
Eps. 6
å
Gisella sudah kembali dengan pekerjaannya menjual koran di pagi hari juga menjadi tukang gosok di siang dan sore hari. Beruntung obat yang diberikan Mattew sangat manjur sehingga mampu menyembuhkan penyakitnya dengan cepat. Didukung makanan bergizi yang diberikan tuan misterius untuknya.
Cukup lama ia berbaring karena sakit, ia sudah kehilangan banyak waktu dan uang. Kini Gisella harus lebih giat lagi untuk menawarkan koran pada pengendara yang melintas agar uang yang didapatkan semakin banyak.
Sebentar lagi tanggal jatuh tempo untuk membayar uang kostnya, sedangkan ia hanya punya sedikit uang. Maka kali ini ia harus mengganti seminggu harinya yang digunakan untuk berbaring di kasur.
Gaza tersenyum saat sudah melihat Gisella kembali berjualan koran pagi itu, ia bersyukur karena gadis itu sudah sembuh.
"Sepertinya Nona Gisella sudah sembuh, Tuan," ujar Leon yang juga tengah memperhatikan gadis itu.
"Hm," tanggap Gaza seadanya, dalam hati ia benar-benar bersyukur.
"Apa anda akan mengunjunginya sore ini, Tuan?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Menurut penuturan orang suruhan kita, Nona Gisella akan kembali dari laundry pukul lima sore, Tuan. Dan sepertinya Nona Gisella tengah dalam masalah keuangan saat ini," terang Leon sesekali melirik Gaza dari kaca spion.
Gaza mengangguk. "Kalau begitu katakan pada Nenek aku akan membawanya ke sana malam ini."
Leon mengangguk. "Baik, Tuan."
...***...
Gisella baru saja pulang dari laundry, tubuhnya benar-benar lelah dan letih, ia memutuskan untuk mandi dan kemudian merebahkan diri di kasurnya.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja matanya ingin terpejam, suara ketukan pintu mengejutkannya.
Tok! Tok! Tok!
"Iya, sebentar," ucap Gisella beranjak dari posisinya.
Saat pintu terbuka, lagi-lagi ia melihat dua pria tampan berada di sana, kali ini ia bisa mengenali keduanya. Yang pertama adalah Leon, pria yang kemarin mengunjunginya dengan Dokter Mattew serta membawakan makanan. Dan yang kedua adalah pria yang ia temui saat di rumah sakit jiwa. Gisella ingat pria itu, karena tahi lalat kecil yang berada di ujung hidung bangirnya, juga luka parut kecil di sisi pelipisnya, seperti yang pernah ia temui di rumah sakit. "Em, cari siapa, ya?"
"Ada yang harus aku bicarakan denganmu," ujar Gaza memasukkan tangan kiri ke dalam saku celananya.
Kening Gisella mengerut. "Denganku?" tanyanya memastikan.
Gaza mengangguk. "Ini penting."
Gisella terdiam untuk beberapa saat. Kepalanya sedikit miring ke kiri, ternyata lagi-lagi para tetangga sedang berbisik-bisik menguping memperhatikan dua pria sebagai tamu tak di undangnya. "Silahkan masuk," ucapnya kemudian. Ia merasa tidak enak menjadi pusat perhatian tetangganya. Lagi.
Gaza memberikan isyarat pada Leon, setelahnya ia masuk ke dalam kamar kost Gisella. Netranya menelisik ruangan, hanya ada ranjang tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang, meja kecil di bagian atasnya, serta satu ruangan lagi yang diyakini Gaza adalah kamar mandi. Bahkan sepertinya kamar itu lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran kamar mandi di rumahnya. Tapi meskipun begitu ruangan itu tampak rapi. Rapi karena tidak ada perabot apapun di sana.
"Em, maaf kalau tidak mempersilahkan untuk duduk," sesal Gisella karena tidak mempunyai kursi di dalam kamar kostnya.
Tatapan Gaza memutar ke arah Gisella. "Tidak apa-apa," balasnya. Ia berdehem. "Sebelumnya perkenalkan, aku Gaza," imbuhnya mengulurkan tangan.
Gisella menjabat tangan Gaza. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Kemudian matanya melebar. "Kau Gaza? Calon suami Mia?" tebaknya tak yakin.
Gaza mengangguk.
Gisella menunduk. "Apa yang akan kau tanyakan? Ada hubungannya dengan Mia?"
"Bukan."
Kepala Gisella mendongak. "Lalu?"
Gaza menyenderkan punggungnya ke dinding, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kau ingat Dokter Mattew?" tanyanya menatap gadis yang berdiri di depannya.
Gisella mengangguk.
"Dia Dokter pribadi keluargaku."
Kedua mata Gisella mengerjap. "Apa kau yang meminta Leon dan Dokter Mattew memeriksaku kemarin?" tanyanya memastikan.
Gaza mengangguk.
"Jangan formal begitu, panggil saja Gaza," pinta Gaza.
Gisella mengangguk ragu.
"Dokter Mattew menceritakan tentangmu pada Nenekku dan sepertinya beliau salah paham. Beliau memintaku membawamu ke rumahnya," tutur Gaza memperhatikan gadis di hadapannya yang tampak menegang.
"Untuk apa?" tanya Gisella menyernyit bingung.
Gaza menegakkan punggungnya. "Bertemu denganmu. Aku bisa saja menolak, tapi kalau aku menolak, beliau akan datang sendiri menemuimu. Dan itu bisa menjadi lebih buruk."
Gisella terkesiap. "Seberapa buruk?"
Gaza tersenyum tipis. "Bisakah kau menolongku, maukah kau bertemu dengan Nenekku? Serta menjadi kekasihku?"
Gisella tercengang dengan kedua bola mata yang melebar.
"Em, maksudku menjadi kekasih pura-pura." Gaza segera meralat kalimatnya.
"Kenapa?"
Gaza mengurut keningnya. "Nenekku berpikir kalau kau adalah kekasihku."
"Kenapa kita harus berpura-pura menjadi kekasih?"
Gaza menghela nafas. "Entah seberapa banyak Dokter itu menceritakan tentangmu, sehingga Nenekku berfikir bahwa kau adalah kekasihku. Nenek akan terus mencari tahu, atau bahkan mengusikku dan juga mengusikmu kalau aku katakan kau bukan kekasihku. Jadi lebih baik kalau aku katakan bahwa kau adalah kekasihku sehingga hidupmu dan juga hidupku akan tenang." Gaza memperhatikan wajah Gisella yang beberapa kali berubah ekspresi. "Hanya sebentar, satu bulan. Setelah itu kau bisa bebas dengan kehidupanmu, dan Nenekku tidak akan mengusikmu," imbuhnya memberikan penawaran.
"Apa arti dari kata 'mengusik' itu sesuatu yang berbahaya?" tanya Gisella memastikan.
Gaza tersenyum dan menggeleng. "Tidak, tapi kau akan menjadi risih jika di sekelilingmu tiba-tiba datang beberapa pria berpakaian hitam, dan setiap pergerakanmu ada yang mengikuti."
Kedua bola mata Gisella membulat. "Benarkah?"
"Ya. Dan aku tidak ingin mengulang untuk yang kedua kalinya," balas Gaza tersenyum.
Gisella bingung, apa ia harus menyetujui atau menolak.
"Sebagai gantinya, aku akan membayarmu," tutur Gaza memperhatikan kegelisahan Gisella.
Gisella menggeleng. "Bukan begitu, tapi aku takut. Kalau nantinya Nenekmu tahu kita berbohong bagaimana? Apa itu tidak akan menyakitinya?"
"Maka dari itu, aku meminta bantuanmu menjadi kekasih pura-pura selama satu bulan. Aku pastikan setelah satu bulan hidupmu akan kembali normal."
"Kenapa kau memilihku? Bukankah kau bisa meminta bantuan yang lain?"
Gaza menghembuskan nafas pelan. "Karena yang dilihat Mattew adalah dirimu, Nenekku akan tahu jika seandainya aku membawa wanita lain untuk menjadi dirimu."
Gisella benar-benar bingung, tangannya terulur untuk mengurut pelipisnya. Apa yang harus ia katakan? Satu sisi ia merasa kasihan dengan Gaza, biar bagaimanapun dulunya Gaza adalah calon suami Mia. Jika menolak permintaan Gaza, itu sama saja dengan menyakiti Mia. Tapi satu sisi ia tidak ingin melakukan atau membohongi orang lain, apalagi itu adalah orangtua, bagaimana kalau mereka berdua ketahuan hanya menjadi kekasih pura-pura? Di sisi lain, dirinya juga merasa punya hutang budi dengan Gaza, karena sudah membawakan dokter untuknya, dan juga telah membebaskan dirinya dari tuduhan pembunuhan Mia. Kepalanya mendongak menatap Gaza. "Aku tidak tahu. Apa aku bisa?" ucapnya ragu.
Gaza tersenyum. "Aku yakin kau bisa. Aku akan membayarmu sepadan dengan apa yang kau lakukan, Gisella, karena kau juga telah membantuku keluar dari masalah ini."
Ada lagi satu sisi yang dipikirkan Gisella, adalah dirinya yang memang benar sedang membutuhkan uang untuk saat ini. Dan ketika Gaza datang memberinya uang dengan dalih meminta bantuannya menjadi kekasih pura-pura, apa memang ini jalan yang ditunjukkan Tuhan untuknya. "Kapan kita bertemu dengan Nenekmu?" tanyanya kemudian.
Sebisa mungkin Gaza menyembunyikan rasa senangnya. "Malam ini."
Gisella terkejut. "Malam ini?"
Gaza mengangguk.
Gisella terdiam, apa memang ia harus melakukan ini? Menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku bersedia," putusnya final, berharap bahwa itu tidak akan membawa masalah untuknya di kemudian hari.
Gaza tersenyum lebar. "Bersiaplah, aku akan menunggumu di luar."
Gisella mengangguk.
Gaza keluar dari kamar kost Gisella dengan senyum yang terpatri di wajah tampannya. Membuat Leon yang menunggu di luar bisa menyimpulkan bahwa Nona Gisella menerima dan bersedia membantu Tuannya.
.
.
Tbc