
Eps. 11
å
Ruang tamu yang tidak begitu luas sudah ditata sedemikian rupa, tidak ada balon-balon dan hiasan seperti pesta pada umumnya. Hanya menepikan beberapa kursi agar tidak menghalangi jalan. Lampu sudah dimatikan, tinggal menunggu pemilik kediaman yang akan tiba sebentar lagi.
Selama itu pula Gisella tak henti-hentinya memilin kedua tangan, menggigit bibirnya berulang kali sebagai bentuk respon akan kegelisahannya. Ia takut, benar-benar takut jika Gaza akan marah karena ia sudah berperan terlalu jauh sebagai kekasih pura-puranya. Seharusnya ia tidak perlu untuk melakukan itu, turut serta merayakan bertambahnya usia Gaza, namun bagaimana mungkin ia sanggup menolak dan menentang nenek Ely yang memaksanya. Lagi, Gisella tidak membawa kado atau apalah yang akan ia berikan untuk Gaza, jangankan hadiah, tanggal lahir Gaza saja ia tidak tahu kalau bukan nenek Ely yang menyeretnya.
"Apa kau tegang?" tanya nenek Ely yang berdiri di sampingnya, di bawah gelapnya cahaya.
Gisella menelan saliva. "Sedikit, Nek," jawabnya berbisik.
Nenek Ely meraih jemari Gisella yang terasa dingin, ia menumpuk dengan telapak tangannya kemudian menepuknya. "Tenanglah," ujarnya menenangkan.
Gisella mengangguk yang tak akan bisa dilihat oleh nenek Ely.
Gaza yang baru tiba di kediaman terkejut mendapati ruangan yang padam, tangannya meraba dinding untuk mencari sakelar.
Klik.
"Surprise!!" sorak nenek Ely, Leon dan beberapa maid ketika lampu menyala, sedangkan Gisella menunduk di tempatnya setelah melihat Gaza di depan sana.
Gaza terkejut, kedua ujung bibirnya terangkat saat menyadari beberapa orang mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Netranya menyipit menyadari kehadiran orang lain di dalam rumahnya, kepalanya sedikit dimiringkan untuk memastikan bahwa orang tersebut adalah Gisella. Gaza melipat bibirnya ke dalam menahan perasaan aneh yang menggelitik hatinya saat menyadari gadis itu adalah Gisella.
"Selamat ulangtahun, cucuku, semoga semua yang baik-baik senantiasa menyertaimu," doa tulus sang nenek setelah mengecup kening Gaza.
"Terimakasih, Nek."
Beberapa orang mulai memberikan selamat untuk Gaza. Hanya Gisella yang masih senantiasa berdiri di tempatnya, tidak tahu harus melakukan apa, ia benar-benar bingung dan canggung.
"Gisella, apa kamu tidak ingin memberikan selamat untuk cucuku?"
Gisella terkesiap, tatapannya bertemu dengan manik legam di hadapannya, ia benar-benar gugup. "Em, selamat ulangtahun, semoga kebahagiaan menyertaimu,” ucapnya tulus. “Maaf, aku tidak membawa kado untukmu," imbuhnya pelan.
Gaza mengangguk, menarik tubuh Gisella dalam pelukannya. "Terimakasih, sayang, kehadiranmu merupakan kado terindah untukku," balasnya memberikan kecupan singkat di puncak kepala Gisella.
Tubuh Gisella membeku, bukan hanya kalimat sayang yang diucapkan Gaza padanya yang membuatnya terpaku. Melainkan pelukan juga kecupan di puncak kepalanya yang membuat debaran hebat mencuat dari dadanya.
Nenek Ely diam-diam tersenyum melihat Gaza dan Gisella berpelukan mesra.
*
"Berikan potongan pertama pada calon istrimu," tolak nenek Ely saat Gaza memberikan potongan pertama padanya.
Gaza dan juga Gisella terkesiap, keduanya saling lirik. Calon istri?
"Hei, tunggu apa lagi? Apa kau tidak akan menyuapi cucu mantuku?" hardik nenek Ely menyadari keduanya hanya diam.
Gaza mengangguk ia menghampiri Gisella dan memberikan suapan untuk Gisella. Kepalanya mengangguk memberi isyarat agar gadis di hadapannya mau menerima suapan darinya. Saat mulut Gisella terbuka hendak memakan kue darinya dengan sengaja ia menarik kembali sendoknya untuk menggoda Gisella.
Pupil mata Gisella melebar menyadari Gaza tengah menggodanya, bukan hanya sekali, entah apa yang lucu tapi ia mendengar suara kekehan di sekitarnya. Gisella cemberut. “Gaza..” rengeknya ingin mengakhiri candaan yang menimbulkan suara aneh oaring-orang serta mengakhiri wajahnya yang akan memerah sebentar lagi.
Gaza terkekeh melihat wajah menggemaskan Gisella saat merajuk. "Maaf, hm?" ucapnya mengulurkan sendok di depan bibir Gisella.
Gisella diam tak ingin membuka mulut, ia khawatir jika Gaza akan menggodanya lagi.
Gaza tersenyum lebar. "Kali ini serius," ujarnya sungguh-sungguh.
Menyadari tak ada respon dari gadis di hadapannya, Gaza sengaja menarik pinggang ramping Gisella ke dalam pelukannya. "Buka mulutmu, sayang," pintanya.
Gisella terperanjat bukan hanya karena Gaza yang menarik pinggangnya dengan tiba-tiba, tapi juga panggilan sayang yang kembali diucapkan Gaza padanya. Kepalanya mendongak menatap Gaza yang mengangguk, kemudian ia membuka mulut dan menerima suapan dari Gaza.
Entah sengaja atau terbawa perasaan, setelah kue masuk ke dalam mulut Gisella, Gaza mencium sekilas kening Gisella sebelum melepaskan pelukannya.
Hampir saja Gisella tersedak kue saat dengan seenak jidatnya Gaza mencium keningnya, jangan lupakan beberapa maid, Leon dan juga.. nenek? Yang melihat aksi nekad Gaza, betapa malunya Gisella, bahkan kini ia merasa wajahnya memanas.
Senyuman nenek Ely mengembang haru menyaksikan reaksi keduanya, terlebih Gaza yang terang-terangan menunjukkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih, walaupun sebenarnya ia sudah mengetahui bahwa keduanya hanya berpura-pura sebagai kekasih. Tapi tidak apa, ia yakin dalam hati keduanya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta yang tidak atau belum mereka sadari, dan tugas nenek Ely adalah menyadarkan keduanya.
...***...
Hari semakin larut, Gisella menolak keras saat nenek Ely menawarkan dirinya untuk menginap di tempat Gaza. Ia mengatakan tidak baik seorang perempuan menginap di rumah pria, sedangkan mereka belum sah menjadi suami istri. Meskipun statusnya kini adalah pacar pura-pura Gaza, namun hal itu tidak dibenarkan oleh Gisella. Merasa tidak sepantasnya ia menginap di rumah oranglain, bahkan sebentar lagi statusnya sebagai kekasih pura-pura akan segera berakhir. Dan di sinilah ia sekarang, berada satu mobil dengan Gaza yang akan mengantarkan dirinya untuk pulang.
"Terimakasih," ucap Gaza membuka suara.
Gisella menoleh. "Untuk?"
"Kejutannya."
Gisella membasahi bibirnya. "Em.. sebenarnya itu ide Nenek, aku sama sekali tidak mengetahuinya," ujarnya jujur. 'Bahkan aku tidak tahu kalau hari ini kau berulangtahun,' imbuhnya dalam hati.
"Tapi kau ikut andil, jadi aku ucapkan terimakasih."
"Sama-sama," balas Gisella tersenyum.
"Em, maaf, karena perbuatanku padamu tadi."
"Tidak apa-apa, aku tahu kau hanya berusaha agar semua terlihat seperti nyata," tanggap Gisella tersenyum.
Gaza menatap Gisella sejenak, kemudian kepalanya kembali memperhatikan jalan raya, ujung bibirnya tersenyum kecut.
Suasana kembali hening, hingga mobil sampai di depan gang tempat kost Gisella berada.
Gaza menoleh saat tidak merasakan gerakan dari sisi kirinya, kepalanya melongok sedikit dan tersenyum saat melihat Gisella terlelap. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Gisella bermaksud untuk membangunnya namun yang terjadi justru ia mengusap pipi Gisella menggunakan punggung jarinya. Untuk sesaat ia terfokus pada wajah Gisella yang hanya berjarak beberapa senti, kelopak mata yang tertutup dengan bulu mata lentik, pipi yang mulus dan bersih dari bintik-bintik ataupun jerawat, padahal setiap hari gadis itu bekerja di bawah terik matahari. Hidung mungil yang sedikit mancung, dan terakhir bibir tipis Gisella yang begitu menggoda, terlebih tahi lalat kecil yang menambah manis bibir gadis itu.
Tanpa sadar ujung jari Gaza menyetuh permukaan segitiga simetris itu, sentuhan kecil yang berdampak besar pada debaran jantungnya sendiri, gerakan di jakunnya menunjukkan bahwa ia tengah berusaha mengatur kegilaan akan reaksi tubuhnya sendiri. Entah dorongan darimana ia merendahkan tubuhnya menyamai bibir Gisella, perlahan ia memberanikan diri untuk mendekatkan bibirnya, hingga tinggal beberapa senti lagi kedua benda segitiga simetris itu bertemu, kedua manik indah berwarna coklat hazel itu terbuka membuatnya terperanjat dan membeku pada posisinya.
Gisella membuka mata saat merasakan mobil milik Gaza berhenti, namun saat membuka mata ia terkejut menyadari posisi wajah Gaza begitu dekat dengannya, bahkan ia bisa merasakan hembusan hangat nafas dari pria di hadapannya.
*
Gaza dan Gisella berjalan beiringan tanpa sepatah kata, awalnya Gisella sudah menolak agar Gaza tidak perlu mengantarkannya sampai ke kost, namun sepertinya pria itu tak mengindahkan larangannya. Kejadian di dalam mobil beberapa menit yang lalu masih terekam jelas dalam memori keduanya, sepertinya hal itu menciptakan kecanggungan.
Ekor mata Gisella melirik pada Gaza yang nampak biasa saja setelah insiden di mobil, berbeda dengan dirinya yang gugup, bahkan kedua jemarinya saling memilin.
Tidak tahu saja bahwa Gaza juga tengah gugup setelah kejadian beberapa menit yang lalu, hanya saja ia mampu menyembunyikan semua itu dibalik sikap dingin dan raut wajah datarnya. Padahal di dalam hati ia tengah mengumpati dirinya sendiri karena tergoda oleh bibir Gisella yang seakan terus menggodanya.
"Tugasmu akan berakhir lusa, apa kau senang?" tanya Gaza membuka suara.
Gisella menoleh. "Sepertinya begitu," jawabnya ragu, karena ia tidak tahu apakah harus senang atau justru sebaliknya.
"Terimakasih atas bantuanmu selama sebulan ini."
Gisella mengangguk. Tubuhnya memutar menghadap Gaza saat sudah sampai di depan kost.
"Sisanya biarkan aku yang mencari alasan untuk Nenek, sekali lagi terimakasih,” ujar Gaza memperhatikan gadis di hadapannya. “Dan sampai jumpa, aku tidak akan merepotkanmu lagi," imbuhnya setengah hati.
Gisella mengangguk. "Terimakasih juga untukmu, sampai jumpa."
"Gisella," panggil Gaza saat Gisella hendak membuka pintu.
Gisella berbalik. "Iya?"
"Apa aku masih boleh menghubungimu?"
Gisella tersenyum. "Tentu."
Gaza ikut tersenyum. "Terimakasih, selamat malam."
"Selamat malam."
.
.