Beside You (End)

Beside You (End)
16. TAWA MEMATIKAN



Eps. 16


å


Malam harinya Gaza benar-benar datang ke tempat kost Gisella untuk mengajaknya makan sate, sebenarnya Gisella merasa tak nyaman dengan tindakan Gaza yang sering datang ke tempat kostnya. Karena tak sedikit dari tetangga kostnya yang akan membicarakan dirinya juga Gaza, jujur saja dari pakaian yang dikenakan Gaza, postur tubuh juga wajahnya yang tampan menjadi santapan empuk bahan ghibah para tetangganya.


Gisella gegas mengunci pintu kostnya dan berjalan mendahului Gaza, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan tetangganya padanya, ia juga menghindari berjalan beriringan dengan Gaza. Saat tiba di mobil milik Gaza ia menyerahkan paper bag berisi ponsel pada Gaza. "Aku tidak bisa menerimanya," ucapnya.


Kening Gaza mengerut dalam. "Kenapa?"


"Aku tidak ingin berhutang budi padamu terlalu banyak," jawab Gisella jujur.


"Tapi Nenek —"


"Tidak apa, aku sudah menghubunginya kemarin."


"Dengan?"


"Ponsel baruku."


Gaza mengangguk, ia tahu kalau Gisella tidak mau menerima pemberiannya, bahkan gadis itu membeli ponsel sendiri.


*


Gisella merasa kerdil saat Gaza justru membawanya ke sebuah restoran bukannya pedangang kaki lima pinggir jalan, tatapan pengunjung tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Gisella artikan. Apa karena pakaiannya yang tergolong biasa saja? "Kenapa tidak makan di warung saja?" tanyanya memperhatikan beberapa orang yang menatap ke arahnya.


"Apa kau merasa tidak nyaman? Kita bisa pindah," tanggap Gaza menyadari kegelisahan gadis di hadapannya.


Gisella menggeleng. "Tidak, tidak perlu," tolaknya tak enak.


Gaza tahu bahwa Gisella tengah berbohong, terlihat dari rona wajah gadis itu yang tak seantusias sebelumnya ketika diajak memakan sate di pinggir jalan, Gisella nampak canggung dan gelisah. Apa ia salah memilih tempat?


Jujur saja Gisella merasa tak bisa menikmati makanan favoritnya itu dengan senang dan tenang, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya menyebabkan selera makanannya menurun. Mungkin karena lokasi yang tak seharusnya ia kunjungi, atau karena tatapan pengunjung yang seakan menolak kehadirannya. Teringat pertemuannya dengan Dini waktu itu, mantan ibu angkatnya itu menuduh dirinya telah merebut Gaza dari Mia, apa memang ia telah merebut Gaza dari adik angkatnya? Sepertinya setelah ini ia tidak bisa lagi bertemu Gaza, ia tidak ingin mantan ibu angkatnya salah paham.


Gisella mencuri tatap pada Gaza yang tengah mengunyah makanannya. "Ga," panggilnya.


Gaza mendongak. "Hm?"


Gisella menggigit bibir dalam. "Apa kau sudah memberitahu Nenekmu kalau kita sudah tidak bersama?" tanyanya hati-hati.


Kunyahan di mulut Gaza terhenti, ia meneguk minuman guna membantu makanan masuk ke dalam perutnya. “Kenapa?” tanyanya dengan tatapan lekat menghujam manik teduh coklat hazel di hadapannya.


Gisella melipat bibirnya. "Karena kontrak kita memang sudah selesai," jawabnya gugup.


Gaza bergeming, entah apa tujuan Gisella menanyakan hal itu, yang pasti ia tidak menyukai pertanyaan yang Gisella lontarkan. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban, walau sejujurnya ia tidak pernah mengatakan hal itu pada neneknya karena neneknya sudah lebih dulu tahu mengenai kebohongannya tentang kekasih pura-pura.


Gisella tersenyum tipis. Setidaknya ia tidak harus berurusan lagi dengan nenek Ely menyangkut Gaza, jadi tidak ada alasan lagi untuknya bertemu Gaza.


*


Selama perjalanan menuju tempat kost Gisella keduanya terdiam, walau sejujurnya Gaza tidak tahan dan ingin bersuara, berulang kali ia mencuri tatap gadis di sampingnya yang tengah muram. "Apa kau tidak nyaman dengan makan malam tadi?" akhirnya ia mampu membuka suara untuk menanyakan kegusarannya akan raut wajah Gisella yang mendung.


Gisella menoleh. "Tidak."


"Tapi aku merasa kau berbeda hari ini."


Gisella tercekat. "Mungkin hanya perasaanmu saja," balasnya kemudian. Ia membalik tubuhnya saat tiba di depan kost. "Terimakasih,” ucapnya tulus. “Setelah ini aku harap kita berdua tidak perlu saling bertemu.”


Kalimat Gisella sukses membuat Gaza tercengang. "Maksudmu?"


Gisella menunduk. "Maaf, aku berubah pikiran, aku tidak bisa menjawab telepon atau membalas pesan darimu," jawabnya berbalik hendak membuka pintu.


"Kenapa? Kenapa kita tidak bisa bertemu? Kenapa kau tidak mau menjawab telepon dariku?" tuntut Gaza tak terima.


"Maaf, itu yang terbaik," jawab Gisella pelan gegas membuka pintu dan menutupnya.


Gaza mengetuk pintu kost milik Gisella. "Gisella, katakan padaku apa yang terjadi?" tanyanya meninggikan volume suaranya. Namun ia tak mendapatkan jawaban apapun.


Gaza memperhatikan pintu kost yang dihuni seorang gadis yang tengah mengusik hati dan pikirannya. Kalimat terakhir gadis itu seakan berputar di kepalanya, ia tidak mengerti kenapa seorang Gisella ingin menjauh darinya, apa ia membuat kesalahan?


"Tuan." Leon datang dengan membawa paper bag berisi ponsel yang sebelumnya diberikan Gaza padanya.


"Pastikan Gisella menerimanya," ujar Gaza melenggang pergi meninggalkan Leon.


Leon nampak kebingungan dengan tingkah majikannya, ia meletakkan paper bag di bawah pintu kamar kost Gisella, dan gegas mengikuti majikannya yang sudah berjalan lebih dulu.


Gisella beranjak membuka pintu tapi tidak menemukan siapapun di sana, hanya sebuah paper bag yang sebelumnya ia berikan pada Gaza dan kini berada di depannya lagi. Ia gegas berlari untuk memastikan Gaza belum jauh, namun nyatanya bayangan pria itu sudah tidak terlihat. Gisella menghembuskan nafas panjang, membawa paper bag ke dalam kost.


...***...


Hari itu terlihat berbeda dari hari-hari sibuk biasanya, lalu lintas tak sepadat di hari aktif meskipun masih banyak pengendara yang melintas. Hal itu juga berlaku bagi anak-anak yang berniat diajar oleh Gisella, hari minggu cukup banyak anak yang hadir daripada hari biasanya.


Gisella tentu senang dengan antusias anak jalanan yang ingin belajar pendidikan dengannya, senyumnya tak jua luntur menyaksikan satu persatu anak didiknya yang semangat menulis dalam selembar kertas.


Tanpa diketahui di sebuah sudut terlihat seorang pria dewasa tengah memperhatikan apa yang Gisella lakukan pada anak-anak jalanan tersebut. Selama tiga hari Gaza tak bisa bertemu dengan Gisella karena tengah melakukan perjalanan bisnis, dan hari ini ia dikejutkan dengan Gisella yang mengajari anak jalanan belajar tentang pendidikan. Kedua ujung bibir Gaza terangkat menyaksikan ketulusan Gisella yang peduli akan nasib anak kurang beruntung itu. Ia merogoh saku celana dan menghubungi seseorang.


Setelah selesai dengan sambungan telepon Gaza bermaksud menghampiri. "Permisi anak-anak," sapanya renyah.


Gisella terdiam menyadari siapa pemilik suara itu, semakin terkejut saat membalik tubuh dan mendapati Gaza ada di hadapannya.


Gaza memperhatikan anak jalanan satu persatu. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya mengabaikan keterkejutan di wajah Gisella.


"Kita sedang belajar, Tuan. Kak Gisella yang mengajari kami," seorang gadis kecil menjawab dengan menunjuk pada Gisella.


"Tuan siapa?"


"Panggil saja Kak Gaza," jawab Gaza tersenyum.


"Kak Gaza ada perlu dengan kami?"


"Apa Kak Gaza adalah seorang dermawan yang akan memberikan kita makanan?"


"Apa Kak Gaza pacarnya Kak Gisella?" pertanyaan pria kecil berbaju hijau sukses menarik perhatian dari mereka semua.


Gisella terkesiap. "Bu —"


"Tidak,” sela Gaza tersenyum. “Kebetulan Kakak pernah bertemu dengan Kak Gisell, dan sekarang juga tidak sengaja bertemu," imbuhnya.


Leon datang dengan membawa beberapa paper bag. Awalnya ia bingung ketika mendapat tugas membeli peralatan sekolah, namun setelah melihat apa yang anak-anak jalanan itu lakukan dengan Gisella ia mulai mengerti.


"Kakak punya hadiah untuk kalian sudah yang rajin belajar, Kakak harap kalian menyukainya," ujar Gaza mengeluarkan isi dalam paper bag. Ada buku tulis, buku gambar, pensil, krayon, buku pengetahuan dan buku cerita.


Anak- anak itu tampak antusias.


"Wah.. banyak sekali.”


“Terimakasih, Kak," ujar mereka kompak.


"Jangan berebut, ya?" peringat Gisella saat anak-anak itu nampak antusias saling berebut pemberian dari Gaza. Ia menoleh pria di sampingnya. "Kenapa kau membelikan untuk mereka?" tanyanya.


Gaza tersenyum menyaksikan rona bahagia anak-anak itu. "Hanya ingin melihat mereka bisa merasakan layaknya bersekolah, dan sepertinya mereka sangat senang," balasnya tanpa mengalihkan tatapan.


Gisella tersenyum tipis. "Terimakasih. Sebenarnya aku masih mengumpulkan uang untuk membelikan mereka buku juga alat tulis. Tapi kau mendahuluiku."


Gaza menoleh, menatap wajah gadis di sampingnya yang nampak tersenyum memperhatikan anak-anak jalanan itu. "Aku hanya sedikit membantumu, tidak perlu berterimakasih,” tanggapnya. "Apa aku boleh membantumu untuk mengajari mereka?" tanyanya lagi.


Gisella terkesiap, terkejut dengan tawaran Gaza yang akan mengajari anak-anak. Namun tak lama kepalanya mengangguk pelan.


"Terimakasih," ucap Gaza beranjak menghampiri anak-anak berkumpul.


Gisella mengambil duduk disebuah batu memperhatikan Gaza yang tengah menerangkan sesuatu pada anak-anak dan juga menjawab pertanyaan yang dilontarkan mereka. Ia tersenyum karena sepertinya Gaza tak merasa terganggu dengan penampilan mereka yang tampak dekil dan kumuh.


Seorang gadis kecil menghampiri Gisella dengan membawa buku bergambar. "Kak, ini apa?" tanyanya.


Gisella menjelaskan nama hewan dalam bahasa Inggris.


Terlihat beberapa kali Gaza mencuri tatap pada Gisella yang tengah tertawa lepas. Ia terpesona dengan senyuman indah itu. Mata sipit dengan pipi yang cekung, suara tawa yang mengalun merdu di telinganya. Gaza merasakan detakan kuat di dalam dadanya menyaksikan tawa bahagia dari seorang gadis bernama Arindiana Gisella itu, karena nyatanya selama ini ia tidak pernah menyaksikan seorang Gisella tertawa lepas seperti itu.


"Kak, Kak Gaza."


Seruan seorang pria kecil mengembalikan keterpesonaan Gaza akan tawa renyah seorang Gisella. Ia menoleh. “Iya? Sampai dimana kita tadi?” tanyanya mencoba memfokuskan diri agar tak terpengaruh oleh tawa mematikan itu.


.


.


.