Beside You (End)

Beside You (End)
34. YANG SESUNGGUHNYA



Eps. 34


å


Terhitung sudah tiga hari Gaza tidak mengunjungi Gisella di apartemen. Sebenarnya bukan masalah bagi Gisella, karena ia tahu bahwa Gaza tengah disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk.


Apakah Gisella merasa rindu?


Entahlah, ia tidak tahu, apakah pantas merindukan pria itu, walaupun kenyataannya memang iya.


Hampir setiap hari yang Gisella lakukan hanya berdiam diri memperhatikan asisten rumah tangga yang membersihkan setiap sudut ruangan. Wati akan menolak saat ia mencoba membantu. Hanya memasak yang Gisella lakukan sendiri karena menolak tegas bantuan dari wanita itu. Sejujurnya ia ingin mengatakan pada Gaza tidak perlu meminta jasa asisten rumah tangga atau siapapun untuk membersihkan apartemen, karena ia sendiri masih sanggup melakukannya, tapi, Gisella tidak seberani itu untuk bersua.


"Bi Wati sudah berapa tahun kerja di sini?" Gisella memperhatikan Wati yang mengelap perabotan.


"Sudah lima tahun sejak Tuan membeli apartemen ini, Non."


"Dari awal Bibi sudah bekerja untuk Gaza?"


Wati mengangguk. "Waktu itu saya tidak sengaja bertemu Tuan, saya sedang kepepet keuangan. Dan Alhamdulillah Tuan Gaza memberi saya pekerjaan, beliau mengatakan baru membeli apartemen beberapa bulan yang lalu," terangnya tersenyum mengingat kebaikan Gaza padanya.


Satu lagi yang membuat Gisella enggan memberhentikan Wati. Wanita paruh baya itu sangat membutuhkan pekerjaannya, tidak mungkin Gisella tega membiarkan Wati kesulitan mencari pekerjaan jika seandainya ia meminta Gaza memberhentikan Wati karena ia sendiri sanggup membersihkan apartemen.


"Tuan sangat baik sama saya. Sebisa mungkin saya juga berlaku sebaliknya padanya, meskipun hanya sebagai tukang bersih-bersih," tutur Wati tersenyum.


Gisella menyetujui apa yang Wati utarakan, Gaza memang pria yang baik, ia akui itu.


"Oh, iya, Non. Selama saya bekerja untuk Tuan, baru pertama kalinya Tuan membawa wanita ke sini," tutur Wati lagi.


Punggung Gisella menegak. "Bibi yakin?"


Wati mengangguk tegas. "Benar, Non. Cuma Non wanita yang pernah Tuan kenalkan sama Bibi."


Gisella terdiam. Teringat bahwa Gaza tidak hanya mempunyai apartemen, pria itu masih mempunyai penthouse mewah yang pernah ia kunjungi saat membuat kejutan ulangtahun untuk pria itu. Mungkin saja dulu Mia pernah diajaknya ke sana.


"Bibi jadi seneng ada temen ngobrol," imbuh Wati terkekeh.


Gisella tersenyum saja.


"Kata Tuan, beliau jarang ke sini karena letak apartemen yang jauh dari kantor baru. Dulu sebelum pindah kantor beliau sering menginap di sini," ungkap Wati lagi.


"Bibi mengenal keluarganya Gaza juga?"


Wati menggeleng. "Belum pernah lihat, Non."


Gisella membulatkan mulutnya. Ia membuka ponselnya, menyadari tanggal dan bulan yang mengingatkannya akan sesuatu. Ia beranjak. Keluar dari kamar, Gisella sudah berganti pakaian dengan tunik panjang juga celana berbahan satin berwarna hitam, begitu pula pashmina panjang dengan warna senada. "Bi, aku keluar sebentar, ya?" pamitnya pada Wati.


"Non mau ke makam?" tebak Wati melihat penampilan Gisella serba hitam.


Gisella mengangguk.


"Hati-hati, Non."


...***


...


"Gisella dimana, Bi?" tanya Gaza yang baru saja tiba di apartemen.


"Non Gisell ke pemakaman, Tuan."


Sebelah alis Gaza terangkat, ia mengecek tanggal pada smart watchnya. Kemudian berbalik dan keluar tanpa sepatah kata.


Gaza mengendarai mobilnya menuju pemakaman dimana Gisella ada di sana, dimana lagi kalau bukan pemakaman Mia. Hampir saja ia melupakan bahwa hari itu adalah hari kematian Mia. Ia menekan gas lebih kuat untuk segera sampai di tempat tujuan.


Sudah Gaza tebak kalau Gisella ada di sana, tengah berdoa untuk mendiang Mia. Ia segera menghampiri, memperhatikan Gisella yang tengah khusyuk berdoa dengan mata tertutup. Gaza ikut duduk dan mulai berdoa.


"Amin," gumam Gisella pelan, saat netra coklat hazelnya terbuka, ia tersentak melihat kehadiran Gaza di hadapannya.


Gaza membuka matanya ketika usai berdoa, tersenyum kecil menyadari keterkejutan Gisella. "Kenapa tidak menungguku? Hm?" tanyanya.


Gisella mengalihkan tatapannya. "Aku takut mengganggumu," balasnya pelan.


"Sudah selesai berdoa?"


Gisella menoleh dan mengangguk.


"Kita kembali?"


Gisella kembali mengangguk.


"Kau sering mengunjungi makam Mia?" tanya Gisella seraya berjalan beriringan dengan Gaza.


Gaza menggeleng. "Hanya sesekali saja. Bahkan aku melupakan hari ini."


Gisella menyernyit.


"Bi Wati yang memberitahuku kalau kamu ke pemakaman, setelah mengecek tanggal aku baru ingat," ungkap Gaza mengerti kebingungan di wajah Gisella.


"Nenek mengadakan makan malam, dan memintaku menjemputmu."


Di dalam mobil, Gaza menghentikan kendaraannya sejenak guna menerima panggilan telepon.


"Aku angkat telepon dulu," ujar Gaza diangguki Gisella.


Sementara Gaza menerima telepon membahas pekerjaan, Gisella memperhatikan pemandangan jalan yang tidak begitu ramai, atau mungkin cenderung sepi karena lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota. Ia menoleh pada Gaza, memberi isyarat kalau ia ingin keluar mencari udara segar, dan Gaza mengizinkan.


Gisella berjalan ke sebuah pohon yang entah apa namanya ia tidak tahu, pohon itu mempunyai daun yang mirip kupu-kupu dengan bunga berwarna pink. Dulu ia dan Mia sering menyebut pohon daun kupu-kupu. Hingga ingatannya berputar pada seorang laki-laki yang pernah ia tolong tepat di tempatnya berdiri.


"Ada apa?" tanya Gaza menghampiri.


Gisella menoleh. "Tidak ada, hanya saja dulu aku sering bersepeda hingga ke sini bersama Mia."


Kening Gaza mengerut melihat pohon di sebelah kirinya, ia teringat sesuatu dengan tempat itu.


"Aku ingat dulu pernah menolong laki-laki terjatuh di tempat ini," kenang Gisella.


Gaza menegang. "Apa dia anak SMA?" tanyanya memastikan.


Gisella mengangguk, nampak mengingat-ingat. "Iya, di sini, dia terluka parah di lututnya, tidak ada satu orangpun yang melintas."


"Kamu mengingat pria itu?" tanya Gaza lagi.


Gisella menggeleng. "Saat itu aku masih SMP. Hanya saja dia menggunakan seragam SMA."


Jantung Gaza tiba-tiba berdegup kencang. "Bisa kamu ceritakan kejadiannya?"


Meskipun nampak heran dan bingung, tapi Gisella tetap bercerita, menggali lebih dalam ingatannya. "Waktu itu aku baru pulang sekolah, Mama dan Papa tidak ada dirumah, aku dan Mia memutuskan bersepeda hingga ke sini. Kemudian kami melihat seorang siswa SMA tergeletak di sini." Tunjuknya pada aspal. "Mia ketakutan melihat darah dan berlari. Karena aku tidak tega, aku mencoba membantunya, menghentikan darah yang mengalir dari lututnya, karena aku takut laki-laki itu akan mati kehabisan darah."


"Kamu yang memberikan perban kain pada siswa itu?" cetus Gaza dengan degupan jantung yang kian membara.


Gisella mengangguk. "Iya."


"Tapi, kenapa terdapat nama Mia dalam kain perban itu?"


Kening Gisella mengerut. "Oh, itu. Mama membelikan aku dan Mia bando kain panjang dengan ukiran nama kita berdua. Tapi, Mia penyuka warna pink sering di olok-olok teman-teman di sekolah. Itu sebabnya kita tukeran. Mia mengambil punyaku dan aku mengambil punya Mia," terangnya tersenyum mengingat bagaimana Mia yang merajuk akibat candaan teman sekolahnya.


"Tapi, kenapa bukan kamu yang ada di sini saat siswa itu sadar? Bukan kamu yang siswa itu lihat pertama kali."


Gisella nampak kebingungan. "Setelah membalut lukanya aku mengerjar Mia yang berdiri di sana." Tunjuknya pada satu sudut. "Memintanya menunggu siswa itu sementara aku mencari bantuan."


Kedua bola mata legam itu melebar.


"Tunggu dulu. Kenapa..?" kalimat Gisella mengambang.


Gaza mengangguk. "Siswa itu aku," ungkapnya membuat Gisella terkejut. Ia melipat ujung celananya, memperlihatkan lututnya yang terdapat bekas luka. "Ini luka waktu itu," tunjuknya. Gaza berlari menuju mobil mengambil sesuatu dalam dashboard. Membiarkan Gisella mematung di tempat.


"Ini milikmu?" tanya Gaza menyerahkan kain berwarna pink di depan Gisella.


Gisella menerimanya, mencari nama Mia yang ada di sudut kain. Kain yang sama yang pernah ia lihat dalam kamar apartemen Gaza, yang belum sempat ia tanyakan kenapa kain miliknya ada pada pria itu. Ia mengangguk.


Gaza tersenyum lebar, menarik tubuh Gisella dan memeluknya. "Akhirnya aku menemukanmu," bisiknya, memeluk erat tubuh Gisella yang membeku, belum mengerti apa yang terjadi. "Selama bertahun-tahun aku mencarimu, akhirnya aku menemukanmu."


Gisella menarik diri, membuat Gaza merasa kehilangan. "Aku tidak mengerti."


Senyuman Gaza kembali terukir. "Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi, aku selalu mencari pemilik kain ini selama bertahun-tahun, aku jatuh cinta karena pertolongannya yang telah membantuku selamat dari maut. Aku meminta bantuan Mama untuk mencari pemilik kain ini. Hingga beberapa tahun kemudian aku mengetahui bahwa Mia pemilik kain ini, itu sebabnya aku menyetujui perjodohannya. Tapi sekarang aku tahu kalau kamu yang sebenarnya aku cari selama ini," ungkapnya berbinar.


Gisella bergeming, terkejut akan pengakuan Gaza.


"Maafkan aku karena terlalu lama menemukanmu, Gisella," aku Gaza kembali membawa tubuh Gisella ke dalam pelukannya. "Jika bukan karena pertolonganmu, mungkin saat ini aku tidak bisa berada di tempat yang sama denganmu," ucapnya lagi, menciumi puncak kepala Gisella. Teringat perbuatan buruk yang ia lakukan pada Gisella, Gaza semakin erat memeluk tubuh gadis itu. "Maafkan aku, seandainya aku menyadarinya lebih awal, kamu tidak akan mengalami hal buruk," sesalnya.


Gisella bingung, tidak tahu apa yang harus diucapkan, kenyataan yang baru saja ia dengar membuatnya benar-benar terkejut. Gaza adalah siswa SMA korban kecelakaan yang ia tolong beberapa tahun yang lalu? Kenapa dunia bisa sesempit itu?


Gaza membingkai wajah Gisella yang terdiam. "Katakan sesuatu," pintanya dengan sorot mata yang bersinar.


Gisella menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, ini terlalu mengejutkan," jawabnya jujur.


Gaza tersenyum, menciumi permukaan wajah Gisella mulai kening, mata, hidung, pipi, bibir dan dagu. Ia amat sangat bahagia. "Terimakasih, Gisella," ucapnya sungguh-sungguh. Lalu, apakah Gaza menyesal pernah mencintai orang yang salah? --sebut saja Mia. Tentu saja tidak. Ia tidak pernah menyesali pernah mencintai Mia, meskipun dulu ia belum sempat menanyakan kebenaran tentang kejadian itu pada Mia karena Mia telah lebih dulu meninggalkannya.


"Ga?" ucap Gisella dengan sorot keraguan.


Gaza menggeleng, kembali membingkai wajah Gisella. "Aku tidak menyesal pernah mencintai Mia. Dan cintaku padamu mulai detik ini akan terus bertambah, tidak peduli jika seandainya bukan kamu yang menyelamatkan aku saat itu, aku akan tetap mencintaimu, Gisella. Saat ini dan selamanya."


Gisella merasakan kelopak matanya memanas. "Aku takut tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu, Ga. Kau terlalu sempurna," satu bulir air mata jatuh di pipi Gisella.


Gaza mengusap pipi Gisella, mengecup kedua kelopak mata indah itu. "Kamu sempurna, bagiku kamu sempurna, Gisella. Izinkan hanya aku yang akan memiliki kesempurnaanmu."


Luruh sudah pertahanan Gisella, airmatanya tumpah dalam dekapan hangat dada bidang Gaza. "Aku mencintaimu," gumamnya tanpa suara.


.


.


.