorang diri.
...***...
Keesokan harinya, Gisella yang akan keluar kost menghentikan gerakan tangannya membuka pintu saat suara dari luar menyapa gendang telinganya. Bukan bermaksud menguping, tapi karena salah satu dari mereka menyebut namanya membuatnya penasaran.
"Iya, Jeng, kemarin aku lihat Gisell dibawa pulang sama beberapa orang. Sepertinya memang dia habis kecelakaan."
"Aku masih ingat dua pria di antaranya yang sering berkunjung kemari."
"Tidak tahu malu, ya, padahal Mbak Gisell itu cantik loh, tapi sukanya morotin pria kaya."
"Katanya dia juga yang membunuh adik tirinya."
Tubuh Gisella menegang mendengar kalimat itu lagi.
"Apa benar dia seperti itu? Aku jadi takut lho, Bu."
"Tidak tahu, Jeng, rumornya memang seperti itu."
Gisella memejamkan rapat kedua matanya, menghembuskan nafas panjang guna melepaskan sesak di dadanya. Saat ia membuka pintu lebar, seketika gerombolan ibu-ibu itu berhenti bicara, atau lebih tepatnya berhenti membicarakan tentang dirinya. Gisella mengangguk untuk menyapa para ibu-ibu tersebut tapi mereka justru membuang muka. Gisella hanya bisa tersenyum miris melihat respon mereka. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu. Masih sempat ia dengar cuitan tetangga itu saat ia bahkan mulai meninggalkan kediaman. Ia berniat untuk jalan-jalan guna melepas penat karena terus-terusan berada di rumah sakit, di saat ia merasa sudah cukup pulih ia ingin segera menghirup udara segar, dan memilih tanah lapang sebagai tujuannya, menyaksikan anak-anak yang tengah bermain sepak bola sudah cukup membuatnya tenang.
Gisella mengambil duduk di sebuah dipan bambu dengan pohon mangga sebagai peneduh, hingga kemudian seseorang memanggil namanya.
"Gisella."
Gisella menoleh dan terkejut melihat kehadiran Brianna. “Brianna?”
Gadis manis dengan dress putih motif bunga sakura itu tersenyum lebar. "Aku mencarimu, ternyata kau di sini,” ujarnya mengambil duduk di samping Gisella.
"Mencariku? Ada apa?"
"Bagaimana keadaanmu?"
Gisella mengangguk ragu. "Sudah lebih baik."
"Aku sengaja datang ke sini, aku ingin menemanimu, aku tahu pasti kau kesepian," gurau Brianna terkekeh.
Gisella tersenyum saja. "Jangan karena kau merasa berhutang budi padaku, lalu kau terus merasa bersalah."
"Bukan seperti itu." Brianna menghembuskan nafas panjang. "Saat kau koma aku sering bercerita memperkenalkan diri padamu, sudah aku katakan bahwa kita bisa berteman ketika kau sadar, dan sekarang aku akan melakukan apa yang aku katakan padamu.." ia menatap Gisella. ".. apa kau mau berteman denganku?" tanyanya.
Gisella terkesiap, entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan status pertemanan, jujur saja selama ini apa yang ia anggap teman tidak benar-benar tulus, hanya Mia yang kala itu menjadi sahabat juga saudaranya. "Maaf, tapi aku —"
"Apa karena aku sudah membuatmu terluka sebab menolongku, kau tidak ingin berteman denganku?" sela Brianna muram.
"Bukan, tidak, bukan begitu maksudku," sanggah Gisella cepat. Ia menghembuskan nafas pelan. "Hanya saja aku khawatir di kemudian hari akan mengecewakanmu," ungkapnya jujur. Karena memang ketakutan itu yang sering menghantuinya saat ingin berteman dengan orang lain. Takut jika ia melakukan hal buruk yang akan menimpa mereka yang berteman dengannya. Bahkan ketika di sekolah dulu, ia hanya tahu teman sekolahnya, selebihnya ia tidak ingin terlalu jauh mengenal atau berteman, dan ia juga tidak ingin ikut campur jika teman-temannya akan bercerita mengenai topik di luar sekolah, ia membisu dan menuli akan semua itu.
Brianna terenyuh mendengar penuturan Gisella, tapi ia bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin berteman dengan Gisella terlepas dari kecaman orang lain di luar sana yang mengatakan Gisella gadis pembawa sial dan sebagainya. “Kali ini aku memohon, aku ingin menjadi temanmu, sungguh,” ungkapnya meyakinkan.
Gisella dapat melihat setitik harapan pada kalimat dan tatapan gadis di hadapannya, dan itu membuatnya tidak kuasa menolak, apalagi Brianna gadis yang riang ditelisik ke belakang selama gadis itu mengunjunginya di rumah sakit, gadis itu pula yang hampir tiap hari menjenguknya serta membawakan buah. Gisella menarik nafas dalam kemudian berkata, “Baiklah, kita berteman,” putusnya kemudian berharap tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Kedua sudut bibir Brianna terangkat, ia memeluk tubuh Gisella. "Terimakasih."
Gisella mengangguk saja.
*
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Brianna memperhatikan perban yang masih melingkar di kepala Gisella.
Gisella menggeleng pelan. "Hanya sesekali terasa nyeri, kau tidak perlu khawatir."
Brianna mengangguk, menatap pada cakrawala yang semakin bersinar terang. "Mungkin rasa khawatirku tidak sebanding dengan apa yang Kak Gaza rasakan."
Gisella menoleh heran.
Brianna menatap Gisella. "Selama kau koma, Kak Gaza setia berada di sampingmu, bercerita semua hal padamu. Ia berpura-pura tegar di hadapan kami, meskipun sebenarnya ia yang paling menderita dan rapuh melihat keadaanmu saat itu,” jeda. "Setiap hari, disela pekerjaannya, ia akan hadir walau hanya sekedar bertanya kabar padamu. Bahkan saat Tante Hana mengatakan hal buruk tentangmu, dia tetap berusaha menjaga dan melindungimu. Aku tahu benar betapa takutnya Kak Gaza kehilanganmu, sangat jelas terlihat dari tatapan matanya. Saat itu aku yang paling merasa bersalah, karena aku, kau menjadi terluka, juga Kak Gaza," tuturnya.
Gisella terdiam mendengar cerita Brianna, ia cukup sadar akan perhatian Gaza selama ini padanya, juga kalimat cinta yang terus terngiang saat dirinya berada di alam bawah sadar, ia tahu bahwa itu suara Gaza. Terlebih pengakuan Gaza beberapa hari terakhir. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana, ia bingung harus bertindak seperti apa.
"Kak Gaza mencintaimu, Gisella, bahkan orang lain juga tahu itu." Brianna menggeser duduknya lebih dekat. "Apa dia pernah mengatakannya padamu?" selidiknya.
Gisella memalingkan wajah, menghindari tatapan menyelidik Brianna.
"Apa Kak Gaza pernah mengatakan kalau dia mencintaimu?" ulang Brianna memiringkan kepalanya.
"Aku.. tidak, aku tidak tahu," jawab Gisella gelagapan.
Brianna tersenyum geli. "Oke, aku rubah pertanyaannya,” ia berdehem. “Seandainya Kak Gaza mengatakan mencintaimu, apa yang akan kau katakan?" tanyanya mengangkat kedua alisnya.
Gisella terkesiap, menatap Brianna penuh dengan kerutan di dahinya. "Itu tidak akan —"
"Aku hanya mengatakan seandainya, Gisella, apa yang akan kau katakan?" sela Brianna menahan tawa. Gadis di hadapannya nampak malu mengakui, mungkin saja Kak Gaza memang sudah mengatakan isi hati namun Gisella belum memberikan jawaban, menyadari hal itu membuat Brianna kian mengulum senyum.
Gisella tampak gugup ditatap sedemikan lekat oleh Brianna. "Aku.. aku.. A-aku tidak tahu," jawabnya kemudian.
Tawa Brianna pecah, gadis di hadapannya sungguh polos, sikapnya yang malu-malu serta salah tingkah sangat lucu.
Gisella menatap heran pada Brianna yang tergelak.
Brianna berdehem. "Mau aku beri saran?" ucapnya.
"Apa?"
"Aku yakin suatu saat Kak Gaza akan mengatakannya, dan aku harap saat itu kau akan menjawab ‘aku juga mencintaimu’.”
Pupil mata Gisella membulat, tidak setuju dengan saran yang diberikan Brianna.
Brianna terkekeh, menepuk lengan Gisella pelan. "Jangan bohongi diri sendiri," nasehatnya.
Seketika Gisella mematung, apa mungkin selama ini ia berbohong pada diri sendiri? Pada perasaannya? Pada hatinya tentang seorang Gaza?
"Sudah siang, ayo balik," ajak Brianna yang sudah beranjak.
Gisella tersadar, ia mengangguk dan kemudian berjalan beriringan dengan Brianna menuju huniannya.
.
.
.