Beside You (End)

Beside You (End)
20. AKHIR YANG TIDAK PERNAH KITA KETAHUI



Eps. 20


å


Akhir pekan waktu itu Gisella memilih untuk mengajari anak-anak pelajaran sekolah dengan tempat yang tidak biasa, ia mengajak anak-anak —yang hanya tersisa beberapa— ke Monumen Nasional. Menjelaskan beberapa sejarah ikon kota Jakarta, juga semua yang berkaitan dengan Monumen Nasional dan beberapa area sekitar. Tentu saja anak-anak itu sangat antusias menerima pengetahuan yang dijelaskan Gisella, setidaknya mereka juga merasakan tour sekolah, meskipun hanya sekolah bohongan.


Tawa renyah bahagia tak luntur dari wajah cantiknya saat melihat para anak-anak yang diajaknya berkeliling merasa antusias dengan apa yang mereka tunjuk. Meskipun beberapa dari mereka pernah singgah di Monas, namun tujuan mereka bukan untuk berlibur seperti yang mereka lakukan saat itu. Justru yang mereka lakukan adalah menawarkan barang dagangan yang mereka bawa untuk mendapatkan kepingan koin pengganjal perut.


"Kak, apa kita boleh pergi ke sana?"


Gisella mengikuti arah tunjuk sang gadis kecil pada puncak Monas.


"Ayo, Kak, kita lihat kota Jakarta dari atas sana," sahut yang lain dengan gembira.


"Em.. kita beli makanan dulu, yuk, kalian belum makan, kan?” usul Gisella kemudian. “Lagipula antriannya masih panjang. Kita bisa kelaparan kalau kelamaan menunggu, bagaimana?" imbuhnya melihat banyaknya orang yang ingin menaiki puncak menara Monumen Nasional.


"Betul kata Kak Gisell, kita makan dulu, biar ada tenaga untuk melanjutkan perjalanan."


"Aku setuju."


Gisella tersenyum lebar memperhatikan satu persatu anak-anak yang di ajaknya, kemudian mengajak mereka untuk singgah di salah satu penjual bubur.


"Hei, sepertinya aku tidak asing dengan mobil itu," Jojo, pria kecil yang tengah menyantap buburnya itu mendongak menatap sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya. Membuat ke empat temannya dan juga Gisella ikut memperhatikan mobil yang ditunjuk.


"Kamu pernah melihatnya dimana, Jo?"


"Sebentar, aku masih mengingat-ingat," Jojo mengetuk dagu dengan telunjuknya. "Aha! Aku tahu, itu mobil Kak Gaza," serunya.


"Apa kamu yakin?"


"Darimana kamu tahu, Jo?"


Gisella terdiam mendengarkan anak-anak yang saling mengutarakan pendapatnya tentang pemilik mobil. Sedangkan tatapan matanya terfokus pada mobil itu, tentu saja ia mengiyakan ucapan Jojo, karena iapun juga tahu bahwa itu adalah mobil Gaza.


"... menghampirinya."


Gisella terkesiap dari lamunannya melihat Jojo yang berlari. "Jojo, kamu mau kemana?"


"Mau memastikan, Kak, kalau itu adalah Kak Gaza," teriak anak kecil itu sambil terus berlari.


Gisella beranjak. "Jo, berhenti! Jangan, Jo."


Teriakan Gisella dihiraukan pria kecil yang terus berlari itu.


"Apa kamu yakin itu mobil Kak Gaza?"


"Entahlah, tapi sepertinya Jojo yakin dengan ucapannya."


"Kita lihat saja nanti."


Gisella terdiam masih terus memperhatikan Jojo di depan sana, sesekali melirik pada empat anak kecil lainnya. Perasaannya sedikit khawatir terhadap Jojo, khawatir jika pria kecil itu akan hilang dari pandangannya. Hingga netra coklatnya melihat seorang pria dewasa berjalan bersisian dengan Jojo, tangan mungil Jojo menarik lengan pria dewasa itu berjalan ke arahnya.


Gisella bergeming menatap seorang pria dewasa dengan setelan kaos berbalut jaket dan celana jeans pendek berjalan ke arahnya, penampilan Gaza hari itu sungguh berbeda, karena yang selalu ia lihat adalah Gaza yang terbiasa dengan celana panjangnya.


"Hai."


Entah sejak kapan Gaza sudah berada di hadapannya, membuat tubuh Gisella berjengit mendengar kata sapaan dari pria di depannya.


"Sudah aku bilang, kan? Kalau itu mobil Kak Gaza. Kalian, sih, enggak percaya," ujar Jojo dengan sombongnya.


"Iya, deh, kita percaya."


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Gaza memperhatikan keseluruhan anak di depannya.


"Kita sedang kunjungan belajar di Monas, Kak."


"Wow, kelihatannya seru," komentar Gaza melirik pada Gisella yang terdiam.


"Maaf karena mengganggu kegiatanmu, tadi aku sudah melarang Jojo menghampirimu," tutur Gisella tak enak, mungkin saja Gaza sedang menikmati akhir pekan dengan orang lain bukan?


Gaza tersenyum kecil. "Tidak apa, aku kebetulan ada di sini."


"Kak, kapan kita bisa naik ke Monas?"


Pertanyaan dari gadis kecil bernama Ani itu membuat kedua orang dewasa di hadapannya menoleh.


"Kalian mau naik ke sana?"


"Mau, Kak," jawaban kelima anak kecil itu kompak.


Gaza tersenyum lebar. "Kalau begitu ayo kita ke sana."


"Horeee!! Ayo.."


"Em, apa boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Gaza menatap Gisella yang bergeming.


"Oh? Ten-tu," jawab Gisella kikuk.


*


Akhirnya untuk yang ke berapa menit menunggu, mereka berenam bisa menaiki puncak Monas, melihat kota Jakarta dari ketinggian. Kelima anak-anak itu nampak sangat senang, terlihat dari wajah mereka yang berseri. Menatap bangunan yang terlihat kecil di bawahnya, antusias anak-anak saat bergiliran menggunakan teropong untuk melihat objek. Sesekali Gisella memberikan penjelasan tentang apa yang ada di sekitarnya pada mereka. Gisella dan Gaza layaknya orangtua mereka, yang mengawasi anak-anak saat mereka berlarian dan memastikan bahwa mereka tidak dalam bahaya.


Cukup lama mereka berada di puncak Monas, hari sudah semakin siang dan mengharuskan mereka untuk segera pulang. Gaza menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang, tapi tentu saja Gisella menolak tawaran itu. Tapi saat melihat wajah kelelahan dari anak-anak membuatnya tidak tega, pada akhirnya ia menyetujui tawaran Gaza.


Gisella menoleh ke belakang memperhatikan beberapa anak yang mulai terlelap karena kelelahan bermain. "Maaf sudah merepotmu," ujarnya menoleh sekilas pada Gaza yang mengemudi.


Gaza tersenyum kecil. "Sudah hampir sepuluh kali kau mengatakannya," guraunya.


Gisella tersenyum kecil, sejujurnya ia takut akan ancaman Hana waktu itu. Meskipun memang apa yang Hana dan Dini tuduhkan padanya tidak benar, tapi, ia tidak bisa menepis itu semua. Sebab itu ia ingin menjauh dari Gaza, tidak ingin kedua orangtua itu menggunjingnya meskipun ia sudah terbiasa akan hal itu. Hanya saja Gisella ingin hidup damai dan tentram, tidak ingin disalahkan lagi jika suatu saat terjadi sesuatu dengan orang-orang disekitarnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Gaza yang sedari tadi mencuri tatap pada gadis di sampingnya yang termenung.


Gisella menoleh, kemudian menggeleng pelan.


*


Gaza berdiri bersandar pada body mobil seraya menatap Gisella yang tengah berbincang dengan anak-anak, entah apa yang gadis itu ucapkan ia tidak tahu, tapi satu yang membuatnya tertegun, melihat wajah gadis itu tersenyum lebar, hal yang sangat jarang ia lihat dari raut wajah gadis itu, dan ia sangat amat menyukai wajah Gisella yang tengah tersenyum bahagia, Gaza tidak ingin melewatkan keindahan itu dengan sia-sia.


Sejak pertama kali bertemu dengan Gisella, ia amat jarang bisa melihat wajah gadis itu yang tengah bahagia, apalagi sejak kematian Mia, tidak pernah nampak terlihat wajah Gisella yang senang, gadis itu menantiasa menampilkan wajah murung dan sedih, tapi Gaza tahu saat dimana Gisella bisa tersenyum tulus, yaitu ketika gadis itu bekerja dan berkumpul dengan teman seprofesinya di jalanan, dan juga dengan anak-anak didiknya, sedangkan dengannya sendiri gadis itu masih belum membuka diri, dan Gaza ingin melampaui dinding itu untuk membukanya dan membuat gadis itu tersenyum.


Gaza tersadar dari lamunannya saat menyadari Gisella berjalan ke arah lain, ia gegas berlari untuk mengerjarnya. "Gisella," panggilnya.


Gisella menoleh dan terkejut melihat Gaza yang hampir terjatuh. "Awas!" peringatnya.


Gaza yang terlalu semangat berlari tidak menyadari jalanan yang terdapat genangan air, saat melewatinya hampir saja ia terjungkal karena terpeleset, untung saja ia bisa menyeimbangkan tubuhnya dan tidak menyentuh tanah, bisa ilfeel dong kalau ia jatuh di depan Gisella. Gaza berhenti tepat di depan Gisella yang tengah menatapnya, ia mengusap lehernya dan tersenyum lebar untuk meredakan rasa malunya karena hampir terjatuh.


Sedangkan Gisella tidak bisa menahan untuk tidak menarik kedua ujung bibirnya menyadari bahwa Gaza tengah menahan malu di hadapannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya mengulum senyum.


Gaza berdehem. "Hampir saja," jawabnya tertawa kecil yang justru menular pada gadis di hadapannya.


"Aku senang melihatmu tersenyum," tutur Gaza tanpa sadar.


Seketika Gisella terdiam, membuat keadaan kembali hening, dan itu sangat disesali oleh pria yang mempunyai tahi lalat diujung hidung bangirnya itu.


Gaza kembali berdehem. "Aku akan mengantarmu."


Gisella terkesiap. "Tidak perlu," tolaknya.


Namun Gaza tidak mengindahkan penolakan Gisella, ia berjalan lebih dulu menuju tempat tinggal Gisella.


Gisella nampak khawatir saat Gaza berjalan menuju tempat huniannya, ia khawatir kalau orangtua Gaza melihatnya bersama Gaza, ia gegas berlari untuk menyusul. "Gaza, tunggu, aku tidak pulang ke rumah."


"Kau ingin ke tempat laundry? Baik," tanggap Gaza tanpa menoleh.


"Tidak, bukan seperti itu," tolak Gisella yang tidak berhasil membujuk Gaza. "Kau tidak perlu mengantarku, aku bisa sendiri," imbuhnya.


Gaza berhenti dan berbalik.


Gisella yang tergesa tidak menyadari saat Gaza berhenti tiba-tiba, ia tersentak saat tubuhnya hampir terjungkal ke belakang. "Eh?"


Dengan sigap Gaza menarik pinggang ramping Gisella yang hampir terjatuh,  sayang sekali hal itu menyebabkan bibirnya bertemu dengan kening Gisella.


Keduanya terdiam dengan saling menatap, nyatanya sentuhan kecil tak di sengaja itu menyebabkan arus listrik tegangan tinggi di tubuh masing-masing, jujur saja, Gisella tidak pernah merasakan getaran aneh di tubuhnya saat bersentuhan dengan lawan jenis, tapi apa yang baru saja terjadi membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ia segera menepis perasaan baru itu, berfikir bahwa debaran itu akibat rasa keterkejutannya karena hampir terjatuh.


Berbeda dengan Gaza yang memang sudah tahu bagaimana perasaannya terhadap Gisella, namun sentuhan tak disengaja itu begitu terasa hingga ke dalam hatinya yang saat ini tengah berdentum keras di dalam sana. "Maaf," hanya itu kata yang bisa Gaza ucapkan untuk mengembalikan keadaan yang hening.


Gisella mengangguk saja dan berjalan mendahului Gaza.


Keduanya berjalan beriringan dalam diam, tengah berada dalam pikirannya masing-masing. Beberapa kali Gaza mencuri tatap pada gadis di sampingnya yang seakan tidak ingin sekedar berbicara dengannya, selalu seperti itu.


"Apa tidak terlalu siang untukmu pergi ke laundry? Bukankah ini hari minggu," ujar Gaza memulai pembicaraan.


Gisella menoleh. "Aku tidak ke laundry."


"Lalu?"


Gisella mengalihkan tatapannya dari intimidasi pria di sebelahnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu kemanapun kau pergi," ujar Gaza yang tak mendapat jawaban, karena jalan yang tengah keduanya lewati bukan mengarah ke tempat kost Gisella, bukan pula ke tempat laundry dimana Gisella biasa bekerja.


"Ga," panggil Gisella pelan.


"Hm?"


"Kau tidak merindukan Mia?" tanya Gisella hati-hati.


"Maksudmu merindukan kebersamaan dengannya?"


Gisella menggeleng. "Merindukannya bisa kembali bersama denganmu."


Langkah kaki Gaza terhenti, menatap lekat manik hazel teduh di hadapannya. "Sesuatu yang sudah pergi tidak akan pernah bisa kembali lagi. Mungkin jika merindukan kebersamaan yang pernah kita lewati itu benar. Tapi, tidak untuk membawanya kembali ke dunia ini, karena itu sesuatu yang mustahil."


Gisella tertegun. "Kau tidak pernah berfikir jika seandainya dia masih hidup?"


"Tidak, karena jika dia masih di dunia ini, aku tidak akan bisa berbicara sedekat ini denganmu, bahkan keadaan akan berbeda. Itu semua adalah takdir, Gisella. Tidak ada yang bisa merubah takdir, kalaupun kau berusaha merubahnya di awal, akhirnya pun akan tetap sama, karena itulah takdir."


"Bagaimana jika aku bisa merubah segalanya," tantang Gisella tanpa sadar.


Tatapan Gaza meredup. "Kau ingin menggantikan tempatnya?" tebaknya.


Gisella terdiam.


Gaza menarik nafas panjang. "Meskipun aku dan Mia pernah mempunyai satu tujuan hidup yang sama, tapi, tidak ada yang tahu jalan akhir yang akan aku tempuh dengan siapa. Begitu pula denganmu. Jangan salahkan dirimu sendiri." Ingin rasanya Gaza mengelus atau sekedar menyentuh puncak kepala Gisella untuk menenangkan gadis itu yang tengah bergejolak dengan bathinnya sendiri, tapi itu semua tidak mungkin ia lakukan.


Mungkin benar apa yang diucapkan Gaza, tidak ada yang tahu takdir yang awalnya selalu mempermainkan kita akan tetap sombong dengan kekuasaannya ataukah akan memberikan sedikit celah kecil sebuah kebahagiaan di akhir. Gisella tidak ingin bermimpi terlalu tinggi, tapi ada kalanya secuil harapan akan hidup bahagia begitu ia dambakan. "Terimakasih," hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Gaza menyernyit. "Untuk?"


'Semuanya.'"Hari ini."


Sudut bibir Gaza terangkat. "Sekarang sudah genap sepuluh kali kau mengucapkannya," ujarnya terkekeh.


Gisella mengulum senyum.


.


.