
Eps. 11
å
Hari minggu berikutnya Gisella sengaja pergi ke pasar untuk membeli keperluan sepulangnya dari tempat laundry, ia menaiki angkutan umum untuk sampai di pasar tradisional. Membeli beberapa bahan makanan, perlengkapan mandi, juga beberapa baju yang sedang di obral.
Biasanya ia akan pergi ke pasar bersama tetangga kostnya, tapi setelah kejadian datangnya Hana, —Ibunda dari Gaza. membuat para tetangga kostnya mulai menjauhinya, tidak lagi ada yang mau berbicara dengannya. Tapi tidak apa, ia sudah terbiasa dengan hal itu. Gisella cukup beruntung bahwa pemilik kost tidak mengusirnya karena rumor yang disebabkan Hana.
"Ojek, Neng?" tawar seorang tukang ojek yang mangkal di sekitar pasar.
Gisella menggeleng. "Tidak, Pak, terimakasih," tolaknya meneruskan langkah.
Selagi menunggu angkutan umum yang tidak juga datang, Gisella memilih untuk jalan kaki saja, karena biasanya menjelang sore angkutan akan penuh.
Selama perjalanan ingatan Gisella terpenuhi akan kenangan masa lalunya, ketika ia kecil, adiknya, juga Mia. Hanya saat-saat bahagia bersama mereka yang ingin ia ulang, tidak ingin mengingat kejadian buruk yang menimpa mereka. Hingga sebuah suara meminta tolong membuatnya terkesiap, tubuhnya memutar mencari asal suara. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar seiring dengan langkah kakinya yang mendekat. Mengintip dari balik tembok, kedua matanya melebar sempurna, bahkan kantong belanjaannya terjatuh saat melihat kejadian di depan sana, seorang gadis tengah ditarik paksa tangannya oleh dua orang pria. Ia teringat kalimat Gaza.
"Sebaiknya kau segera berbalik dan menghindar jika melihat hal seperti itu lagi."
Tapi mana mungkin ia membiarkan gadis itu sendirian, bagaimana jika kedua pria itu merencanakan pembunuhan terhadap gadis itu. Bagaimana jika apa yang terjadi pada Mia menimpa gadis itu.
Dengan tangan serta tubuh yang bergetar, Gisella menghembuskan nafas berulang-ulang. Tatapannya meluas guna mencari pertolongan, namun sayangnya tidak nampak satupun orang yang lewat di sekitar sana. Akhirnya ia bertekad untuk menolong gadis malang itu. 'Harus bisa,' bathinnya menguatkan diri. Ia harus bisa melawan traumanya, ia tidak ingin orang lain menerima hal buruk karena ia tidak bisa menolongnya, dan ia tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa karena traumanya. Sebisa mungkin ia harus melawan, meskipun nafasnya kini mulai memburu karena ketakutan.
"H-hei! Berhenti!" teriak Gisella dengan suara bergetar, tenggorokannya seperti tersumbat kerikil yang tajam.
Melihat kedua pria yang tak kunjung melepaskan sang gadis, Gisella berlari dengan membawa kantong plastiknya, melemparnya tepat mengenai tubuh sang pria.
"Brengsek!"
Tubuh Gisella menegang melihat tatapan membunuh dari pria itu, sedangkan sang gadis yang terjatuh di rerumputan nampak menangis meraung.
"Maling.. maling...!!" teriak Gisella keras, berusaha agar teriakannya mengundang banyak orang.
Kedua pria itu tertawa keras. "Teriak sekeras-kerasnya, gadis bodoh!" maki pria itu meludah.
Wajah Gisella nampak pias saat menyadari bahwa ia berada di belakang gudang entah apa, yang tidak ada satupun orang di sana. Tangannya segera meraih kerikil di bawah kakinya dan melempari dua pria itu. "Lari, ayo cepat lari," ucapnya pada gadis yang menjadi korban.
Gisella mendekat, menarik tangan sang gadis serta meraih tas sang gadis yang tergeletak, membalik badan dan gegas berlari. Namun kedua pria itu mengejar mereka dari belakang.
"Berhenti kalian!"
"Ayo cepat."
Gisella sekuat tenaga menahan debaran di dadanya yang seirama dengan tabuhan drum.
Bruk!
Tubuh Gisella tersungkur saat merasakan kepalanya yang di hantam sesuatu, seketika kepalanya pening.
"Hei, ayo bangun," ajak sang gadis mengguncang lengan Gisella.
Gisella meraba belakang kepalanya, nampak terlihat cairan merah kental di telapak tangannya.
"Astaga.. kau berdarah!" pekik sang gadis ketakutan dan khawatir. "Ayo cepat, kita ke rumah sakit," imbuhnya tak sabar melihat dua pria pencopet yang semakin mendekat.
"Gadis sialan! Berani sekali kau melepaskan mangsaku?!" hardik sang pria menatap tajam ke arah Gisella yang terduduk di tanah.
"Itu balasan untukmu karena kau mengganggu kesenangan kami," pungkas yang lain nampak menyeringai melihat darah di kepala Gisella, lemparan batunya tepat mengenai sasaran.
"Tolong... Tolong ....!" gadis di sebelah Gisella berteriak untuk meminta bantuan.
"Brengsek! Jangan berteriak!!"
Gisella bergeming merasakan penglihatannya yang mengabur, kepalanya berdenyut hebat.
"Akan ku bunuh kau!"
Jleb!!
"Akh..!!"
Netra hazel teduh itu melebar dengan mulut terbuka merasakan perih di bagian perutnya, Gisella menunduk merasakan sesuatu mengalir dari perutnya.
Gadis yang ditolong Gisella terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat Gisella menjadi tamengnya. Sementara dua pria pencopet segera lari meninggalkan korbannya yang tengah sekarat.
Tubuh Gisella ambruk di tanah berumput, mendongak menatap gadis di hadapannya yang tengah menangis pilu. Tidak bisa ia dengar apa yang gadis itu ucapkan padanya, telinganya terasa pengang. Di seperempat kesadarannya, ia tersenyum, setidaknya sebelum Tuhan mengambil nyawanya, ia pernah berbuat baik pada orang lain. Setidaknya ia mampu melawan traumanya, dan untuk terakhir kalinya ia bisa berguna untuk orang lain. Tidak apa jika Tuhan mengambil nyawanya saat itu, ia ikhlas, anggap saja itu sebagai balasan atas kematian adik, kedua orangtuanya, juga Mia.
'Terimakasih.'
...***...
"Ricko, aku takut. Bagaimana kalau dia tidak selamat?"
"Brianna, tenanglah, dia pasti selamat," pria bernama Ricko itu tampak menenangkan gadis di sampingnya.
"Ini salahku, ini salahku, hiks, maafkan aku," sesal gadis bernama Brianna memeluk tubuh Ricko erat. "Andai dia tidak menolongku, dia tidak akan seperti ini."
"Lalu apa kamu yang akan menggantikan posisinya seandainya dia tidak menyelamatkanmu?" sanggah Ricko tidak terima dengan kalimat yang diucapkan tunangannya.
Brianna tergugu. "Dia sudah menolongku dari pencopet itu, dan kini dia harus terkapar di sini, semua itu salahku, Ricko."
Ricko mengelus punggung Brianna.
"Tenanglah, Sayang, dia pasti akan baik-baik saja, kita berdoa semoga operasinya berjalan lancar," ujarnya menenangkan.
Brianna melepaskan pelukannya, mendongak menatap Ricko. "Apa kita perlu mengabari keluarganya?"
Ricko mengangguk. "Keluarganya berhak tahu kondisinya."
Brianna mengangkat ponsel milik Gisella yang diberikan suster padanya, membuka kontak telepon untuk mencari kontak keluarganya. Keningnya menyernyit saat menyadari hanya ada lima kontak di sana dengan nama Bibi Marini, Paman Joko, Paman Surya, nenek Ely dan Gaza.
Keduanya saling tatap melihat nama kontak terakhir, kemudian Brianna mencari panggilan terakhir. Ada satu nama yang sepertinya membuat Brianna juga Ricko penasaran. Ia segera mendial nomer yang beberapa menit menjadi panggilan terakhir.
"Halo, Gisella, ada apa?"
Brianna sedikit tersentak mendengar suara itu, apa mungkin?
"Maaf, aku bukan Gisella, aku hanya ingin mengabari kalau Gisella ada di rumah sakit."
"Ada apa dengannya? Rumah sakit mana?"
"Dia di rumah sakit Ibu dan Anak Fatma."
Tanpa ada jawaban, sambungan telepon ditutup sepihak.
"Apa kamu merasa bahwa dia orang yang sama?" tanya Brianna menoleh ke sisi kirinya.
"Mungkin hanya kebetulan namanya sama," balas Ricko.
Di tempat lain.
Gaza yang berada di kamarnya terkejut melihat ponselnya berdering dengan nama Gisella sebagai identitas penelepon, karena jarang atau bahkan tidak pernah gadis itu meneleponnya terlebih dahulu, apalagi di jam malam seperti itu, dan saat mendengar bahwa Gisella ada di rumah sakit, Gaza bergegas menuju ke sana. Sepanjang perjalanan ia berharap agar gadis itu baik-baik saja, dan berfikir sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuat gadis itu berada di rumah sakit, apa penyakit traumanya kambuh? Gaza benar-benar merasa khawatir juga ketakutan jika itu menyangkut Gisella. "Leon, lebih cepat," perintahnya tak sabar.
"Baik, Tuan."
.
.
.