
Eps. 26
å
"Aku lelah."
Baru saja Gaza hendak membuka suara, pintu terbuka menampilkan sosok nenek Ely, Brianna, Ricko dan juga Hana.
Nenek Ely tersenyum menyambut Gisella yang kembali sadar. "Kau sudah sadar, cucu mantuku?"
Suara nenek Ely yang lembut menghangatkan hati Gisella, ia sangat terharu karena nenek Ely begitu menyayanginya. Ia mengangguk sebagai jawaban.
"Syukurlah.."
"Hai, Gisella, masih mengenalku?" Brianna menghampiri bed pasien.
Gisella nampak memperhatikan gadis di depannya, sepertinya ia pernah bertemu gadis itu, tapi dimana? "Bukankah kau gadis yang waktu itu? Bagaimana keadaanmu? Apa mereka menyakitimu?" tanyanya mengingat bahwa gadis di hadapannya adalah korban perampok yang ia tolong.
Pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis Gisella membuat kelimanya saling tatap karena terkejut, bagaimana mungkin gadis itu masih mengkhawatirkan orang lain sedangkan dirinya sendiri berada di ujung maut.
"A-ku baik-baik saja. Panggil saja Brianna," tanggap Brianna kikuk.
Gisella tersenyum. "Syukurlah.."
"Bagaimana mungkin kamu masih bisa mengkhawatirkan kondisi orang lain sedangkan kamu sendiri tengah berbaring di sini dengan keadaan yang belum bisa di bilang baik-baik saja,” protes Gaza tak habis pikir dengan pemikiran gadis bermata coklat hazel itu.
Gisella bergeming, tidak ingin menjawab pertanyaan bernada protesan dari Gaza. Ia menoleh pada nenek Ely yang duduk di sampingnya. "Nek, apa aku boleh menganggap Nenek sebagai Nenekku sendiri?" tanyanya hati-hati, bahkan ia harus menggigit bibirnya karena terlalu gugup.
Nenek Ely tampak terkejut, detik berikutnya ia tersenyum. "Tentu saja, kau adalah cucu mantuku, sudah pasti kau juga akan menjadi cucuku," balasnya menyentuhnya lengan Gisella.
Gisella tersenyum tipis, ia membasahi bibirnya. "Nek, sebenarnya aku dan Gaza tidak pernah mempunyai hubungan khusus, kami berdua bukan sepasang kekasih. Kami hanya membuat kesepakatan selama satu bulan, aku sudah berbohong padamu, Nek. Maafkan aku. Apa Nenek akan membenciku?" ungkapnya dengan kelopak mata yang menggenang, ia khawatir jika nenek Ely akan membencinya seperti halnya nenek kandungnya.
Gaza terkesiap dengan kejujuran yang Gisella ungkapkan, kenapa gadis itu mengatakan kebenarannya? Meskipun pada kenyataannya neneknya sudah mengetahui semuanya.
Hana juga nampak terkejut dengan pernyataan Gisella. ‘Mereka berdua tidak benar-benar berpacaran? Hanya kekasih pura-pura?’
Nenek Ely mengelus lengan Gisella. "Nenek sudah tahu kalau kau dipaksa untuk menjadi kekasih pura-pura oleh Gaza." Ia melirik sekilas pada Gaza yang juga tengah menatap protes padanya. "Nenek tidak akan membencimu, Sayang. Tapi, dengan satu syarat." Jeda. "Kau harus menjadi cucuku. Meskipun pada akhirnya kau tidak bersama Gaza, tapi kau tetap harus menganggapku sebagai Nenekmu. Jangan pernah menolak untuk datang makan malam di rumahku," imbuhnya.
Gaza menatap protes pada sang nenek yang mengatakan tidak akan bersama dengannya.
Gisella mengangguk dengan lelehan kristal bening yang mengalir di pipinya. "Terimakasih, Nek, aku pasti akan datang saat Nenek mengundangku makan bersama," ucapnya menyentuh jemari nenek Ely, ia sangat senang dan terharu bahwa nenek Ely tidak membencinya karena kebohongan yang ia lakukan.
Nenek Ely menunduk dan memeluk tubuh Gisella. "Sama-sama, Sayang," balasnya.
"Aku takut Nenek akan membenciku saat tahu kebenarannya," bisik Gisella terisak.
"Nenek tidak akan membencimu."
Cukup lama keharuan itu mereda, hingga tatapan Gisella menangkap satu orang asing yang berada di dalam ruangan, seorang pria yang tingginya tak beda jauh dengan Gaza. Sepertinya ia juga terkejut melihat kehadiran Hana.
"Dia Ricko, tunanganku, adik kandungnya Kak Gaza," ujar Brianna menyadari arah tatap Gisella.
"Terimakasih atas bantuanmu pada Brianna, aku sangat berterimakasih untuk itu. Kalau tidak ada kau di sana, entah apa yang akan Brianna alami," ucap Ricko tulus.
Gisella tersenyum kecil. "Sama-sama."
Kemudian ruangan kembali sunyi seakan menantikan satu orang yang sedari tadi belum mengeluarkan suaranya.
Hana menyadari bahwa semua orang tengah menunggunya untuk bersuara, tapi ia juga bingung harus mengatakan apa, karena jujur saja ia merasa terenyuh sejak Gisella menanyakan keadaan calon menantunya, ia merasa selama ini telah salah menilai gadis itu. "Terimakasih, kau sudah menolong Brianna." Hanya itu kalimat yang ia ucapkan, selebihnya ruangan kembali sunyi setelah Gisella mengangguk sebagai balasan.
...***...
Malam harinya Gisella merasa gelisah di dalam tidurnya, lagi-lagi ia mendengar suara itu lagi, suara yang sangat familiar di telinganya.
"Aku mencintaimu, kembalilah. Aku sungguh mencintaimu, Gisella."
Gaza terbangun dari tidurnya saat merasakan gerakan di jemarinya. 'Mungkin dia mengalami mimpi buruk lagi,' bathin Gaza memperhatikan Gisella yang terlelap. Ia beranjak dan mengusap peluh di dahi Gisella serta memberikan kecupan kecil di sana. "Jangan takut. Aku di sini, aku akan melindungimu," bisiknya menguatkan.
Dalam tidur pura-puranya, Gisella terkejut merasakan sesuatu yang lembab menyentuh keningnya. Ia juga merasakan nafas Gaza menyentuh kulitnya.
Gaza tersenyum memperhatikan kulit wajah Gisella yang kini sudah lebih cerah tidak pucat seperti mayat, ia amat sangat lega menyadari Gisellanya kembali. Tanpa sadar jemarinya mengelus sebelah pipi Gisella yang nampak tirus, hingga tatapannya berhenti di bibir tipis Gisella serta tahi lalat di ujung bibir gadis itu. “Kamu cantik, Gisella. I love you,” bisiknya mengikis jarak.
Gisella nampak gelisah dan khawatir sejak jemari Gaza menyentuh kulitnya, alirah darahnya berpompa dengan cepat mengalirkan sensasi hangat di seluruh tubuhnya, ia takut jika darah itu akan mengumpul di wajahnya dan akan membuatnya merona, dan tentu saja ia khawatir jika Gaza menyadari hal itu serta mengetahui ia tidur pura-pura.
Hampir saja Gaza menyatukan bibirnya dengan bibir Gisella saat mendengar suara detakan jantung di layar monitor. Ia memperhatikan layar monitor yang menampilkan garis tak beraturan, kemudian kembali menatap gadis di depannya, ujung bibirnya membentuk senyuman lebar. Ternyata gadis itu tidak benar-benar tidur, ia ingin melihat apakah Gisella akan tetap melanjutkan tidur pura-pura atau akan membuka mata. "Apa kamu akan terus pura-pura tertidur, hm?" ujar Gaza mengulum senyum.
Gisella mengintip dengan sebelah mata, detik berikutnya kedua netranya membola menyadari Gaza berada tepat di depan wajahnya, ah, sepertinya ia juga menahan nafas.
"Kenapa pura-pura tidur, hm?" tanya Gaza lagi, masih di posisi yang sama.
Gisella memalingkan wajah saat merasakan suhu wajahnya yang menghangat. Ia juga menggigit bibir bawahnya karena gugup.
Gaza mengulum senyum, menarik diri untuk duduk di kursi, sedangkan Gisella diam-diam menghembuskan nafas.
"Kenapa kau di sini?" Jangan harap suara Gisella terkesan judes. Sama sekali tidak. Pertanyaan itu terkesan halus dan lembut.
Gaza melipat kakinya, menumpu sikunya dan menopang wajahnya menatap Gisella. "Menunggumu," jawabnya enteng.
"Kau tidak perlu menungguku, sebaiknya kau pulang, bukankah besok kau harus bekerja?" Lagi. Intonasi nada suara Gisella terdengar sangat halus.
Gaza tersenyum lebar.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Terlalu lama kamu tertidur sehingga tidak sadar hari. Asal kamu tahu kalau kemarin adalah hari Sabtu, setelah hari Sabtu adalah hari Minggu." Gaza tersenyum memperhatikan kerutan di dahi Gisella. "Dan harus kamu ketahui bahwa sekarang sudah jam tiga pagi, itu artinya sudah masuk hari Minggu," imbuhnya melirik jam di pergelangan tangannya.
Gisella memainkan bibirnya, merasa bodoh karena pertanyaan konyol yang ia lontarkan.
"Kamu ingin makan sesuatu?"
Gisella terkesiap mendengar kata 'kamu' yang Gaza ucapkan padanya. "Berapa lama lagi aku bisa pulang?" tanyanya mengalihkan topik, karena sejujurnya ia tidak nyaman berada di rumah sakit, apalagi dengan Gaza yang terus menunggunya. Ia takut, takut perhatian Gaza menimbulkan banyak masalah baginya, juga untuk hatinya.
"Kamu baru sadar, Gisella, kenapa kamu memikirkan untuk pulang?" protes Gaza tak habis pikir. "Setidaknya pikirkan perasaan orang lain yang mengkhawatirkan keadaanmu," imbuhnya.
"Aku.. aku ikhlas menolong Brianna, meskipun n—"
"Dan aku tidak akan membiarkan kamu merelakan nyawamu untuk orang lain," potong Gaza tegas. Ia beranjak dari kursi, menatap Gisella dengan sorot yang tidak bisa Gisella artikan.
"Ke-kenapa?" tanya Gisella gugup.
"Karena aku.." Gaza menatap lekat kedua netra indah berwarna coklat hazel itu, keindahannya membuat Gaza terpesona.
Sedangkan Gisella merasakan degupan jantungnya kian membara, menyebabkan suara monitor kembali menjadi pengiring kesunyian ruangan.
"...mencintaimu." Bisa Gaza lihat kedua netra itu nampak membulat karena terkejut. Namun tidak bisa Gaza hindari lagi, ia sungguh mencintai gadis di hadapannya. Perlahan Gaza mendekat, mengecup pelan dan dalam kening Gisella.
Tubuh Gisella nampak memaku, bahkan ia harus menahan nafas beberapa detik saat merasakan benda lembab itu kembali menyentuh kulitnya, seakan kehangatan menjalar di tubuhnya.
Gaza menarik diri. "I love you, Gisella," ungkapnya sungguh-sungguh.
Kedua netra indah itu terbuka, lagi-lagi terkejut mendengar pernyataan cinta dari pria tampan di hadapannya. Sudahkah pernah ia ungkapkan kalau Gaza tampan? Memang begitulah kenyataannya.
Keduanya terlibat saling tatap, saling mengagumi keindahan yang tercipta. Fokus Gaza tertuju pada tahi lalat kecil di ujung bibir Gisella yang mampu membuat gejolak di dalam dadanya membuncah. Juga Gisella yang fokus pada tahi lalat di ujung hidung Gaza juga luka parut di sisi kepalanya, membuat pria itu manis dan tegas dalam satu waktu.
.
.
.